Tags

, , , , , , , , , , , ,

“We think we know everything that is to know. But we don’t.”

 

Room-Poster

 

At some point on our life, kita semua pasti pernah duduk diam gak mikirin apapun kecuali, “apa sih ini semua?”. Aku sendiri waktu kecil sering bikin mama ku emosi dengan narik-narik ujung bajunya sambil nanya yang gapenting semacam kenapa rumah namanya rumah atau kok warna merah dipanggil merah. Mempertanyakan realita adalah bukti kenapa kita disebut sebagai makhluk hidup. “Apa ini?” “Apa itu?” “Apa guna semuanya?”. Demi menjawab pertanyaan yang ngefilosofis seperti demikian, Plato menulis sebuah alegori yang terkenal dengan judul Allegory of the Cave. (PS: jika kalian bertanya siapa itu Plato, maka sori aja itu bukan filosofis, itu namanya complete ignorant. Read a book!) Dalam tulisan Plato itu, Socrates dan Glaucon lagi ngobrolin tentang beberapa orang yang sedari kecil terperangkap di dalam gua, mereka hanya mengenal benda-benda dari bayangan yang terpantul di dinding batu, malahan tanpa pernah melihat sumbernya. Plot twist cerita tersebut datang ketika salah satu dari mereka bebas dan setelah selesai terkagum-kagum dengan dunia luar, ia kembali ke dalam gua untuk mengajak serta teman-teman nya. Film Room yang diadaptasi dari karangan novelis Inggris, Emma Donoghue, basically adalah versi modern dari alegori Plato tersebut. Yah ditambah dengan unsur thriller, dan cinta ibu-dan-anak, dan akting keren, yang membuat film ini jadi lebih menohok dan awesome.

Alegori-Gua... Emma Dono-ghue... “Kenapa mesti gue?!”

Alegori-Gua… Emma Dono-ghue… “Kenapa bukan elo?!”

 

Posternya saja sudah memancing tanda tanya gede. While it’s nice ada kasih sayang di sana, ada pohon juga, ada langit biru, tapi dunia mereka persegi. Secara garis besar, sajian drama Room dapat kita kasih dinding pembagi jadi TIGA BAGIAN SESUAI BABAKNYA. Yang paling mirip Allegory of the Cave adalah yang babak pertama, saat kita melihat kedua tokoh ibu dan anak itu di dalam rumah mereka. Tunggu. Rumah yang tempat tidur, dapur, dan toiletnya nyatu (ew!). Apaan sih ini semua?

Si kecil Jack tidak tahu ada dunia yang lebih luas di balik ruangan yang selama ini jadi tempat tinggalnya bersama sang ibu. Mereka tidak pernah keluar dari kamar segiempat tersebut. Gua yang sempurna. Api di dalam gua digantikan oleh televisi dalam film ini. Bagi Jack, inilah dunianya. Dia punya ibu yang ngajarin banyak hal dari yang ia tonton di TV, dia punya mainan dan tikus sebagai teman, dia punya kasur untuk tidur, dia punya lemari untuk dia tidur kalo Old Nick datang berkunjung di malam hari. Jack merasa nyaman di dalam sana. Dan kemudian realita yang sudah dibangunnya selama lima tahun itu dihancurkan oleh Ma – panggilan untuk ibunya. Peran Ma ekuivalen dengan orang yang pertama keluar dari gua dalam alegori Plato. Ma tentu saja tahu bahwa ada pilihan yang lebih baik ketimbang menghabiskan umur dengan berkurung. Heck, Ma tahu alasan kenapa mereka terkurung. Ada misteri mengenai keberadaan mereka namun film ini tidak lantas khusyuk menjadi thriller ala Panic Room (2002). FOKUSNYA ADALAH, BUKAN KENAPA MELAINKAN, BAGAIMANA. Tanpa eksposisi, Room mampu mengalir dengan natural, menegangkan, kemudian mengharukan, dan di atas itu semua; terasa nyata. Membuat kita peduli dan mengkhawatirkan mereka. Ini adalah drama yang sangat kuat. Satu-satunya manusia lain yang pernah bicara kepada Jack malah menggugah pandangannya terhadap hidup. Jack bingung. Jack tidak mengerti. Jack marah dan kita merasakan semua itu secara langsung.

