Tags

, , , , , , , , , , , ,

“You are confined by your own repression.”

 

10CloverfieldLane-Poster

 

Sekuel, atau prekuel, atau reboot, apapun namanya biasanya dibuat lebih ‘gede’ dari film yang pertama. Sudah lumrah manusia selalu berkompetisi, tak jarang kita berlomba dengan diri kita sendiri. Dan untuk beberapa alasan, filmmaker merasa para penonton ingin babak baru dari cerita mereka harus mengalahkan kehebohan yang sudah mereka hadirkan. Film Cloverfield (2008) adalah film bergaya found-footage tentang monster-monster raksasa yang bikin kacau di sebuah kota. Aku suka gaya bercerita mereka yang enggak serta merta mamerin monster kepada kita. Produser J.J. Abrams dengan suksesnya menangkap apa inti yang benar-benar bikin penonton tertarik kepada Cloverfield. Dia juga mengulang pola pemasaran yang sama; sedikit sekali info tentang pembuatan film ini, sehingga membuat penonton tidak tahu harus mengharapkan apa.
Sungguh sebuah kesalahan jika kalian datang ke studio menonton 10 Cloverfield Lane dengan pamitan “Mamaa, aku mau nonton sekuel Cloverfield dulu yaa”, dengan niat mulia ingin melihat monster yang mengamuk. Film ini justru sebaliknya, hadir dengan lokasi yang lebih terbatas, porsi aksi yang lebih sedikit, dengan stake practically lebih kecil.

 

Namun hal tersebut tidak berarti membuat film ini less scary dan kalah mutu.

 

Kita ngikutin cewek yang bernama Michelle (Mary Elizabeth Winstead memberikan penampilan terbaik yang pernah aku tonton dari dirinya, and I’ve always watched her movies sejak Sky High) yang sepertinya niat pindah kota lantaran berantem dengan pacar. Film ini sangat visual, menit-menit pembuka diceritakan dengan efektif lewat gambar-gambar. Di tengah jalan mobil Michelle ditabrak, dan saat membuka matanya kembali, ia mendapati dirinya dalam keadaan dirantai dalam sebuah ruangan kecil. Michelle so pasti bingung, dong. Apalagi kemudian datang pria bertubuh gede yang mengaku seorang petani bernama Howard (Tau enggak apa itu ‘a class-act’? John Goodman jawabnya!). Howard bilang dia menemukan Michelle di pinggir jalan dan membawanya ke bunker bawah tanah karena sudah tidak mungkin untuk pergi ke rumah sakit. Seluruh penduduk telah musnah. Udara di luar terkontaminasi dan berbahaya jika terhirup. Mencurigakan banget kan ya? Beneran kiamat kah di luar? Atau pria tersebut yang udah gila? Apakah dia emang niat nolong atau malah mau nyulik? Michelle jelas bingung, dan takut. Dia harus segera cari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Aku suka banget sama film yang sebagian lokasinya hanya di satu tempat terbatas. Room (2015) nya Brie Larson aku kasih nilai 9 (bisa baca reviewnya di sini) dan setelah nonton itu aku berharap bisa melihat lebih banyak lagi film kayak gini. Impian ku terkabul lebih cepat dari yang kukira karena 10 Cloverfield Lane adalah film dengan lokasi terkurung, sebuah THRILLER MENCEKAM DENGAN ATMOSFER YANG CLAUSTROFOBIC SEKALI. Film ini penuh dengan suspens dan tensi yang menegangkan, SECARA MANUSIAWI. Aksi dan reaksi yang diperlihatkan oleh para tokohnya terasa nyata. Tokoh Michelle ditulis sebagai seorang yang cerdas. Itu adalah salah satu poin kuat film 10 Cloverfield Lane.

jadi, setelah Envy Adams, sekarang giliran Ramona Flowers yang disekap.

jadi, setelah Envy Adams, sekarang giliran Ramona Flowers yang disekap.

 

Tidak sekali pun aku meneriaki dirinya karena melakukan hal-hal bodoh yang kerap dilakukan tokoh utama cewek dalam film horor. Michelle tidak pernah lari ke arah yang salah, tidak pernah ia berdiri bengong shock ga ngapa-ngapain. Cewek yang hobi desain pakaian ini pintar, dengan cepat ia bisa menyimpulkan sesuatu, dia juga crafty sekali, ide-idenya selalu selangkah lebih maju dari kita yang nonton. She’s such a strong character. Di ending, aku tepuk tangan saat dia memilih sesuatu yang bener-bener kebalikan dari yang ia lakukan pada awal film. I love her as a main protagonist karena dia sangat cerdik. Dan dia memang enggak malu-maluin untuk kita cheer.

