Tags

, , , , , , , , , , ,

“Life imitates art more than art imitates life.”

 

ACopyOfMyMind-Poster

 

Dalam film ada yang namanya lambang/lingkungan-budaya. Yang membuat kita bisa mengidentifikasi dari mana film tersebut berasal. Yang di dalamnya ada kebiasaan yang spesifik. Yang membedakannya dengan film dari belahan dunia lain. Film India, misalnya, akan banyak kita jumpai tari-tarian, ujan-ujanan, ataupun pakaiannya yang berlapis kain-…kainan? lol you get the point. Budaya gak mesti muluk ditunjukin oleh adat-adat seperti begitu, keseharian suatu masyarakat atau suatu komunitas juga bisa jadi penunjuk. Basically, lambang-budaya adalah identitas film. Namun seringkali unsur yang satu ini dinomorduakan. Padahal film akan jadi sangat bland jika tempat hanya jadi latar dan waktu cuma berupa siang dan malam. Karena film sesungguhnya bukanlah hanya tentang aktor memerankan seorang tokoh tertentu. Film adalah penceritaan. It involves everything, semua harus bisa memberikan cerita.

 

Salah satu nilai paling kuat A Copy of My Mind adalah KEHADIRAN SEMESTAnya. Bukan hanya melihat, kita juga berada di tengah kota Jakarta yang panas, ramai oleh penduduk dengan segala kebiasaannya. Sari adalah salah satu di antara warga biasa Jakarta. Dia enggak kaya, enggak terkenal, sehari-harinya dihabiskan dengan kerja di salon dan pulang untuk nonton DVD. Yang kadang ia beli, kadang ia colong. DVD bajakan pula! Dosanya udah dua, tuh. Menariknya, Sari punya self-righteousness mengenai hobinya itu, “Bajakan juga duit!” katanya. Tepukan selamat layak kita berikan buat Tara Basro dalam menghidupkan tokoh ini. Sebagai wanita jelata yang hidup di ibu kota, perjuangan yang ditunjukkannya terasa genuine. Sejak di majalah Gadis, aku selalu melihat Tara ini dalam cahaya tokoh antagonis, mungkin karena parasnya haha. Tapi dalam film ini dia sukses memainkan tokoh wanita utama yang we truly feel for her. Aku paling suka adegan saat Sari jajan mata ke mall, nontonin tv-tv pajangan yang berlayar datar dan canggih-canggih. Seketika kita tahu dia punya mimpi. Punya harapan. Dia tahu keinginannya apa. Kita bisa lihat Sari sebagai seorang yang cukup ambisius, dia punya cara untuk mendapatkan yang ia mau. Dia enggak ragu untuk pindah tempat kerja ke salon lain. Tempat tinggal membentuk karakternya, dia enggak segan untuk protes saat DVD yang dia beli enggak bisa dinikmati karena teks nya jelek.

Bersama Sari, kita pun lantas berkenalan dengan Alek, orang yang udah bikin subtitle ngaco di beberapa bajakan yang ditonton Sari. Diperankan oleh Chicco Jerikho, Alek ini jadi semacam ‘alat’ yang bikin Sari tetap ‘napak’ di dunia. Bahkan Alek muncul tepat waktu saat Sari kudu pindah-sementara karena kosannya mau direnovasi. Dia sudah ada untuk Sari bahkan sebelum mereka berkenalan; lewat teks terjemahannya. Romansa tak dapat dielakkan, untungnya Chicco dan Tara punya chemistry natural yang membuat adegan mesra mereka tidak nampak dipaksakan. Kemudian kerjaan dan hobi Sari membawa mereka bersingungan dengan hal yang biasanya selalu mereka hindari. Seperti Adam dan Hawa yang memetik buah, ‘Sari dan Alex kehilangan ‘surga’ mereka saat Sari mencuri DVD ‘apel’ dari seorang tahanan politik yang jadi klien perawatan facial nya.

