Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“Don’t deny what’s obvious to see.”

 

Jingga-Poster

 

Mata adalah panca indera yang paling sering kita overlooked. Aku yang matanya minus aja terkadang tidak menyempatkan diri untuk mensyukuri apa yang bisa aku lihat. Beragam bentuk dan rupa, tapi sebenarnya jauh lebih sederhana; dunia ini indah karena kita bisa melihat warna-warna. Bangsa parasit Yeerks dalam buku cerita Animorphs aja, motif utama mereka mengambil induk semang adalah karena ingin melihat warna-warni. Buta adalah pilihan terakhir setiap makhluk yang bisa berpikir. Well, bagaimana jika kemampuan melihat cahaya dan warna itu direnggut dari mata kita?

 

Film Jingga menceritakan kepada kita tentang kisah seorang remaja yang harus melanjutkan hidupnya sebagai tunanetra. Gimana dia menyingkapinya. Seperti apa reaksi keluarganya. I tell you, Jingga BISA MENJADI FILM YANG SANGAT DEPRESSING. Terutama di babak awal. It tackles an issue soal putus asa seorang anak remaja. Ditambah dengan denial dari sosok sang ayah. Bukan sekadar “angst angst angst”, si Jingga ini sampai digambarkan memilih untuk bunuh diri. Saking terpukulnya, semenjak buta permanen Jingga udah enggak pernah buka mulut lagi. Ada satu adegan kuat dalam film ini yaitu saat Jingga menabuh drum dengan penuh kecamuk emosi, yang cukup disturbing karena kondisinya dia tidak bisa melihat drum kesayangannya dan kita juga tidak bisa mendengar apapun selain bunyi gedebak gedebuk alat musik tersebut. Reflecting keadaan yang lebih seram dari gelap total!

Kemudian tensi film menurun saat Jingga mulai belajar menerima hidup barunya. Dia pindah ke Sekolah Luar Biasa. Dia belajar huruf Braille. Dia berteman dengan anak-anak penyandang tunanetra lain, jadi sobatan dengan beberapa orang, dan mereka hang out, lalu jadi serius main band bareng, and that’s where the movie reaches its peak. Adegan-adegan mereka bonding sangat ringan dan bersahabat. Tengah film ini penuh dengan semangat. Jingga belajar banyak dari teman-temannya caranya hidup tanpa cahaya. Aku ingin mendengar lebih banyak lagi tentang perspektif mereka, yang sepertinya menarik karena kita sudah sukses dibuat peduli kepada mereka.

anak jaman sekarang beneran enggak tahu Gus Dur?

anak jaman sekarang beneran enggak tahu Gus Dur?

 

Sangat compelling, itulah yang terlintas di benakku saat menonton Jingga. Kita dikasih lihat langsung dari sudut pandang Jingga, seperti apa ngerinya detik-detik penglihatan mulai lamur dan akhirnya gelap. Apalagi tema musik turut membantu penceritaan film ini sehingga makin enjoyable. DRAMA INI PUNYA LAGU-LAGU ORIGINAL YANG ENAK DIDENGAR. Kita bisa lihat film ini punya production value yang mumpuni, at least tidak terlihat seperti film televisi. Arahan Lola Amaria membuat film ini terasa grounded ke tanah. Kerasa real. Kota Bandung dihidupkan dengan segelintir kekhususannya. Aku bahkan baru tahu dari film ini bahwa ada jasa pembisik di bioskop misbar bandung, khusus untuk membantu penyandang tunanetra nonton film. Adegan keempat sekawan ini berjalan melintasi kota sangat menyenangkan untuk dilihat. Mereka mandiri. Jingga mendapat suntikan semangat dan kekuatan dari teman-teman barunya; para penyandang buta dari lahir tapi mereka tidak pernah meminta simpati. Mereka ngejoke tentang kondisi mereka. Film ini hormat kepada tokoh-tokoh dan kepada penderita di luar sana yang mereka portrayed.

Para aktor juga sangat meyakinkan memerankan tokoh mereka sebagai penderita kebutaan. Aufa Assegaf mainin comedic relief sebagai Magenta. Hany Valery jadi Nila, love interest yang penuh dengan pandangan menarik tentang semesta. Dan tokoh paling likeable dalam film ini, Marun, dimainkan gemilang oleh Qausar HY. Aku sama sekali enggak pernah melihat film mereka sebelum yang ini, dan there was time saat aku menyangka mereka benar-benar tunanetra. Sebuah keputusan yang tepat sepertinya menggunakan cast pemain baru yang enggak well-known karena membuat kita yang nonton jadi enggak punya expectation yang terlalu tinggi atau gimana, ini membuat penonton enggak punya bayangan mereka seperti apa, dan tau-tau.. wow they are great, BAM!! Great job para aktor ini tidak terbatas sampai meranin orang buta gitu doang, karena mereka juga berhasil membuat each of their character feels as if they have emotions that are earned. Terutama si Marun yang karakternya paling kompleks. Aku suka gimana Marun bisa mengetahui perasaan Nila hanya lewat suara cewek itu yang menurutnya berubah, “out of tune terus!”

