Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“A leader may be just as weak or scared or doubtful as anyone else. But he isn’t allowed to show it.”

 

Allegiant-Poster

 

Bukan semata karena Shailene Woodley, aku suka film Divergent (2014) karena cara mereka menghandle cerita tentang masyarakat yang terbagi atas faksi-faksi. Tris sebagai tokoh utama pun diberikan begitu banyak pilihan sulit antara gimana seharusnya dia bertindak dengan apa yang ia percaya harus ia lakukan. Seru aja ngeliat Tris yang anak baik-baik mendapat rintangan harus ngelewatin segala latihan berat. Tris terus digencet but she fought them all. I actually praised Divergent, silahkan baca review nya di sini. Sedangkan sekuelnya, Insurgent (2015), aku malah enggak merasa punya kepentingan untuk membahasnya. Filmnya berubah menjadi sesuatu yang, nothing new! Insurgent bagiku hanya seperti cerita jembatan yang mereka gunakan untuk pamer CGI.

Dan datanglah Allegiant. Supposedly merupakan bagian terakhir dari seri adaptasi Young Adult ini. Tapi karena studio nya masih perlu mengeruk untung, mereka ngikutin jejak yang lain untuk membagi satu buku menjadi dua film. The good thing is, Allegiant enggak terasa seperti bagian pertama. Film ini berdiri sendiri sebagai satu cerita yang utuh. Ceritanya tetap terbungkus, walau pakai cliffhanger. Tentang Tris, Four, dan teman-teman yang kini mengetahui ternyata ada manusia lain di balik tembok yang mengelilingi kota Chicago. Ada dunia yang jauh lebih luas di luar sana. Setelah kejatuhan Jeanine, yang mendirikan sistem faksi, rakyat Chicago sekarang practically bebas, dan mereka butuh pemimpin baru. Mereka butuh peraturan baru.

sesuai yang kita pelajari dari WWE; crowd Chicago is always pretty wild!

Sesuai yang kita pelajari dari WWE; crowd Chicago is always pretty wild!

 

Tris (di sini Shailene Woodley mirip versi chubby dari Naomi Watts waktu masih muda yaaa) memilih untuk tidak menjadi salah satu dari pemimpin. Dia masih penasaran pada apa yang ada di luar sana. Apa sebenarnya fungsi dari dirinya. Turns out, dalam dunia yang rusak itu, Tris adalah apa yang mereka sebut sebagai ‘Pure’. Film ini lumayan bagus dalam mengset-up dan memberitahu kita kebutuhan dramatis yang hendak dicapai oleh Tris. Dia ingin melihat ke balik tembok gede yang mengurung kita mereka. Dia pergi untuk mencari dunia yang benar-benar bebas dari oppression, sedangkan kenyataannya – seperti yang dikatakan oleh David – adalah “kita tidak bisa mencapai perdamaian jika tidak ada yang dikorbankan”

Satu hilang, dua terbilang. Evelyn (Naomi Watts awet muda, serius!) menapak jalur kepemimpinan penguasa yang baru saja mereka gulingkan. Seluruh society dalam kondisi genting karena setelah kepergian Tris mereka jadi terbagi dua. Konsep yang cukup menarik disampaikan lewat justifikasi salah satu bad-guy yang kita dengar di sekuen pembuka. Tentang rakyat butuh pemimpin. Seperti domba yang butuh pemandu. Adegan ini memancing kita untuk bertanya; What it takes to be a leader? Bolehkah seorang pemimpin lemah? Atau haruskah dia layaknya singa yang tidak punya perasaan apa-apa terhadap para domba? Untuk urusan Tris dan yang lainnya; pemimpin yang manakah yang bisa mereka percayai?

Menjadi pemimpin sudah seharusnya bersifat Dauntless. Tapi dauntless bukan berarti ‘tidak takut’. Seorang pemimpin boleh saja sama takut nya, sama lemahnya, atau bahkan sama ragu-ragunya seperti orang lain. Tapi ia tidak boleh menunjukkan semua hal tersebut. Orang-orang bilang mereka ingin pemimpin yang seperti mereka, tapi nyatanya yang mereka butuhkan adalah pemimpin yang membantu mereka untuk jadi berani. Makanya, meski dia sendiri mau atau enggak, Tris adalah kandidat yang paling tepat sebagai pemimpin.

 

Dunia yang luas di balik tembok memberikan kesan fresh buat Alligeant. Kita mendapat kesempatan untuk melihat tokoh-tokoh yang sudah kita kenal belajar mainan baru. Teknologi baru. Beberapa di antaranya terlihat keren. Aku sendiri pengen punya drone yang bisa jadi senjata tapi aku yakin bakal bisa nemuin kegunaan yang lain. Drone digunakan sebagai alat untuk bikin adegan action di film ini jadi segar. Lihat aja adegan Four latihan yang jadi cukup seru. Walau yah kadang efek CGI nya kentara banget. Keliatan palsu. Apalagi latar di bagian awal.

