Tags

, , , , , , , , , , , ,

12647526_1122688107765387_6273770672408015946_n

 

Jalan adalah simbol dari hidup manusia. Suatu jalan bisa lebar banget dan menghantarkan kita kepada yang namanya nasib. Tak jarang kita akan menemukan jalan yang bercabang. Salah belok dikit aja, kita bisa-bisa bakal nemuin jalan buntu. Fastlane 2016 adalah jalan bagi superstar WWE menuju sebuah kesempatan emas. Sebuah jalan yang penuh dengan rintangan. Persahabatan dipertaruhkan pada malam ini saat masing-masing mereka berlomba menuju Wrestlemania!

It’s everyman for himself. Klise, tapi memang pada akhirnya setiap dari kita berjuang untuk kepentingan diri kita sendiri. Roman Reigns dan Dean Ambrose lebih dari sekedar mengerti tentang apa arti persahabatan. Mereka kini berdua, padahal tadinya bertiga. Masing-masing menjadi lebih sebagai saudara kepada yang lain, Reigns dan Ambrose sudah membuktikan berkali-kali bahwa mereka tidak akan memberi ruang buat pengkhianatan selanjutnya. Mengeroyok mereka malah makin membuat mereka kompak. Namun bukan keluarga McMahon namanya jika enggak licik. Menggunakan momentum Triple H yang jadi juara WWE, pihak Authority kembali mencoba memancing di air butek dengan mengadu Roman Reigns dan Dean Ambrose untuk kesempatan bertanding menantang kejuaraan Triple H. Dan biar lebih meriah, ditambahkanlah Brock Lesnar ke tengah-tengah. Sukur-sukur Reigns dan Ambrose bisa lebih dari sekedar saling bunuh, begitu mungkin pikir Stephanie McMahon saat menggagas pertandingan Triple Threat tersebut.

Build-up perseteruan di acara Fastlane sudah lebih dari cukup sebagai starter yang bikin fans bersemangat menonton. LATAR BELAKANG DRAMA YANG CUKUP EMOSIONAL. Pengharapan fans tentu saja di ujung setiap drama ada pertandingan yang seru punya. Paling menarik buatku adalah cerita persahabatan yang aneh antara Sasha Banks dan Becky Lynch. Kita tahu Sasha dan Becky pernah partneran di NXT, tapi tetep aku terus aja kepikiran Goku dan Bezita setiap melihat mereka berdua sekarang hahaha. WWE ngepush mereka sebagai unlikely alliance. Dalam pertandingan tag melawan Naomi dan Tamina, Sasha dan Becky nunjukin dominansi mereka sebagai sebuah tim. Akhir pertandingan seru tersebut sangat kuat, bener-bener memperlihatkan kedua divas ini punya tenacity yang sama gedenya. It was great job dari semua cewek yang terlibat, the match was highly entertaining. Naomi dan Tamina sold every moves dengan natural.

Malam yang dibuka dengan musik Sasha Banks haruslah jadi malam yang spesial.

Malam yang dibuka dengan musik Sasha Banks haruslah jadi malam yang spesial.

 

Waktu kecil aku menganggap finishing move yang berupa kuncian atau submission adalah gerakan yang paling ngebosenin. Para superstar yang menggunakannya pun identik dengan antagonis dan cenderung nyebelin. I mean, apa serunya sih ngeliat Ankle Lock dibandingkan aksi terbang teatrikal semacam Swanton Bomb. But as my brain developed, aku sadar kalo PRO-WRESTLING SAMA SEPERTI FILM, ADALAH TENTANG STORYTELLING. Setiap gerakan yang dilakukan kudu ada nilai ceritanya, ada purpose, ada intensitas yang mampu menggerakkan penonton. Memang sih penggunaannya enggak terbatas pada sifat tokoh, namun submission lebih efektif jika digunakan oleh antagonis/heel. Liat aja Ric Flair yang mengaplikasikan beragam trik curang ke dalam finisher Figure Four Leg Lock. Atau Iron Sheik yang menyimbolkan Camel Clutch sebagai tanda musuhnya sudah humbled. Gerakan submission membuat kita merasa peduli terhadap apa yang dilakukan si jahat terhadap kesehatan si baik. Bagi tokoh face/protagonis, dipiting dan dikunci adalah lambang perjuangan tanpa menyerah. Psikologi-dalam cerita semacam itu mampu tersampaikan dengan baik lewat gerakan submission.

