Tags

, , , , , , , , , , , , , ,

“Fear is priceless education.”

 

7fad57927b8edee2b17272e0b820522bc5669c7a

 

 

Sepandai-pandainya tupai melompat, sekali-sekali pasti jatuh jua. Segede-gedenya sebagai suatu negara, toh Amerika sempat ngalamin juga yang namanya krisis keuangan. Pada tahun 2007 lalu terjadi yang istilahnya Subprime Mortgage Crisis di sana. Dampaknya enggak enteng; harga saham perbankan di seluruh dunia jatuh. Termasuk di Indonesia, nilai tukar rupiah otomatis menjadi semakin melemah. Aku gak pernah benar-benar memperhatikan masalah moneter sih, karena, yah, aku gabegitu tertarik dengan dunia ekonomi. Film The Big Short menceritakan kepada kita krisis yang merontokkan bisnis saham di negara adidaya yang berujung dengan lumpuhnya ekonomi global tersebut. Bukan hanya tentang muasal dari gimana kredit perumahan bisa macet tetapi film ini juga menggambarkan reaksi beberapa orang analis ekonomi yang sudah memperkirakan ‘bencana’ itu dari jauh-jauh hari. Mereka bahkan berusaha untuk membalikkan keadaan. Menggunakan situasi ini untuk membuat bank-bank besar yang really greedy membayar semua kesalahan yang terjadi akibat the banks’ own policy.

The Big Short adalah FILM YANG DETAIL-ORIENTED banget. Membingungkan jika dipresentasikan dengan cara yang biasa. Banyak sekali istilah keuangan yang jadi pondasi dialog-dialognya. Untungnya, film ini juga tergolong komedi karena cara yang dilakukan film ini dalam bernarasi. The Big Short MEMAKAI CAMEO SELEBRITI yang nongol sewaktu-waktu untuk ngejelasin istilah-istilah tersebut kepada kita. Menyederhanakannya lewat analogi yang familiar sehingga lebih mudah untuk kita mengerti.

Tak jarang pula kita bakal menemukan tokoh-tokoh yang muncul melakukan suatu hal unik yang disebut breaking the fourth wall untuk mencairkan suasana. BREAKING THE FOURTH WALL itu maksudnya si tokoh menghadep ke kamera terus ngomong langsung kepada kita, kepada para penonton. Cukup lucu apalagi kita tidak bisa menebak kapan dan siapa yang melakukan adegan itu berikutnya. Meski kadang memang terasa agak excessive atau dalam-kurung lebay, toh ini adalah pendekatan yang perlu dilakukan oleh film semacam The Big Short dalam mengenalkan tema yang rumit, yang banyak memakai istilah-istilah bisnis yang tidak diketahui oleh umum. Langkah yang efektif terbukti sehingga lumayan membantu. Tanpa sekuen adegan-adegan tersebut dijamin aku enggak bakal punya clue apa-apa terhadap yang dilakukan oleh para tokoh film ini. Bertaruh melawan pasar itu maksudnya entah mereka jual atau mereka beli. Atau seserius apa masalah yang tengah mereka bicarakan dengan nada tinggi dan tampang-tampang kaget. Aku enggak bakal bisa nangkep ceritanya karena..

karena, beneran, pengalaman nyata terbanyak yang aku tahu tentang property mortgage adalah lewat permainan ini.

..beneran, pengalaman nyata terbanyak yang aku tahu tentang property mortgage adalah cuma lewat permainan ini.

 

Seperti nominasi Oscar 2016 lainnya, The Big Short adalah film kisah nyata yang berdasarkan kepada novel. Jadi terang aja kalo kita nemuin sedikit embellishment pada tokoh-tokohnya. For the most of part, para aktor bermain keren sehingga mereka benar-benar terasa seperti orang yang berbeda. Yang membuatku tertarik adalah karakter yang diperankan oleh Steve Carell dan Christian Bale.

Mark Baum, seorang money manager, dimainkan dengan penuh amarah oleh Steve Carell. Dia yang paling teriak-teriak dan bikin film beraura panik. Namun menariknya, marah pria ini bisa kita mengerti. Sedari awal dia emang pemarah, dan semakin dia mengetahui apa yang terjadi; korupsi, ketamakan bank-bank besar, dan pada akhirnya dia sadar apa yang sedang terjadi, Mark Baum menjadi semakin pemarah. Namun dia marah karena alasan yang tepat. Dan hal tersebut membuat karakter eksentriknya sangat enjoyable to watch. Dia membuat kita menertawakan ironi dari setiap adegan yang sangat emosional.
Lain lagi dengan keeksentrikan Dr. Burry. Tak salah memang Christian Bale mendapat nominasi untuk Pemeran Pendukung Pria Terbaik Oscar 2016. Michael Burry adalah seorang yang paham banget dengan angka-angka namun sama sekali nol besar kalo udah menyangkut hubungan terhadap sesama manusia. Bale tackled this character — yang hobinya bergendang-gendang dengerin musik rock – dengan keignorant yang begitu memukau. Ini adalah performance terkuat karena bukan hanya ditulis, namun juga dimainkan dengan logis.
Kalo mau dipas-pasin ama judul, maka yang paling pantas disebut ‘the big short’ dalam film ini adalah Brad Pitt. Penampilannya singkat, tapi gede. Kepada tokohnya lah kita paling gampang mengidentifikasikan diri. Pensiunan analis ini tetap tenang. Dia ‘terpaksa’ ikutan bermain saham lagi bukan untuk semata dirinya sendiri. Yang tampil short, justru adalah Ryan Gosling. Perannya enggak begitu menggugah karena mirip-mirip aja sama tokoh yang ia perankan dalam film Crazy, Stupid, Love. Kepentingannya tak pernah lepas dari sekedar narasi. Lucu. Sedikit over-the-top tapi. Sama halnya dengan GERAKAN KAMERA FILM INI YANG TERASA TERLALU GIMMICKAL, you know, they comes off kayak film-film mainstream yang menunjukkan kepanikan dengan gerakan cepet-cepet. Pandering dari shot yang pandangan kita terhalang-halang ke close-up wajah-wajah tegang. Juga sedikit goyang demi menimbulkan kesan enggak profesional yang memang diniatkan untuk terlihat begitu. Supaya berasa real. Tapi bagiku teknik pengambilan gambar demikian cukup mengganggu.

