Tags

, , , , , , , , , , ,

“Most people don’t do too well when their reality’s challenged.”

 

TheBoy-Poster

 

Beda antara nyentrik dengan gila memang setipis kertas. Setidaknya bagi kita – orang normal – mereka terlihat sama-sama aneh. Enggak lumrah. Bikin kita geleng kepala. Terkadang tanpa rasa bersalah kita ngetawain orang-orang yang melakukan hal di luar kebiasaan umum, “hahaha, mana ada orang yang … (isi dengan kelakukan ajaib)”. Sedikit yang kita tahu, kewarasan sama sekali bukanlah tentang kebiasaan. Normal dan Ajaib sesungguhnya lebih tipis daripada rambut yang dibelah tujuh. Ini adalah soal persepsi. Bagaimana kita memandang sesuatu. Suatu perkara bisa jatuh ke dalam kotak ‘biasa aja, tuh!’ atau ‘gile lo, Ndro?’ dengan sama entengnya kayak barang-barang yang berpindah tempat akibat ulah Brahm di dalam film The Boy ini. Lewat horor terbarunya, sutradara William Brent Bell akan menantang realita kita dan nunjukin gimana persepsi terhadap kenyataan bisa berubah dalam satu degupan jantung saja.

 

Wanita berdarah Amerika mendapat tawaran pekerjaan untuk jadi babysitter anak keluarga Inggris. Keluarga yang mempekerjakannya tersebut kaya dan cukup eksentrik. Ngerinya, anak yang bakal diasuh ternyata bukanlah manusia. Peri Biru sepertinya kena macet sehingga bocah kecil tersebut masih berwujud sebuah boneka. Boneka yang diperlakukan selayaknya anak manusia sungguhan oleh kedua orangtuanya. Dengan dibekali oleh daftar peraturan dan jadwal si anak, Sam dan Cat pasrah menerima pekerjaan tersebut meski bingung dan takut. Loh kok jadi Sam dan Cat??

Sori ketuker, soalnya cerita The Boy mirip banget sama cerita episode Halloween serial kocak Ariana Grande ini

Sori ketuker, soalnya cerita The Boy mirip banget sama cerita episode Halloween serial kocak Ariana Grande ini

 

Dalam The Boy, Greta Evans lah yang kebagian bengong setelah dia tau akan menghabiskan waktu main boneka-bonekaan. Tugas yang gampang, sebenarnya. Karena itulah Greta tak ambil pusing saat kedua pasangan Heelshire yang sudah tua-tua itu meninggalkan Greta di rumah gede mereka. Greta mengurus rumah sekenanya. Cewek ini sebodo amat sama Brahm. Orang waras seperti Greta gabakal betah bangunin dan bacain buku kepada boneka porselen. Greta malah asyik ngobrol dengan Malcolm si tukang antarbarang sehari-hari alih-alih mematuhi jadwal keseharian Brahms. Asyiknya film ini adalah kita bakal melihat perubahan drastis seorang Greta (Lauren Cohan meraninnya yahud banget, enggak ada cerita yang enggak berhasil ia sampaikan) semakin lama dia tinggal seatap dengan Brahms. Kejadian-kejadian aneh mulai terjadi. Barang-barang pada ngilang dan berpindah. Suara-suara anak kecil terdengar entah dari sudut rumah bagian mana. Bukan nyali, realita Greta lah yang sedang diuji. Film ini pun tidak pernah memperlihatkan persisnya Brahms si boneka bergerak. Menciptakan perasaan mendua. Apakah Brahms memang hidup? Atau apakah Greta yang sudah jadi gila?

 

Atau apakah aku yang sudah gila karena punya Kana?

Ngerem sebentar, sebenarnya menonton ini termasuk lucu buatku. Kalo The Boy punya Brahm, maka aku sendiri punya Kana Litnuk.

Dia suka membaca...

Dia suka membaca…

For quite some time now, aku sering ngepos Kana di instagram dan path sebagai seolah sosok nyata, ngebuild mainan hantu tersebut sebagai semacam maskot. Tapi setahu yang kusadari, aku masih waras kok! xD

 

 

 

