Tags

, , , , , , , , , , , ,

“No-one ever told the sheep, that they outnumber the wolves”

 

BlusukanJakarta-Poster

 

Ibukota kayak Jakarta bakal selalu punya segudang masalah. Baru-baru ini aja heboh banget, para supir taksi pada turun ke jalan. Mereka menjalankan aksi protes, menuntut supaya pemerintah menyetop perusahaan taksi online yang enggak sesuai dengan undang-undang. Demo. Terlepas dari anarkis atau enggaknya di lapangan, gerakan demo masyarakat adalah bentuk dari struggle.
Film Blusukan Jakarta menangkap esensi dari struggle yang kadang tidak berani dilakukan oleh orang-orang kecil. In a way, FILM INI ADALAH BOTH HARAPAN DAN TEGURAN, . Baik bagi rakyat jelata maupun buat orang-orang gede di atas gedung sana.

 

Right-off-the-bat kita dibawa masuk ke lingkungan kumuh suatu sudut pinggiran kali di Jakarta saat seorang pria asing mengejar anak kecil yang membawa lari tas berisi kamera. Sampah-sampah menyambut kita. Lalat-lalat senantiasa bernyanyi jadi suara dua musik pengiring film. Lingkungan yang becek ini adalah panggung film Blusukan Jakarta. This is a great set up karena kita langsung merasakan nafas dunia yang menjadi latar. Kita tahu kita akan melihat kehidupan penduduknya yang berpenghasilan tak lebih dari lima-puluh-ribu sehari. Ada wanita-wanita PSK. Ada anak-anak jalanan. Dan tentu saja, geng preman yang ‘menguasai’ mereka.

Kantor BeritaSatu kedatangan seorang reporter baru. Dari Amerika. Namanya Tony (Marcio Sebsam terlihat kesulitan meranin seorang asing yang vulnerable). Kita melihat bagaimana Tony akhirnya memutuskan anak-anak jalanan sebagai topik berita yang akan ia diangkat sebagai tugas pertama. Kita tahu gimana tertariknya Tony melihat kehidupan mereka, Tony punya pandangan sendiri terhadap kondisi tersebut. Kita bisa rasakan urgensi Tony dan ketika bule ini terhambat masalah bahasa dan preman-preman, pada puncaknya dia kind of terisolir di daerah kumuh tersebut – dia enggak bisa pergi dari sana begitu saja, kita jadi peduli kepadanya. Film ini invest banyak ke tokoh Tony sehingga aku jadi bingung. Sampai aku merasa poster nya cukup misleading dengan menaruh karakter lain di posisi paling depan.

Aku selalu suka film yang memberi kita sedikit insight di balik panggung dunia sinema atau televisi.

Aku selalu suka film yang memberi kita sedikit insight di balik panggung dunia sinema ataupun televisi.

 

Melihatnya untuk pertama kali, aku jadi teringat sama film dari Brazil yang berjudul Trash (2014) tentang anak jalanan yang terlibat urusan politik karena mereka membawa lari sebuah barang bukti berbungkus kantong plastik. Blusukan Jakarta mungkin memang tidak bertutur se’kejam’ dan se’fierce’ Trash tapi film ini sukses menyuarakan dengan lantang apa yang ingin mereka sampaikan. It is a worth seeing. Istilahnya pembuka mata banget. Terlebih bagi warga ibukota yang sebentar lagi mau memilih pemimpin kota mereka yang baru.

Semua peristiwa gak enak yang terjadi dalam Blusukan Jakarta berpusat pada karakter Jampang (bagus Ence Bagus enggak lucu di sini). Dan film ini dengan baik berhasil menceritakan subplot-subplot sehingga setiap karakter yang terlibat punya progress yang menarik untuk kita simak. Hubungan tegang antara Jampang dan Acil (susah sih ya kayaknya buat tokoh Clinton Lubis ini keluar dari kotak annoying) jadi detak jantung cerita. Fenomena anak jalanan yang alih-alih makin berkurang malah semakin tahun semakin banyak. Film ini dengan cara asiknya mencoba menjawab pertanyaan yang sering kita ajuin ke diri kita sendiri kalo ngeliat anak-anak ngamen di jalan. Mereka sekolah enggak ya? Kasih-jangan nih? Well, this film did try to solve that particular problem. Melalui tokoh Anggun film ini mencoba membuat kita tergerak.

Spare-changes don’t change anything. Tidak akan pernah. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk melakukan suatu aksi. Seperti Anggun yang tadinya takut tergerak setelah melihat penampilan Acil di televisi. Meski dunia yang ditampilkan sedikit terlalu sempurna, media massa jadi pahlawan yang memastikan semuanya bisa terjadi, namun intinya tetap sejenih kristal: Harus ada yang berani memulai.

