Tags

, , , , , , , , , , , , , , , , ,

“The media’s the most powerful entity on earth. Because they control the minds of the masses.”

 

MidnightShow-Poster2

 

Sejak nongkrongin diskusi panelnya di Jakarta Comic Con bulan September tahun lalu, aku sudah dibuat penasaran oleh film besutan sutradara Ginanto Rona ini.
Kenapa penasaran?
Karena Midnight Show tergolong film slasher, yang berjanji bakal menghadirkan adegan pembunuhan yang berdarah-darah. Pemandangan yang jarang kamu lihat jika kamu suka nonton di teater bernomor paling gede di bioskop.

 

Mengambil latar tahun 1998 di dalam sebuah gedung bioskop yang sudah nyaris bangkrut, Midnight Show bercerita tentang sesosok misterius yang membunuhi satu persatu penonton beserta pekerja dan pemilik bioskop. Pembantaian yang ironisnya berlangsung tepat pada saat pemutaran-tengah-malam sebuah film yang berjudul Bocah; film kontroversial berdasarkan kisah nyata tentang seorang anak bernama Bagas yang nunjukin gejala psikopat dini dengan mengirim ibu, ayah, dan adiknya “tidur”. Midnight Show akan membawa kita masuk untuk mendapatkan jawaban apakah memang ada hubungannya film Bocah tersebut dengan tindakan sadis yang tengah benar-benar terjadi.

Penasaran, ya, tapi sebagai penggemar film Scream, aku tidak menaruh ekspektasi yang terlalu tinggi saat hendak menonton Midnight Show. Jika dilihat selayang pandang, keluaran Renee Pictures ini memang ngingetin kita sama masterpiecenya Wes Craven. You know, tokoh killer mengenakan hitam dan topeng yang mirip dengan Ghostface di serial tv Scream nya MTV dan sama-sama berhubungan dengan dunia film..
Jadi, aku datang ke bioskop dengan mental sudah siap menyaksikan sebuah slasher yang punya self-awareness versi lokal. Yang menurutku kemiripan itu enggak jelek mengingat sinema Indonesia need to have a different color, merah!, seperti film yang satu ini.

 

TERNYATA AKU SALAH. Film ini sama sekali enggak mirip ama Scream. Midnight Show adalah GABUNGAN DARI SLASHER MURNI DENGAN SLASHER WHODUNIT. Maksudnya, film ini enggak semata fokus dalam membuat kita bertanya siapa pelakunya. For some point, Midnight Show seolah sudah menetapkan dalang pembunuhan. Kayak sekuel-sekuel Friday the 13th yang udah harga mati kalo pelakunya adalah Jason Vorheess. Midnight Show punya persona bernama Bagas yang jadi sumber teror utama. Penggabungan elemen ini berhasil dicapai berkat twist berlapis yang sudah disiapkan oleh naskah; twist yang membuat kita enggak akan berhenti ngerasa ‘surprise!’

Film ini did a good job menebar clue serta jejak palsu untuk mengaburkan misteri. Percakapan yang mancing-mancing. Dan ada cukup banyak tokoh yang harus diteliti oleh penonton. Protagonis utama adalah cewek penjaga karcis yang bernama Naya (I don’t think Acha Septriasa did something special here), dia ngerasa mulai terbebani oleh kerjaan yang semakin lama semakin banyak but she can’t really do nothing about it since she has kid. Kita juga diajak kenalan sama Juna si pemutar film yang sepertinya deket banget sama Seno si pemilik bioskop, sayang relationship karakter yang diperankan Gandhi Fernando dan Ronni P.Tjandra tersebut, yang udah kayak ayah-anak enggak digali lebih dalam. Terus ada tokoh satpam yang tidur melulu dan penjaga karcis lain, Lusi yang kerjaannya bolos melulu. Calon korban garis-miring pelaku tentu saja juga melebar ke pengunjung tengah malam itu. Ada pasangan mesum Ikhsan dan Sarah, ada bapak jenggotan yang pembawaannya gugup banget bawa-bawa koper, ada Guntur yang dicurigai mau ngebajak film, dan cowok misterius berkerudung jaket.

Pak Jo bilang listrik mahal, tapi tiket bioskop cuma 3000 perak. Why can’t we just go back to the 1998? Whhyyyyy?!!?

Pak Seno bilang listrik mahal, tapi tiket bioskop cuma 1500 perak. Why can’t we just go back to the 1998? Whhyyyyy?!!?

 

Cukup banyak penonton wanita yang menjerit ketakutan dalam studio saat aku menonton film ini. Adegan pembukanya paling bloody, embrace yourself! ADEGAN SADIS DAN VIBE FILM YANG CUKUP DEWASA tak butuh waktu lama untuk merasuk. Musik dan pencahayaan yang gelap turut andil memaksakan suasana seram. Film ini menonjolkan latar waktu dalam dialognya, bukti penulis bener-bener mikirin detil, itu salah satu yang aku respect. Ada satu scene yang unik, yaitu adegan nonton dengan layar robek di babak akhir. Menurutku, at that point, image yang ditunjukkan oleh gambar tersebut ‘nusuk’ dalem banget. Meski pake unsur film-di-dalam-film, Midnight Show membuat perbedaan yang sangat jelas antara adegan mana yang ‘nyata’ dengan adegan ‘film’. Jadi kita tidak akan bingung membedakannya.

Menonton ini kita akan melihat dampak terburuk tentang kenyataan bahwa media tidak peduli dengan kebenaran. Mereka hanya menjual cerita. Ngerinya, media adalah alat terkuat yang mampu mengubah persepsi masyarakat. Dulu kita sering mendengar “jika ada di tv, berarti itu adalah hal yang benar/ fakta.” Jaman modern sekarang, mungkin sedikit berubah, tapi tetap saja artinya sama. “Jika ada di internet dan disetujui banyak orang, maka hal tersebut pasti benar.” Kita akan dibuat sedikit terhenyak oleh kisah hidup Bagas yang juga melibatkan media.

