Tags

, , , , , , , , , , , ,

“Everybody has a price.”

 

KalamKalamLangit-Poster

 

 

Sekilas, drama religi yang satu ini memang terkesan harmless. Seorang cowok yang ikut lomba mengaji namun ditentang oleh ayahnya. Itu premis dasar film ini. Tentu saja juga dibalut oleh alur si-anu-suka-si-itu-tapi-si-itu-cintanya-sama-yang-ono biar manis. Tapi aku merenung cukup lama di dalam bis sepanjang perjalanan pulang dari bioskop. Empat-puluh-lima menit dan aku sampai pada kesimpulan, Kalam-Kalam Langit bicara sesuatu hal besar yang lebih personal. It was provoking enough. Tentang manusia, siapapun dia, apapun kerjaannya, punya harga, yang kadang terpaksa dibanting. For better or worse.

Ja’far (kemampuan akting Dimas Seto sama baiknya dengan kemampuannya mengaji); memutuskan untuk mendaftar MTQ – singkatan dari Mlomba Tmembaca Quran – mengabaikan nasehat ayahnya karena dia mencuri dengar niat dan tantangan seseorang yang ikut acara ini.
Anissa (Elyzia ‘Luhde’ Mulachela menyuntikkan kemagisannya ke dalam film); melihat titik terang, membuang bungkamnya dan mengonfrontasi hal yang selama ini ia simpan.
Aku; jauh-jauh nonton film yang genre nya bahkan aku tidak suka, genre religi yang lagi populer. Demi apa? Biar pengunjung blog ku bisa nambah barang sedikit. Yea, it was selfish. Namanya juga manusia, nyelametin dunia aja tak jarang ujungnya buat kepentingan pribadi. Begitu jua yang dilakukan oleh Ja’far dan Satori (sayang tokoh Ibnu Jamil ini terlalu satu-dimensi). Mereka terjual demi popularitas, dan ultimately demi hati Azizah (alumna Gadis Sampul Meriza Febriani fits so well here), yang menurut mereka bisa didapat dengan memenangkan Muasabaqah Tilawatil Quran.

Pandangan Ayah Ja’far (diperankan singkat padat oleh Mathias Muchus) tersebutlah yang bikin film ini menarik. Bapak ini despise orang-orang yang ikutan MTQ so much karena menurutnya mereka tidak lagi membaca dari hati. Niat mulia mereka sudah mendua. Ada yang ingin uang, ada yang ingin jadi artis. Agama dijadikan device untuk menggapai angan-angan pribadi. Momen di awal saat beliau mematahkan piala Ja’far Kecil bercerita lantang kepada kita semua. Adegan ini ngebuild-up momen yang lebih kuat lagi saat Ayah Ja’far memintanya mengembalikan uang untuk berobat. Tindakan yang bikin Ja’far kaget, karena demikian sama saja dengan sang Ayah menyuruhnya untuk ikut MTQ.

Bisa jadi film ini sedikit menyindir acara-acara lomba islami yang kian marak.

Bisa jadi film ini sedikit menyindir acara-acara lomba islami yang kian marak.

 

Aku menikmati paruh pertama film ini dengan khusyuk. Suasana kompetitif terasa sekali merasuk ke dalam dinding-dinding pondok pesantren. Membuat kita yang nonton bisa sedikit terbawa merasakan gereget. Film ini harusnya bisa mencapai tingkatan yang lebih asyik lagi jika terus fokus menggali konflik batin Ja’far. Aku suka mereka melakukan adegan di mana Ja’far melihat dirinya yang masih kecil belajar mengaji bersama sosok ibunya. Seharusnya adegan semacam itu disajikan lebih banyak lagi, karena lebih refreshing and clever daripada sekedar melihat flashback-flashback.
This movie did try untuk terus men’jegal’ Ja’far secara batin setelah mid-point. Sentuhan bagus membuatnya kembali ke kampung halaman Ibu, sosok yang jadi pusat sekaligus obat kecamuk hati Ja’far. Lucunya membuat aku teringat kepada film Creed, ataupun film kompetisi olahraga lain, di mana tokoh utamanya selalu regroup dengan ‘kabur’ untuk kemudian belajar dari awal dari guru yang ada hubungannya dengan orangtua mereka.

Kalam Kalam Langit membuat Ja’far terus berada di dalam situasi yang mengharuskan dia memilih, film ini ingin nunjukin kalo Ja’far made some wrong choices sebelum akhirnya dia berubah. Namun masalahnya adalah filmnya sendiri kurang berani untuk bener-bener portray Ja’far sebagai orang yang bercela. Makanya hook nya terasa gitu-gitu melulu. Ja’far kinda shoved ke dalam keadaan yang mengharuskan dia untuk bereaksi, alih-alih beraksi. Makin ke sini kita semakin lost interest karena Ja’far seolah menghilang ke dalam keadaan. Tokoh-tokoh yang lain lebih aktif daripada dirinya.

