Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“You are being judged no matter what, so be who you want to be.”

 

Zootopia-Poster

 

Di jaman judgmental yang penuh pencitraan kayak sekarang ini, bukan hanya manusia yang sering dinilai berdasarkan penampilan luar. Film pun sering dihakimi terlalu cepat hanya dari trailer ataupun posternya. Apalagi film Indonesia. Sedih, memang. Penonton film toh sepenuhnya punya hak pilih namun seringkali kita enggak memberi kesempatan. Padahal untuk bisa tahu sebuah film bagus atau enggak, ya kita harus menontonnya terlebih dahulu. Aku pergi menonton Zootopia karena ingin cari hiburan. Enggak niat mau nulis ulasannya. I just want to have a laugh setelah belakangan mumet banyak pe-er. Salah sendiri, kebiasan kuliah numpuk-numpuk deadline masih dipake hihi! Tapi saat nonton, aku terhenyak. Film ini terlalu ‘gede’ untuk tidak dibahas!

Tokoh utama cerita ini adalah seekor kelinci bernama Judy Hopps. Kelinci cewek ini punya mimpi untuk melakukan suatu hal yang tidak pernah dilakukan sebelumnya. Dia kepengen jadi polisi. Dia ingin membantu orang-orang. Dan setelah perjuangan pantang menyerah, she did it. Kemudian Judy terlibat kasus hilangnya beberapa penduduk Zootopia. Sebuah kasus yang misterius, dan sepertinya berhubungan dengan origin para mamalia yang terdiri dari predator dan hewan mangsa. Bersama seekor rubah yang tadinya hendak ia tangkap, Judy pun harus mengerahkan segenap kemampuannya memecahkan kasus tersebut dalam waktu kurang dari dua hari.

on a serious note, a boxing bunny has been kicking my ass since Bloody Roar.

on a serious note, a boxing bunny has been kicking my butt since Bloody Roar.

 

Lebih dewasa dari kelihatannya, cerita dalam Zootopia padat dengan pesan-pesan yang dikemas dengan sangat baik. Film ini malah terlihat seperti film untuk anak gede ketimbang untuk anak kecil. Sungguh, aku sama sekali tidak menyangka film dengan tampilan selucu ini berani mengangkat tema yang dalam. Disney sepertinya berusaha untuk tampil enggak kalah dari Pixar. Sejak jaman dulu, sifat hewan sudah sering dijadikan metafor dalam karya seni manusia. Kita sudah biasa pake istilah kayak “licik seperti rubah”, “cerdik kayak kancil”, “dungu kayak keledai”, “kuat layaknya banteng”, ataupun “bijak bagai burunghantu”. Animal metaphors seperti demikian digunakan untuk menggali piskologis dan kebiasaan kita. Zootopia banyak bicara mengenai stereotipe ras, dan film ini sadar akan hal itu, mereka enggak menghindarinya malahan sukses berat mengintegralkan sifat-sifat tokohnya terhadap jalannya narasi. Dalam film ini kita lihat Nick si Rubah yang sebenarnya baik memilih mencari nafkah sebagai semacam con-artist karena muak selalu dianggap penuh tipu muslihat. Judy sendiri diketawain penduduk kota karena kelinci sama sekali enggak punya potongan sebagai pahlawan.

Disney tidak pernah gagal membangun sebuah dunia sebagai fondasi kuat yang menyokong ceritanya. Kita udah kedinginan oleh salju magical di Arendelle. Kita pernah menumpas kejahatan di kota futuristis San Tokyo. Di petualangan kali ini, kita ikut menjelajah sudut-sudut Zootopia yang seperti stage-stage dalam video game. Ada distrik hutanhujan yang selalu basah, ada distrik padang pasir yang gerah, semua environment tidak hanya menawan tapi punya peran masing-masing. Membuat kita tidak bosan mengikuti Judy dan Nick mengungkap misteri. Zootopia sendiri adalah satu kota besar di mana hewan mangsa dan pemangsa hidup berdampingan. Di jaman modern mereka tersebut, para hewan sudah melupakan insting alami mereka. Aku suka gimana film ini lebih fokus terhadap cerita. Zootopia tidak pernah overdid terhadap joke-jokenya. Tujuan utama mereka bukan untuk membuat kita tertawa terpingkal-pingkal. Kelucuan dan kekocakan hadir alami lewat dialog dan eksplorasi tema yang benar-benar digarap cermat. Nyinggung keadaan sosial juga sih, kayak kantor lalu lintas tempat bikin SIM yang semua pekerjanya adalah hewan sloth yang super lambaaaaannn. THIS IS AN EXTREMELY LAYERED MOVIE. Saat anak-anak terbuai oleh animasi yang cute, penonton dewasa akan terhibur oleh rounded nya cerita yang disuguhkan.