Peter masih jadi karakter paling menarik, Milles Teller really got the hang of this character well. Dia delivered some of the best lines yang bikin kita ngakak. Dia sukses bikin Peter jadi karakter yang kita suka untuk kita benci. And there is also koneksi yang coba dibangun antara Christina dengan Caleb, yang juga mengundang tawa.

and also jawaban dari misteri kenapa Tori enggak muncul di poster

dan juga jawaban dari misteri kenapa Tori enggak muncul di poster

 

Film ini bukanlah The Hunger Games. Lebih mirip sama The Maze Runner. Tembok gede, dunia di luarnya, kerjaan mereka juga dikejar-kejar. Lari dari satu environment ke environment lain, yang dikuasai oleh kelompok yang berbeda. Enggak banyak hal baru yang ditawarkan di sini. Enggak ada adegan spesial. Enggak ada pengalaman yang benar-benar baru yang bisa kita dapatkan dengan menonton Allegiant. Aku bilang sih, jatuh di lubang yang sama dengan sekuel-sekuel lain. Alih-alih bikin stake yang sama sekali baru, film ini kembali menawarkan tantangan yang sama dengan installment sebelumnya. Hanya saja skala nya mereka bikin lebih gede. Dulu mereka terkotak oleh faksi, sekarang manusia-manusia itu terbagi atas daerah. Ada Bureau, ada Fringe, ada Allegiant, ada kelompoknya Evelyn. Dulu Tris harus nyelametin Four, sekarang juga lagi-lagi begitu. Film ini selain ENGGAK BANYAK BERBEDA dengan franchise lain, juga menambah buruk keadaan dengan kerap MENGULANG FORMULA CERITA YANG SAMA.

Divergent menarik karena kita melihat tokoh-tokohnya belajar. Dalam film ini Evelyn, Four, Peter, Caleb, kita dikasih lihat mereka semua melakukan sesuatu Sementara Tris, apa sih yang ia lakukan? Well, not much. Inilah yang jadi masalah utama film Allegiant. TRIS SEBAGAI TOKOH UTAMA SEOLAH HILANG DALAM CERITA, dia ketutup sama tokoh lain. Bahkan Christina terlihat lebih sibuk daripada dirinya. Tris pasif sekali dalam film ini. Sebagian besar keputusan penting dipilih oleh Four. Four yang memimpin jalan. Four yang menggendong Tris memanjat tembok. Four yang sadar duluan. Four yang ambil aksi duluan. Gila, cewek-cewek penggemar Theo James pasti geregetan banget nonton film ini karena Four mendapat porsi yang lebih gede. Tris gak ngapa-ngapain. Sampai plot poin kedua, barulah Tris melakukan sebuah pilihan. Dia baru sadar dan akhirnya melakukan tindakan nyata. Which is at that point, you guys know, film udah mau beres. Aku kasian sama Shai karena doi enggak dapat kesempatan unjuk gigi di sini, dia bisa ngidupin tokoh Tris dengan baik. Hanya saja dalam film ini ruang gerak baginya terlalu sedikit.

 

Sedikit trivia aja nih, mungkin cuma aku yang ngerasa tapi kehadiran Naomi Watts terus dialog pas Tris ketemu pemimpin Bureau “You must be the director of this place.”/ “Just call me David”, membuatku merasa mungkin film ini mau menyapa David Lynch and his works. I wouldn’t mind kalo iya tho, seneng malah 😀

 

Yang menyelamatkan kita semua dari kebosanan adalah KEKONYOLAN YANG TERKANDUNG DALAM BEBERAPA ADEGAN. Yang kumaksud bukan adegan yang memang diniatkan lucu, this film did try to be funny, misalnya reaksi para penduduk yang panik digempur oleh Tris dan Christina, atau saat ada seseorang yang terperangkap dalam that bubble thingy. Atau komentar-komentar si Peter. Dan itu lucu. Yang kumaksud yaitu ada ke-enggaklogisan yang bikin kita nyengir kuda menonton film ini. Asap yang bikin lupa itu, contohnya. It was so stupid dan lambat dan sama sekali enggak efektif. Tidak jelas seberapa kuat pengaruhnya, mengingat kita bisa lihat semua orang di Chicago, termasuk Tris dan kawan-kawan sudah menghirup nya sedikit dan mereka sehat wal-afiat.
Terus adegan aircraft mereka diuber-uber dan beberapa menit setelah berhasil lolos, pesawat tersebut ternyata bisa menjadi tak-terlihat. Like, kenapa gak dari tadiii??
Terus Four yang menyangkal dirinya takut ketinggian, padahal di film pertama jelas-jelas dia sendiri bilang punya phobia tempat tinggi. Mungkin maksudnya komedi, tapi yang ini justru  comes off awkward dan enggak lucu. Konsistensi, everybody.
Backstory ibu Tris yang diceritakan lewat alat kayak pensieve Dumbledore laughable dan gak klop dengan revealing di akhir.
Dan kecenderungan mereka untuk menggunakan adegan slow-motion biar jadi sok dramatis juga patut untuk mendapat erangan.

 

 

Pada dasarnya ini adalah film pengantar sebelum klimaks seri Divergent. Cukup banyak konsep teknologi yang baru yang dihadirkan. Some of them looked cool. Karakter-karakter pendukung mendapat banyak perkembangan, namun di sisi lain Tris seperti dicuekin. Klise dengan enggak banyak kesegaran elemen cerita yang bisa membuat film ini jadi membanggakan untuk pernah kita tonton. Kecuali kalian adalah penggemar berat, atau katakanlah allegiant – pengikut setia – dari novelnya, enggak rugi-rugi amat kalo kelewatan menyaksikan petualangan fiksi ini. Film ini membuktikan bahwa tidak ada istilah ‘pure’ untuk genre Young Adult yang udah damaged. The Palace of Wisdom gives 5.5 gold stars out of 10 for ALLEGIANT.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember in life, there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

 
We be the judge.

 

Advertisements