Tags

, , , , , , , , , , , ,

“Thoughtless actions are always surprised by consequences.”

 

CdKEpsGUIAAcF8O - Copy

 

Iseng, disutradarai oleh Adrian Tang, menceritakan satu hari Sabtu saat beberapa orang mengambil keputusan dalam hidupnya, tanpa berdasarkan apa-apa – semacam just out of lust, dan masing-masing akan mendapati nasib mereka berbalik menjadi lebih mengerikan daripada apa yang mereka harapkan. Drama ini dapat digolongkan sebagai crime-thriller karena pondasi tubuh ceritanya adalah tentang detektif dan komandannya yang sedang menganalisis Tempat Kejadian Perkara; sebuah apartemen dengan dua korban bergelimang darah.

Aku sendiri enggak punya ekspektasi ataupun knowledge apa-apa mengenai film ini saat datang menonton. Aku hanya tahu kalo film ini PUNYA BANYAK TOKOH dan cameo. Yang peran-perannya dikawangi oleh cukup banyak cast yang sudah punya nama. That’s all. Yaah, seperti layaknya orang yang cari hiburan, bisa dibilang aku ngasal saja memilih film ini sebagai tontonan, ‘iseng-iseng berhadiah’. Namun sebenarnya tidak tepat menyebut hal demikian sebagai sebuah iseng. Karena untuk sebuah pikiran yang terorganisir dengan baik, dalam hidup tidak ada yang namanya iseng berhadiah. Seringkali kata iseng sendiri hanya penyamaran belaka. Sadar atau tidak, selalu ada alasan khusus yang terpikirkan saat kita hendak melakukan sesuatu hal. Mungkin aku memilih nonton film Iseng karena tertarik oleh sepenggal adegan di trailernya yang tertonton saat menunggu film lain. Mungkin kalian surfing through internet dan menemukan review ini karena penasaran sama filmnya. Atau karena penasaran sama akuuh hihihi (ngarep!). Point is; sesepele apapun, tetap namanya adalah pilihan hidup. Kita memikirkan alasan serta apa hasil yang akan kita dapat sebelum memilihnya.

Dan pilihan hidup yang kita hadapi akan selalu rumit. Begitu beragam dengan segala akibatnya. The one time ketika kita memutuskan untuk fool around sejenak, dalam artian kita tidak memikirkan apa akibat dari tindakan yang akan kita lakukan, itulah iseng yang sebenarnya. Dan di ujung nya bukan sebuah kemungkinan lagi jika konsekuensi yang buruk akan segera menjadi hadiah buat kita.

 

 

Orang-orang dalam film Iseng memilih cara termudah untuk menyelesaikan masalah hidup mereka. Mereka adalah cermin potret kehidupan yang mewakili berbagai lapisan masyarakat. Diversity kelas sosial dan ras. Pak Irwan (Tio Pakusadewo makes his strong presence on a very limited time) seorang bos perusahaan yang hobi main iseng dengan wanita lain. Sementara sektretarisnya, Chica (rather one dimensional but natural Evelinn Kurniadi) sudah lama iseng ngeflirt dengan siapa saja yang ia temui. Juga ada Dian (cukup salut Fany Vanya bisa bikin tokohnya yang lemah-tekad ini jadi enggak annoying) yang iseng datang ke kota untuk nyari duit dengan nyobain jadi wanita PSK seperti teteh nya. Dari tiga orang ini berkembang lingkaran yang mencakup lebih banyak lagi karakter dengan ke’iseng’an mereka masing-masing. Dan semuanya akan berujung petaka. Sepanjang film kita akan berpindah-pindah melihat bagaimana mereka semua menghabiskan hari. Performances dalam film ini lumayan intense. Transisi antartokoh ditandai dengan cut-cut adegan yang dibuat seolah kontinu secara waktu. Dari pintu yang dibuka satu tokoh ke pintu yang dibuka oleh tokoh lain. Dari satu hape dimainkan ke hape yang lain. Perpindahan yang playful. Kekuatan film ini adalah mampu menjalin cerita setiap tokoh tersebut sehingga tidak ada loose-ends dalam hubungan mereka. Membuatku teringat kepada film Tangerine (2015) yang juga resolves around banyak tokoh dalam waktu satu hari, hanya saja Iseng tampil lebih dark.

Polisinya terlalu keren untuk actually makek sarung tangan di crime scene

Polisinya terlalu keren untuk actually makek sarung tangan di crime scene

 

Dengan sempurna menangkap sisi buruk manusia dan mempersembahkannya sebagai pembelajaran. Film ini berisi adegan kekerasan, perkosaan, narkoba dan premanisme, juga menyinggung masalah moral seperti perselingkuhan, prostitusi, serta penyimpangan-penyimpangan sosial. THIS IS A VERY MATURE FILM. Meski enggak terlalu berlebih – film ini menjaga agar kejadian tetap terasa nyata – adegan-adegan film ini berpotensi gede untuk jadi disturbing bagi sebagian orang. Apalagi ada satu storyline – yang aku suka – tentang seorang pekerja sebuah kafe yang ternyata psikopat. Scene Denis meremas-remas adonan sambil memperhatikan Chica adalah salah satu adegan yang paling ‘ngeri’ yang berhasil ditampilkan oleh film ini. Kisah si Denis secara keseluruhan malah bisa banget untuk dijadiin satu film slasher tersendiri hahaha. Aku paling suka karakter Cik Helen, pemilik kafe yang dari luar terlihat pemarah dan curigaan. Kerja Dayu Wijanto berhasil membuat tokoh ini ekspresif dan terlihat berlapis, dia membuatku ingin tahu kenapa Helen pemarah seperti itu.