 

Aku suka gimana film ini membungkus diri dengan ending yang menguarkan suasana pleasant. Resolusinya mungkin agak off, agak mustahil, apalagi karena defying jarak dan waktu – asumsi positifku adalah mungkin film ini mau nyindir iklan televisi yang biasanya sepanjang rel kereta api Jakarta-Jogja – tapi perasaan terakhir yang terasa saat nonton film ini adalah sangat manis. Adegan saat Tony dan Acil berinteraksi dengan menggunakan kamus masing-masing juga sangat menyenangkan. Blusukan Jakarta perlu lebih banyak momen-momen seperti demikian. Mestinya ada lebih banyak lagi interaksi antarkarakter, menampilkan konflik mereka. Kayak Acil dan Ibunya yang PSK (Shita Destiya delivered some powerful lines!). It was such a heartfelt moment ketika Acil mengakui segala perbuatannya. Seketika kita tahu apa yang mendorong Acil, kenapa dia begitu males pergi belajar, dan kita juga tahu pandangan terdalam dari sang Ibu. Tapi aku enggak bisa bilang hal yang sama terjadi saat si Ibu lashes out kepada Anggun. Terasa datang entah darimana. Tokoh Jampang malah terlalu satu dimensi, enggak ada motif lain yang diperlihatkannya selain uang dan kekuasaan. But I still give him an applause, sih, buat adegan saat Jampang gunting rambut sementara anak-anak buahnya mukulin orang di latar belakang. Sangat bad-ass!

Drama seperti ini akan jauh lebih impactful jika emosi mereka diperlihatkan lewat ‘gesekan’ actual. Sayangnya Blusukan Jakarta menaruh harapan SUSPENS DAN EMOSI KEPADA ADEGAN KEJAR-KEJARAN. Metafora yang bagus sebenarnya, film ini nunjukin kalo lari-lari itu melelahkan dan pada suatu titik kita harus berani berhenti dan confront everything. Tapi serius deh, si Tony dari ngejar sampe dikejar. Dari diuber preman sampai diburu penduduk kampung karena nyolong baju. Terus semakin ke sini malah ada lebih banyak dan sering lagi adegan berlari, yang kali ini melibatkan beragam tokoh. Like, what is this, ‘The Slum Runner’? Adegan dikejar-kejar udah kayak jadi teknik mereka mindahin adegan satu dengan adegan lain. Sekuens larinya practically tell the same story, enggak ngasih feel yang berbeda, tempatnya pun mereka lari di situ-situ melulu. Banyakan adegan lari di film ini daripada di dua film Maze Runner, combined. Monoton dan menatapnya pun terkadang jadi enggak enak karena kamera goyang.

“Acil jangan lari!” yea better listen to her you little thief!

“Acil jangan lari!” ya better listen to her, you little thief!

 

Bicara soal tokoh, sepanjang film I’m dying to know apa cerita di balik seorang Anggun (Gadis sampul Mentari de Marelle main menakjubkan). Seperti yang kubilang tadi, karena posternya, aku menganggap tokoh cewek muda yang jadi guru bagi anak-anak di daerah kumuh tersebut adalah tokoh utama. Tapi kita enggak pernah dikenalkan kepada siapa dirinya. Kita enggak tahu darimana dia berasal, kenapa dia bisa jadi guru, kenapa dia begitu fasih bahasa inggris. Implikasi yang ada hanya Anggun adalah regular townfolk yang kebetulan bisa berbahasa asing. Mentari got it right meranin orang yang lebih nyaman berbahasa Indonesia ketimbang berbahasa inggris.
Tapi aku akan sangat kecewa kalo tokoh ini hanya ada karena Tony butuh lawan ngobrol di kampung kotor itu. Because, yea, she is just too important untuk enggak pernah dibahas lebih dalam.

Kayaknya aku enggak akan pernah cocok sama selera humor film Indonesia. Beberapa adegan yang dimaksudkan untuk lucu dalam film ini hanya membuatku nyengir hampa. Preman anak buah Jampang pada bego-bego, mereka tidak terasa seperti manusia yang punya pikiran.
Kadang film ini juga kayak ingin cepat-cepat sampai di akhir saja. Adegan pemuda yang surprise nemu dan akhirnya beli kamera Tony di pasar loak adalah adegan yang paling malas di keseluruhan film. Kita harus nelen aja gitu, si pemuda kebetulan punya duit dua juta yang udah diamplopin di kantongnya? Padahal sebenarnya film ini bisa aja usaha sedikit dengan masukin adegan si pemuda minjem duit dulu ke dua temannya yang berdiri konyol di belakang.

 

 

Sekelumit pemandangan tentang perjuangan orang kecil di ibukota. Kumuh, busuk, tapi punya meaning dan actually is a pleasant movie. Fresh. Sudut pandang ‘orang-luar’ membuat film ini jadi punya perspektif yang menarik. Memberi harapan. Memberi keberanian. Ini adalah drama keluarga yang dewasa, namun dihadirkan dengan tidak memaksa. Ada progress yang kita rasakan terhadap karakter-karakternya, tapi sayangnya tidak semua mereka mendapat kedalaman yang benar-benar berarti. Stake dan tokoh utamanya juga membingungkan. Narasi nya di-push hingga ke tingkat ‘too-good-to-be-true’. Sebagian besar aksi melibatkan adegan lari-larian, kejar-kejaran yang membuat film jadi monoton. The Palace of Wisdom gives 6.5 gold stars out of 10 for BLUSUKAN JAKARTA.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember in life, there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

 

 

We be the judge.

Advertisements