Tags

, , , , , , , , , , , , , ,

“We always hurt those we care about most, because we expect them to love and forgive us”

 

SuratDariPraha-Poster

 

Kita cenderung untuk ngelakuin hal-hal ‘kejam’ kepada orang yang kita sayangi. Apalagi sama keluarga. Bener loh, buktinya, kapan terakhir kali kamu bertengkar dengan saudaramu? Nah kaaannn… Laras bahkan masih tetap antagonisin ibunya padahal beliau lagi terbaring di ranjang rumah sakit. Pertanyaan besar sesungguhnya adalah bukan kenapa, melainkan seberapa ‘kejam’ hal-hal ‘kejam’ tersebut. Laras sama sekali tidak mengira kata-kata tuduhan yang ia lontarkan bakal menjadi salah satu dari rangkaian hal terakhir yang keluar dari mulutnya yang hinggap di telinga sang ibu. Nah looo, ayo segera minta maaf sama saudara kaliaaannn.

Lain lagi dengan Pak Jaya. Tahun 1965 silam, beliau termasuk salah seorang mahasiswa putra bangsa yang dikirim oleh Presiden Soekarno untuk menimba ilmu ke luar negeri. Berangkat dengan tujuan mulia, sayangnya Jaya tak pernah pulang kembali. Situasi politik Indonesia kala itu memang sedang angot-angotnya. Rezim baru kemudian berdiri, membuat Jaya Muda dengan ideologinya harus menetapkan pilihan sulit yang semuanya atas nama cinta. Menolak Orde Baru adalah hal ‘kejam’ yang akhirnya dilakukan oleh Jaya. Dengan konsekuensi yang kejam juga, tentunya.

 

Surat dari Praha mempertemukan Laras dan Jaya. Literally; untuk dapetin wasiat ibu, Laras harus mendapatkan tanda tangan Jaya dengan mengantarkan sebuah peti kecil kepada sarjana nuklir yang kini menjalani hidup tuanya sebagai janitor gedung kesenian di sudut kota Praha. Dua orang yang sama sekali asing dipaksa berkonfrontasi dengan masa lalu mereka, yang ternyata berkaitan. Hal inilah yang dilakukan dengan mengalun begitu merdu oleh Surat Dari Praha. It was carefully crafted. Film ini tidak pernah menjadi terlalu politikal ataupun terlalu preachy dalam menangani jalinan ceritanya. Lebih mirip film-film kartun Studio Ghibli, malah. SIMPEL. INDAH. MENYENTUH. MANUSIAWI. Itu yang paling penting, manusiawi. Karena film ini membahas dua hal yang begitu fundamental dari manusia. Dua hal yang bakal bikin kita merenung sehabis menonton. Dua hal; Cinta dan Keberanian.

Masalah cinta memang pelik, apalagi kalo ditambah politik. Namun bukan berarti tidak menggelitik. Aduh, aku ini ngomong apaan sik?

Masalah cinta memang pelik, apalagi kalo ditambah politik. Namun bukan berarti tidak menggelitik. Aduh, aku ini ngomong apaan sik?

 

Apa yang dialami oleh tokoh-tokoh film ini, benar-benar dialami oleh orang-orang di luar sana. Para eksil (istilah untuk warga buangan suatu negara yang tinggal di negara lain) menjalani hidup terpisah dari keluarga dan kampung halaman mereka. Peristiwa sejarah yang melatarbelakangi Surat dari Praha sampai sekarang masih lumayan tabu untuk dibicarakan di Indonesia. Dari dokumenter buatan Joshua Oppenheimer berjudul The Look of Silence yang masuk nominasi Oscar tahun ini, kita juga sudah melihat bagaimana kebanyakan pihak yang terlibat lebih memilih untuk tidak membuka koreng lama. Pak Jaya pun begitu. Kita lihat betapa murkanya ia saat mengetahui maksud kedatangan Laras. Apalagi saat Laras menantangnya secara blak-blakan untuk menatap kembali masa lalu yang menurutnya sudah ia ikhlaskan tersebut. Ini adalah DRAMA YANG EMOSIONAL. Dengan karakter-karakter yang siap meledak setiap saat.

Bagi Pak Jaya, terasing adalah cinta. Kehilangan kewarganegaraan tidak melunturkan cintanya kepada ibu pertiwi, tidak peduli betapa keras usahanya mencoba mengusir kenangan yang hadir dalam wujud Laras. Jaya masih terdengar memakai bahasa jawa dalam percakapan. Jaya masih suka menyanyikan kidung dalam Bahasa. IT’S A TOUGH LOVE. Pun, ia masih merindukan sosok cinta sejatinya. “Hanya karena tidak pernah dibalas lah, maka saya terus menulis-menulis-dan menulis.”, katanya. Adegan Jaya menangis kepada Bagong anjing piaraannya setelah bermain piano adalah salah satu adegan terkuat dalam cerita. Dalam eksak momen itulah, kita mengenal siapa sebenarnya Pak Jaya yang terlihat menutup diri dari orang lain, yang bahkan untuk masuk ke dalam pagar gedung kedutaan Indonesia saja dia ogah. Kita mengerti ‘dari mana dia berasal’. Tyo Pakusadewo berhasil menampilkan kedalaman tokohnya dengan me….aduh, aku ngomong apa sih! Tyo Pakusadewo adalah dewo di sini. Titik. Aku enggak bisa membayangkan ada aktor Indonesia lain yang bisa memainkan tokoh Pak Jaya sedalam dan se-genuine yang dimainkan oleh Tyo. Dalam hubungan dua karakter yang miripmirip relations antara Harry Potter dan Severus Snape, Jaya tidak tersaji sebagai seorang yang keras hati, tok! Dia memang memegang teguh ideologinya, tapi naskah dan performance membuat kita percaya dan bisa melihat bahwa bapak ini, on the inside, adalah seorang yang vulnerable.

