Tags

, , , , , , , , , , , ,

“To follow anything, anyone, is a dangerous proposition.”

 

PHnL9yfIgPlHqw_1_l

 

Sejak The Babadook (2014) dan It Follows tahun lalu, film-film horor luar mulai beralih ke arah yang baru. Kalo di tahun 90an, semua film horor pengen jadi kayak Scream. Terus kemudian pada ngikutin pake found-footage, lalu gantian hantu-hantu jepang berambut panjang yang jadi hits. Maka di tahun 2016 – meski horor mainstream masih sibuk jerit-jerit bego ria pake jump scare ngagetin – kita akhirnya sampai di ERA KEBANGKITAN FILM-FILM HOROR YANG DIBUAT SECARA ARTISTIK!
Yang monsternya adalah simbol dari ketakutan terdasar manusia. Momok perwujudan sesuatu yang abstrak, seperti komitmen. Atau perasaan yang lahir dari dalam diri sendiri, kayak rasa berkabung. Buktinya belakangan kita dapat 10 Cloverfield Lane dan dari genre thriller yang masih sodaraan ama horor, kita dapat Hush. Keduanya enggak bergantung kepada jump scare, mereka betul-betul bermain di rasa ngeri yang sebenarnya. In other words, they feel like an art.

Begitu juga dengan film ini. Art banget. Aku enggak bisa nulisin betapa senang akhirnya aku bisa menonton The Witch. Sejak Februari sudah santer terdengar kabar tentang film yang sudah menangin beragam festival ini, dari Sundance sampai London Film Festival. Dan ternyata filmnya memang brilian. Sehabis nonton aku jadi kepikiran terus, malem itu aku langsung nonton lagi. I was so pumped because this is such a great horror.

Mengambil latar New England tahun 1630an, tokoh utama The Witch adalah cewek-baru-gede bernama Thomasin. Keluarga Thomasin diusir oleh penduduk kota karena mereka nganut agama yang berbeda dari warga lainnya. Akhirnya mereka bikin peternakan kecil di pinggir hutan. Sudah jatuh tertimpa tangga tepat sekali menggambarkan keadaan keluarga Thomasin. Dalam satu kejadian aneh, adek bayi Thomasin menghilang begitu saja. Sepertinya dalam hutan sana, ada penyihir yang mulai cari masalah dengan mereka.

"hey, what's up doc?"

“hey, what’s up doc?”

 

Membuatnya berbeda dengan film psikologikal lain adalah dalam The Witch memang benar ada nenek sihir jahat. Ia bukan sekedar entitas simbolis. Film ini memang ada ‘monster’nya. Dari sepuluh menit pertama yang crucial, kita sudah ngeliat hal mengerikan yang dilakukan oleh makhluk supranatural tersebut. Aku enggak akan bilang, kalian mesti tonton ini sendiri! (sendirian kalo mau lebih seru). Aku bisa bilang hanya, sepuluh menit pertama film ini amazing sekali. Suasana serem langsung merasuk lewat ALUNAN MUSIK YANG EERIE DAN SUGUHAN SINEMATOGRAFI MISTERIUS yang luar biasa. Penggambaran neneksihir nya enggak norak. Sosok ini dibuat misterius. Cara film ini ngebangun karakternya, menunjukkan apa yang bisa ia lakukan, ditangani melalui visual yang total nyeremin, disturbing at times. Adegan tangan keriput tapi wajah belia adalah salah satu yang bikin aku tidur dengan lampu menyala tadi malem.

Tapi yang bikin aku jatuh cinta sama film ini adalah The Witch is not just about the witch. Berbeda dengan horor lain, sosok penyihir itu enggak melulu menakuti kita dengan fisiknya. SEBENARNYA FILM INI LEBIH MENCERITAKAN DAMPAK MENGERIKAN YANG DISEBABKAN OLEH KEBERADAAN MAKHLUK ITU TERHADAP KELUARGA THOMASIN. Kita boleh saja tahu di dalam hutan ada penyihir, namun keluarga Thomasin, mereka enggak tahu apa yang ada di balik rapatnya pepohonan. Mereka terjebak di perternakan kecil mereka, di mana jagung-jagung membusuk dan hewan-hewan mati dan yang selamat mulai mengeluarkan darah alih-alih air susu. Semuanya menjadi tragis dan dramatis saat dengan Dengan mata kepala sendiri kita akan menyaksikan keutuhan keluarga ini tercabik-cabik. Feeling unsure apa yang sebenarnya terjadi, mulailah mereka saling curiga. Inilah mengapa film The Witch begitu hebat.

Bukan saja tentang sesuatu yang mengerikan, tapi juga tentang bagaimana hal mengerikan tersebut bisa mempengaruhi sebuah keluarga. Kejadian kayak gini enggak dibuat-dibuat. Realistis, kita bisa dengan gampang mengasosiasikan diri dengan karakter-karakternya. Kita percaya di suatu tempat, mungkin di keluarga sendiri, bakal ada yang melakukan hal yang serupa jika terjebak dalam situasi yang sama mengerikannya.

