Tags

, , , , , , , , , , ,

“Seeing a spider isn’t a problem. It becomes a problem when the spider is gone.”

 

Spotlight-Poster

 

Kita hidup di dunia di mana kita enggak bisa mengharapkan seorang pahlawan super datang melibas segala masalah di muka bumi seperti yang dipertanyakan oleh Batman v Superman: Dawn of Justice. Begitu pun kita enggak bisa juga ngarepin masalah-masalah di dunia bisa diselesaikan semudah resolusi dalam film Blusukan Jakarta.
Dalam dunia nyata, pahlawan kita sesederhana guru, dokter, atau jurnalis. Kita memang enggak bisa mengubah dunia dari atas sofa nyaman nan empuk di rumah, tapi kita bisa menulis sesuatu yang paling enggak menginspirasi banyak pihak. Seperti orang-orang dalam film Spotlight. Tim reporter harian The Boston Globe yang berani dan sabar, dengan teguh menyibak skandal yang sangat disturbing dalam jaringan gereja-gereja Katolik di Boston, Massachusetts. Ini adalah kisah nyata, dengan orang-orang yang beneran ada dan beneran menghadapi kecaman publik dan tekanan dari pihak lain.

Mungkin itu sebabnya kenapa film ini memakai cast yang sudah dikenal luas sebagai bintang yang pernah mainin tokoh superhero. Ada Hulk, ada Sabretooth, dan yea juga ada Batman, karena kenapa tidak. It fills the purpose, gimana sih pahlawan di dunia nyata. Hebatnya arahan film ini adalah meski kita tahu dengan mereka, kita masih percaya kalo orang-orang tersebut adalah benar seorang jurnalis yang nyata. Spotlight enggak membuat mereka terlihat menggebu ataupun mengungkap berita mengerikan tersebut dengan niat menjadi seorang pahlawan yang dipuja dan dielu-elukan. Film ini membuat mereka jujur seperti apa adanya; mereka hanya reporter yang peduli terhadap kerjaan mereka, reporter yang ingin mempersembahkan sebuah cerita yang bagus dan sukur-sukur membuka mata orang-orang tentang kebenaran yang selama ini disembunyikan.

Dan aktor-aktor tersebut, mereka menghilang sempurna ke dalam karakter reporter yang mereka perankan. Michael Keaton benar-benar sudah enggak terasa seperti Birdman. Enggak ada secercah pun karakter detektif tangguh dalam penampilan Rachel McAdams meski di sini dia juga menginterogasi korban sampe ke dalem-dalem seperti perannya dalam musim kedua serial True Detective. Yang paling terlihat beda adalah Mark Ruffalo. Penampilannya dalam film ini bisa dibilang sebagai salah satu dari suguhan terbaik sepanjang karirnya. Mark melakukan sesuatu yang berbeda dengan suaranya, yang keluar begitu alami sehingga aku percaya memang seperti begitulah aslinya dia berbicara. Sungguh sebuah pencapaian luar biasa bisa membuat penonton melupakan sosok yang so recognizable dan ikut tenggelam ke dalam seseorang berbeda yang mereka perankan.

 u-huh see the movie Spotlight, “oooh I love your style”

uh-huh see the movie Spotlight, “oooh I love your style”~~

 

Nonton Spotlight kita akan dibuat geregetan karena film ini ahli banget dalam soal menahan-nahan. Aku dibuat tertegun lagi dan lagi menyaksikan cerita film ini terungkap dengan perlahan, di mana selalu ada kejutan – selalu ada stake – yang dihadapi oleh para reporter tersebut. Spotlight really HOLDING BACK ALOT. Bahkan para aktornya juga sepertinya diarahkan untuk bermain dengan menahan-tahan. Kita bisa lihat sendiri cuma satu kali ada adegan seorang teriak karena frustasi. Kebanyakan adegan yang kita lihat adalah mereka duduk terdiam, sambil ngurut kening atau ngusap-ngusap wajah dan bergumam lirih “this is not good”. Inilah yang membuat kenapa aku suka film ini. Reaksi yang mereka perlihatkan itu genuine; natural dan enggak dibuat-buat. Membuat film jadi nyata seperti cerita yang dijanjikannya.

