Tags

, , , , , , , , , , , ,

“The only time you shouldn’t listen to yourself is when you’re thinking you should be listening to everyone else”

 

Regression-Poster-emma-watson-38781326-896-1280

 

Jika kalian tertarik dengan kasus-kasus misteri yang belum terpecahkan, maka besar kemungkinan kita pernah membaca artikel internet yang sama di waktu yang bersamaan. Romantis ga sih? Ahaha, poinku sebenarnya adalah; baik itu kasus The Black Dahlia yang badannya kepotong dua, kasus orang-orang yang menghilang tanpa jejak seolah diculik alien, kasus kesaksian diculik alien ‘beneran’, ataupun sosok serial killer semacam Zodiac yang belum diketahui wujud aslinya hingga kini, mereka semua kebanyakan terjadi di jaman baheula. Abad ke 18, tahun 1920an, kala ketika tahayul masih dipercaya. Sekarang ada juga sih misteri-misteri tak terpecahkan versi modern, namun kebanyakan bisa dengan cepat dipatahkan; bisa dengan ketahuan hoax cari sensasinya, bisa dengan penyelidikan yang tepat sasaran. Perkembangan zaman sudah bikin ilmu pengetahuan manusia semakin maju. Bukan tidak mungkin jika ia baru muncul hare-hare gene, Jack the Ripper bisa dengan cepat jadi trending topic karena segera ketahuan. Enggak perlu jauh-jauh ke belakang untuk ngeliat perbedaan approach penyelidikan dan sebagainya tersebut. Antara 1990an dengan 2010 aja, sudah banyak banget kemajuan yang didapat umat manusia. Buktinya senior-senior kita pada gaptek hihihi

 

Sayang bagi Detektif Bruce Kenner, di tahun 90 saat dia mumet mikirin satu kasus membingungkan, komik detektif Conan belum diterbitkan.

Dia jadi ga bisa berpedoman kepada Shinichi kudo seperti laporan berita ini

Dia jadi ga bisa berpedoman kepada Shinichi kudo seperti laporan berita ini

Gimana Bruce gak puyeng kalo Sang Tersangka Utama tidak bisa mengingat apa yang sudah dia dilakukan? Padahal menurut pengakuan Angela, si putri kandung tersangka sendiri, ayahnya itu tidak hanya bersalah sekaligus juga bagian dari kelompok pemuja setan yang hobi pake kerudung bertopeng dan memakan bayi!
Kepada ilmu psikologilah Bruce meminta bantuan. Dengan menerapkan hipnotis memakai metronom, Kenneth Raines (salut buat David Thewlis bisa begitu ‘mendua’ dalam perannya yang enggak besar) mencoba membantu tersangka mengembalikan ingatannya.

 

Menonton film ini, kita akan sedikit geram di awal karena metode penyelidikan tindak kriminal yang kurang ilmiah seperti itu. Namun terbalik dengan judulnya, Regression adalah cerita yang maju. Semakin mendekati akhir kita akan melihat bahwa semua yang gak make sense menjadi jelas pada akhirnya. Karena sebenarnya memang itulah maksud utama dari cerita ini. Tentang bagaimana manusia memandang suatu perspektif dan ide.

Sebagai makhluk sosial, manusia cenderung punya prinsip ‘mendingan bareng-bareng daripada sendiri’. Meskipun kadang apa yang dipercaya oleh khalayak ramai itulah justru yang salah. Kita lebih memilih percaya kepada ‘kata orang’ karena itu merupakan jawaban yang termudah.

 

Puncaknya film ini akan membahas tentang paranoia. Kasus yang ditanganinya mulai merasuki pribadi Bruce. Ia mulai mengalami kejadian-kejadian aneh, persis seperti rumor yang dia dengar tentang anggota pemuja setan tersebut. Dia percaya dia sedang diincar berikutnya untuk direkrut jadi anggota cult, atau lebih buruknya lagi; untuk dibunuh!. Ini membuat sang detektif susah untuk percaya kepada siapa. Semua orang di kota tampaknya keluar untuk memburunya! At some point, dia bahkan tidak bisa percaya kepada judgment dirinya sendiri terhadap mana yang nyata mana yang bukan.