Sudut pandang kita sebagai penonton disejajarkan dengan sudut pandang Jack. Lebih daripada itu, bukankah Jack memang seperti kita semua? Bukankah kita punya gua kita masing-masing? Apalagi jaman teknologi sekarang. Internet dengan gampang jadi sosok gua buat kita. Gua terang benderang yang dalam, kalau boleh kutambahkan. It is so easy to get lost di dalam zona nyaman. Kita pikir kita telah melihat banyak. Kita pikir kita bisa melakukan apa saja. Kita pikir kita punya banyak pengikut. Well, sedihnya, sama seperti Jack dan orang-orang gua dalam cerita Plato, banyak dari kita yang lebih suka memiliki bayangan daripada keluar mengejar apa yang seharusnya bisa kita dapat.

 

Paruh pertama film ini terasa begitu sempit. Dan itu hanyalah salah satu dari sekian hebatnya film Room. Shot-shot pendek yang diambil dari close angles membuat kita turut merasakan perasaan terkurung. Ke-intens-annya pun tak luntur saat film mulai cerah dan lapang. Yang divisualkan dengan gambar yang lebih luas oleh kamera. Act kedua adalah tentang apa yang terjadi saat Jack benar-benar keluar dari dalam ‘zona-nyaman gua’ nya. Enggak bisa enggak, kita wajib memuji penampilan aktor yang memerankan Jack. Menakjubkan bagaimana anak seusia Jacob Tremblay bisa begitu meyakinkan dalam bercerita, dia enggak tampil sebagai anak yang annoying, malahan dia sangat ekspresif sebagai seorang anak yang polos – yang bahkan belum pernah melihat matahari. Haru mungkin adalah perasaan yang paling jarang kualami saat menonton film, dan yea, cara film ini menceritakan detik-detik Jack melihat mentari untuk pertama kali; dia berguling-guling berusaha keluar dari dalam karpet sebelum akhirnya seolah menetas dari dalam telur, wow it was the most beautiful scene I’ve ever seen, maybe since Pan’s Labyrinth (2006) ending.

Lebih dari sinematografi, Room mengutamakan kepada karakter dan cerita. Memasang Jacob Tremblay adalah langkah jitu. Memadukannya dengan Brie Larson sebagai Ma alias Joy adalah selangkah menuju kesempurnaan. Brie sangat fenomenal di sini, berikan saja Best Actress Oscar itu kepadanya sekarang! Room adalah film yang emosional. Dari cemas ingin anaknya selamat hingga cemas ingin anaknya benar-benar menikmati masa kanak yang normal, tidak satu kali pun kita merasa Brie lebay atau terlalu over memainkan perannya. Dan memang cerita film ini tidak diniatkan untuk jadi ajang cry-fest. Film ini menunjukkan kekuatan di balik kecemasan tokoh-tokohnya. Brie dan Jacob dengan sukses memperlihatkan cangkupan emosi yang luas yang membuat peran mereka terasa nyata dan hidup, bahkan sampai film ini selesai. Sampai aku ngetik review ini pun, aku masih merasa terpengaruh oleh karakter mereka, oleh kisah hidup mereka.

Sebuah ruang akan terasa seperti ruangan jika ada pintunya, dan hanya akan benar-benar jadi ruangan jika kita memilih untuk menutup pintu tersebut.
Room membukakan mata kita bahwa masih akan terus ada hal-hal yang tidak kita ketahui. Dan jika kita tidak punya kemauan kuat untuk belajar lebih banyak, untuk terus mempertanyakan sesuatu, maka kita enggak lebih baik daripada tinggal di dalam gua, atau ruangan kecil dalam kasus film ini. Seperti Jack, terima uluran tangan dan lihat sampai di mana tangan tersebut membawa kita.