Film ini juga bermain-main dengan prasangka kita. Tidak pernah menjawab langsung apa yang sebenarnya jadi motivasi Howard. Begitu banyak BRILLIANT MISDIRECTION yang senantiasa bikin kita semakin penasaran dan tersedot ke dalam cerita. Michelle is constantly on edge karena dia enggak pernah yakin bisa percaya atau enggak kepada Howard. Satu adegan pria tersebut terlihat normal dan ramah dan menyenangkan. Menit berikutnya dia menggebrak meja, ngomongin hal yang enggak jelas semacam teori konspirasi atau alien. Kadang dia rasional, kadang dia terlihat agak kurang waras. Film ini membuat kita menerka namun tidak pernah benar-benar tahu apa yang ada di dalam kepalanya.

Sebenarnya ada satu tokoh lagi; Emmett, diperankan dengan well-done oleh John Gallagher Jr. Punya sedikit backstory namun tokoh ini tidak pernah terlihat really compelling. 10 Cloverfield Lane adalah tentang bentrokan antara Michelle, yang ingin keluar dari relationship, dan Howard, yang malah ingin mengurung demi kebaikan Michelle sendiri.

Bagaikan sebuah anti dari Allegory of the Cave nya Plato. Pihak yang terkurung minta keluar. Sedangkan yang tahu keadaan dunia luar justru menghalangi mereka. Tinggal di dalam adalah yang terbaik. Benarkah demikian? Atau seperti kata Howard, manusia terkadang menolak untuk dilindungi. Pada akhirnya kita harus menyadari justru kita sendirilah yang mengekang diri. Pilihan yang dibuat oleh Michelle diakhir begitu melegakan karena saat itulah Michelle benar-benar bebas.

 

Director biasa kebanyakan akan kesulitan menangani cerita yang mengambil LOKASI TEMPAT YANG SEMPIT DAN TERTUTUP RAPAT. Ruang kamera gerak amat terbatas. Tidak banyak yang bisa mengolah cara-cara untuk membuat setiap adegan terlihat menarik. Masalah tersebut sama sekali tidak ditemukan dalam film ini. Selalu ada sesuatu yang bisa kita lihat dari tiap shot. Selalu ada arahan menarik di setiap adegan yang membuat kita merasa terikut dalam keadaan di ujung tanduk. Ini adalah debut film panjang buat Dan Trachenberg, dan hasil kerjanya sangat menginspirasi untuk aku yang baru belajar mengenai proses pembuatan sebuah film. Dari dalam saluran udara yang bikin sesek sampai ruangan keluarga yang terang benderang, film ini menampilkan cerita dengan efektif.

Twerking time!

twerking time!

 

Petunjuk-petunjuk mengenai cerita dan koneksinya dengan Cloverfield pertama ditampilkan dengan sangat singkat. Satu baris dialog. Satu potongan gambar. Satu judul buku di rak. Kita harus benar memperhatikan visual yang dimanfaatkan maksimal oleh film ini, menyatukan potongan demi potongan sebelum akhirnya berkata “whoa, ternyata gituuu..”.
Revealing kondisi dunia pada babak ketiga diceritakan dalam sebuah sekuen action yang sudah dinanti-nanti oleh mayoritas penonton. Sedikit terasa rushed buatku. Aku enggak nyangka filmnya memberikan laga frontal kayak gitu. Tapi yaa setelah dipikir-pikir, masuk juga sih.

 

 

Memang, judulnya yang pake kata ‘Cloverfield’ agak-agak php buat penonton yang ngarepin film kejar-kejaran monster. Film ini sesungguhnya adalah sebuah thriller tentang seorang yang terkurung. Diceritakan dengan brilian. Kita dibuat selalu menebak apa yang sesungguhnya terjadi. Yang bikin makin kagum adalah meski di tempat sempit, film ini tetap kaya dengan pengalaman visual. Penampilan para aktor juga sangat menakjubkan, sukses membawa cerita ke level realita. Mencekam dan menegangkan, film ini penuh dengan tension. Kecil tapi gede. Aku lebih suka film ini dibanding installment nya yang pertama. The Palace of Wisdom gives 8 gold stars out of 10 for 10 CLOVERFIELD LANE.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember in life, there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

We be the judge.

 

Advertisements