Tags

, , , , , , , , , , , ,

“Everyone is saving the world, for themselves.”

 

CaptainAmericaCivilWar-Poster

 

Tagline di posternya asik ya, kayak peribahasa kita; “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” xD

Anyway, aku bukan fanboy Marvel. Bukan pula fanboy DC. Enggak mengkhususkan diri masuk tim yang mana, I’m just a fanboy. Who’s trying to see movies secara netral. Dengan sudah mengatakan hal tersebut, maka, apakah Captain America: Civil War lebih bagus daripada Batman V Superman: Dawn of Justice (2016)?

YES, IT IS.

 

Banyak yang komplen aku ngebahas film terlalu cepat, siang baru tayang-malamnya udah ngepos review. Mereka bilang, “Spoiler!”. Walaupun sebenarnya menurut aku spoiler itu adalah “jika dan hanya-jika” (kata-kata guru matem ku di SMA dulu nih) sebuah film belum tayang. Kalo udah nongol di bioskop, makanya namanya jadi result haha. Aku enggak bisa menahan informasi di jaman serbacepat ini, jadi aku tetep ngepos dengan ngasih peringatan di kolom tag pake label ‘spoiler’. Terus aku jadi kepikiran. Enggak mau jadi se-stoic Kapten Amerika dalam film ini, I guess aku bisa ikutan jadi ‘pahlawan’ dengan sesekali mendengarkan suara-suara yang protes itu. Jadi kali ini aku mutusin buat bikin sesuatu yang beda untuk film-film heboh kayak Civil War. At first, this particular review akan bebas-spoiler, aku enggak akan membahas dalam – hanya sebatas apa yang aku suka dan enggak. But I’ll add more things to say along the way.  Bahkan bisa jadi antara hari ini dengan besok, review ini bisa bertambah panjang satu paragraf. Bisa dibilang, aku akan mengepos review Civil War secara bertahap sehingga yang belum nonton namun penasaran masih bisa ikut ngintip tulisan ini dengan aman. You will know when the review is really finished jika tag ‘gradual’ di kolom dekat poster di atas udah ilang, berganti menjadi tag ‘spoiler’.

 

 

Film ini berakar pada masalah yang sama dengan Batman V Superman. Tentang konsekuensi dari tindakan superpower para pahlawan super. Betapa tipis garis antara penyelamat bumi dengan penghancur massal bagi mereka. Captain America : Civil War berhasil menghajar topik cerita ini dengan lebih emosional lagi. Aksi-aksi heroic Avengers  — menjatuhkan pulau ke kota, misalnya — tentu saja akan punya dampak yang enggak sepele. Akan ada pihak yang dirugikan, tentu ada yang marah. Maka dunia membuat perjanjian dengan para pahlawan super kita. Mereka akan dijadikan agen pemerintah, hanya boleh bertindak setelah ada komando dari pusat. Perjanjian ini tidak disetujui oleh Captain America. Sudah banyak makan garam, jelas Steve Rogers masih ingat soal Hydra. Menurutnya superhero tidak boleh dimiliki oleh pihak manapun. Sedangkan bagi Iron Man yang masih ngeri sejak kejadian Ultron, mengangguk setuju kepada perjanjian tersebut. Ini adalah perang ideologi masing-masing pihak yang terlibat.

Berbalut politik, cerita ini sarat dengan personal motive yang stakenya bisa kita rasakan langsung. Kehilangan, kematian, rasa bersalah, balas dendam, kesetiaan, kepercayaan yang berbalik arah dengan tragis, each of them costume superheroes dealt with this.  Sesuatu yang tidak bisa dicapai oleh produk saingannya yang terlihat terburu-buru untuk mengestablish suatu dunia.