Secara keseluruhan, storytelling Midnight Show enggak spesial-spesial amat. Karakternya so-so. Banyak dari mereka yang, well, ga kerasa genuine.. mereka terlihat seperti aktor yang lagi meranin orang lain alih-alih melebur ke dalam karakter perannya. Yang paling aku suka adalah Sarah, tokoh yang diperankan oleh Ratu Felisha. She feels ‘real’. Perspektif karakter Sarah adalah yang paling menarik. She’s in love but she doesn’t even realized it. Dia yang paling sedikit aku teriakin di sini, dan kalian tahu aku hobi neriakin tokoh film horor yang ngelakuin hal bego. Sarah selalu adalah orang yang paling duluan bertindak. Dalam film horor, kita butuh seorang yang seperti Sarah ini sebagai tempat mengidentifikasikan diri, sehingga kita bisa peduli. She’s the epitome dari struggle dan survive dalam film ini. Aku sungguh ngarep cewek ini yang jadi ‘the final girl’. Heck, aku bahkan ngerasa lebih baik kalo Sarah diungkap sebagai adek Bagas yang ternyata masih hidup haha

 

Agak aneh kalo kita membicarakan plot saat sedang bicarain film slasher. Jadi mari kita menyerang penjahat utama dan motifnya.
While aku ga ada masalah mengenai siapa pelaku, yang sudah dibangun dengan baik, MOTIF DARI SI ANTAGONIS TETAP MASIH TERASA FORCED DAN GAK MAKE SENSE. Sama maksainnya sama motif si Roman dalam film Scream 3. It’s not really clear dan menimbulkan lebih banyak pertanyaan terhadap beberapa adegan daripada menjawabnya. Like, kenapa dia gak minta tolong aja selagi mereka berpencar, ada banyak kesempatan buat si anu menceritakan segala kebenarannya kepada yang lain sedari awal. Midnight Show adalah salah satu dari film horor langka di mana aku enggak merasakan sedikitpun ketertarikan terhadap tokoh jahat utamanya. Kita gak ngerti grip atau cengkeraman motifnya ada di mana. Juga antara si ‘real’ antagonis dengan protagonis, sama sekali tidak ada konflik personal yang bisa bikin kita peduli total kepada nasib kedua belah pihak. Naya menjadi korban hanya karena kebetulan bekerja di Bioskop Podium yang dipilih sang pembunuh sebagai TKP lantaran bioskop tersebut sepi.

Yang aku kepikiran adalah kenapa si pelaku harus memakai topeng? Bukankah tidak ada seorang pun yang mengetahui seperti apa wajah si Bagas yang sejak umur 12 tahun sudah masuk penjara. Kalo karena Bagas di film Bocah bertopeng dan Bagas yang asli bergerak karena benci dirinya difilmkan seperti itu, bukankah lebih masuk akal kalo Bagas beraksi dengan tidak memakai topeng? Bukankah akan lebih misterius jika kita yang nonton hanya dilihatkan sosok pembunuh yang sekelebat atau dari belakang saja atau dengan wajah tertutup bayang-bayang? Kenyataannya, film Midnight Show MENGGUNAKAN PEMBUNUH BERTOPENG, dan hal tersebut gives away the biggest clue tentang isu ‘siapa pelaku’. Membuat kita sadar akan twist berlapisnya, bahwa besar kemungkinan Bagas lah the ultimate red herring dari semua ini.

Hmm usul dong, bisa gak lain kali bikin pelakunya adalah seorang reviewer yang ngamuk karena dia enggak suka sama film yang ditontonnya..?

Hmm usul dong, bisa gak lain kali bikin pelakunya adalah seorang reviewer yang ngamuk karena dia enggak suka sama film yang ditontonnya..?

 

Menjelang konfrontasi terakhir, ada adegan seseorang mencari si pelaku yang disyut kayak semacam dream-like; yang mewakili perasaan bingung dan putus asa. Adegan tersebut seharusnya bisa jadi powerful namun jatohnya malah jadi adegan jembatan yang paling cheesy. Scene tersebut akan terasa jauh lebih baik jika saja Midnight Show ikhlas untuk sejenak me-mute suara musik. Serius deh, film ini TERLALU BERGANTUNG KEPADA MUSIK LATAR untuk membangun suasana. Musik memang efektif, Star Wars gak bakal jadi apa-apa tanpa musik tema yang jadi ciri khas adegan dan tokohnya. Tapi kalo kebanyakan dan all-over-the-place maka yang terjadi adalah musik tersebut bukannya ngebuild up dengan natural, malahan they are forcing a feel into the audiences. Midnight Show desperate sekali dalam upaya nya membangun suasana seram, terbukti dengan kita disuguhin dua fake jumpscare dalam 15 menit pertama!

 

 

Aku mengira (dan siap untuk nerimo) paling enggak film ini bakal niru self-awareness dari Scream dan jadi sama pinternya. Turns out, film ini enggak lebih dari just a standarized slasher. Yang menarik adalah usahanya tampil di garis antara tanpa atau pake misteri siapa-pelaku. Twistnya acceptable dan fairly developed meski motif nya rada dipaksain sehingga beberapa hal jadi ga logis. Aku bisa lihat film ini bakal banyak penggemar, for ia adalah ikan piranha besar dalam kolam berdarah yang kecil. The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for MIDNIGHT SHOW.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember in life, there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

 

 

We be the judge.

Advertisements