Tags

, , , , , , , , , , ,

 

491452_v1

 

 

Menulis itu kayak berbicara. Semua orang bisa. Tapi enggak semua orang bisa mengubahnya menjadi sebuah karya.

 

Dalam rangka sukuran MyDirtSheet yang akhirnya di-approve oleh Wordads dan demi menyambut Hari Film Nasional, aku mau keluar dari karakter blog sejenak.
Mau berbagi pelajaran soal menulis.
Buku Goosebumps dan Lupus punya peran besar bagiku dalam menumbuhkan minat untuk bercerita di atas kertas. Waktu SD, aku suka bikin cerita dengan tokoh-tokoh dari novel Lupus karangan Hilman dengan judul yang diambil dari judul cerita horor nya R.L Stine. Dan teman-teman satu kelas jadi korban yang aku paksa untuk baca hihihi

Aku berangkat dari pembaca, kemudian seorang penonton. Makanya aku semangat begitu diajak ikutan kelas penulisan dari Forum Film Bandung bareng teman-teman blogger se-Bandung. Nulis dan nonton, dua kegiatan favoritku, digabung jadi satu. Kayak Charlie yang dapat tiket emas ke pabrik coklat Willy Wonka, tentu saja aku tidak akan melewatkan kesempatan langka tersebut!
Selama ini aku menulis review-an di blog dengan mengadaptasi apa yang dikatakan oleh Paul Heyman dalam salah satu promonya yang selalu luar biasa. Kata Heyman resep bercerita yang bagus adalah, “Know where the money is, put some money on your voice, and make it personal.” Menulis adalah bentuk dari bercerita, pelakunya harus punya suara dan karakter sendiri supaya tulisan atau ceritanya bisa punya perspektif personal. Saat kelas Sabtu kemaren aku tertegun. Apa yang diajarkan oleh Agus Safari hari itu pada dasarnya sama dengan yang dikatakan oleh Paul Heyman. Ternyata di mana-mana ajarannya sama. Menulis adalah aktivitas menjual buah pikiran, dan hal yang paling pertama harus dilakukan adalah menemukan suara kita sendiri.

Alih-alih mencari keluar, proses kreatif dimulai dari dalam diri sang penulis. Karena sejatinya menulis adalah “komunikasi selaras antara pikiran dan perasaan yang efektif”, begitu kata Pak Agus. Seketika aku merasa seperti Po dalam film Kung Fu Panda 3. Po belajar lagi bagaimana menjadi panda yang baik. Aku dibimbing untuk membuka pintu di dalam diri. Mengenal diri sendiri terlebih dahulu.
Kami disuruh berpasangan lalu saling bercerita dan menyimak bergantian secara lisan.
Kami lalu digerak untuk menuliskan kejadian dari bangun pagi sampai hadir di kelas siang itu, dalam waktu lima menit.
Kami disuruh mengingat pengalaman sendiri – yang menyenangkan ataupun yang enggak – dan menuliskannya sebagai teras atau lead dengan maksimal tujuh kalimat.
944091_1025067097532669_5093781448976358477_n

 

Menulis sesungguhnya adalah kemampuan untuk mempertanyakan pertanyaan yang tepat. Apa yang kita rasakan? Apa pelajaran yang kita dapatkan? Tantangan apa yang kita temui? Bagaimana pendapat kita? Apa pengaruhnya terhadap sekitar? Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah kunci untuk membuka pintu-pintu guna mengeksplorasi diri kita sendiri. Jawaban-jawaban nya yang jujur, singkat, jelas, dan beraneka ragam itulah yang membentuk struktur yang membuat tulisan kita enak untuk dibaca. Yang umum dipakai secara teori adalah struktur yang diawali dengan penyajian atau kesimpulan data diiringi oleh alasan serta bukti kemudian diakhiri dengan pendapat.

Hambatan yang terasa bagi penulis pemula juga dibahas di dalam kelas yang suasananya dibikin sersan; serius-tapi-santai. Kebanyakan adalah kesulitan menakar bobot tulisan sendiri, menyeimbangkan antara konten aktual berisi fakta dan data dengan konten kreatif yang berdasar pada opini ataupun gaya. Aku sendiri menyadari terkadang tulisanku terlalu subtle untuk kebaikannya sendiri. Kadang aku suka terlalu mengaburkan antara pendapat dengan fakta.

Keterampilan berbahasa adalah inti dari kegiatan menulis. Sehingga tak sedikit orang yang mengkhawatirkan soal penulisannya yang mirip dengan tulisan orang lain yang sudah ada. Apalagi jika sudah punya tokoh yang jadi sumber inspirasi. Dalam film pun kita bisa menjumpai karya yang mengangkat premis yang sama, atau memakai twist yang sama. Dalam tulisan review juga tak jarang ada dua ulasan yang mengambil sudut permasalahan yang sama. Yang menjadi faktor pembeda – kembali ke pintu-pintu tadi – adalah daya penulis untuk mengeksplorasi kreativitasnya. Daya keterampilan penulis untuk mengembangkan sampai sejauh mana sudut pandang personalnya. Seorang penulis juga harus fleksibel dalam berkarya sesuai dengan kebutuhan pembaca, dalam artian kita harus mengerti menulis untuk siapa, dalam rangka apa, pada media apa. Tentu saja menulis untuk blog memiliki tuntutan yang berbeda dibanding dengan menulis untuk surat kabar, misalnya. Sesuai dengan judul kelas “Menemukan Jati Diri dalam Tulisan”, kami mendapat bimbingan bagaimana mengenali dan mencari pintu-pintu tersebut.

 

Aku selalu percaya kepada ungkapan “write to express, not to impress”. Setiap orang punya pandangan personal yang berbeda, dan dari sana lah orisinalitas berasal.

 

 

Aku enggak bisa mengajarkan teori menulis yang baik dan benar, kebanyakan karena aku sendiri tidak mau terlalu terfokus kepada teori. Paling enggak, tidak akan bisa sebaik dan seringan Agus Safari yang sudah lama malang melintang di jagad tulis-menulis. I had a great time learning dan jika kalian mau mencoba, silahkan bergabung dengan kelas FFBComm berikutnya di sini, kita bisa belajar nulis dan diskusi film bersama!

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Go and feel the power of wisdom,

 

 

 

 

 

you are welcome.

Advertisements