Tags

, , , , , , , , , , , ,

“Treat me for just who and what I am.”

 

SuratCintaUntukKartini-Poster

 

R.A. Kartini adalah sosok ikonik yang melambangkan perjuangan wanita Indonesia. Kita semua tahu sejarahnya. Bagaimana Ibu Kartini memperjuangkan kesetaraan perlakuan dan derajat kaum wanita di tengah jaman penjajahan. Bagaimana Ibu Kartini mendirikan sekolah untuk anak-anak pribumi sehingga mereka bisa mengenyam pendidikan. Semua ada di buku.
Yang kita enggak tahu adalah seperti apa sih pribadi seorang Kartini. Diliat dari fotonya sepertinya beliau orang yang pendiam dan thoughtful. Sambil duduk nunggu studio nya dibuka, aku jadi teringat majalah favoritku waktu kecil. Nama majalah itu Album Ganesha Bobo, sayang sekarang udah enggak terbit padahal isinya bagus banget. Ada rubrik khusus tentang kehidupan bermacam tokoh sejarah yang diceritakan dalam bentuk komik, full color pula! Di majalah itu aku pernah baca, Kartini digambarkan sebagai seorang anak yang periang, aktif, kerjaannya manjat-manjat pohon. Enggak bisa diem hingga ia dijuluki burung Trinil oleh ayahnya.

So I was excited going into this movie. Aku gak sabar pengen lihat Kartini nya ditulis seperti apa. Salah satu dari yang kusuka dari Guru Bangsa:Tjokroaminoto (2015) adalah banyaknya kehadiran tokoh-tokoh ‘free-spirit’ yang enggak ‘bertanggung jawab’ terhadap alur sejarah. Dan ternyata, to my favor, Surat Cinta Untuk Kartini dibuat dari sudut pandang tokoh-tokoh bebas ini! Tokoh utamanya adalah tukang pos duda bernama Sarwadi, yang menjadi begitu tertarik dengan sosok Kartini setelah satu kali ia mengantar surat ke kediaman putri nigrat Jepara tersebut. Film ini membuat kita sama penasarannya dengan Sarwadi terhadap Kartini. Dia jadi ngebet pengen berjumpa dengan Kartini lagi. Ngantar-ngantar surat jadi alasan utama bersua. Sampai-sampai Sarwadi membawa Ningrum, putrinya, untuk belajar kepada Kartini.

Inilah yang terutama bikin aku suka sama film ini. THIS WAS A PSEUDO-BIOPIC.  Kisah fiksi berdasarkan sejarah. Bukan hanya menceritakan siapa Kartini, tapi juga membahas tentang bagaimana ide dari seorang Kartini mempengaruhi banyak orang lain. Bagaimana orang jatuh cinta kepadanya, gimana orang-orang menjadikan beliau inspirasi. Ini adalah cerita yang emosional dan menyentuh. A vibrant of characters.

Abis surat terbitlah kode.

Abis surat terbitlah kode.

 

Sebagai sebuah period piece, visual film ini direncanakan dengan matang. Banyak benda di luar zona waktu kita berseliweran, memperkuat kesan tahun 1903an.

Kita melihat Kartini dari mata Sarwadi. Orangnya cantik, misterius, rebellious, dan hey dia juga dipanggil Trinil. Film ini dengan lihai memasukkan data historis sebagai penunjang cerita. As for the performances, Rania Putrisari berhasil merefleksikan segala pesona dan trait Kartini dalam debutnya ini. Seneng deh ada satu lagi finalis Gadis Sampul yang menembus layar gede. Shot Kartini sedang menulis “Habis Gelap Terbitlah Terang” menjelang akhir film sungguh fenomenal. Kartini versi Rania punya senyum tiga-jari yang bukan hanya menangkap hati Sarwadi, tapi juga hati kita-kita yang nonton. Paling menonjol jelas adalah Sarwadi yang dimainkan oleh Chicco Jerikho. Sebagai tokoh utama, karakter ini punya wide array of emotions. Kadang dia komikal, kadang meledak begitu masalah-masalah yang tidak ia mengerti terlalu membebaninya. Ini adalah penampilan terbaik Chicco yang pernah aku saksikan.

