Tags

, , , , , , , , , , , , , ,

“It is okay to disagree, but ‘hate’ is such a strong word”

 

TheHatefulEight-Poster

 

 

Kebanyakan film Quentin Tarantino dikasih judul yang tembak-langsung. Django Unchained adalah film tentang si Django yang udah bebas, enggak dirantai lagi. Film Grindhouse dinamai begitu sebagai persembahan buat teater film-film kelas B yang dikenal dengan istilah “grindhouse”. Kisah cewek yang mau membunuh si Bill dikasih judul Kill Bill. Dan The Hateful Eight? Ya, kita bisa menebak ini adalah film tentang delapan orang yang penuh dengan rasa kebencian terhadap yang lain.

Karena di luar lagi badai salju parah, kedelapan orang ini terperangkap bareng dalam sebuah pondok kecil. Tidak mengenal satu sama lain, mereka hanya tahu reputasi masing-masing saja. Ada bounty hunter yang sendirinya buron, ada bounty hunter satu lagi bareng tangkapannya yang dibiarkan hidup, ada si sheriff baru yang belum dilantik, ada veteran perang, ada algojo dan macem-macem, pokoknya mereka semua punya rencana dan agenda pribadi. Hal tersebut membuat mereka saling curiga. Mereka semua mencurigakan. Apalagi kemudian terjadi sesuatu yang salah! Dari yang semula “gue sih asik aja asal mereka ga nyenggol gue”, keadaan dalam pondokan yang pemiliknya entah di mana tersebut menjadi semakin tegang saat mereka yang tidak lagi berdelapan mulai cekcok. Tidak ada yang tahu siapa, yang jelas si pelaku ada di antara mereka.

Dalam film terbarunya ini sekali lagi Quentin Tarantino menunjukkan kenapa ia begitu menakjubkan sebagai seorang sutradara dan penulis. The Hateful Eight adalah MISTERI WHODUNIT, YANG DIGABUNG DENGAN UNSUR DRAMA, DAN JUGA KOMEDI, BERDARAH — KADANG RADA ‘TERLALU’, YANG DICERITAKAN DALAM SETTING LINGKUNGAN KOBOI 1960AN. Ciri khasnya terasa sekali. Dan hal tersebut jualah yang membuat The Hateful Eight sebagai film keren yang menarik. Kita tidak bisa menuding film ini sebagai ‘tersangka tunggal’ dalam hal genre.

bang bang tut akar gulang galling, siapa yang kentut ditembak raja maling

bang bang tut akar gulang galing, siapa yang kentut ditembak raja maling

 

Kejadian The Hateful Eight seluruhnya tersusun atas orang-orang ngomong. Kadang ngobrol berdua, kadang ngedumel sendiri. Topiknya pun nyerempet ke mana-mana. Nyinggung masalah hubungan rasial yang sampai sekarang pun masih bersiul di Amerika. Bahkan digambarkan tegas dengan isi pondok yang dibagi jadi dua daerah – kubu Utara dan kubu Selatan – oleh John Ruth. Komen dan insight selipan yang lumayan penuh kebencian dari sang director. TENSI POLITIK DAN ALEGORI RASISME, toh, bukannya bikin cerita jadi berat. Tidak pernah sekalipun aku merasa bosan ngikutin adegan-adegannya. Selalu ada sudut pandang baru yang terbuka. Selalu ada penambahan intensitas. Selalu ada analogi-analogi liar yang bikin kita tertawa renyah kayak cewek perawan yang baru saja digombalin cowok untuk pertama kalinya, “hahaha bisa aja, ih! hihihi”.

 

Aku enggak tahu bagaimana cara ia menulisnya, tapi Quentin Tarantino ini bener-bener master dalam merangkai percakapan yang sangat-menarik-untuk-diikuti. Ingat percakapan gapenting tentang burger dan metric system di Pulp Fiction? Yea aku sudah sering menyebut tentang percakapan tersebut dalam review ku, karena sampe sekarang aku masih heran gimana orang ngomongin tentang hal sesepele itu mampu membuatku tertarik makin masuk ke dalam cerita. I’m telling you, after all this year, Quentin Tarantino still got it.

 