Konflik utama Zootopia adalah saat para predator diduga bakal kembali ke insting mereka. Ini adalah bagian yang paling menarik. Para kelompok hewan mangsa mulai ngeri setiap ngeliat predator. Lupakan “judge book by it’s cover“, mereka langsung melihat ke “It’s in the DNA!” Beberapa hewan percaya akan hal tersebut. Seolah menyuarakan bahwa kita tidak bisa menutupi siapa kita sebenarnya. Tidak bisa lari dari apa yang sudah ditetapkan kepada kita sedari awal.

We can’t change where we came from. Dan memang begitulah adanya. Tapi kita akan selalu bisa berubah, seperti Judy yang tidak pernah setuju dengan ide bahwa setiap orang punya batasan. Judy percaya dirinya mampu, sebagaimana orang lain mampu. Ia percaya dunia akan bisa menjadi lebih baik dengan terlebih dahulu percaya kepada kemampuannya sendiri. Zootopia pada intinya adalah tentang pencarian diri. Ungkapan “no one ever told the sheep that they out number the wolves” dibalikkan dengan cerdas oleh Zootopia menjadi motif utama tokoh antagonis film ini.

Ada BANYAK PESAN POSITIF yang diomongin. Tentang hubungan pertemanan, juga keluarga, lalu menyinggung masalah diskriminasi gender, film ini juga tidak ragu untuk menyerempet lifestyle yang lebih gelap untuk kacamata anak-anak seperti culture gangster dan hippie, bahkan tentang narkoba. Tapi film ini tidak terasa berat, pun tidak seremeh film untuk anak-anak. Zootopia terasa sebagai sebuah presentasi yang penting. IT FEELS NECESSARY. Karakter-karakternya so well-realized; We want to see more of these characters. Mereka sangat hidup, masing-masing punya emosi yang terdevelop di balik stereotype mereka. Judy dan Nick bisa dijadikan contoh dua karakter yang saling berlawanan namun punya dinamik yang pada akhirnya menghidupkan cerita. Para pengisi suara melakukan lebih dari hebat dalam menceritakan perannya. Suara Jason Bateman, Idris Elba, dan Jinnifer Goodwin klop banget sama penggambaran tokoh yang mereka lakon kan. Bateman terdengar beneran cerdik. Elba kocak sebagai atasan polisi yang tegas. Dan optimis Judy Hopps meloncat-loncat dari tutur Jinnifer yang ekspresif.

Si Clawhauser ini mirip-mirip Jonah Hill gasih hahaha

Si Clawhauser ini mirip-mirip Jonah Hill gasih hahaha

 

Sebenarnya lucu juga ya fabel-fabel begini menggunakan perbandingan manusia dengan binatang. Soalnya manusia kan hanya ras nya saja yang berbeda sedangkan antara binatang satu dengan yang lain – misalnya kelinci dengan rubah – enggak satu spesies. Jadi sebenarnya membandingkan antarmanusia dengan antarbinatang kurang tepat. But yea, nitpicking kecil doang, enggak masalah amat sih. Kepikiran aja haha. Yang benar terasa agak kurang dari film ini adalah pembukanya. Karena harus menjelaskan aturan main universe nya kepada penonton anak-anak, Zootopia terpaksa menempatkan banyak eksposisi di awal cerita. Start-up yang cukup bikin bosan karena sebetulnya kita enggak perlu tahu sedetil itu. Jembatan antara akhir babak kedua dengan babak ketiga juga terasa selow karena sekuens regrouping yang sudah jelas. Zootopia terlihat melonggar sedikit pada bagian-bagian tersebut.

 

 

Bukan hanya hiburan untuk anak-anak, film polisi ini menarik juga untuk orang dewasa. Karena kandungannya yang sarat akan pesan yang anak-anak perlu tahu dan orang dewasa perlu diingatkan. Film fantastis yang berani untuk punya cerita yang dalam dan actually ngembangin tema-tema tersebut dengan tidak konyol. Sangat story-driven dengan jokes yang mengalir tanpa dipaksakan untuk menjadi lucu. Visual dunia binatang versi modern nya akan memanjakan mata kita. Sekuen adegan-adegan aksinya imajinatif dan seru. Tokoh-tokohnya lovable banget. Ini adalah film ringan tapi juga punya peran yang sangat penting. The Palace of Wisdom gives 8 out of 10 gold stars for ZOOTOPIA.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember in life, there are winners
and there are losers.

 

 
We be the judge.

Advertisements