 

Politik lawan orang kecil. Agaknya itu yang jadi tumpuan utama cerita ini. Penjara mereka saja lebih mentereng daripada rumah Sari. Orang kecil toh seperti Sari tidak banyak ambil pusing, mereka bahkan kesal dengan kampanye politik di jalan-jalan. It kinda mutual sebenarnya, sebab bagi politik pun, orang-orang kecil hanya jadi kerikil. Dan memang begitulah adanya. Orang kecil bukan apa-apa. Tidak ada yang mencari Alek saat dia hilang. Hanya Sari yang merana.

 

Berkat film ini Joko Anwar dan Tara Basro memenangkan Festival Film Indonesia 2015, masing-masing Citra untuk kategori Sutradara dan Pemeran Utama Wanita Terbaik. Kisah yang diceritakannya kali ini sangat dekat. Jarang loh nonton film Joko Anwar dan kita masih belum mengernyitkan dahi kebingungan saat sudah sampai tengah. Passion nya akan film menguar sekali di sini. Satu karakter yang menarik perhatianku adalah Bude si ibu kos Alek. Backstory nya, apa yang dilakukannya (atau apa yang tidak dilakukannya) bisa saja jadi arc tersendiri dalam cerita. Sari dan Alek sangat relatable buat masing-masing kita. Mekipun mereka penduduk Jakarta, dan mungkin sebagian kita enggak, mereka tetap bisa mewakili kita karena karakterisasinya yang grounded ke realita. Siapa coba yang gak suka beli DVD bajakan, nonton, atau aku malah sering iseng bikin terjemahan film versi ku sendiri. Dialognya dihimpun ringan. Tak jarang lucu. Akrab di telinga karena masih ngobrolin seputar film sebagai hiburan murah meriah mereka.

it includes tutorial bagaimana memilih film bajakan yang berkualitas.

it includes tutorial bagaimana memilih film bajakan yang berkualitas.

And also, perhatiin enggak gimana “elo-gue” berubah menjadi “aku-kamu” dalam satu hari antara Sari dan Alek? Ini adalah salah satu contoh budaya yang memperkuat identitas film A Copy of My Mind. Bagi orang Jakarta, elo-gue dipake secara percakapan normal, dan aku-kamu buat nunjukin kedua lawan bicara punya hubungan personal yang intim. Sebaliknya from where I come from, aku dan kamu adalah panggilan umum, sedangkan penggunaan elo-gue dalam percakapan bakal mengakibatkan yang ngomong berakhir jadi korban bully-an.

 

Masalah A Copy of My Mind terletak pada konflik ceritanya memerlukan waktu yang terlalu lama untuk kick-in. Kalau ada SATU KATA YANG BISA MENGGAMBARKAN FILM INI, MAKA KATA ITU ADALAH “TERLALU”. Ironis ga sih mengingat tokoh film ini supposedly sangat sederhana?
A Copy of My Mind terasa terlalu excessive dalam menuturkan cerita. Ada beberapa hal yang seharusnya bisa dipotong atau paling enggak ditaroh belakangan demi pace cerita. Sembilan-puluh menitan terasa lama sekali. Dalam studioku saat menonton aja, para penonton sudah terlalu capek untuk peduli saat Sari mencari-cari Alek. Aku duduk di deretan A – yang paling atas – jadi aku bisa melihat dengan jelas (tepatnya dengan terpaksa) para penonton lain sudah mulai sibuk menyalakan hape di babak akhir tersebut.