Perasaan terkungkung berhasil diterjemahkan dengan baik. Bukan hanya berkat hakikat cerita yang berupa misteri, namun juga oleh sinematografi dan gerakan kamera. Kita tidak pernah diberi kesempatan untuk melihat seisi pondok secara menyeluruh. Selalu dari sudut pandang salah satu tokoh, silih berganti. Teknik yang efektif karena membuat ketegangan suasana terbangun dengan baik. Para aktor juga melakukan kerja yang hebat dalam mempresentasikan kondisi mereka. Setiap kali ada yang ngidupin api atau nyeruput kopi, kita bisa merasakan kehangatan yang menjalari tubuh mereka. Kita terbawa dinginnya suasana pondok. Semua orang yang terlibat film ini mempersembahkan kemampuan terbaik mereka. Samuel L. Jackson, tentu saja, memimpin semua kehebatan tersebut. Paling hilarious saat adegan dia nyeritain kejadian di masa lalunya yang menyangkut tentang anak seseorang di dalam pondok. Dalam film Chi-Raq, Samuel Jackson juga kebagian bermonolog out-of-place tapi malah terlalu komikal akibat penulisan yang enggak mampu menyaingi apa yang dicapai oleh Quentin Tarantino. The best part dari adegan tersebut adalah sama sekali tidak ada bukti kalo yang ia ceritakan semuanya benar-benar terjadi. THE CHARACTERS ARE SO WELL-WRITTEN. Kurt Russel memainkan karakternya dengan sangat likeable, I actually cheering for him di sini. Jennifer Jason Leigh berhasil masuk nominasi Best Supporting Actress Oscar 2016, dengan mata berlingkaran hitam dan hidung bengkok habis dibogem. Dia menjelma menjadi cewek tawanan yang panjang akal dan sangat, sangat suspicious. Tak pernah sekalipun Daisy menyeka darah yang mengalir di wajahnya. Sehingga meski dia babak belur, kita tetap waspada dan ‘ngeh’ kalo ia adalah cewek yang berbahaya.

Manusia yang bikin rencana, namun Tuhan lah yang menentukan. Semua rencana para tokoh film ini gagal total. Film ini menggugah sistem pertahanan dasar dari manusia. Dalam kondisi kritikal di mana semua kelihatan berjalan keluar dari rencana, kita cenderung akan membentuk koalisi-tak-terduga untuk memastikan, paling enggak, hal bisa kembali berjalan on our favor. Dua bounty hunter yang punya pandangan cara membunuh yang berbeda dipaksa bekerja bareng. Dua orang yang berbeda idealisme terhadap ras mau tak mau duduk dalam kapal yang sama. Menyenangkan bagaimana The Hateful Eight menceritakan tema tersebut. Mengaburkan garis antara si Terhukum dengan Penegak Hukum. Menunjukkan manusia rela melepaskan apa yang dipercayai demi mendapatkan hal yang mereka inginkan.

It takes every ounce of a good teamwork to close that GD door.

It takes every ounce of a good teamwork to close that GD door.

 

Diceritakan dengan memakai chapter-chapter, The Hateful Eight sesungguhnya TIDAK LINEAR. Alurnya bolak-balik dalam arus waktu. Menjelang akhir, kita dibawa mundur kembali melihat bagaimana semua kejadian tersebut berawal. Hal yang biasa dilakukan oleh Quentin Tarantino dalam setiap filmnya. Namun dalam film ini, transisinya agak terlalu kentara. The mood is slightly unbalanced. Ibaratnya kalo lagi naik kereta kuda, kita sempat diturunin dulu sebentar sebelum melanjutkan perjalanan. Buatku cuma hal kecil tersebut yang sedikit mengganggu, tapi enggak fatal. The Hateful Eight tetaplah sebuah tontonan yang sangat menyenangkan, jika kalian suka menonton orang ngobrol. Porsi aksinya seperti yang bisa kita harapkan dari film-film Quentin Tarantino. Meski kali ini memang bukan aksi yang banyak lari-larian. Adegan mereka tatap-tatapan aja udah bicara lebih banyak dari adegan tembak-tembakan.

Tidak apa-apa untuk tidak setuju ataupun tidak menyukai, namun ‘benci’ adalah kata yang kuat. Dalam kasus film ini, kata ‘Hateful’ berdampak langsung kepada penonton. Ya, banyak yang membenci film ini, terutama dari kalangan fans Quentin Tarantino. Umumnya sih karena presentasi The Hateful Eight yang monoton, ngomong-doang, dan penyelesaian film ini yang enggak pernah diarahkan untuk menjustifikasi mental bobrok yang diumbar oleh tokoh-tokohnya.

At it’s heart, film ini memang kayak tokoh antagonis. We just love to hate it. Tapi bukankah antagonis yang bagus adalah tokoh yang bisa bikin banyak orang membenci dirinya mati-matian?

 

 

Mungkin itu sebabnya kenapa aku sangat menyukai film ini. Cuma Quentin Tarantino yang bisa bikin cerita misteri yang lurus namun juga penuh kejutan seperti ini. Penuh dengan dialog yang menarik sekali untuk disimak dan didelivered dengan penuh gaya oleh jajaran cast yang fantastis. Ini adalah jenis film yang enggak akan bosan ditonton berulang kali. Tiga jam waktu tersingkat yang pernah aku rasakan dalam menonton sinema. Tapi itu jika-dan-hanya-jika kalian tahan terkurung dan nontonin sepuluh menit orang ngobrol gaputusputus. The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for THE HATEFUL EIGHT.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember in life, there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

 

We be the judge.

Advertisements