Tags

, , , , , , , , , , , ,

“Who’s gonna fight for the weak,
Who’s gonna make them believe?”

 

BatmanVSupermanDawnOfJustice-Poster

 

Sutradara Zack Snyder memulai kembali DC Comic universe dengan pertemuan epik yang sedari dulu selalu jadi debatan gak maju-maju para fanboy. Kuatan mana Batman atau Superman? Kita-kita yang kebanyakan baca komik pasti pernah ngajuin pertanyaan konyol kayak gini. Pasti pernah ngebayangin perkelahian mereka. Dan berkaca dari Watchmen (2009) serta Sucker Punch (2011), kita bisa ngarepin akan mendapat jawaban yang dark, panjang dengan pendekatan psikologikal atas pertanyaan tersebut. Film yang sudah banyak diantisipasi fans superhero ini dibuka dengan Bruce Wayne angsting over his parents’ death. Kemudian kita dikembalikan ke ending Man of Steel (2013) dan seketika kita tahu apa masalah utama film ini. Kita juga pasti sering nanyain masalah ini dengan sambil bercanda sehabis menonton jagoan kita menendang bokong monster atau robot jahat; siapa yang tanggungjawab sama bangunan-bangunan yang rusak dan roboh itu? Itu di dalam gedung emangnya enggak ada orang?

 

Sementara Superman terbang ke sana ke mari membantu orang-orang, menyelamatkan pacarnya, menghentikan orang gila yang mencoba menguasai dunia, Batman merasakan dampak yang kayaknya enggak disadari oleh pahlawan Metropolis tersebut. Dampak terhadap infrastruktur dan kemanusiaan. Tak terhitung jumlah orang yang meninggal jadi korban Superman melawan General Zod. Termasuk orang-orang yang dikenal oleh Bruce Wayne. Dalam film ini kita melihat bagaimana Superman didewakan oleh penduduk. Dan itu enggak selamanya berarti bagus. Karena akibat terjeleknya adalah orang-orang jadi takut kepada Superman. Mereka memuja dengan kelewatan sehingga tidak akan ada yang berani menegur sang dewa penolong.

Batman adalah salah satu dari makhluk berdemokrasi yang mengkhawatirkan keberadaan Superman. Film ini menggambarkan dengan baik betapa KONTRASNYA KEDUA SOSOK PAHLAWAN SUPER kita. Adegan-adegan Batman selalu kelam di malam hari karena Batman bergerak dengan sembunyi-sembunyi. Dia menyerang rasa takut manusia. Jika Superman disebut dewa, maka oleh koran, Batman disamakan dengan iblis. Kelelawar gede yang mencap penjahat dengan besi panas sebagai simbol mereka telah ditandai untuk hukuman mati. Batman toh juga tidak menganggap dirinya pahlawan, “we are criminal” katanya kepada Alfred. Batman merasa bertanggungjawab untuk menghentikan Superman sebelum manusia planet Krypton itu bener-bener kebablasan seperti yang ia lihat dalam salah satu mimpi buruknya.

ada alasannya kenapa film ini tidak dikasih judul Superman v Batman

Ada alasan kenapa film ini tidak dikasih judul Superman v Batman

 

Dewa melawan Iblis. Manusia tidak ingin jadi pelanduk di tengah-tengah. Lex Luthor si jenius yang bicara dalam teka-teki Copernicus dan referensi Yunani lain, seolah adalah wakil dari manusia yang tidak mau tunduk kepada dewa. Lex punya rencana untuk mengembangkan senjata dari material Kryptonite yang ia temukan di dasar Samudera Hindia. Ultimately, bukan senjata yang ia ciptakan, melainkan sosok titan bernama Doomsday, raksasa yang akan menjatuhkan dewa.

 

Kita dikasih liat sudut pandang mereka secara bergantian sehingga kita bisa mengerti apa yang mereka pikirkan. Apa yang menggerakkan mereka. Kita paham kenapa Batman enggak suka sama Superman. Ini bukan masalah Batman jadi jahat. Atau Superman yang berbalik mengibaskan jubahnya di wajah kebajikan. Selalu jelas, Lex Luthor lah yang jahat. Batman dan Superman, mereka punya kepentingan sendiri yang pada akhirnya beradu. Build up pertarungan mereka disusun dengan gemilang. Enggak kepenuhan kayak Avengers, Batman v Superman terasa cukup membagi porsi dengan adil. Leluconnya enggak berlebihan. Aksinya enggak lebay. Dan yang paling ditunggu-tunggu adalah…. Berantemnya! Sangat mewakili karakter mereka, seru kita enggak yakin harus dukung siapa, it was loud, IT WAS FANTASTIC, kalo di WWE pasti udah main event Wrestlemania worthy banget, dahsyat kayak di video game Justice League: Gods Among Us. Stake nya juga tinggi mengingat kalo dua orang ini saling bunuh maka siapa yang nanti akan melindungi yang lemah? Tidak akan ada cara balik jika salah satu mereka membunuh yang lain.