 

Jadi apakah The Big Short menertawakan tragedi? Enggak juga. Film ini masih serius dalam menangani keseluruhan krisis keuangan yang terjadi, mendeskripsikan runtutan adegannya dengan tepat, membuat kita mengerti cengkeraman dari dampaknya. Tapi itu semua diceritakan dengan sudut pandang yang berbeda. Kita melihat kejadian dalam film ini, yang sebenarnya merupakan sejarah, seperti orang dari masa depan yang ngeliat betapa primitifnya peradaban dan tingkah manusia jaman dulu. Menarik sekaligus menggelikan. Seolah dari atas, kita melihat The Big Short memaparkan bagaimana semua tipu-tipu, segala ketamakan dilakukan bukan hanya oleh bank yang terus aja mengeruk untung dari penduduk amerika yang terbuai ‘American Dream’ — semua orang ingin punya rumah kan? Keempat tokoh utama juga bukan orang suci, as kita menyaksikan usaha mereka mengisi kantong pribadi dahulu sebagai prioritas begitu mereka mulai bisa menerka apa yang bakal terjadi. Kemudian barulah The Big Short blowing off our minds saat memperlihatkan bagaimana pada akhirnya apa yang sedang terjadi mempengaruhi kemanusiaan dalam skala besar.

Film ini adalah pelajaran sejarah yang diajarkan oleh guru yang pandai bercerita serta hobi ngocol.

untuk memperingkas, krisis tersebut persis kayak kalo kita minjemin uang kepada orang yang kita tau ga bakal bisa bayar

jadi singkatnya, krisis tersebut persis kayak kalo kita minjemin uang kepada orang yang kita tau ga bakal bisa bayar. Hmm..?

 

 

Sekarang orang lagi rame berseru “Kami Tidak Takut”. Menurutku seharusnya lebih baik bilang “Kami Berani”. Karena berani adalah kita berani tapi bukan berarti tidak takut. Ada banyak hal yang harus kita acknowledge untuk kita takuti in order to be brave, apalagi setelah nonton The Big Short. Mungkin bukan takut teroris. Takut tentang segala kenyamanan keuangan yang kita miliki ternyata tidak berarti apa-apa. MONETARY VALUE IS NON-EXISTENT. Kita hidup dan bekerja demi sesuatu yang bisa raib hanya dengan sedikit goresan pena atau sedikit sentuhan pada tombol keyboard komputer.
Apa sebenarnya yang diusahakan oleh umat manusia?
Karakter-karakter dalam film ini boleh saja jadi kaya namun jauh di dalam mereka kosong, sama seperti kehidupan sosial kita. Kita menyangka sudah semakin dekat dengan kemanusiaan dan kedamaian karena dunia semakin mentereng. Padahal sebenarnya selama ini kita maju dengan membuat taruhan demi taruhan. Merasa tidak takut, maka kita bertaruh “datang saja kami akan menemukan cara untuk melawannya.” Oh yeah, mestinya kita takut. Supaya bisa menyadari apa justice dan tujuan hidup sosial yang sebenarnya. And only then we could learn. Dan barulah kemudian kita berani. Takut adalah pelajaran yang tak ternilai harganya. Masalahnya adalah, bahkan sampai sekarang pun banyak orang yang meski bilang “tidak takut”, mereka tidak berani menantang realita mereka sendiri, hanya berpuas dengan ‘jawaban’ yang diberikan oleh sistem.

 

Hal terbaik dari film ini adalah ia bisa membuat kita-kita yang tidak tertarik dengan dunia perbankan menjadi betah duduk dua jam menyaksikan – seringkali dengan bingung gangerti – the whole entire scene tentang masalah duit tersebut. Kombinasi yang hebat dari penampilan akting dan penulisan. Setiap tokoh utama dikucurkan silih berganti dengan ritme yang pas dan memberikan tingkatan dalam alur penceritaan. Lebih pentingnya lagi, film ini mampu memproyeksikan ketakutan kita, kemarahan, kebingungan, dan pertanyaan yang harusnya berani kita tanyakan kepada sistem keseluruhan. Film ini membuat kita nangis dan tertawa bersamaan. The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for THE BIG SHORT.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember in life, there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

 

 

We be the judge.

Advertisements