Tags

, , , , , , , , , , , ,

“Accept yourself and fully being what you are before accepting others as they are.”

 

TheJungleBook-Poster

 

Bagheera si Macan Kumbang bercerita kepada kita, ia membawa seorang bayi manusia untuk dibesarkan oleh kawanan serigala. Di hutan rimba, enggak aman hidup seorang diri. “You must have a friend,” kurang lebih begitu kata Kaa, ular besar yang penuh tipu daya. Tumbuh dalam kawanan serigala membuat Mowgli jadi punya hubungan khusus dengan mereka. Mowgli mencoba sebaik yang ia bisa untuk menjadi lebih seperti serigala – meskipun seringkali dengan sedikit terpaksa – meninggalkan kehandalannya sebagai seorang manusia. Bagi hewan-hewan di hutan, manusia adalah makhluk yang berbahaya karena mereka bisa membuat ‘bunga merah’; sebuah benda ajaib yang hangat, indah, dan menakjubkan namun sanggup membakar apa saja.

Keinginan Mowgli untuk menjadi penghuni hutan dengan cepat berbenturan dengan kenyataan. Shere Khan memandang Mowgli sebagai ancaman. Harimau yang sangat ditakuti itu ingin mengenyahkan Mowgli dan dia enggak segan untuk menghalalkan segala macam cara. Mengkhawatirkan keselamatan keluarga serigalanya, Mowgli memutuskan untuk keluar dari hutan. Dengan diantar oleh Bagheera, dimulailah perjalanan Mowgli menembus hutan untuk kembali ke desa manusia.

 

Jalan ceritanya sama namun film ini tidak semata adalah versi mentereng dari kartun ataupun buku. The Jungle Book terbaru ini sedikit lebih serius. Dirinya seperti gabungan adaptasi novel klasik Rudyard Kipling yang bernuansa kelam dengan keceriaan dari karakter-karakter ikonik film kartun terakhir yang dibuat oleh Walt Disney yang sudah kita saksikan dan sama-sama kita cintai, The Jungle Book (1967).
Hasilnya?
Wow, sungguh sebuah PERJALANAN MENDEBARKAN SEKALIGUS TETAP MENYENANGKAN!

Yang pertama paling kelihatan tentu saja adalah environment nya. Literally. Meski disebut sebagai live-action, Sembilan-puluh persen yang bikin kita enggak ngedip layar itu adalah bo’ongan. Hewan-hewan yang bisa bicara tersebut tidak benar-benar ada di sana. Hutan lebat yang kadang misterius kadang indah sesungguhnya layar hijau. Mereka hanya gambar hasil imajinasi komputer. Tidak gampang membuat film yang sepenuhnya memakai CGI bisa terlihat meyakinkan. Namun film ini berhasil memvisualisasikan mereka dengan luar biasa nyata. Tentu saja didukung dengan storytelling, performance yang oke punya. INDAH. MESMERIZING. DETIL SEKALI. Kita bisa lihat jelas bulu-bulu dan gigi-gigi dan lidah api itu. Aku mencuri dengar anak kecil yang nonton dua baris di depanku bertanya kepada ayahnya, “Pih, itu beruang beneran ya?

mau gak satu lift bareng pemain-pemain film ini?

mau gak satu lift bareng aktor-aktor film?

 

Neel Sethi kudu berakting seorang diri. Dia bicara kepada model atau mungkin boneka, bereaksi terhadap hal yang tidak ia lihat. Butuh kemampuan akting yang enggak ala kadar, dan kita bisa saksikan sendiri gimana aktor cilik ini membuat kita percaya kalo dia beneran lagi berjalan di atas batang kayu lapuk yang nyaris patah. Bukan hanya passable sebagai Mowgli, Neel Sethi juga terlihat natural. Dia bisa punya chemistry yang kuat terasa dengan tokoh-tokoh hewan tersebut. Dan film ini enggak berhasil tanpa relationship yang compelling dari mereka. Matanya tidak pernah terlihat kosong. Blend in sekali deh dengan dunia latarnya. Enggak ada adegan yang matanya kemana-gambarnya kemana.

Penokohan dalam film ini menangkap dengan sangat baik jiwa dari film kartun lamanya. Personality dan tingkah mereka enggak banyak berubah, sebagian besar tetap sama. Dengan kemampuan jajaran cast nya, fabel yang bercerita tentang pencarian keluarga ini mampu mencapai kedalaman cerita yang lebih jauh lagi. Bill Murray tidak bisa salah sebagai Baloo. Both manipulative dan bersahabat, persona Baloo yang malas tapi kreatif klop banget dengan sifat Mowgli yang haus untuk membuktikan diri. Pendekatan yang diambil oleh Scarlett Johansson membuat Kaa jadi bener-bener terrifying. Kalo dulu desisan nya rada konyol mirip Winnie the Pooh (pengisi suaranya memang sama), mendengar Kaa film ini di dalam hutan sendirian bakal bikin kita ngompol di celana. King Louie dibawakan oleh Christopher Walken tanpa masalah berarti. Paling terdengar cocok adalah Idris Elba, Ben Kingsley, Lupita Nyong’o yang berturut memerankan suara Shere Khan, Bagheera, dan Raksha.