Bukan masalah performance. Henry Cavill dapet banget charisma seorang Clark Kent garismiring Superman. Memang sih banyak keluhan yang membanjiri film ini dari jauh-jauh hari sebelum rilis. Orang mempertanyakan Jesse Eisenberg yang terlalu cupu untuk jadi Lex Luthor. Orang meragukan Gal Gadot yang terlalu model untuk jadi wanita seperkasa Wonder Woman. Yang paling heboh dicerca tentu saja Ben Affleck yang pengumuman casting nya disambut beribu meme konyol di internet. Turns out, Jesse nyuguhin warna psikopat sehingga Lex Luthor jadi karakter paling kompleks dalam film ini. Motif dan point of view Lex sangat menarik walau kadang ia terasa terlalu malas dan tak lebih dari seorang psikopat alih-alih jenius gila.
Gadot sangat classy sebagai Diana Prince. Wonder Woman adalah pahlawan yang kemunculannya paling bikin menggelinjang dalam film ini. Semangatku kegenjot banget dengar lagu tema saat dia datang.
Dan Ben Affleck lebih dari sekadar passable sebagai Batman yang baru. Dia sukses menjelma jadi Bruce Wayne yang interesting dan bad-ass sekali di sini.

Untuk pertama kalinya, live, kita melihat the Trinity bareng satu frame.

Untuk pertama kalinya, live, kita melihat the Trinity bareng satu frame.

 

Masalahnya ada di naskah dan arahan. Kecenderungan untuk menceritakan superhero dari sisi kelam. Meski memang bagus untuk menggali mereka sehingga kita bisa melihat para pahlawan tersebut sebenarnya adalah manusia-manusia yang tidak tanpa-cela seperti kita. Paruh pertama film ini kerasa thriller sekali. Ada suspens saat cerita membuat kita bertanya benarkah kita butuh pahlawan seperti Superman di dunia ini. Juga ada sedikit nuansa detektif saat Bruce Wayne menemukan rahasia menyangkut beberapa orang yang kita tahu nantinya akan tergabung bareng di bawah nama Justice League.
Tapi tetep aja seperti ada sesuatu yang hilang.
Mereka melupakan inti dari para superhero. Batman tidak akan pernah menembaki orang-orang, just killing them like that. Batman selalu tinggal selangkah lagi jadi seperti Joker. Dilema moral itulah yang membuatnya menarik, namun itu pula yang tidak pernah disinggung di sini. Superman malah jadi terlalu narsistic di sini, dia tampak enggak ngerti dan sebodo amat sama masalah yang ia timbulkan. Clark Kent seperti patung monumen yang diam saja dketika dicoreti “False God”

Cerita superhero supposedly fun dan penuh aksi dan hal-hal keren yang lain. Kita tidak perlu-perlu amat melihat mereka sibuk membangun universe masing-masing. Kita masih perlu untuk melihat mereka sebagai pahlawan yang bisa kita cheer. Yang bisa membuat kita lupa sebentar terhadap abu-abunya dunia. Yang bisa bikin kita kembali percaya kepada hal sesimpel kebaikan selalu menang melawan kejahatan.

Sebagian besar Batman v Superman adalah drama yang lurus-lurus aja dengan sekuens action yang tak jarang susah untuk diikuti. Visual cantiknya enggak didukung oleh cerita yang asik, it was just there. Adegan Batmobile yang gede itu terasa kosong dan achieved nothing impactful selain kata-kata Batman “Do you bleed?” yang udah sukses jadi meme. Pertarungan terakhir melawan Doomsday itu udah padahal udah kayak adegan buku komik parah loh, seger, seru, sayangnya terlihat enggak klop dengan overall kejadian yang sudah dibangun sedari awal.
Film ini narasinya BERANTAKAN. Elemen ceritanya enggak kohesif, enggak padu. Setengah bagian terakhir jadi kayak film science fiction yang terpisah dari bagian pertama. Ada satu adegan yang enggak aku mengerti faedahnya apa, yaitu adegan Lois Lane menenggelamkan tongkat krypton ke dalam ruangan yang terbenam air. Aku pikir tongkat itu akan diambil oleh Aquaman atau gimana, tapi enggak. Beberapa menit kemudian Lois hampir isdet dalam usahanya mengambil kembali tongkat tadi. So what’s the point? Entah mengapa film ini begitu ingin membuat Lois Lane terlihat penting dan relevan.

 

 

Laga kedua pahlawan ini keren, aksinya fantastis, dengan beberapa shot yang cantik dan enak untuk dilihat. Musiknya juga menghentak. Namun untuk sebuah film yang dinanti-nanti, tidak banyak yang spesial berhasil disuguhkan oleh film ini. It was just there. Film ini kayak bola tanah liat yang dibikin oleh Batman terus dilemparkan ke dinding oleh Superman. CEPROTT! Naskah berantakan membuat film ini tidak bisa tuntas sekeren saat mereka memulai cerita. Jadi, Batman melawan Superman, siapa yang menang? Yah, yang jelas bukan kita yang kalah. The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for BATMAN V SUPERMAN: DAWN OF JUSTICE.

 

 

 

 

That’s all we have for now

Remember in life, there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

 

We be the judge.

Advertisements