Ngimbangin di belakangnya, kita punya Julie Estelle sebagai Laras yang udah mulai buta terhadap apa itu cinta yang sebenarnya. Masa lalu dirinya yang cukup rough membuat Laras antipati. Kayak kita yang kadang gak peduli amat sama kejadian sejarah. Realisasi yang nantinya dialami oleh Laras ditampilkan dengan mengesankan oleh Julie Estelle. Transisi karakternya enggak maksa, sekali lagi berkat penulisan yang apik. Laras akan belajar banyak di sini. Film ini terlihat lihai dengan menjadikan Laras sebagai sudut pandang kita dalam memahami peristiwa sejarah. Angga Dwimas Sasongko mengarahkan cerita sehingga sukses bertutur tidak sebagai pemecah masalah, namun sebagai sebuah perspektif. Seperti bahwa tidak semua eksil adalah komunis, ataupun tidak semua yang kusut itu karena abis ketemu Soeharto. MELIHAT SEJARAH DARI DAMPAKNYA TERHADAP KEMANUSIAAN. Surat Dari Praha membantu mengangkat kembali kisah-kisah ketimpangan dengan tidak pernah mencoba untuk menjadi hakim. Ada beberapa Mahasiswa Ikatan Dinas beneran yang turut jadi cameo menceritakan apa yang mereka alami. Kalo The Big Short sudah ngajarin kita tentang ekonomi, tidak ada salahnya kali ini kita belajar sejarah bangsa lewat Surat dari Praha. Film ini adalah pelajaran bagi kita semua. Bukan hanya fakta sejarah, tapi juga pelajaran tentang mengakui cinta yang tak mengenal jarak dan waktu.

Terkadang yang harus diperlukan adalah memaafkan diri sendiri. Karena seseorang yang kita sakiti tersebut, tak jarang juga adalah diri kita sendiri.

 

Praha sebagai kota juga berhasil disajikan dengan baik. Ia bukan hanya sekadar latar, dan jelas ini bukanlah film jalan-jalan. Kita melihat ibu kota Ceko ini hidup dengan segala aktivitasnya. Kita melihat para tokoh berinteraksi dengan sekitar mereka. Praha actually dimanfaatkan dengan baik demi mendukung majunya narasi. Jika kalian nyempetin waktu membaca tulisan-tulisan pada poster filmnya, maka kalian akan tahu bahwa Surat dari Praha juga terinspirasi dari lagu-lagu ciptaan Glenn Fredly. Karenanya dalam film ini telinga kita juga akan dimanjakan dengan penampilan musikal. Ada banyak adegan yang menampilkan Laras ataupun Jaya bernyanyi Sabda Rindu dengan memainkan alat musik. Tentu saja hal tersebut tidak mendatangkan cela apapun kepada drama cantik ini. Adegan yang paling aku suka adalah shot-bergantian antara Laras yang main piano di rumah dengan Jaya yang memainkan harmonika nya di atas panggung.

It was beautiful and very-well done

It was beautiful and very-well done

 

Dan kemudian cerita mengambil resolusi yang sedikit aneh. Pernah nonton The Age of Adaline taun kemaren? Kurang lebih seperti itu, kinda disturbing kalo dipikir-pikir, but I think I just don’t have a say on that, really. Satu lagi yang kecil namun paling mengganggu adalah iklan selipan! Jika hanya berupa latar atau properti yang dipakai oleh tokoh filmnya sih gapapa. Tapi adalah sangat menghina bila menonton bioskop dan serta merta kita ngeliat tokoh nyengir-nyengir megang produk barang, shoving it to our faces. Emangnya lagi nonton tv!?

 

 

Film ini adalah sebuah tontonan cinta yang diwarnai dengan politik. Melalui dialog dan karakterisasi yang ditulis dengan cermat penuh perasaan, kita juga akan ditantang untuk mengakui masa lalu – untuk berkonfrontasi dengannya. Pelajaran sejarah belum pernah begini cantik. Dituturkan lewat keindahan visual dan kemagisan audio, kita akan turut merasakan getir dan hangatnya drama relationship yang tak mengenal umur ini. The Palace of Wisdom gives 8 out of 10 gold stars for SURAT DARI PRAHA.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember in life, there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

We be the judge.

Advertisements