Tags

, , , , , , , , , ,

“The greatest crimes in the world are not committed by people breaking the rules but by people following the rules.”

 

TheFinestHours-Poster

 

Perhatiin gak beberapa tahun belakangan lagi ngehits banget bikin film yang diangkat dari kejadian yang pernah terjadi. Lihat saja nominasi Oscar tahun ini. Bukan hanya film bagus, nonton film yang biasa-biasa aja pun seringkali kita menemukan tulisan “berdasarkan kisah nyata” dipajang sebagai nilai jual utama. Padahal dulu film-film enggak seunjuk gigi begitu loh, ke mana perginya tulisan “cerita ini hanya fiktif belaka, kesamaaan nama dan tempat hanyalah ketidaksengajaan saja” itu sekarang?
Sebenarnya predikat film yang demikian memang cuma strategi pemasaran aja. Film yang ‘minta maaf’ biasanya memang diniatkan untuk nyinggung suatu kejadian beneran. Sementara film yang membusung dada bilang ia adalah kisah sejarah manusia, justru cenderung menyelipkan banyak unsur fiksi sehingga ceritanya bisa jauh lebih menarik. The Revenant misalnya, Hugh Glass yang asli tidak punya anak Indian yang mati dibunuh.

Toh, to some extent, semua film sebenarnya adalah kerja fiksi. Tapi kita tetep lebih suka nonton film yang ditempeli label “dari kisah nyata”. Kenapa? Simpelnya karena kita suka nonton perjuangan orang-orang yang berhasil, apalagi kalo tokoh yang punya mimpi sama dengan kita itu benar-benar ada. Makanya, tidak susah bagi The Finest Hours untuk memikat kita. Drama penyelamatan ini dibuat untuk mengenang kisah empat orang Penjaga Pantai yang mengarungi badai dalam sebuah misi penyelamatan setengah Kapal Tangker Pendleton. Perjuangan yang nyaris mustahil. Membuat Bernie Webber, Richard Livesey, Andy Fitzgerald, dan Ervin Maske menjadi pahlawan dalam sejarah kelautan Amerika. Dan bukan Disney namanya jika tidak berhasil memasukkan hati ke dalam cerita yang basah namun hangat tersebut.

gile aja itu ada yang duduk di ujung kapal, face-to-face ama ombak!

gile aje itu ada yang duduk di ujung kapal, face-to-face ama ombak!

 

Jika dibandingkan dengan In the Heart of the Sea (2015), CGI yang digunakan oleh The Finest Hours memang ketinggalan. Namun pengalaman yang disuguhkan juga tak kalah seru. Musik latarnya sangat mendukung experience saat kita menonton. Ada adegan nyanyi untuk membangkitkan nyali dari salah seorang relawan, random tapi it is a nice touch, jadi kerasa Disney nya!

Secara garis besar ADA TIGA NARASI UTAMA di dalam film ini, dan dua di antaranya akan membuat kita terombang ambing, berpindah dari satu kapal yang mau tenggelam ke kapal yang diterjang badai lain. Laut selalu marah, membuat intensitas adegan senantiasa meningkat. Ada saja penghalang tangker itu mencari tempat dangkal. Terus saja ada hambatan yang didapat oleh motorboat yang mencari si kapal tangker. Build-up yang efektif. Terlebih karena kita sudah dikenalkan kepada tokoh-tokohnya. Baik bagi Webber maupun bagi si engineer kapal, Sybert, bencana ini adalah ajang pembuktian diri mereka masing-masing. Kedua orang cakap ini punya masalah yang sama. Mereka orang pasif yang lebih suka nurut perintah atasan walau enggak jarang mereka malah lebih tahu mana yang lebih baik. Untuk kasus Ray Sybert, saking lay low nya, dia enggak berani menatap mata rekan-rekannya saat melaporkan kondisi kapal kepada semua orang.

Mengikuti perintah atasan adalah hal yang penting sebagai sebuah tim, tapi ada saatnya kita harus mengikuti perintah kata hati sendiri. Karena kesalahan paling besar adalah mengikuti apa yang jelas-jelas tidak benar.

Chris Pine dan Casey Affleck mengemudikan film ini dengan kenon-agresifan tokoh mereka masing-masing. Buatku, Chris Pine sebagai Bernie Webber terasa lebih genuine. Dalam beberapa kesempatan kita merasakan keengganannya untuk menjalankan perintah. Dan di adegan dia bengong ditinggal pergi setelah bilang “tidak” kepada calon tunangannya, well, kita seolah bisa mendengar roda-roda otaknya berputar mempertimbangkan jawaban yang sudah ia berikan. Motivasi Webber, rasa bersalahnya – apa yang membuat dia menjadi lebih memilih untuk manut, lebih bisa kita mengerti. Alhasil semua nya terasa kebayar setelah dia memutuskan melawan perintah, justru saat keadaan lagi genting-gentingnya. Bukan karena seumur-umur belum pernah dipanggil “kapten”, kita tahu ada sesuatu yang lebih dalem yang membuat Webber berubah.
Sebaliknya tokoh Sybert yang diperankan Casey Affleck malah condong ke arah annoying. Lebih sedikit ruang untuk Affleck mengembangkan karakternya. Untuk sebagian besar waktu, dia hanya kelihatan sebagai si tahu-segala yang pendiam. Saat menolak ditunjuk sebagai pemimpin, alasan yang ia lontarkan terdengar kayak remaja labil yang super-angsty, “Nobody likes me!”.. well, yea, boo-hoo for that! Ujungnya juga tidak spesial. Momen Sybert memuji Webber di atas kapal penyelamat seharusnya bisa lebih epik lagi mengingat itu adalah momen ketika kedua pribadi yang ‘tumbuh bareng dalam cerita’ bertemu untuk pertama kali.