 

Akting para pemain juga sama creepy nya. Si anak kembar Mercy dan Jonas bikin aku merinding dengan hanya dengar suara mereka aja. Pertama aku merasa susah mengerti apa yang mereka bicarakan. Keluarga Thomasin pake bahasa inggris yang berbeda dengan yang kita dengar sehari-hari. BAHASA INGGRIS KUNO. I like the sound of it, tho. Semua orang di Palace of Wisdom harusnya ngobrol pake bahasa ini haha. Dua puluh menit menjelang akhir babak pertama bisa jadi membosankan karena pace yang lambat dan masalah bahasa ini. Hanya di satu saat ini lah film terasa low, karena masuk babak dua, begitu kita sudah sadar fokus film ini adalah tentang efeknya terhadap keluarga, maka film ini terus-terusan akan bikin kita menggigit kuku due to it’s suspense. Apalagi saat sekuen ending!!
Percakapan mereka lebih mudah dimengerti jika kita melihat intensi dan gestur ketimbang merhatiin kata per kata, or like me, melototin english subtitle. Itulah sebabnya aku bilang akting film ini hebat.

A single scene jawdropping performance datang dari Harvey Scrimshaw yang meranin Caleb, adek cowok Thomasin yang paling gede. Adegan klimaks tokoh yang satu ini scared the crap outta me, namun overall, penampilannya enggak konsisten. Kadang bagus banget, menit berikutnya line yang dia ucapkan terdengar terrible. Yang konstan bagus adalah penampilan Thomasin dan ayahnya. Respectively dimainkan oleh Anya Taylor-Joy dan Ralph Ineson. Kita bisa ngerasain frustasi yang semakin menumpuk pada diri William. Kita tersihir oleh Thomasin yang innocent, kita mengerti perasaan terkungkung yang ia alami. At the heart, film ini adalah tentang remaja cewek yang tumbuh dewasa. Gejolak yang ia rasakan. Kesabaran yang ia telan. Thomasin tries to hold it together, kita lihat ia selalu taat ngerjain kerjaan rumah meski adik-adik dan ibunya terus saja mencurigainya akan banyak hal dalam beberapa kesempatan.

The Witch adalah apa yang terjadi saat manusia enggak bisa lagi menguasai diri dan gagal embracing diri mereka sendiri. Mereka berdosa karenanya. Kecuali Thomasin (dan si bayi), setiap anggota keluarganya meet their end dalam cara yang berhubungan erat dengan ‘dosa’ mereka masing-masing.

Wouldst thou like the taste of butter and pretty dress? Wouldst thou like to live deliciously?

Wouldst thou like the taste of butter and pretty dress? Wouldst thou like to live deliciously?

 

Kalo di Indonesia, mungkin film ini bisa dikategorikan sebagai religi horor. Keluarga Thomasin adalah keluarga Kristen yang taat. Jawaban mereka atas segala keanehan itu selalu dengan doa. Jika gagal, mereka berdoa lebih keras. Horornya film ini adalah karena penggambaran yang dilakukan tends to get disturbing. Ketaatan beragama diperlihatkan sebagai desperate attempt yang dilakukan oleh keluarga Thomasin; mereka mencoba mengendalikan situasi namun doa-doa tersebut tidak pernah berhasil. Sejatinya film ini melambangkan perjalanan Thomasin menjadi seorang wanita dewasa. Sutradara Robert Eggers memberikan kesempatan bagi Thomasin untuk keluar dari otoritas agama serta peraturan rumah nya yang harus nurut sang ayah. Kebangkitan, lepas dari tuntutan society untuk menapaki jalan yang baru.

The Witch adalah cerita tentang feminine empowerment yang seolah di-craft dengan sihir hitam.

Pahlawan cerita ini meninggalkan satu sistem, hanya untuk bergabung dengan sistem yang lain. Cewek ini meninggalkan suara ayahnya, menyongsong kebebasan dengan dibimbing oleh suara Black Phillip si kambing jantan. Kita memang melihat Thomasin terbang di ending. Tapi pertanyaan yang bikin merinding itu masih tersisa, BENARKAH PADA AKHIRNYA DIA MERDEKA?

 

Akankah kita benar-benar merdeka?

Akankah kita semua benar-benar merdeka?

 

STYLE FILM INI SUNGGUH MENANGKAP ESENSI MENGERIKAN DARI SEBUAH SITUASI YANG MENGERIKAN. Nuansa klaustofobik yang kental. Film ini membuat kita merasakan environment nya sebagai suatu tempat yang nyata. Seolah kita berdiri di tengah-tengah mereka. Scoring nya ngingetin kita betapa pentingnya peran musik yang haunting buat film horor seperti ini. Musik pengiring dikatakan great jika alunan tersebut turut membangun intensitas cerita, namun bukan dengan cara yang ngagetin. I’m talking about musik yang really creep up on us, membuat kita semakin termasuk ke dalam cerita. The Witch juga banyak memakai long takes, dengan shot-shot lambat yang bikin kita penasaran meski dalam hati makin takut dan enggak nyaman. Kebanyakan adegan diwarnai abu-abu demi merefleksikan depresi yang mereka alami, memperkuat kesan betapa horrifying dan terrible nya situasi yang dihadapi oleh mereka sekeluarga.

 

 

This is an art film, punya cerita yang sangat bagus, pesan nya thought-provoking. Performance yang excellent. Nakutin abis. Musiknya serem-serem cakep. Endingnya is to die for. Buat Amerika, film ini berarti lebih dalem lagi karena diset terjadi beberapa tahun sebelum event Salem Witch Trial, sebuah histeria massa mengenai keberadaan penyihir di perkampungan orang New England di sana. Singgungan antara praktik sihir dengan agama Kristen. Bukan hanya tentang sosok mengerikan, tapi juga bagaimana kehadirannya mempengaruhi kehidupan. I love this movie, sungguh horor yang hebat, penuh suspens dari awal hingga akhir. Semoga cepat tayang di Indonesia. The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for THE WITCH

 

 

 
That’s all we have for now.

Remember in life, there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

 

We be the judge.

 

 

Advertisements