Tags

, , , , , , , , , , ,

“Defy them, for they tell us what to do and who to be.”

 

the-lobster-poster-colin-farrell

 

 

Kentara dari judul dan posternya, film drama yang satu ini aneh setengah mati. Apa hubungannya coba, udang sama orang pacaran? Well, cerita film ini enggak ada kaitannya sama tangan Evan Peters di AHS: Freak Show. The Lobster mengambil tempat di dunia distopia di mana yg single, dalam artian enggak punya pasangan hidup karena berbagai macam alasan, akan disuruh tinggal di sebuah hotel khusus selama 45 hari. Dalam kurun waktu segitu, para jombloers akan digembleng untuk bisa dapet pacar. Ketemu pasangan hidup. Harus bisa! Karena jika gagal – stake cerita film ini bukan main anehnya – maka mereka akan diubah menjadi hewan. Toh demi kebaikan mereka sendiri, karena dipercaya dengan menjadi hewan mereka akan punya kesempatan yang lebih baik untuk mendapat pasangan. Tokoh utama kita, si David, memilih untuk menjadi lobster. Simply karena lobster punya usia yang panjang.

“Dan karena akhirnya aku bisa terlepas dari kumis Ned Flanders ini…”

“Dan karena lobster punya kumis yang lebih keren dari kumisku yang mirip Ned Flanders”

 
Cerita yang bikin kita menjulingkan mata tersebut bukannya tidak ada maksud apa-apa. The Lobster tidak meminta kita untuk melihatnya secara rasional. Ini adalah PENUTURAN YANG PENUH DENGAN METAFORA. Makanya nonton film ini kita akan merasa “Apaan sih?” Kita sama sekali tidak bisa menerka apa yang akan terjadi selanjutnya tapi mata kita terpaku ke layar karena di dalam hati, film ini berhasil menggelitik kepekaan sosial kita. Kita tidak bisa melihat ke mana ujungnya namun kita tahu kalo adegan para Loner (istilah buat orang-orang yang memilih jomblo) menggali kuburan mereka sendiri agar bisa mati sendirian pada waktunya nanti adalah simbol dari pemberontakan terhadap masyarakat yang mementingkan hidup berpasangan yang teratur.

Bukan masalah benar atau salah; this is actually the best aspect dari penuturan The Lobster. Pihak Hotel atau society tidak pernah mutlak dijadikan antagonis. Mereka memberikan pilihan, mereka membimbing, mereka nunjukin enaknya punya pasangan. Yang terlihat rada ekstrim justru para Loner pemberontak di hutan. Namun sama seperti masyarakat di kehidupan nyata, sebenarnya tekanan dari mereka lah yang menjadi masalah. They tell us what to do and who to be. Seseorang tidak benar-benar memilih sendiri pilihan yang tadi mereka berikan. Sampai-sampai dalam film ini digambarkan pihak hotel memburu Loner yang bebas. Menembak mereka – tidak membunuh secara fisik, karena pake peluru bius – dan memaksa untuk tunduk pada sistem.

Segala sesuatu tentang film The Lobster ini menyuarakan, ah tepatnya menjeritkan, apa-apa yang enggak mainstream. Ya pesannya, ya temanya, ya nadanya, ya tokohnya. Hampir tidak ada tokoh remaja yang jadi major character dalam film ini. Instead, kita dapat Colin Farrell yang main bagus banget sebagai David, pria 40 tahunan yg baru cerai dan kesulitan to get back into the ‘game’.

 

Beruntung film ini adalah buah pikiran orang Eropa. Sebab ide cerita yang seperti begini tentu akan sulit terwujud di bioskop Indonesia. Proses sebuah cerita menjadi satu film utuh sama kayak lagi nyari jodoh. Harus mencari investor yang jatuh hati dan — pake istilah cinta — mau memberikan segalanya. Kalo dibawa ke perfilman Indonesia, bukan hanya tentang tapi juga The Lobster sendiri bisa-bisa jadi seorang jomblo. Dalam hal penonton, film ini juga akan kesulitan mencari pasangan. Bikin film pertimbangannya adalah selalu cerita yang baru dan juga harus relevan dengan keadaan masa kini. Lihat deh daftar sepuluh film terlaris Indonesia dari bulan ke bulan. Film Indonesia semuanya setia dengan dua syarat tadi; baru dan relevan. Itu bagus, beneran. Namun bungkusnya selalu tak jauh dari religi atau komedi. Atau malah gabungan keduanya.
Selera pasar adalah komoditas.

beginilah reaksi ku saat diminta mengulas film Single (2015)

Beginilah reaksi ku saat diminta mengulas film Single (2015)

Bukan mau bermaksud sadis sama film tanah air sendiri, tapi, hey, banyak alternatif lain loh di luar sana. Film tentang relationship enggak melulu harus bergimmick remaja galau. Kalo suka cerita film tentang jomblo-jombloan, mending nyobain nonton film yang The Lobster, deh. Film ini bakal lebih menantang perspektif kita karena pendekatan yang diambilnya berbeda dari biasa.