Boneka mengerikan memang bukan sesuatu yang baru dalam konsep horor. Namun pendekatan kejiwaan yang dilakukan film ini sebagai sebuah misteri thriller, membuat passion The Boy terasa kuat sekali. PRODUCTION VALUE NYA ENGGAK MURAHAN. Berhasil meciptakan suspens dan tensi yang lumayan berasa. Ada jump scare sih beberapa, tapi tidak terlalu mengganggu karena penggunaan musik yang enggak berlebihan. Kisah misteri yang terjadi makin asik untuk diikuti karena rumah besar itu berhasil mengeluarkan atmosfer yang seram dengan ruang-ruang gelap dan bunyi keriut-keriutnya. Film ini dengan tepat menerjemahkan apa itu ketakutan dan bagaimana ngerinya saat kita tidak tahu lagi mana yang normal. Arahannya terlihat lihai memancing rasa penasaran kita yang nonton, yang udah pada was-was bersiap dengan kemunculan si boneka. Tampang putih licin keramik si Brahms yang menatap kamera lekat-lekat mampu bikin kita menyipitkan mata dengan serem. Shots diam yang memperlihatkan patung ataupun boneka jelas adalah keahlian The Boy. Eerie banget!

Premis boleh sama, tapi penggalian The Boy lebih mendalam kepada unsur psikologis ketimbang cerita Sam and Cat yang, tentu saja, ditujukan untuk komedi. Yang terasa mengganggu adalah film ini terlihat sebagai kerja yang enggak rajin-rajin amat dengan hanya menggunakan adegan-adegan mimpi yang untuk menayangkan momen paling mengerikan. Namun jatuhnya monoton alih-alih bikin makin horor. Untungnya buat soal karakter, film ini mau menuliskannya dengan cukup masak. Karakter Greta dibuat punya cerita latar yang menjadikannya titik temu yang kuat dengan apa yang terjadi terhadap keluarga Heelshire.

Bagi Greta ini sudah berubah menjadi tanggung jawab besar sebagai seorang ibu, bukan lagi sekedar tugas mengasuh boneka tak bernyawa. Hubungan yang terjalin antara Greta dan Brahms bisa dibilang manis dan cukup menggugah. The Boy sedikit mengangkat mengenai situasi ibu yang kehilangan seorang anak.

 

Makanya aku jadi rada kurang sreg sama keputusan cerita yang diambil oleh The Boy dalam mengakhiri misteri. Pertama, endingnya terlihat minjem dari cerita klasik Wes Craven, The People Under the Stairs ataupun dari thriller Housebound yang bikin penonton tercengang tahu 2007 silam. Dengan premis dan ending, itungannya udah dua tuh, The Boy ternyata tidak seoriginal kelihatannya. Sori kalo aku menggugah kenyataan kalian yang mengagumi betapa fresh nya film ini. Kedua, sekuens babak terakhir tersebut membuat semuanya menjadi enggak masuk akal. Meski memang menarik film ini mengundang banyak pertanyaan daripada memberikan jawaban, namun resolusi di akhir menimbulkan tanda tanya gede tentang ‘kenyataan’ dalam dunia film ini. Salah satunya adalah tentang motive, like, “apa yang didapat oleh Brahms dengan menakut-nakuti Greta?”

nah, mata ikan asin kan elo!??

Nah, mata ikan asin kan elo!??

 

Secara teknikal, memang efektif sih. Full of suspense. Editing yang keren. Twist yang likeable, yang membuat kita melihat seisi rumah tersebut dari sudut yang lain. Tapi ini sekaligus juga adalah ending yang membuat semua kejadian awal di film jadi gak make sense. Penjelasan yang enggak logis terhadap keseluruhan cerita. Apalagi bagian paling akhirnya yang dibuat sok-gantung. Tipikal twist mainstream yang diambil untuk bikin kecele penonton semata. Karena for some reason, sekarang orang-orang menyangka bahwa yang seperti begitulah yang bagus. Padahal kenyataannya, twist haruslah berupa satu-satunya resolusi yang masuk akal. Namun pada The Boy, seluruh cerita malah jadi runtuh akibat pengungkapan mengejutkan nya. Penggemar horor bakal suka. Namun penggemar horor yang peduli bakal merasa film ini seharusnya bisa lebih seram dan dalem lagi. IT DOESN’T HAVE TO END THAT WAY. Mengecewakan sebuah film yang dimulai dengan sisi psikologi yang kuat seperti ini musti berakhir dengan klise.

 

Jauh lebih baik dari Annabelle. Performance dan teknis film ini tergolong di atas rata-rata. Kekurangorisinilan premisnya bisa lah tertutupi oleh pendekatan psikologis yang dipake. Tidak serta merta jadi film boneka hantu yang jahat. Misterinya actually didukung oleh suspens yang bikin bulu kuduk meremang. Film ini dirusak hanya oleh ending klise yang dipilih yang membuat semuanya menjadi enggak make sense. Dan itu lumayan fatal. The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for THE BOY.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember in life, there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 
We be the judge.

Advertisements