Tags

, , , , , , , , , , , ,

“It’s double the giggles and double the grins, and double the trouble if you’re blessed with twins.”

 

TheForest-Poster

 

The Forest dimulai ketika Sara Price (Natalie Dormer) mimpi tentang sodari kembarnya yang sedang tersesat di dalam hutan. Tak lama setelah itu, ia mendapat kabar bahwa kembarannya yang ngajar di sekolah di Jepang tersebut, Jess Price (Cressida yang punya rambut keren di the Hunger Games: Mockingjay), ditemukan meninggal setelah memasuki hutan Aokigahara. Agak gak masuk akal, batin Sara, karena dia tahu seperti apa – bukan hanya rupa (duh!) tapi juga kepribadian — si Jess. Selalu menantang bahaya dan tak kenal menyerah, Jess bukan tipe orang yang ngedaftarkan bunuh diri sebagai resolusi tahunbaru nya. Alhasil, Sara pergi ke Jepang. Dan demi mencaritahu sendiri apa yang terjadi kepada Jess, Sara nekat memasuki belantara Aokigahara yang ditakuti oleh penduduk sekitar. Tempat angker di mana Jess terakhir kali terlihat.

Penulisan dan arahan The Forest membuat kita tertarik untuk mengenal karakter Sara dan Jess lebih dalam. Backstory mereka yang diceritakan lumayan berlapis mampu bikin kita tertarik dan lanjut menjadi penasaran. Membuat kita peduli kepada apa sih yang terjadi kepada dua gadis ini, itu juga kalo beneran mereka adalah dua orang yang berbeda. Kidding haha! at one point film ini beneran mengalihkan perhatian kita seperti itu. Horor pertama tahun 2016 ini enggak sedatar yang kukira. ADA SEDIKIT UNSUR HOROR PSIKOLOGIS yang coba mereka gali. Dan bisa dibilang berhasil, karena beberapa kali suspens yang dihadirkan oleh film ini sukses terasa tulen. Bikin kita merasa takut terhadap apa yang menanti Sara.

The Forest juga bermain sedikit dengan tema anak-kembar yang intriguing, karena kita tidak akan pernah bisa benar-benar mengerti hubungan batin yang dimiliki oleh anak kembar. Istilahnya Twin Magic, you know, kayak kalo yang satu sakit maka yang lain ikutan sakit. Atau jika yang satu ulangtahun, kembarannya tidak akan pernah lupa. (YAIYALAH!!) Dalam The Forest, hubungan ajaib tersebut dapat kita lihat dari feeling kuat Sara terhadap keberadaan Jess, bagaimana kedua cewek ini ‘berkomunikasi’, nyaris seolah mereka adalah satu orang.

Bagai pinang dibelah dua. Terus yang satunya tertukar saat suntik imunisasi di neraka.

Bagai pinang dibelah dua. Terus yang satunya tertukar saat suntik imunisasi di neraka.

 

Jepang dan segala keanehannya memang selalu menarik untuk dijadikan objek film horor. HUTAN AOKIGAHARA yang jadi latar tempat film ini adalah HUTAN YANG BENERAN ADA, lengkap dengan pohon-pohon, untaian tali, dan bangkai manusia. Katanya dulu hutan ini adalah tempat untuk meninggalkan kerabat atau orang lajut usia yang sakit. Makanya hutan yang sebenarnya indah ini, ada gua esnya pula, jadi banyak dihantui oleh roh-roh yang marah, dan jadilah ia salah satu tempat paling angker di Bumi. Sejak 1950 hutan lebat di utara kaki Gunung Fuji ini berubah fungsi menjadi tempat favorit buat bunuh diri. Dalam film The Forest bahkan juga diceritakan bahwa begitu memasuki Aokigahara, kekuatan-tak-terlihat di dalam sana akan melipatgandakan segala perasaan takut, sedih, galau, dan pokoknya perasaan manusia yang negatif-negatif, deh. Membuat yang masuk ke sana semakin depresi. Entah apa yang disebutkan dalam mitos dan cerita film ini benar adanya atau enggak, yang jelas memang angka bunuh diri yang terjadi di Aokigahara meningkat pesat pada tahun 2010. Sekarang tempat misterius itu dikenal luas dan dijuluki sebagai tempat sempurna untuk mati. Bunuh diri adalah tindak yang mendapat respek di Jepang, jadi budaya malah. Namun tetap sebagai langkah pencegahan, dewasa ini pemerintah memasang banyak papan pesan untuk mengingatkan para pengunjung-yang-enggak-berencana-untuk-keluar-lagi bahwa hidup adalah anugrah yang sangat berharga. Apalagi kalo kita punya kembaran, anugrahnya jadi dobel. Semangat inilah yang jadi secercah harapan buat Sara untuk berupaya menemukan Jess.