Aku enggak bisa nyalahin orang yang pengen cari duit tapi setiap filmmaker semestinya menyadari bahwa dunia film butuh diversity supaya bisa terus berkembang ke arah yang lebih baik. Kita butuh lebih banyak orang yang bikin film karena ingin bercerita, bukan semata ingin menjualnya. Kita butuh film-film yang berani, paling enggak sesekali. Kayak The Lobster yang mengangkat masalah hits dengan cara bercerita yang berlawanan dengan arus.
Jadi apakah film The Lobster ataupun film festival lain lebih bagus dari Single? Aku tidak bisa menjawab itu karena aku tidak akan pernah nonton Single seperti halnya demografik film tersebut enggak akan tertarik nonton The Lobster. Poinnya adalah kedua pihak sama-sama vital untuk kemajuan film. Kita enggak akan mendapat film bagus, katakanlah sekelas The Shawsank Redemption (1994), jika stuck meminta yang gitu-gitu melulu. Kadang aku merasa kalo dikasih kesempatan jadi hewan kayak David, maka sebagian besar dari kita mungkin tertarik jadi keledai kayak di Pinokio. Nurut yang rame aja.

“keledai istimewaaaa keledai teruji, dadadadada—daa~~”

keledai istimewaaaa keledai teruji, dadadadada—daa~~

 

Tone yang AMBIGU DAN CENDERUNG MONOTON, tak ayal bikin The Lobster jadi sebuah perjuangan untuk ditonton. Banyak orang yang merasa gak nyaman melihat akting yang sengaja dikaku-kakuin. Transisi dari Hotel ke hutan juga terasa enggak mulus-mulus amat. Kita sedikit terlepas dari cerita, aku sendiri lebih suka bagian cerita di Hotel di mana David berjuang dengan kepalsuan-kepalsuannya. Film ini meninggalkan begitu saja premis yang sudah menarik di awal. Masalah jadi hewan tidak lagi jadi poin penting di setengah bagian kedua.

Namun sebenarnya itu adalah cara The Lobster untuk tampil sebagai sentilan buat tuntutan relationships masa kini. Gimana kesendirian kini adalah hal yg paling ditakuti. Rasa gak enak dan feels dibuat-buat adalah perasaan yang film niatkan untuk dialami oleh penonton. The Lobster merefleksikan keadaan dunia dengan SATIR DAN EKSTRIM.
Individuality harus ngalah dan nurut sama sistem sosial dan semua rules nya. Bahkan yang punya pacar pun belum tentu ‘lulus’ dari palu judgment para pemirsa. Karena hubungan mereka senantiasa harus diapprove dulu oleh khalayak ramai. Beda ras, beda jarak umur yang menganga, beda kelas sosial masih sering kita temukan jadi hambatan. Akibatnya, tak jarang hanya untuk diterima sebagai bagian dari society, extreme decision lah yg diambil oleh kebanyakan orang. Kayak pria-pria di Hotel yang memalsukan sifat mereka. Kayak David yang berpikir lebih mudah pura-pura gak punya perasaan dibandingkan menipu perasaan itu sendiri. Padahal pada akhirnya, society doesn’t care.

Ada banyak hal yang bisa dipikirin setelah nonton film yang ceritanya ga-tertebak ini. Bagian endingnya sendiri sukses bakal bikin kita bertanya-tanya mikirin betapa anehnya dunia tempat kita hidup bermasyarakat sekarang. Aku merasa cukup sedih saat kredit penutup. Aku enggak akan bocorin runtut nya. It was left as an open interpretation, it was ambiguous, dan tentu saja ninggalin after taste yang kuat sekali. Punya pasangan tidak lagi pilihan masing-masing. Perbedaan seringkali tidak diijinkan. Orang masih harus berpura-pura demi pencitraan.

Secara singkat, The Lobster adalah film tentang pilihan yang diatur.

 

 

Analogi dunia nyata yang diceritakan dengan satir. Remarkable dan deep. Sangat berbeda dari kebanyakan film yang kita biasa tonton. Aneh, itu yang bakal pertama terlintas. Sepuluh menit pertama dan kita akan bisa nentuin lanjut mau nonton atau berhenti. Ini benar-benar film yang ‘suka atau enggak’, there’s no in-between. Unpredictable, bizarre, enggak rasional, tapi kuat. Film surreal ini menggambarkan dengan kelewat kocak gimana tuntutan dunia kepada kita secara sosial. Dan bagaimana reaksi kita terhadap tuntutan yang disamarkan sebagai pilihan tersebut. The Palace of Wisdom gives 8 gold stars out of 10 for THE LOBSTER.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember in life, there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

 

 

We be the judge.

 

 

 

 

Advertisements