Aku gagal paham dengan kepentingan dari sekuen adegan intim yang ditunjukkan di paruh awal. Bercinta seharusnya sama dengan adegan kelahi dalam film laga. Harus ada yang diceritakan. Akan jadi pointless jika disajikan tanpa ada treatment atau teknik khusus. Adegan seks yang dishot dengan cermin dalam Eyes Wide Shut (1999) penting karena digunakan Stanley Kubrick untuk memperkuat tema through-the-looking-glass film itu. Dalam Don’t Look Now (1973) adegan intim kontroversialnya sangat intense karena melambangkan grief. Kalo enggak kepotong sensor, kita akan tahu lebih banyak tentang cinta kurangajarnya Deadpool (2016). Ada dua (dan setengah) kali adegan dewasa dalam A Copy of My Mind tapi gak semuanya terasa punya kepentingan. It was barely hot. Sampai membuat kita bertanya; apakah memang perlu di-push? Jadi artsy dan berani banget? for all we know, they only did it because they can.

 idiih, nonton film ini jadi kepengeeennnnnn……. MAKAN MIE INSTAN!

hmm nonton film ini jadi kepengeeennnnnn……. MAKAN MIE INSTAN!

 

Kamera digoyang-goyang di adegan daerah pinggiran dan stabil begitu latarnya punya status yang tinggian. Di awal-awal aku masih senang, karena penanganan khusus begini yang bikin film asik. Tapi kelamaan, jatuhnya malah annoying.
Playful nya film ini bukan hanya sampai di situ. Cut atau pindah adegan yang dilakukan film ini sangat extreme. Dari suasana bising, pindah ke tenang. Berisik-senyap. Shaky cam- fixed cam. Desahan bokep-kumandang azan. Perpindahan yang dengan tepat memberikan kesan kontrasnya dunia dan kehidupan yang kita jalani. Namun sekali lagi, semuanya jadi terasa berlebihan. Film terus saja mengulang perlakuan yang sama. Lagi. Dan lagi. Ini membuat kita ingin lepas dari cerita, like, “Okay, I get it, stop messing with my eyes! And my head!”

 

Hobi nonton film sampai kepengen punya home theater sendiri, Sari secara gak sadar mendambakan hidup yang sama seperti yang ia tonton. Dia suka nonton film monster karena itu membuatnya mikir dunia nyata enggak sekeras dunia film. Sayang, mimpinya akan Alek tidak akan pernah terwujud. Cintanya tidak akan berakhir bahagia. Hidup Sari sebagai orang kecil adalah perjuangan yang terus menerus tiada akhir, seperti yang ditunjukkan oleh film ini yang berakhir abrupt tanpa tertutup

 

Pengembangan yang terlalu panjang membuat cerita terpaksa menjadi sedikit eksposisi. Isu tentang politik dan sosial yang diniatkan jadi main event, justru jadi seolah tempelan. Sekuen klimaksnya pun harus bersandar di pundak penjahat bego. Begini maksudku, apa yang dilakukan oleh penjahat yang mencari keping DVD itu adalah tindak gede yang menggerakkan cerita. Only it was just really stupid. Kalo dia sudah yakin, kenapa malah menangkap Alek alih-alih buntutin? Bukankah tujuan utamanya adalah mencari Sari sang pencuri DVD? Oh, beberapa menit kemudian it turns out karena mereka ingin masukin adegan penyiksaan. As if softporn belum cukup, film ini ingin masukin hardcore stuff juga.
Padahal akan jauh lebih oke saat film ini fokus ke adegan facial, seperti di beberapa kali yang dilakukan oleh film ini. Ada banyak street-wisdom yang bisa dimasukkan ke dalam obrolan klien-klien itu dengan Sari. Juga akan bagus buat pengembangan karakter, karena dalam film ini Sari dan Alek tidak banyak berubah selain mereka ujungnya jadi pacaran.

 

Ini adalah jenis film yang akan membuat kita berpikir. Tentang politik. Tentang manusia dan kuasanya. Tentang mana yang palsu dalam kehidupan. Dan semua itu atas nama uang. Arahan film ini bukan main-main. Jujur menampakkan potret Jakarta. It was really grounded into reality. Tapi aku enggak bisa bilang aku suka film ini. It feels unnecessarily too long. Aku merasa enggak berubah setelah nonton sebanyak yang semestinya bisa dicapai oleh film semacam ini. Sebagaimana subtitle buatan Alek, ide film ini just not translated well ke layar karena penceritaannya. The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for A COPY OF MY MIND.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 
We be the judge.

Advertisements