 

 

Apa persamaan dari badai dan pernikahan? Itu bukan tebakan, itu adalah hal yang ditanyakan oleh Mirriam kepada Webber. Pertanyaan yang bikin pria yang sehari-hari melaut itu menjadi sadar. Tokoh yang dimainkan dengan manis tapi tegas oleh Holliday Grainger ini adalah pasangan kontras yang sempurna untuk Webber. Kontra mereka juga digambarkan lewat cut antar-adegan yang terasa sangat ‘keras’ antara mereka berdua. Kita ngeliat Webber kesusahan mengemudikan kapal di tengah ributnya deru angin dan –pet!—adegan pindah ke Mirriam di daratan yang hening dan penuh kecemasan. Agak sedikit menganggu, sih.

Sepertinya mustahil untuk menulis analisis literal terhadap karya jaman sekarang tanpa ada implikasi feminisme di dalamnya, hahaha, kehadiran Mirriam dalam The Finest Hour memperkuat keyakinanku akan hal itu.

Webber diketawain oleh rekan pelautnya lantaran Mirriam lah yang practically melamar duluan alih-alih sebaliknya. Dan dalam usahanya sebagai si aktif, Mirriam yang menerobos kantor Kapten Cluff, terlihat sebagai lambang perjuangan kesetaraan gender. Bahwa siapa yang pake celana dan siapa yang pake rok tidak lagi jadi soal dalam hubungan mereka. Pada intinya Mirriam adalah tambatan emosional buat Webber.

mereka kenalan lewat telepon, karena 1952 belum ada facebook hihi!

mereka kenalan lewat telepon, karena 1952 belum ada facebook hihi!

 

Karena sebagian besar adegan terjadi di malam hari, FILM INI GELAP SEKALI. Mungkin untuk menutupi kekurangan dalam efek visual. Tapinya lagi malah berbuntut kita susah untuk mengikuti apa yang terjadi. Bahkan saat siang pun kita akan dibuat bingung oleh percakapan tentang istilah laut yang pastinya tidak familiar. Sutradara Craig Gellispe tampaknya lebih nyaman bermain di darat bersama tokoh-tokohnya. Adegan-adegan intens di laut, tepatnya lebih terasa diintens-intensin. Aksi mengemudikan kapal bermanuver menerobos badai membuat Webber serasa pahlawan super. Aksi penyelamatan kru Pendleton terasa diatur dengan segala drama-drama nya, hampir mirip episode Fear Factor. Aksi kamera nya juga kadang terlalu susah untuk membuat kita fokus; ada saat ketika film ini mengambil gambar dengan take panjang ala Birdman – waktu adegan penyampaian informasi dalam Tangker Pendleton – but it just doesn’t work.

Yang tidak bisa dikesampingkan begitu saja adalah BANYAKNYA KEBETULAN DEMI MAJUNYA NARASI FILM. Aku enggak tahu apakah dalam peristiwa nyatanya memang begitu. Masalahnya adalah terlalu banyak kebetulan bukanlah hal yang bagus untuk sebuah film. Kebetulan radar menangkap badan kapal yang sebenarnya telah kehilangan kemampuan untuk ngirim sinyal. Kebetulan kompas hilang dan motorboat berjalan ke arah yang benar. Kebetulan kalo yang badannya paling gede meninggal sehingga beban kapal kecil jadi enggak berat-berat amat. Kebetulan mereka muncul tepat di dermaga kota, HA! Penjelasan ‘masuk akal’ yang diberikan film ini adalah si Webber tahu arahnya jika ia bisa merasakan hembusan angin di telinga kanannya. Meh, I didn’t buy that even for a second. Ending film ini lebih lemah ketimbang ending The 33 (2015), film dari kisah nyata penyelamatan para penambang terperangkap di bawah tanah.

And oh, ngomongngomong, kenapa jumlah korban terperangkap dalam dua film ini sama ya? Ada apa dengan tiga-puluh tiga? Hiiii…!!

 

Dua jam menonton ini jelas bukan lah the finest hours dalam bioskop yang pernah kualami. Namun juga bukan yang buruk. It was fine. Film ini masih enjoyable. Gaya Disney membuat kisah nyata yang inspirasional ini semakin gampang untuk disukai. Tapi narasi nya terlalu bergantung kepada kebetulan, hal yang juga diakui dalam filmnya sendiri dengan istilah “keberuntungan”. Sayangnya, kebetulan-kebetulan tersebut membuat film ini sendiri menjadi tidak lagi seperti kisah nyata. The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 for THE FINEST HOURS.

 

 

 

That’s all we have for now.
Remember in life , there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

We be the judge.

Advertisements