Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“Less is more.”

 

kung-fu-panda-3-second-teaser-poster

 

Po si panda geek udah nunjukin kalo dia mampu untuk mengembangkan diri. Dia giat berlatih. Dia mau belajar. Po sudah buktiin dirinya worthy untuk menyandang gelar Dragon Warrior. Bahkan mewujudkan sebuah ramalan. Sekarang Po sudah sejajar sama para ahli beladiri yang dulu hanya berani dikaguminya lewat koleksi action figures. Pertanyaannya adalah apa lagi nih yang akan dihadapi oleh Po?
Untungnya Kung Fu Panda adalah franchise yang tahu betul apa yang harus dilakukan. Sebagai sebuah trilogy, they got it right dengan menghadirkan stake yang berbeda dalam setiap sekuel, karena memang demikianlah syarat sebuah sekuel yang bagus. Kita sebagai penonton menginginkan karakter yang kita cintai dihadapkan kepada tantangan yang baru. Kali ini gantian, alih-alih diajar, Po ditunjuk untuk menjadi guru yang akan melatih kung fu kepada petarung-petarung yang lain, nah lo!

Belajar mengenali diri sendiri. Enggak tahu banyak, seperti halnya Po, bukan berarti kita tahu sedikit. Yang terpenting adalah kita mengerti akan siapa kita. Ada banyak yang bisa diperoleh jika kita tahu bagaimana menjadi diri sendiri. Makanya penting bagi Po untuk kembali menjalani hidupnya sebagai seekor panda. Demi menemukan inner self yang kemudian akan membangkitkan inner power alias chi miliknya.

 

Animasi hebat yang playful dengan style yang unik dan aksi-aksi berantem yang asik selalu jadi andelan Kung Fu Panda, tak terkecuali dalam film paling bontotnya ini. Kung Fu Panda 3 sangat enjoy untuk ditonton. Di saat film jaman sekarang durasinya semakin panjang dengan cerita yang rada berat untuk anak-anak, film ini bisa dibilang relatif SINGKAT DAN HARMLESS. Ungkapan “less is more” tepat sekali untuk menggambarkan film yang aku baru tau kalo juga diproduseri oleh Guillermo del Toro ini. Pengaruh Guillermo cukup terasa saat cerita mengambil setting dalam dua realm atau dunia yang berbeda. Apalagi TEMA YANG DIANGKAT SANGATLAH DEKAT DENGAN ANAK-ANAK, YAKNI TENTANG KELUARGA. Po bertemu dengan ayah aslinya yang ternyata masih hidup dan sehat wal afiat (keliatan dari perutnya hihi). Bersama ayahnya itu Po berkunjung ke desa tersembunyi para panda, ya Po bukanlah panda terakhir seperti yang selama ini dia percaya.

 “We don’t have stairs at the Secret Village of Pandas.”

“we don’t have stairs at the Secret Village of Pandas.”

 

Semua kejadian dipicu oleh seorang legenda beladiri yang bernama Kai, yang ingin mengumpulkan chi (kekuatan spirit atau simpelnya tenaga dalam) dari seluruh jagoan kung fu yang masih hidup di dunia. Kai enggak peduli sama konsep semakin sedikit ngumpulin maka itu artinya semakin bijak. Rakus enggak akan berakhir buruk, begitu mungkin pikirnya. Ia ingin menjadikan mereka semua sebagai pasukan pribadi yang bisa diutus ke sana ke mari. Malahan kerbau yang senjatanya pisau berantai kayak Kratos di video game God of War ini ujung-ujungnya penasaran sama Po yang digadangkan oleh Master Oogway sebagai ahli chi. So yea, masalah mereka menjadi personal as semua jadi tergantung kepada Po dan Tigress dan teman-teman panda nya untuk menghentikan Kai dalam usahanya melawan seluruh dunia.

Jack Black sudah menyatu dengan karakter Po. Dialog per dialog terasa sangat natural. Soal delivery lelucon; TIMING DAN PUNCHLINE KUNG FU PANDA 3 DIOLAH DENGAN EFEKTIF. Standar kartun anak-anak. Tapi sukses bikin kita senyum dari awal sampai kredit penutup bergulir. Adegan Po bertemu untuk pertama kali kemudian berinteraksi dengan sesama panda efektif mengundang tawa. Aku paling ngakak waktu ada satu panda yang dengan innocent nya bilang “kalian lagi ngeliatin apa sih?” padahal tepat di belakangnya ada Po yang sudah jadi bola salju meluncur turun. Well-timed hahaha!
Film ini bakal susah gagal ditilik dari jejeran pengisi suaranya. Sedari film pertamanya – ada Angelina Jolie, Dustin Hoffman, Seth Rogen, dan sekarang J.K. Simmons dan Bryan Cranston ikutan gabung – it was stars studded! Sampe-sampe enggak semua dari aktor tersebut dapat bagian yang sama besar. Jackie Chan dan Lucy Liu yang jadi Monkey dan Viper masih harus berpuas dapat jatah ngomong enggak lebih dari lima kalimat. Meski begitu diversity dalam Kung Fu Panda 3 sukses menguatkan suasana daratan China sebagai latar cerita.