 

Film ini LUCU, SERU, DAN HARU. Nilai-nilai kemanusiaan yang coba ditanamkan, tumbuh dengan baik mengisi narasi. Realistis, dengan nuansa komikal, anak-anak bisa dengan mudah menyukai film ini. Mengajarkan nilai persahabatan dan perjuangan. Juga rasa takut yang harus dihadapi. Mengenalkan kepada kematian, dan yaa sedikit darah.

Ini adalah tentang where we belong. Mowgli berusaha mencari keluarga baru dalam kawanan binatang yang ia temui, dia berusaha mendapat pengakuan. Tapi selama ia masih ingkar tentang siapa dirinya yang sebenarnya, dia tidak akan pernah menemukan tempat nya ke mana pun ia mencari.

 

Banyak elemen baru yang diambil dari buku yang ditawarkan oleh film ini kepada kita. Misalnya cerita burung cuckoo dari Shere Khan, yang adalah upayanya membujuk serigala-serigala muda untuk membenci Mowgli yang manusia. Yang paling keren adalah pasukan gajah dalam film ini ditulis seolah mereka adalah guardian hutan yang punya level di atas penghuni hutan yang lain. Ada satu lagi yang menyentuh, yaitu saat Mowgli kecil menyentuh wajah Bagheera tanpa takut-takut padahal baru saja mengalami hal yang traumatis, seolah mereka sudah kenal dari dulu. Menakjubkan gimana anak kecil bisa mengabaikan hal mengerikan.
Build-up masing-masing plot sangat kuat dan punya pay-off emosional di ujungnya. Seperti soal bunga merah. Sepanjang film Mowgli diarahkan untuk jauh-jauh dari api. Makanya saat-saat Mowgli mengambil api sebagai senjata sukses menjadi momen klimaks yang kerasa banget efeknya.

“forget about your worries and your strife”

“forget about your worries and your stri.. uh-oh”

 

Kebanyakan orang cinta nostalgia lebih daripada mereka menyintai pura-pura untuk enggak cinta sama apapun. Kurasa aku juga demikian hahaha.. Aku girang bukan kepalang The Jungle Book memasukkan beberapa servis khusus buat fans cerita terdahulunya. Aku, dan pastilah kalian-kalian yang tahu juga, ikutan nyanyi Bare Necessities bareng Baloo dan Mowgli. Mereka mereka ulang adegan Mowgli yang berenang di sungai adalah momen favoritku. Meski bukan musikal dan lebih serius, dalam film ini musik tersebut muncul tidak cuma sekali dan itu bikin mood film ini jadi nyenengin. Aku bahkan tinggal di dalam bioskop saat kredit bergulir demi bisa mendengar I Wanna be Like You dan Trust In Me lebih lama. Kedua lagu ini juga ada di dalam film, namun aku punya masalah mengenai keduanya.

Aku tidak merasa lagu King Louie ini masuk dengan pas ke dalam adegan di dalam kuil kuno tersebut. Sedikit twist yang ditulis sebagai motive si Orangutan gede untuk menambah depth karakternya membuat lagu ini terasa agak dipaksakan, walaupun udah dikasi pelicin berupa lirik baru. I love the song but the intrusion just doesn’t work.
Mengenai Kaa, aku lebih melihatnya sebagai sebuah kesempatan yang dilewatkan. Lagu Trust in Me pretty much adalah membungkus keseluruhan penampilan Scarlett Johansson. Dalam sebuah cerita yang lebih serius kayak gini, aneh aja mereka left out karakter yang paling dalem pada film kartun jadulnya. Kaa hanya ada untuk memberi one piece of information kepada Mowgli. Padahal aku menunggu-nunggu adegan interaksi ular ini dengan Shere Khan, mengingat kedua predator ini sekarang punya sudut pandang yang lebih komples dibanding tahun 1967 yang lalu. Kemunculan tiap tokoh juga terasa agak sedikit terlalu kentara sehingga rasanya lumayan episodic. Tapi toh, minor-minor kayak gini enggak bakal disadari oleh anak kecil yang jadi demographic utama.

 

 

Tontonan yang pas untuk seluruh keluarga. Ini mungkin salah satu dari sedikit sekali film yang heavily rely on CGI namun actually berhasil memanfaatkan teknologi tersebut sehingga menontonnya menjadi sebuah pengalaman yang tak gampang terlupakan. Mendebarkan dan menyenangkan. Cerita klasik dengan rasa baru. Dengan karakter dan permasalahan yang lebih dalam. Meskipun drawback nya adalah mereka terasa sedikit lebih miskin dibandingkan film yang dulu, dari segi peran. The Palace of Wisdom gives 8 out of 10 gold star for THE JUNGLE BOOK.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember in life, there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

 

 
We be the judge.

Advertisements