Chris Jericho mengerti betul akan dua hal tersebut. Cerita dan submission. Pertandingannya melawan AJ Styles sungguh memukau. Dengan tempo yang terjaga baik, both AJ dan Jericho sudah sama-sama punya pengalaman yang lebih dari cukup untuk mampu membawakan alur pertandingan dengan gereget tinggi. Mereka berdua punya skill teknik yang tinggi. Ini adalah pertemuan mereka yang ketiga sejak Royal Rumble bulan lalu. Selalu ada sesuatu yang baru tersaji dalam pertarungan mereka. Feel nya. Alur balas-balasannya. Jericho berperan sebagai heel dan AJ juga memainkan peran dengan gemilang sebagai babyface baru yang sadar dirinya seorang fenomenal dan dia suka untuk membuktikan itu. Kendati demikian, kita semua tahu bahwa respect adalah denyut nadi pertarungan mereka. AJ bermain agresif sementara Jericho lebih taktikal. Kedua orang ini punya chemistry yang luar biasa. Momen saat Styles Clash berhasil disarangkan ke Chris Jericho adalah titik klimaks pertandingan. Unbelieveable dan saat kita menyangka tidak bisa lebih bagus lagi, here comes the closing. AJ sepertinya di-push untuk punya maneuver submission pamungkas, dan Jericho ngejual gerakan tersebut dengan teramat meyakinkan. Suspens dan cerita terdeliver tanpa cela.

Ada tiga match malam ini yang berakhir dengan submission. Charlotte melawan Brie Bella untuk kejuaraan Divas menyuguhkan apa yang bisa jadi laga paling emosional. Brie datang dengan mengenakan top-gear kembarannya, Nikki, dan leg-pad suaminya, Daniel Bryan. Tindak persembahan yang potensial mengharukan. Nikki baru selesai operasi leher dengan sukses dan Daniel Bryan just recently ngumumin pensiun dini lantaran tubuhnya yang sudah begitu banyak didera injury. Bagi Brie pertandingan ini adalah hadiah manis yang bisa diberikannya kepada dua orang terdekat. The match should have been more dramatic. Sayangnya, Brie masih terlalu hampa untuk membawakan cerita. Pertandingan ini kehilangan ‘api’ nya. Menonton ini kita hanya melihat superstar yang memakai – bukan hanya atribut, tapi juga gerakan – superstar lain tanpa ada intensitas yang terasa. Charlotte is usually decent on the ring namun di sini dia terlihat menahan-nahan. Kehadiran Ric Flair enggak berdampak terlalu banyak. But memang mainly karena Brie just not good enough. Tidak sedikitpun kita merasakan perjuangan Brie, dia bahkan enggak berusaha meraih tali ring saat dikunci dengan Figure Eight oleh Charlotte.

 

Pertandingan perebutan sabuk menjadi sideshow dari cerita tentang persahabatan yang dipertaruhkan.

Malahan Kejuaran United States hanya berstatus sebagai pre-show. Kontes pembuka acara yang bahkan ditayangkan di luar durasi resmi dua jam setengah. Owens melawan Ziggler dalam kontes Intercontinental bagus seperti biasanya, namun sekali lagi kita tahu gitu aja kalo gelar yang jadi taruhan tidak akan berpindah tangan. Enggak ada ‘hook dan daging’ yang cukup untuk membuat kita mempertanyakan siapa yang keluar sebagai juara di akhir pertandingan. Khusus buat Ziggler, belakangan ini dia terlihat trying too hard. Aku mulai bosan dengan si Show-Off ini karena dia tidak pernah benar-benar memberikan sesuatu yang baru. Dan kini, dia jatohnya seperti downgrade version dari Dean Ambrose.

dat hair tho!

dat hair tho!