Mengenai masalah yang tidak dimengerti, aku juga punya beberapa regarding this movie. Meski memang aku suka dengan cara narasi film ini beranjak, lewat cerita seorang guru kepada murid-muridnya, it was playful, ngingetin sama The Book of Life (2014) sih, tapi buat film Indonesia ini suatu langkah yang seger. Ini adalah film drama romansa, I get that, tapi pendekatan yang diambil dari sudut pandang pria yang jatuh cinta kepadanya seperti begini, kindof membatasi peran Kartini. Kepentingannya seolah terkurangi. Kita tahu Kartini terkenal karena ke’aneh’annya, literally tokoh yang diperankan Ence Bagus bilang demikian, namun kita enggak pernah benar-benar melihatnya. Kita tidak cukup diberi bukti seperti apa sih Kartini yang kuat itu? Kita dilihatin kepada Kartini secara personal justru saat dia dicap enggak mau membela hal-hal yang sudah ia perjuangkan oleh Sarwadi. Di awal malah Kartini curhat dia ingin ngajar tapi gak punya tempat, lalu semua masalahnya hilang berkat pilihan-pilihan Sarwadi yang jadi pusat cerita. Dan murid-murid TK di opening cerita itu, mereka protes dengar cerita dari Ibu Guru dan baru anteng setelah Pak Guru datang membagi sebuah cerita yang lain daripada yang lain.

Untuk sebuah film yang menyinggung soal kesetaraan, film ini masih pro pria dan masih memandang wanita sebagai makhluk yang layak untuk diselamatkan.

 

Melepaskan diri dari tradisi dan adat istiadat. Memperjuangkan kelas sosial. Kisah cinta rekaan antara Sarwadi dan Kartini mencoba menyentuh kita lewat perbedaan keadaan hidup yang mereka hadapi pada saat itu. Formula yang terbukti ampuh sebagai emotional core dari cerita. Keinginan Kartini untuk bikin sekolah, keinginan Sarwadi mencari ibu bagi Ningrum anaknya. Tantangan demi tantangan mereka hadapi, they were personal dan dieksekusi dengan baik sehingga kita menjadi peduli. Anehnya (atau hebatnya) film ini adalah mampu membuat kita root untuk Sarwadi dan Kartini bersatu meski kita sama-sama tahu cerita ini tidak akan berakhir seperti itu. Ada sejarah yang harus dipatuhi.

Mungkin ini sebabnya Surat Cinta Untuk Kartini terasa episodic. Kejadiannya kayak lepas-lepas. Kita bisa keluar studio sebentar kemudian masuk lagi dan tetap bisa mengikuti cerita karena satu adegan tidak banyak berdampak terhadap kejadian di adegan lain. Film ini enggak yakin mau memperlakukan ceritanya seperti apa. Sekali waktu mengambil rute komedi, dengan sakit galau nya Sarwadi, misalnya. Lain kesempatan, sangat menyentuh sehingga kita enggak berani bilang film ini cukup lucu.
Atau untuk memperlakukan wanita, for that matters. Ingin memperlihatkan kekuatan wanita namun masih banyak tokoh cewek nya yang tiang garam. Berdiri saja; untuk terlihat manis, atau sebagai obvious plot device. Kedua adik-adik Kartini bahkan enggak dapat penggalan dialog yang berarti. Ningrum yang di akhir berkembang cukup mengejutkan, literally awalnya jadi alat biar Sarwadi bisa dekat dengan Kartini.

 

 

Memberikan warna baru dalam penceritaan sejarah, at times film ini menarik untuk disimak. Sebuah tontonan drama cinta yang enggak ada salahnya untuk ditonton bersama ibu, apalagi tayangnya tepat di Hari Kartini. Akan tetapi untuk sebuah cerita tentang tokoh yang menyuarakan kesetaraan gender dan kekuatan wanita, film ini terlalu berdilly-dally hanya untuk sampai pada kesimpulan di depan wanita yang kuat masih ada pria kuat yang mempercayainya. Film ini seolah menjerit meminta kita untuk memperlakukannya sebagai apa adanya, hanya saja kita tidak pernah dibuat yakin bagaimana.
The Palace of Wisdom gives 7 gold stars out of 10 for SURAT CINTA UNTUK KARTINI.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember in life, there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

We be the judge.

Advertisements