Tags

, , , , , , , , , , , , , , ,

“Love never changes”

 

AachAkuJatuhCinta-Poster

 

Ngomongin film, kita tidak akan pernah bisa benar-benar terlepas dari budaya. Budaya asli suatu daerah, budaya serapan, ranah komersil juga punya budaya; budaya populer. Bagi Garin Nugroho malah budaya sudah menjadi semacam bahasa untuk semua film-filmnya. Makanya jarang ada yang bisa langsung kita mengerti. Menelan bulat-bulat film sutradara yang satu ini sama kayak makan seutuh jambu batu yang belum dipotong ibunya Yulia dalam sekali telan. Enak, tapi mengganggu. Terasa ada yang nyumpek. Selayang pandang, film Aach… Aku Jatuh Cinta adalah kisah kenangan cinta dua tetangga masa kecil. Tapi dari gaya penceritaannya sendiri, kita tahu di balik aneh dan rusuhnya hubungan mereka, ada suara kecil yang bikin kita terpana dan ingin menyelam lebih dalam. Suara budaya dalam cinta.

Kisah ini diperlihatkan kepada kita sebagaimana Yulia (akting Pevita Pearce berkembang banyak di sini) membacakan halaman-halaman buku harian nya. Penuh bertuliskan kenangan masa kecilnya. Nama Rumi (Chicco Jerikho udah enggak cocok deh jadi anak SMA haha) terang saja tertera di sana. Sebagai tetangga, banyak yang sudah mereka lalui bersama. Rumi anak pembuat limun yang bandel dan Yulia yang bapaknya londo. Yulia bilang kisah cinta mereka lebih mirip Tom dan Jerry. Memang begitulah adanya. Sebagian besar film kita akan melihat mereka bersitegang, kadang ringan-kadang membuat Yulia menangis, karena hal-hal yang dilakukan Rumi. Pendekatan komedi yang blak-blakan terlihat dari tingkah polah Rumi, yang suka rock’n roll dan sebenarnya puitis tapi film ini membuat kita enggak yakin apakah sebenarnya Rumi sendiri yakin dia sengaja puitis atau tidak.

Kalo dituliskan, Aach… Aku Jatuh Cinta ini terasa seperti berbait-bait. Adegan terasa berlompat tapi narasinya tidak pernah menjadi campur aduk. Yang diacak-acak justru adalah emosi kita yang menonton. Tak jarang disertai pula dengan mata yang berbinar oleh gambar yang diatur Garin untuk masuk ke dalam sudut penglihatan kita. Aku suka sekali dengan perlakuan pengambilan gambar yang dilakukan film ini. Bukan hanya mentingin pemandangan semata. Tapi juga berhasil membuat setiap gambar ada maknanya. Lampu sepeda berbentuk ‘love’ menemukan faedahnya begitu ia menjadi perantara di tembok belakang di antara Rumi yang sedang meluapkan gulana hatinya kepada Yulia yang terisak. Dan adegan-adegan nyanyi, waaahh, saat nonton Guru Bangsa: Tjokroaminoto aku sungguh tertegun dari joget Terang Boelan yang out-of-place namun efektif itu. Kini, dalam film ini, ada serangkaian musikal serupa yang membuat film menjadi lebih absurd-tapi-asyik. “Dari Mana Datangnya Asmara” nya Ismail Marzuki mengalun sedari awal dan konsisten menjadi irama yang membungkus kenangan manis Yulia. Ada juga adegan nari-nari sambil menjahit, yang si Yulia kinda breaking the fourth wall, sangat menyenangkan!

poetry in motion

poetry in motion!

 

Perubahan jaman memegang peranan penting dalam cerita romansa ini. Modernisasi yang terjadi kala itu memberikan konflik langsung, baik kepada Yulia maupun Rumi. Singgungan budaya bukan hanya jadi latar namun juga sukses mendorong majunya narasi. Kadang karakter budaya ini justru terlihat lebih kuat daripada karakter manusianya sendiri. Aach… Aku Jatuh Cinta dengan tepat membimbing kita melewati perubahan dunia yang terjadi di tahun 70an, 80an, dan 90an. Bagaimana limun digantikan oleh produk impor. Segimana kuatnya pengaruh televisi terhadap tata norma masyarakat. Kita melihat Yulia remaja dimarahi hanya karena memakai lipstik atau bahkan karena menggigit jarinya. Memberikan sedikit pandangan tentang perbedaan kehidupan sosial dan ekonomi pada masa lalu dengan masa sekarang. “Jaman sudah berubah!” tidak sekali dua kali kalimat tersebut keluar dari mulut pelaku cerita.