Kata orang, jika kita kehilangan satu indera, maka indera yang lain akan menjadi semakin tajam. Pendengaran dan insting anak-anak cacat itu luar biasa. Film Jingga memanfaatkan hal tersebut sebagai plot device yang dimainkan dengan efektif.

Sebenarnya masalah yang Marun hadapi cukup pelik, karakter arc nya menurutku paling menarik. Dengan penulisan yang cukup pintar; film ini membahas penyebab-penyebab kebutaan yang benar-benar terjadi di masyarakat dan mengaitkan hal tersebut sebagai pendorong majunya narasi. Isu daerah yang tercemar limbah pabrik dimainkan dengan cara playful, dan jadi intriguing saat kita mengerti dampak jangka panjangnya bagi manusia.

 

BABAK KEDUA FILM ADALAH BAGIAN YANG TERBAIK. Kita bisa lihat pertumbuhan karakter Jingga. Suasana mellow di depan sudah tak-terbahas lagi. Seharusnya film ini tetap mempertahankan nuansa yang hangat dan pleasant ini. Padahal karakter-karakter nya ditulis dengan kuat. Tidak lagi Jingga menangisi diri dan meminta supaya kita kasihan padanya. It’s so easy to feel sorry for them, mudah untuk jadi sedih nonton film ini, namun karakternya tidak pernah meminta kita untuk mengasihani mereka. Jadinya sungguh disayangkan film ini harus kembali mengambil rute mellow-drama. Seriously, aku jadi enggak tahu harus merasa gimana nonton film ini. The movie took another mood swerve saat persahabatan mereka mulai renggang lantaran Marun menjauh cemburu. FILM INI SANGAT INGIN MENUNJUKKAN BAHWA ORANG CACAT TIDAK ADA BEDANYA DENGAN ORANG SEHAT. Maka cinta segitiga harus terjadi dan Jingga pacaran dengan Nila. Dan saat itulah cerita mulai menjadi agak terasa sappy. Persahabatan mereka yang sweet berganti menjadi konflik remaja mainstream. Sepertinya akan lebih menarik jika cerita ini dipush ke arah lain. I’m sure banyak konflik yang lebih menantang yang sempat terpikirkan. Lagipula most of the film berpesan untuk menjadi pribadi yang tangguh. Tapi sepertinya Jingga tidak berani ambil resiko. Aku lupa kalo ini adalah film Indonesia. Kematian adalah resolusi favorit. Dan persaingan cinta adalah bumbu penyedapnya. Belum lagi nama tokoh-tokoh tunanetra kebetulan pake nama warna semua (adeknya Jingga yang normal juga namanya warna!), ini cheesy banget meskipun mungkin diniatkan sebagai simbolis.

Terutama karena karakter Jingga tidak pernah menjelma sehidup teman-temannya. Tidak sepenuhnya salah Hizfane Bob, Jingga yang lebih sering diam membuatnya terlihat stiff. Kayak tokoh utama permainan video game yang punya dialog terbatas. Adegan final antara Marun dan Jingga jadi keliatan awkward dan enggak naik sebagaimana scene tersebut diniatkan. In a way, film Jingga mirip sama tokoh mama nya Jingga. Ngasih support gede tapi justru sendirinya lah yang paling nunjukin weakness. Dan karena ibu nya ini kita jadi melototin backstory Jingga yang beliau terangkan dengan panjang lebar kayak persegi panjang.

thank you, Mother Exposition!

thank you, Mother Exposition!

 

Anyway, denial adalah ongoing theme dalam cerita kehidupan Jingga. Kita lihat ayahnya yang masih kekeuh bilang Jingga bisa sembuh kembali meski bu dokter dengan segala kemampuannya bereksposisi ria membeberkan kenapa mata Jingga buta total. Marun juga sempat buta hati dan menangkis segala ide tentang Jingga adalah bagian dari mereka, menolak percaya bahwa Nila menanggap dirinya sebagai keluarga, malahan dia juga menganggap lalu dan menyembunyikan fakta bahwa ia sering mimisan dari waktu ke waktu. Reaksi Jingga akan nasibnya di awal adalah salah satu wujud denial yang paling parah. Kita tidak bisa menyangkal apa yang sudah pasti ‘terlihat’, tapi bagaimana dengan Jingga yang sama sekali jadi tidak bisa melihat? Film ini akan membimbing kita perlahan demi mendapatkan jawaban atas pertanyaan metafora tersebut. This is a life lesson, yang tidak hanya berlaku bagi orang yang tidak bisa melihat. Namun juga kepada setiap orang yang gagal ‘melihat’ sesuatu lebih jauh. For all of us entitled to be happy. Untuk mendapatkan semua yang dengan ikhlas kita usahakan.

 

 

Ada banyak yang terjadi di dalam film yang dibuat dengan cermat ini. Isu sosial yang diangkat tergolong ringan, namun karena yang dibahas dari sudut pandang penderita tunanetra remaja, film ini bisa terasa sangat depressing. Terasa nyata. Kadang juga terasa terlalu sappy oleh plot percintaan yang diambil. Over-mellowdrama dengan pergantian mood yang cukup labil. Tapi yang paling penting dari itu semua adalah film ini menghormati kaum tunanetra sekaligus dunia remaja yang penuh suka duka. The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for JINGGA.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember in life, there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

 

We be the judge.

Advertisements