Bisik-bisik yang akhirnya menjalar jadi buah bibir yang sensasional di dalam lingkungan suatu kota atau komunitas masyarakat digambarkan menjadi suatu hal yang luar biasa menakutkan oleh Regression. Kemampuan manusia untuk mengabaikan nalar dan logika jika sudah menyangkut citra dan pengakuan dari orang banyak menjadi sorotan utama. Kemampuan yang terus kita pertahankan hingga zaman pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi maju sepert sekarang. NGERI! Dalam film ini kita melihat seorang pendeta yang mengantagoniskan ilmu dan teori kriminalitas. Intelligence dianggap penghalang dalam menentukan mana yang jahat, mana yang baik. Sudah jelas bahwa setan lah yang bikin manusia jadi jahat. Dan untuk menentukan mana yang benar-mana yang salah, ya keputusan finalnya ditentukan lewat pandangan umum, suara terbanyak. Namun film ini juga nunjukin keironisan bahwa tak jarang memang the intelligent ones lah yang merencanakan untuk semua menjadi salah.

cepcepcep, it’s levi-ooh-sa, not leviou-sa

cepcepcep, it’s levi-ooh-sa, not leviou-sa

 

Jika ditelanjangi seperti itu, ide Regression mirip dengan beberapa film yang lain seperti The Gift (2015), atau malah Gone Girl (2014). Paling mirip dengan film Anna yang dibintangi oleh Taisa Farmiga tahun 2013 lalu. Basically formula dan ceritanya sama. Dilihat dari segi gaya, Regression malah terkesan pasif jika dibandingkan dengan Anna. Namun aku tetap enjoy menonton Regression. Tampil dengan dark dan gritty penuh misteri, film ini punya sudut pandang penceritaan tersendiri. Yang paling membuatnya terlihat berbeda adalah NUANSA KLASIK YANG BERHASIL DIBANGKITKAN. Menonton film ini terasa kayak menonton film keluaran sepuluh-duapuluhan tahun yang lalu. Betul-betul pas dengan latarnya.

Dari segi performance juga asik untuk dinikmati. Ethan Hawke sebagai Bruce tampil meyakinkan dan membuat kita merasakan bingung yang ia alami. Ini adalah FILM YANG LAMBAT, mungkin membosankan jika kalian mengharapkan banyak adegan seru, tapi menarik sekali mengikuti perubahan sudut pandang yang dialami oleh Bruce. Dan aku bohong kalo bilang nonton ini tapi bukan karena Emma Watson. Emma Watson adalah Hermione Granger, pinter, dewasa, dan terlihat sedikit bossy. Itulah sebabnya dalam Harry Potter Emma begitu menonjol, dan kenapa selalu menarik melihat cewek ini berakting di dunia muggle. Dalam Regression, dia gak impactful seperti itu. Emma enggak tampil hebat atau menakujbkan. Emma Watson tampil ala kadar, tapi cukup untuk membuat tokoh Angela menjalankan fungsinya.

Bermain di ranah kontroversi agama dan psikologi, Regression adalah tontonan yang cukup engaging. Topik yang bikin enggak nyaman. Kondisinya yang demikian tampaknya masih relevan dengan keadaan sekarang. Setelah semua suspens yang dibangun, setelah semua misteri yang sukses bikin kita merasakan ketakutan yang menjalar pada Bruce, sayangnya Regression menutup cerita kayak balon yang belubang. Kempis, alih-alih meledak. Ending cerita ini tidak memuaskan dalam artian penutup yang diambil oleh Regression membuat filmnya terasa kurang nendang. Revealation dari twist yang dihadirkan memang menjawab semua, tidak meninggalkan benang kusut, namun sekaligus juga tidak meninggalkan tantangan apa-apa. Motif utama yang dibeberkan seems illogical dan terasa remah dibanding efek paranoia yang sudah kita rasakan. Enggak heran kalo banyak yang gasuka film ini karena merasa terkecoh mengharapkan sesuatu yang lebih besar di akhir.

 

Drama misteri yang bermain pada garis, yang seringkali burem, antara kenyataan dan fiksi. Diceritakan dengan visual dan gaya yang old-fashion, film ini tidak terlihat seperti film keluaran 2016. Bukan hanya latarnya, feels nya juga terasa ada di luar jaman. Dan itu semua terbukti ampuh mengangkat aura suspens yang menyelimuti cerita ini. Diarahkan dengan baik ditunjang oleh performa yang baik pula. Sandungannya adalah pace yang lambat dan ending yang datar; membuat film ini bisa jadi sangat membosankan buat beberapa penonton. Ternyata film ini toh persis namanya, kemajuan yang mundur. The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for REGRESSION.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember in life, there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 
We be the judge.

Advertisements