 

Enggak banyak yang dibahas menjadikan film ini enggak nyasar dari sasarannya. Terarah. Tidak memberikan ruang buat momen-momen yang bikin bosen. Aksi animasi dan kung fu nya dinamis sekali, IT WAS VERY FAST-PACED. Setiap karakter sekali lagi memamerkan gerakan dan keahlian unik sesuai ciri khas hewan yang mereka reflecting. Dari semua film Kung Fu Panda, aku bisa bilang aku paling suka film ketiga ini. Dan di balik jurus-jurus dan lelucon konyol tapi seru tersebut, film ini tidak melupakan anak-anak. Pun tidak membodohi mereka. Ada pelajaran tentang betapa pentingnya keluarga yang bisa diambil oleh para penonton cilik. Satu contoh cerita yang bagus adalah storyline yang menyangkut ayah asli Po dengan ayah adopsinya. Gimana keadaan menjadi sedikit aneh buat Po karena dia dibesarkan oleh ayahnya yang bisa terbang dan tiba-tiba ayah aslinya kembali dan ingin membawanya pergi. Cara Po menangani itu semua dihadirkan dengan ringan, penuh canda, dalam kapasitas yang mudah dimengerti oleh anak kecil.

Sekali lagi Po menemukan sesuatu tentang dirinya. Meski tantangannya adalah bagaimana dia bisa mengajar orang-orang, fokus utama film ini tetap setia – serupa dengan pendahulunya; Po belajar tentang sesuatu yang dia sendiri tidak tahu mampu ia lakukan. Substansi cerita Kung Fu Panda 3 memang kurang variasi. Kurang banyak. Terlebih jika dibandingan dengan film pertama dan keduanya. Basic ceritanya sih, sama. Meski demikian, mereka semua tetaplah sebuah film yang padat dengan keseruan dan kelucuan. Tapi jadi tontonan ringan jika kita menimbangnya dari sisi emosi yang kita rasakan saat menonton. Pesan bagusnya agak kalah ‘berantem’ dengan lelucon-lelucon. Jumlahnya juga kalah banyak. Film ini beneran kerasa kurang emosional, tidak seperti Kung Fu Panda 2 yang tried untuk lebih serius dengan nature cerita yang lebih gelap. Tapinya lagi, kita enggak bisa bilang hal ini adalah downright kelemahan dari Kung Fu Panda 3. Karena sekali lagi, film ini mengincar less is more.

Diniatkan untuk less serious dan lebih mengutamakan kepada unsur fun. Kung Fu Panda 3 tidak mengharapkan kita untuk keluar dari bioskop dengan renungin perjalanan emosional tentang keluarga. Film ini menyuruh kita untuk keluar dengan tertawa bareng keluarga.

 

Yang susah dihindari dalam menceritakan sesuatu dengan tokoh baru dengan banyak backstory adalah eksposisi. Kung Fu Panda 3 juga terpaksa bertekuk lutut kepada tutur cerita yang terlalu nyuapin kita. Sama seperti dalam Zootopia (2016), film ini jadi sedikit lemah akibat langkah pemaparan yang dilakukan agar penonton anak-anak lebih mudah memahami cerita. Supaya mereka mengetahui apa yang terjadi. Mengenalkan aturan universe dan logika-dalam film ini. Narasi dibeberkan lewat Master Shifu yang bacain scroll yang ajaibnya berisi segala petunjuk tentang kekuataan dan kelemahan Kai. Si tokoh jahat sendiri – yang aku suka karena dibuat comical dengan enggak serius atau jahatjahat amat – terlalu kebanyakan ngomong for the sake of the storytelling. Sampe disindir dan dijadikan ejekan oleh Po. Namun semestinya ada banyak cara yang lebih kreatif yang bisa ditempuh dalam memberitahu penonton sesuatu yang sebenarnya lebih asik jika dipelajari sendiri along with narrative. Show, don’t tell. Kung Fu Panda 3 sayangnya lupa kalo ‘banyak’ enggak selalu lebih baik. Mereka jadi sedikit terlalu banyak membeberkan poin cerita.

"chitty chitty chat chat"

“chitty chitty chat chat”

 

 

Film yang lucu namun terasa rada kurang punya bobot. Enggak berisi amat, enggak ‘gendut’ kayak Po. Bukan sepenuhnya cela karena film ini memang tidak pernah mengajukan diri sebagai tontonan yang serius. Substance yang sedikit, enggak banyak eksplorasi emosi tidak serta merta membuat film ini jatoh sebagai presentasi yang less. For this movie is a lot of fun. Tons and tons. Actionnya non-stop dengan begitu banyak keunikan animasi yang bisa kita saksikan. Musiknya juga asik, mendukung ritme cerita dengan pas. Ramah kepada anak-anak sekaligus menghormati mereka. I really had a great time watching this. The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for KUNG FU PANDA 3.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember in life, there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 
We be the judge.

Advertisements