Ada sesuatu di balik kelembutan dan kemerduan bacaan ayat-ayat itu.

 

Setelah kita dihanyutkan oleh irama bacaan ayat Al-Qur’an, sajian visual mengambil alih perhatian kita setelah pertengahan cerita. Sungguh sebuah TREAT YANG MANIS BAGI MATA DAN TELINGA kita. Sudah lama aku kepengen liburan ke Lombok tapi gak pernah jadi karena selalu kebentur masalah waktu. Sampe-sampe saudara di sana udah capek tiap beberapa bulan nanyain. Melalui film ini, rasa kepo ku terhadap pulau ini sedikit terjawab. Indah, nyaman, dan terlihat sangat misterius. Kalam Kalam Langit enggak menyia-nyiakan pemandangan alam tersebut dan dengan efektif mengintegralkan mereka sebagai penunjang tutur cerita.

Akan tetapi pemandangan indah tersebut tak mampu mengalihkan kita dari masalah yang terletak pada narasi. Aku menonton film ini sekalian ingin mempraktekkan apa yang kupelajari dari kitab Screen Writing karya Syd Field. Aku practically nge-time-in setiap kali cerita memasuki plot point. Mau gak mau aku memperhatikan bahwa saat di tengah, alur film ini jadi enggak terlalu jelas maju nya. Berantakan. It is either ada babak yang kependekan/terlalu panjang atau malah Kalam Kalam Langit punya empat babak.

or I’m drunk. Of Lombok’s beauty

or I’m drunk. Of Lombok’s beauty.

 

Haru tapi enggak cengeng. SOAL LEBAY, FILM INI PUNYA DAYA TARIK TERSENDIRI. And this is a compliment. Well, sort of. Suara Ja’far digambarkan sangat merdu. Setiap orang yang mendengar pasti tergerak. Tersentuh. Reaksi Anissa malah meyakinkan sekali, terlihat ingin meresapi semua ke dalam hati sambil menitikkan air mata. Namun reaksi tersebut masih kalah dibandingkan reaksi santri-santri yang lain. Suara Ja’far mengaji berkumandang lewat mikrofon di masjid, dan santri-santri itu celingukan mendengarnya hahaha. Aku enggak tahu ini memang arahannya begini apa gimana, tapi reaksi mereka mencari-cari ke langit seperti itu malah membuatku tertawa. Lucu aja mereka menggambarkan enggak-tahu-suara-siapa dengan berakting kayak enggak tahu suara itu datang dari mana. Padahal kan jelas-jelas dari masjid pesantren mereka hihihi.

Perihal surat, juga membuatku bingung. Aku gagal paham kenapa Ja’far mesti repot-repot nitipin surat untuk Azizah kepada Anissa, lewat perantara orang lain pula. Dan nantinya surat itu dengan sengaja – lucu banget kalo lupa – tidak diberikan Anissa kepada Azizah. Sambung menyambung ini mengarah ke sebuah adegan revealing yang ngebebanin tokoh Azizah. Serius deh, it takes even much more reaching untuk membuatku bisa melogiskan keadaan ini.

Membuat ini menjadi semacam CERITA KOMPETISI juga tidak bekerja dengan baik. Simpelnya karena sepanjang film, dari mereka kecil – film ini nampilin dua bintang cilik yang punya prestasi hafal 20 juz Al-Qur’an; Nasron Azizan dan Amira Syakira – sampai mereka udah bisa galau, film tidak pernah membuat kita percaya bahwa ada orang yang bisa mengalahkan kemampuan Ja’far mengaji. Kita tidak sekali pun khawatir Ja’far akan kalah dalam perlombaan itu. Kita tahu bahwa hambatan yang ia alami cuma kepercayaannya terhadap kata-kata ayah. Keraguan Ja’far lagi-dan-lagi diselesaikan melalui sang ibu. Tentu saja ini berpengaruh, karena ceritanya jadi predictable dan membuat kita enggak pernah betul-betul peduli terhadap Ja’far. Mungkin bisa lebih baik jika ditulis Ja’far berkompetisi dengan dirinya sendiri.

 

 

Eksotis di mata, syahdu di telinga. Tapi susah untuk ditelan logika sebagai sebuah presentasi cerita. Pesan moral film ini bagus dan cukup mengena. Enggak seharmless kelihatannya. Dan ini adalah film religi yang cukup berani menentang arus, buktinya ia tampil beda dengan pake tokoh pria sebagai protagonist. Haru tapi tidak mendayu. Kasihan ibu-ibu yang pada kompakan nonton enggak bisa bertangis-tangis ria. Nilai budaya juga terdeliver dengan baik, bersemayam di dalam performance-performance yang tak pernah terbata. Sebuah sajian fresh untuk penggemar genre religi. Religious namun film ini tidak terlalu mendakwah, malahan sangat dekat dan manusiawi. Semua orang punya cela, semua punya harga. The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for KALAM KALAM LANGIT.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember in life, there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

 

We be the judge.

 

Advertisements