 

Menarik bagaimana film ini menyugestikan tragedi-tragedi yang kita baca di koran bukan tidak mungkin adalah kejadian yang saling berhubungan. Seperti teori Butterfly’s Effect; apa yang kita lakukan berpengaruh terhadap kehidupan orang lain nun jauh di sana.

 

Banyaknya tokoh tidak lantas bikin Iseng jadi berat dan susah dicerna kayak David Lynch’s classics. Kita juga tidak perlu nyusun puzzle kejadian kayak kalo lagi nonton Pulp Fiction nya Quentin Tarantino. Alur filmnya sendiri juga tidak pernah menjadi terlalu subtle. Malahan sangat tembak-lurus. Semuanya memang terjadi seperti kelihatannya. Fokus film ini jelas bukan di sisi misteri, karena kita semua sudah bisa menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi sejak sebelum film memasuki bagian tengah. Pengarahan yang seperti ini, membuatku pendapatku terbagi dua; bisa jelek bisa bagus. Bagus karena pesan film jadi bisa lebih mudah tersampaikan ke penonton, yang juga bisa lebih banyak. Jelek karena it such a waste of opportunity; dengan karakter yang kompleks dan banyak tapi filmnya tidak pernah menggali lebih dalam.

Kita tidak dibuat benar-benar peduli kepada mereka. Kita susah untuk get attached, karena flaws pada masing-masing tidak diberi kesempatan untuk mendapat pembelaan. Sudut pandang tokoh-tokohnya tidak dikembangkan dengan maksimal. Kecuali tokoh Jo, lesbian tomboy yang suffers from rejection, kita tidak pernah merasa ingin mempelajari mereka semua. Dan sepertinya memang tidak diniatkan untuk menjadi sebuah character study. Film ini hanya membuat kita penasaran kepada apa yang terjadi kemudian. Pada bagaimana akhir dari setiap individu yang terlibat di dalam cerita. Kita tidak sedih saat ada yang mati karena mereka tidak berkembang out-of-frame. Even Jo harus out dalam sebuah kejadian yang cukup konyol dan sulit dibayangkan terjadi di dalam keadaan nyata. Film tidak membuat kita untuk melihat mereka secara humanis. They just movie characters, tidak lebih. Mereka jadi penting justru saat di ending, ketika kita melihat backstory semua tokoh. Bagian ini merupakan bagian terbaik dari film Iseng, yang mengisi ‘kekosongan’ karakter. Only datang terlalu telat. Ditilik dari sini, sepertinya struktur film Iseng tidak bekerja dengan baik.

Porsi dan kepentingan subplot pun akhirnya jatuh di bawah belas kasihan kepedulian penonton. Karena BOBOT MEREKA TIDAK MERATA. Ada saat di mana aku ingin adegan yang sedang kusaksikan tidak keburu pindah ke tokoh yang lain. Ada juga subplot yang kalah penting dibanding yang lain sehingga kita ingin bagian tersebut cepat berlalu. Contohnya bagian cerita para pembunuh, para anak buah tokoh yang diperankan oleh Yayan Ruhian, penting untuk majunya narasi tetapi tidak diolah sebaik subplot tokohnya Wulan Guritno. Padahal durasi kemunculan Fanny lebih sedikit. Dialog yang menyertai tiga orang ini juga gapenting. Most of their screen time dihabiskan dengan pertanyaan kenapa rencana dimajuin hari ini. Percakapan yang enggak maju-maju. Film ini gak mau repot mindahin banter ke “emangnya kenapa kalo maju” padahal bisa makin asik kalo uneg-uneg si Aripin beneran dibahas.

Orang macam apa yang makan sambil ngerokok?

Orang macam apa yang makan sambil ngerokok?

 

Satu adegan yang bikin aku ketawa, padahal itu adegan yang seharusnya serius karena diniatkan sebagai penutup, adalah saat komandan Donny Damara terbangun di sebuah kelab (atau ruang karaoke?). Suddenly kita mendengar ‘suara hati’ pria yang habis party ini. Bergaung resah kayak adegan sinetron. Selain nyuapin kita sama hal yang enggak perlu, adegan ini jatuhnya cheesy sekali. Akan jauh lebih powerful jika kita tidak mendengar apa-apa di bagian itu. Rasa kebingungan akan lebih nendang tersampaikan jika sunyi yang berbicara.

 

 

Ide di balik film ini sangat intriguing. Segala tindakan, sekecil apapun itu, ada konsekuensinya. Meski diceritakan dengan flashback, presentasinya sendiri pretty much straight-forward, enggak subtle sehingga membuat film mudah dimengerti. An interwoven dark story dengan tokoh yang banyak untuk kita jadikan cermin. Konsekuensinya adalah film ini tidak berhasil membagi porsi penceritaan dengan adil. Fokus yang lemah dan struktur yang seharusnya bisa dibangun dengan lebih baik lagi. Sungguh sebuah kesempatan yang disiakan. The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for ISENG.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember in life, there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

 

We be the judge.

 

Advertisements