ADALAH WAKTU YANG MENJADI TOKOH UTAMA YANG SEBENARNYA. Waktu satu-satunya yang mengalami perubahan di dalam film ini. Ya, memang gara-gara waktu situasi tak lagi sama. Ada perjuangan yang dilakukan. Botol limun, jambu klutuk, lipstik merah, bahkan beha adalah relik dari aliran waktu yang mempengaruhi perkembangan mereka. Sementara para manusia tersebut, berdiri dalam arus waktu, terputar-putar kadang. On the inside, mereka tetap.  Rumi dan Yulia, mereka tetap bertengkar, mereka tetap punya masalah, begitu juga sebaliknya mereka tetap saling mencari. After all this time, cinta tidak pernah berubah.

Jika cinta sejati itu dibiarkan pecah, maka hidupmu yang mana lagi yang akan berubah?

 

Estetika dalam dialog sudah jadi signature move Garin Nugroho. Selalu LEBIH SEPERTI PUISI KETIMBANG PROSA. Tutur kata yang diucapkan oleh para tokoh terdengar sumbang di telinga kita yang terbiasa mendengar percakapan sehari-hari. Penyampaiannya nyaris surealis. Meski memang diniatkan begitu, tapi tetap saja aku tidak bisa menahan mulut untuk tidak nyengir mendengar delivery naskah dari Pevita. Secara gestur, tidak ada masalah pada penampilannya. Pevita terlihat natural memakai baju-baju klasik itu. Akan tetapi, aku tidak merasakan intensitas lewat ucapannya. Tidak ada rindu yang harusnya menghiasi kalimat-kalimat puitis tersebut. Suara dan nadanya, hampir seolah dia tidak mengerti apa yang sedang ia baca..

Mungkin bisa lebih baik dan pas jika film ini mengambil arahan yang sepenuhnya surreal.

Mungkin bisa lebih baik dan pas jika film ini mengambil arahan yang sepenuhnya surreal.

 

Karena sungguh susah menikmati alunan ritme asmara jika kita enggak mengerti ‘darimana’ datang tokohnya. Kita harusnya bisa langsung fokus mikirin gugatan apa yang ingin disampaikan oleh Garin kali ini tanpa terjebak peduli kepada karakter yang menyimbolkan. Kita mengerti kisah mereka mirroring Adam dan Hawa yang juga dimulai dengan hukuman. Hanya saja aku tidak sepenuhnya merasa ups-and-downs kepada kedua karakter karena sampai akhir film, aku ngerasa belum menemukan gagasan mereka. Metafora apa di balik kegelapan yang ditakuti oleh Yulia? Sepanjang film dua kali dia gelap-gelapan, dan dua-duanya berujung sama. Apakah hanya seperti cerita duku Rumi yang besar kemungkinan guyon belaka? Kadang seolah film ini lebih mementingkan development budaya daripada tokoh-tokohnya. Terutama, menganakemaskan waktu. Tanpa dinarasikan pun, kita bisa tahu cerita sudah sampai di tahun berapa berkat cermatnya penggambaran sosok latar tersebut. Di lain pihak, mungkin aku terlalu jauh tersesat di dalam cerita, but really, aku enggak tahu cerita ini terjadi di kota mana. Ada bahasa melayu, ada dialek jawa, ada foreigner. MULTICULTURAL AT ITS BEST; nyasar yang meriah. Sementara cerita tokohnya dalam beberapa kesempatan hanya jatuh ke dalam eksposisi. Dalam film ini, kita menyangka komedi digunakan untuk memperingan tone dan mengurangi jumlah geleng-geleng kepala penonton. Tapi pada kenyataannya di layar, adegan-adegan yang mestinya membantu film malah membuatnya menjadi cacat. Terlalu rendah walaupun untuk hiburan semata. Terasa kurang ajar, kepada waktu (sekali lagi!). Film ini memilih waktu yang tidak bisa lebih tak-tepat dalam melepas lelucon sehingga mengalpakan logika tokohnya. Wanita rapuh dengan pola pikir kritis tidak bisa menahan diri untuk ngobrol setelah ijabkabul selesai? Tidak ada kekuatan cinta atau apapun di sana!

 

Banyak yang dibahas oleh film ini, it’s rather deep. Kisah cinta yang satu ini menguar kuat oleh perspektif budaya. Dituturkan dengan khas Garin, sebagai bait-bait puisi. Tematis dan penuh nilai estetika. Meski namanya mirip, film ini bukanlah serta merta versi terbaru Romeo dan Juliet nya Indonesia. Pun karena seperti puisi, tidak gampang untuk masuk kepada tokoh-tokohnya yang seringkali terlalu puitis untuk kebaikan mereka sendiri. Aku ingin menyukainya lebih. Aku ingin memberikan lebih banyak bintang emas. Tapi aach… jatuh cinta enggak bisa dipaksa. The Palace of Wisdom gives 7 gold stars out of 10 for AACH… AKU JATUH CINTA

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember in life, there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

We be the judge.

Advertisements