Pada titik ini, kita sudah dapat tiga film Captain America, tiga Iron Man, dua Avengers, dan film-film karakter yang lain. Konflik yang akan dihadirkan benar-benar sudah matang, really grounded. Dengan konsekuensi mengerikan yang terasa nyata masuk akal pula. Build-up tokoh-tokoh tersebut ditulis dengan very well dan dalam film terbaru Marvel ini, mereka semua clashs out while maintaining tetap make sense dan stay true kepada original writing. Film ini tahu apa yang diharuskan dilakukan kepada tokoh-tokoh tersebut. Narasinya maju dengan menggiring kita untuk paham kepada apa yang dirasakan oleh masing-masing mereka. Kita mengerti alasan each and every lasts one of them memilih berada di sisi tim yang mana.

Hubungan Captain America dan Iron Man dalam film ini bisa dijelaskan seperti hubungan pernikahan yang sering bertengkar. Mereka mengerti satu sama lain namun constantly eksplosif. Karena punya pandangan dan pendekatan yang sangat berbeda meski punya tujuan yang sama. Tidak ada yang salah, tidak ada yang benar, and it’s really hard for them to come to an agreement.

 

Tokoh baru, Black Panther yang dimainkan oleh Chadwik Boseman mendapat sorotan yang cukup kuat dan punya backstory yang sukses dikembangin sehingga aku jadi penasaran menunggu film solonya yang baru akan tayang tahun 2018. Tidak sekalipun interaksi antarsuperhero terlihat awkward, enggak klop, ataupun dipaksakan. Cerita kelam yang dihadirkan enggak terasa kurang dewasa meski film ini masih banyak nyelipkan humor, ledakan, dan cool stuff yang dimaksudkan untuk meringankan suasana.

"you’re with us, or you’re against us!"

“either you’re with us, or you’re against us!”

 

Superhero being a superhero. Hal ini lah yang tidak dilupakan oleh Civil War. MASIH  ADA RASA KEGEMBIRAAN KANAK-KANAK YANG KITA RASAKAN SAAT NONTON FILM INI. Satu adegan khusus yang terpikir dan paling fenomenal tentu saja adalah saat kedua tim pahlawan ini bener-bener saling bertarung. Liat dari posternya, Civil War kayak versi Marvel dari Survivor Series hihi. Saat mereka berantem juga ternyata tak kalah seru! Yang berseteru bukan hanya antara Kapten Amerika dengan Ironman. Kita sudah tahu masalah mereka masing-masing, mau tak mau kita bakal milih mendukung salah satu meski kita paham kedua pihak enggak lebih benar dari yang lain. Dan saat ada tokoh-tokoh yang berpindah pihak (face-heel turn, baby!) kita bisa melihat darimana datangnya keputusan tersebut. And that is the sign of a good writing.

Koreografinya keren. Begitu banyak hal-hal fun yang bisa kita lihat. Efek dan aksinya outstanding. Gerak kameranya fantastis, enggak ada single shot yang miss dan sia-sia. Selalu ada saja jurus kombo baru yang bisa kita lihat kalo mereka sedang beraksi. Kekuatan para superhero ditampilkan pas, dan punya skala masing-masing. Misalnya Black Widow akan imbang dengan Hawkeye, namun cewek ini enggak akan bisa ngalahin daya tempur Bucky si Winter Soldier. Atau kayak Scarlet Witch yang bisa menahan Vision tapi tak berkutik sama kecepatan Black Panther.

Di balik semua flashy action, baku hantam yang disorot dengan close camera work, ataupun kejar-kejaran yang bikin kita menahan napas, Captain America: Civil War adalah tentang persahabatan dan balas dendam. Konflik saat kedua emotional core yang kontras ini saling beradu, dieksplorasi secara dewasa lah yang bikin film terasa sangat manusiawi secara emosi. Dan film ini berhasil melakukannya tanpa meninggalkan kekhasan Marvel sehingga tetap lots of fun!