 

Fastlane diisi oleh BANYAK FILLER sehingga membuat kemegahan acara ini berkurang drastis. Penampilan kocak Edge dan Christian bareng The New Day seharusnya bisa diset untuk menampilkan sesuatu yang lebih intriguing ketimbang bacot gak jelas. Kelemahan terbesar WWE adalah promo yang males-malesan seperti begini. Sudah jarang sekali mereka menautkan bigger picture ke dalam promo. Kebanyakan yang kita lihat adalah iklan-tembak-langsung.

Untuk sebuah acara yang bertajuk balapan dengan jalan berkelok segala macem, Fastlane relatif berakhir dengan cepat. Aku kaget saat menonton Brock Lesnar lawan Roman Reigns lawan Dean Ambrose, like, “udah gitu doang?!” Serunya aksi pertandingan sehingga membuat the match itself kerasa ngebut. Mark out momen saat Ambrose dan Reigns ngedobeltim Lesnar pake Powerbomb ala Shield ke meja komentator. DUA KALI!!
Tapi kalo kita mau jujur dan melihat dari balik kacamata fanboy, memang presentasi main-event tersebut kurang sreg dari segi drama dan cerita. Apalagi dengan build-up yang menjurus seperti yang sudah mereka lakukan. Sebagian besar dari duapuluh menitan itu dihabiskan dengan set up. Tindak lunatic Ambrose membuatnya terlihat paling lemah di sini. Dia menyerang Lesnar dari belakang. Dia yang noleh duluan ke Reigns saat mereka ingin ngeroyok Lesnar. I was expecting more back-and-forth di dalam ring juga ngarepin banyak close-calls yang bikin kita gak betah duduk. Mungkin karena dalam hati kita sudah yakin seratus persen siapa yang bakal keluar sebagai pemenang. Tapi seharusnya mereka bisa melakukan pertunjukan lebih dari Lesnar monster utama jadi Ambrose dan Reigns harus jatuhin dia duluan.

"I end my turn."

“I end my turn.”

 

 

Apakah keprediktablean hasil akhir yang membuat Fastlane enggak asyik untuk ditonton? Bisa iya bisa tidak. Show ini berusaha untuk menutupi hasil yang gampang ditebak dengan cerita yang juga gampang untuk kita relate to. Cerita-cerita leading up to this ppv menurutku cukup kuat. Akankah kita akan mengorbankan persahabatan demi kejayaan dan prestasi? Namun saat eksekusi di dalam ring, match yang penting justru terasa kehilangan grip terhadap ceritanya. Untuk kasus Roman Reigns, WWE seolah insecure pada detik-detik akhir sehingga mengubah fokus menjadi aksi-aksi untuk membuat Reigns terlihat pantas untuk berduel dengan Triple H di Wrestlemania nanti. Selain itu, aku gagal paham kenapa ada begitu banyak segmen yang bisa kita skip. Kentara sekali ada kontras star power yang tegas di dalam roster. WWE perlu ngasih banyak waktu buat ngedevelop superstar papan tengah saat acara mingguan mereka.
1. DIVAS TAG TEAM MATCH Sasha Banks dan Becky Lynch mengalahkan Naomi dan Tamina
2. INTERCONTINENTAL CHAMPIONSHIP Kevin Owens mempertahankan gelar atas Dolph Ziggler
3. SIX MEN TAG TEAM MATCH Ryback, Big Show, dan Kane mengalahkan The Wyatt Family
4. DIVAS CHAMPIONSHIP Charlotte retains over Bri Bella
5. SINGLE MATCH AJ Styles bikin Chris Jericho tap-out
6. SINGLE MATCH Curtis Axel ngepin R-Truth
7. TRIPLE THREAT FOR NO.1 CONTENDERSHIP Roman Reigns ngalahin Dean Ambrose juga Brock Lesnar

The Palace of Wisdom menobatkan pertandingan AJ Styles vs. Chris Jericho sebagai Match of the Night.

 

 

 

 
That’s all we have for now.

Remember in life, there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

 
We be the judge.

Advertisements