 

Banyak adegan yang bakal bikin kita speechless. Kita enggak bisa melupakan tatapan kakek Jack yang menolak untuk mengakui Jack sebagai cucunya, dan pandangan itu beradu dengan mata Jack yang penuh takut-takut namun harapan. Kita enggak bisa menulikan telinga dari kebimbangan dan putus asanya Ma yang mempertanyakan posisinya sebagai orangtua, yang dibalas tulus oleh Jack “But you’re Ma”. I was deeply moved by Room. Adalah sebuah sesuatu yang mengerikan saat orangtua mulai merasa dirinya tidak pantas, tapi film ini memutarnya menjadi keindahan dengan adegan-adegan Jack yang mulai menerima dunia baru, tapi tetap tidak melupakan asalnya.

Ini adalah jenis film yang kita bisa tahu runtutan kejadian, atau mungkin sudah hapal isi novelnya, tapi tetap saja akan memberikan pengalaman nonton yang selalu paling indah. Aku bisa nulisin sepanjang dan sedetil-detilnya apa yang terjadi tapi tetap tidak akan mengurangi kenikmatan menontonnya. Spoiler gak ngaruh buat Room. Dan itu adalah karena PENCERITAAN FILM INI SANGAT LUAR BIASA.
Memasuki babak tiga mungkin cerita bisa terasa mulai… yaah mainstream. Briefly, Room mencoba mengangkat masalah tentang eksposur oleh media. It might get to over-the-top, but guess what? Performa Brie Larson yang constantly amazing membawa kita terhanyut ke dalam layer cerita berikutnya. Pertanyaan telak yang diberikan reporter kepada Joy pun akan membuat kita terdiam. Masalah abandonment serta kekhawatiran orangtua merasuk kuat bahkan jika kita belum ngerasain gimana jadi orangtua. Bagaimana kita bisa saat nyatanya kita sendiri belum selesai bertumbuh. Well, here’s another fact: Kita tidak akan pernah selesai bertumbuh.

Satu-satunya yang bikin aku kesal dari film ini adalah kenapa bukan aku yang kepikiran punya cerita kayak begini ahaha. Meski begitu, banyak juga yang memberikan kritik dengan menganggap Room terlalu happy ending. But hey, cerita ini dimulai dengan sangat depressing. Bukankah yang namanya plot itu adalah sang tokoh berakhir di posisi yang berbeda dari semula? Aku suka dengan bagian penutup film ini. Jack dan Joy memperlihatkan perkembangan karakter yang signifikan. Mereka sudah menerima keadaan hidup mereka masing-masing. Kalo kubilang film ini malah enggak nunjukin banget mereka itu pada akhirnya bahagia ataupun sedih. Mereka cuma bersyukur. Lagian mau sedih segimana lagi, tega amat sama anak kecil..

I mean, seriously, they started this playing with egg-shells!

I mean, seriously, they started out playing with egg-shells!

 

 

Penampilan yang luar biasa dari departemen aktingnya membuat film ini tidak bisa untuk jadi jelek. Sinematografi yang dengan tepat menghadirkan abstraknya konsep ruangan. Powerful in every way. Membawahi isu seputar kemanusiaan yang diceritakan dalam ruang (see what I did there, huh? Huh? :D) psikologis dan filosofis. Film ini menyuruh kita mengeset ulang pandangan kita terhadap dunia. Mengajarkan untuk ikhlas menerima. Perspektif karakter-karakternya bakal bikin tertegun. Kompleks secara emosional, this movie will changes us as a person! The Palace of Wisdom gives a square 9 gold stars out of 10 for ROOM.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember in life, there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 
We be the judge.

Advertisements