Gini deh, bayangin jika kalian mendengar suatu kabar buruk; skripsi ditolak, atau gaji belum dikirim, atau mungkin denger kabar hari Senin dimajuin ke hari Minggu. Kita enggak serta merta bereaksi dengan ngelempar kursi ke dinding, kan? Lebay banget kalo iya. Umumnya sih kita paling hanya geleng-geleng kepala sambil ngembusin napas. Mungkin sambil ngurut-ngurut dada.
Dan begitulah cara para aktor Spotlight memainkan peran mereka sepanjang film. Selama proses investigasi, setiap ada hambatan yang mereka temui, entah itu dari pihak hukum yang ingin menutup-nutupi atau simply karena mereka tahu harus menunggu waktu yang tepat, para reporter tersebut bertindak persis bagaimana reaksi manusia yang terjadi di dunia nyata.

 

Spotlight adalah film yang disturbing, tapi disturbing dalam kapasitas yang tepat. Mengganggu, karena ini adalah kejadian yang benar-benar terjadi tahun 2001 lalu. Kasus yang diragukan oleh banyak orang, dan kita melihat langsung perjuangan sekelompok yang berani mengangkat kasus ini dalam sorotan cahaya. Sekelompok orang yang melakukan perbuatan yang terpuji. Mereka tidak membiarkan masalah yang mereka temukan hilang begitu saja. Tidak salah jika mereka kita sebut pahlawan jurnalis. Pertanyaan yang lebih mengganggu adalah; masih adakah jurnalis pahlawan kala sekarang ini?

 

Bukan berlebihan jika banyak yang bilang Spotlight adalah film horor. Aku sendiri cukup merinding menyaksikan bagaimana cerita kasus tersebut terungkap. Kasusnya terus saja terbendung, sampai ke titik aku bengong menyadari ini semua benar terjadi di Amerika sana (“oh…my…god”) Tentu saja, aku juga terinspirasi, dalam hal tulisan kita mampu mengubah dunia. Lewat film ini kita belajar tentang dunia jurnalisme, khususnya jurnalis investigasi yang butuh kesabaran dan terutama keberanian untuk mengungkap sesuatu yang berlawanan dengan yang sudah dipercaya oleh sebagian besar masyarakat. Berlawanan dengan sistem. Sacha Pfeiffer dan rekan-rekannya tahu bahwa tugas seorang jurnalis bukan hanya mengidentifikasi masalah, tapi juga menyelidikinya masalah tersebut sampai ke akarnya. Mungkin jurnalis investigasi seperti ini sudah agak redup di jaman media online yang lebih mengutamakan kecepatan berita, dan film ini mengingatkan kita tentang betapa pentingnya sesuatu yang melewati proses yang panjang dan melelahkan. Aku kesulitan mencari adegan yang paling aku suka karena memang semua adegan, semua sekuens investigasi dalam film Spotlight adalah sama pentingnya. It shows us the process dan tantangan yang memang betul-betul dialami oleh reporter yang menyelidiki.

 

 

Paket lengkap sebuah tontonan yang membuka mata. Diarahkan dengan cakap, well-written, sekaligus dimainkan dengan penampilan yang luar biasa. Film ini diceritakan dengan sangat baik sehingga seolah kita sedang menonton tayangan dokumenter. Bahkan rasanya seperti menyaksikan kejadian tersebut secara langsung. Satu lagi yang enggak bisa disangkal dari film ini adalah faktor kepentingannya. Tidak ada kata tidak untuk film ini jika kalian suka menonton cerita yang benar nyata dengan kasus mengerikan yang betulan terjadi di baliknya. Pantas saja film drama biography ini terpilih jadi Best Picture Oscar 2016. The Palace of Wisdom gives 8 out of 10 gold stars for SPOTLIGHT.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember in life, there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

 

We be the judge.

Advertisements