Sebagai sebuah film yang menggunakan tempat sebagai pusat semestanya, The Forest harus lah turut membangun Aokigahara sebagai sesosok karakter tersendiri. Kalo dalam film yang settingnya di kota, kita bisa ngerasain kota itu ‘hidup’ lewat aktivitasnya yang merasuki cerita. Kalo film dalam hutan seperti ini, yang dimaksimalkan adalah atmosfer sekitar sehingga kelihatan hutan itu bukan hanya mengurung Sara, namun juga ‘membujuk’ mereka untuk tinggal. Bermain dengan kepala mereka. Sayangnya, kengerian hutan Aokigahara yang sudah dibangun sedemikian rupa, pada akhirnya dieksekusi dengan TERLALU BERGANTUNG SAMA MUSIK DAN PENAMPAKAN YANG NGAGETIN. Semua development dan build-ups di awal jadi sia-sia karena ujung-ujungnya jumpscares belaka sahaja. Pernah liat video ruangan kosong terus tiba-tiba ada tampang yang melotot jelek sambil teriak kenceng banget terus kalian terjatuh dari kursi sambil nyengir bego ngelus-ngelus dada? Nah, penyelesaian horor The Forest persis seperti demikian.
Ironis, cerita juga bagai tersesat dalam rapatnya pepohonan Aokigahara ketika Sara dan Aiden (cowok reporter yang ‘mendua’ dimainkan oleh Taylor Kinney) memutuskan untuk tinggal bermalam di hutan, melanggar semua larangan dari si penjaga hutan, Michi. Saat itulah cerita dan hutan menyeramkan ini kehilangan pesona dan film ini enggak mampu untuk membuatnya balik kembali.

or maybe they could put in a bear to make it more interesting

or maybe they could put in a bear to make it more interesting

 

Tapi serius deh, sepertinya film ini beneran lupa kalo sedari awal mereka beranjak dari penggalian karakter. Mereka terasa betul-betul kehilangan arah, stray jauh dari misteri yang mereka bendung sendiri. Di babak akhir, sama sekali tidak ada resolusi terhadap karakter Jess. Dan ini bukan semacam terbuka untuk interpretasi sendiri, yang menggerakkan kita untuk berpikir lebih dalam. Penyelesaian film The Forest terlihat seperti para filmmaker tidak punya jawaban pasti tentang apa yang sedang mereka buat. Adegan mimpi yang berulang kali mencegah film ini untuk bisa tampil lebih dalem. Hanya seperti sebuah jalan untuk mengisi film dengan sesuatu yang menakutkan. Hasilnya, ya film ini berakhir dengan datar, enggak se-challenging yang mereka implikasikan di awal. Konsep hutannya simply jadi kayak Hotel Cortez atau Murderhouse di American Horror Story, dengan bagian pencarian si Jess kerasa ala Paper Towns.

Sebagai resolusi di tahun 2016 aku ingin menyinggung lebih dalam tentang masalah teknikal produksi film ke dalam review-reviewku. Masalah teknis adalah aspek film yang selama ini aku jarang bahas karena ga ngerti, sampai Mad Max: Fury Road dan The Revenant berhasil membuatku peduli dan tertarik untuk memperhatikannya. My money is still on the storytelling, tho, tapi aku akan berusaha se-yang aku bisa paham untuk melihat dari sisi filmmaking.
Kayak The Forest ini, di menit-menit terakhir camera work nya bikin mual. Goyang-goyang.
Alih-alih bikin kita ikut merasa panik dan tersesat, malah bikin kita jadi terlepas dari keseluruhan film. Karena kameranya, film jadi tidak enak untuk diikuti. Membuatku, like, “ah biarin aja tuh orang lari ke hutan.. mau ketemu setan kek, mau belok ke pantai kek, sebodo!” Aku enggak ngerti kenapa saat syut adegan berlari, filmmaker harus resorted ke kamera yang gak stabil.

 

Harus diakui atmosfer dan beberapa adegan di separoh bagian awal udah sukses bikin bulu kudung merinding. Lebih serem daripada kebanyakan film horor yang biasa kita saksikan di bioskop. Jika saja tidak melupakan karakter yang sudah dibangun, baik manusia, hantu, maupun hutannya, jelas film ini akan bisa jauh lebih baik. Resolusinya yang generik menumpulkan keseluruhan developmentnya. The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for THE FOREST.

 

 

 
That’s all we have for now.

Remember in life, there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

 

We be the judge.

Advertisements