 

Ant Man kembali sukses mengocok perut dengan sifat dan kemampuannya yang unik. Siapa sangka yang paling kecil justru jadi penghalang paling besar?
Show stealer tak-lain-tak-bukan adalah Spiderman yang diperankan dengan naturally kocak oleh Tim Holland. Serius, kena banget sisi komikalnya, hilarious! Spidey di sini kayak mercenary soldier gitu, kita lihat dia anak jenius tapi kurang berada. Dia bikin gadgetry dari barang-barang bekas, kostum aslinya aja homemade yang norak banget haha. Makanya, waktu Tony Stark datang dia girang banget. Dan overlooked how Stark’s flirting with Aunt May lol. Namun meski nampang cukup sering, Spidey masih undertilized bareng War Machine jika dibandingkan dengan tokoh-tokoh lain. Masih terasa banget sebagai plot device.

Simpatiku jatuh terutama kepada Scarlet Witch. Enggak kayak Superman, Wanda Maximoff sepenuhnya sadar konsekuensi dari tindakannya. Moral dilemma yang ia alami membuatnya jadi karakter yang berlapis. Dijadikan tahanan rumah justru membuatnya kehilangan kesempatan untuk bertanggungjawab, dan inilah yang jadi api bagi Scarlet Witch. Bukan hanya motifnya, dalam battle pun aku dibuat kagum sama cewek ini. We can see dia enggak sepenuhnya berniat offensive but the outcome selalu lebih gede dari yang Ia harapkan. And she’s the only one here who can inflict some damage to Vision!
Vision adalah superpowerful being, ia memberikan pandangan mengenai kewajiban besar yang mereka tanggung sebagai pahlawan super. Vision bilang orang-orang kuat seperti mereka lah yang menarik orang-orang jahat untuk datang in the first place. Adegan Vision ngomongin ini serta merta membuatku teringat sama Goku di salah satu episode Dragon Ball, saat dia menolak untuk dihidupkan kembali karena dia mencemaskan hal yang sama dengan Vision

superhero supersaiyan!

superhero supersaiyan!

 

Satu hal yang dilakukan lebih baik oleh Batman VS Superman adalah musik. Scoring Civil War terdengar generik, enggak punya distinctive quality.
Kalo ada satu hal di mana kedua film ini kompakan sama-sama gagal, maka itu adalah tokoh jahatnya. Daniel Bruhl berperan sebagai Zemo yang misterius. Dialah yang pulling the string kejadian-kejadian naas di Civil War. Aku cukup bersimpati terhadap tokoh ini karena the way he was played. Tapi toh perannya juga tidak terasa gede. Sebab utamanya adalah sebagian besar pahlawan kita sama sekali tidak ngeh akan keberadaan orang ini. Kita tidak melihat mereka berinteraksi. Zemo enggak compelling enough untuk jadi otak bandit. Makanya klimaks film ini terasa cukup aneh. Nyelekit, memang, it was intended to. Aku malah di dalam hati memohon kedua pihak yang terlibat final battle untuk udahan karena sedih aja melihat mereka seperti itu. It gets me sampai-sampai aku juga enggak bisa mengantagoniskan Zemo. Kita menjadi sangat mengerti motif mereka, at one point aku malah merasa ENGGAK ADA YANG JAHAT DALAM FILM INI. Tone film menjadi agak suram sehingga penampilan cameo Stan Lee menjelang akhir seolah bilang “pada serius amat, sih”. Yea, basically I’ve just said Stan Lee jadi Joker film ini hahaha

 

 

 

Film comic book superhero tergede yang pernah dibuat. Bukan hanya dari aspek jumlah tokohnya, tapi juga dari segi penceritaan dan film secara keseluruhan. Memanjakan fans dengan aksi-aksi keren. Tidak melupakan kodratnya sebagai film kebaikan melawan kejahatan. The Palace of Wisdom gives 8.5 gold stars out of 10 for CAPTAIN AMERICA: CIVIL WAR

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember in life, there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

We be the judge.

Advertisements