Tags

, , , , , , , , , , , ,

“The most painful goodbye is one that did not explained.”

 

AdaApaDenganCinta2-Poster

 

Enggak muluk kalo Ada Apa Dengan Cinta? disebut sebagai salah satu film penting dalam sejarah perfilman bangsa kita. Kembali ke 2002, AADC? udah ngeset standar tren tersendiri lewat karakter-karakternya. Segera saja bermunculan cerita dengan assemble yang serupa. Berusaha meniru kepopuleran produksi Mira Lesmana ini. Geng cewek yang punya si Lemot di dalamnya. Ada si Tomboy, si Berani, dan semacamnya. Meski enggak kena pengaruh secara langsung – AADC? tayang, aku masih di jenjang pendidikan di bawah mereka plus tinggal di kota yang enggak punya bioskop – aku dulu sempet sebel sama Rangga. Karakter ini memprakarsai perpindahan fan-favorite. Semua jadi suka sama yang sebangsa cool-cool gitu. Jaim jadi ngehits. Kalo dipikir-pikir saat itulah orang-orang mulai meninggalkan tokoh berimage ngocol dan norak seperti Lupus. Cerita drama cinta di Indonesia totally shaping up jadi seputar cewek yang penasaran ama seorang cowok yang pendiem dan misterius. AADC? broke the traditional view. Tidak lagi cowoklah yang musti nekat sementara cewek adalah makhluk cantik yang menebar misteri. Pengaruh ini masih terasa sampe sekarang di film-film dan sinetron meski abg-abg yang dulu udah bukan remaja lagi.

 

Hype buat Ada Apa Dengan Cinta 2 itungannya gede sekali. Meme, musik, poster, this movie was all over the place. Film ini mengerti betul bahwa yang diinginkan oleh penonton adalah melihat sekali lagi karakter-karakter yang udah sukses bikin kecantol in the first place. Kita dibuat penasaran jadi seperti apa mereka-mereka sekarang. AADC 2 did it right. Di dalam film ini, kita bukan hanya mendapatkan mereka kembali, tapi juga kita merasakan mereka tumbuh dewasa. Ada SENSE OF GROWTH. Cinta sekarang mengelola galeri art sendiri. Milly lagi hamil, suaminya Mamet!. Maura jadi keranjingan bersih-bersih sejak menikah. Rangga punya warung kopi di New York. But still, sifat mereka masih sama dengan yang dulu. Problem mereka juga kurang lebih sama, meski dalam skala yang berbeda. Ah, cinta memang masalah abadi, selalu menarik enggak peduli berapapun umur kita. AADC 2 berhasil stay relevan dengan dunia sekarang sekaligus tidak mengurangi rasa hormat nya kepada penggemar-penggemar yang dulu. Nostalgia sekaligus ikutan move on bersama cerita baru.

Ra minggir tabrak! Ra minggir tabrak!!

‘Ra minggir tabrak! ‘Ra minggir tabrak!!

 

Sebenarnya enggak banyak yang terjadi, storywise. Sepuluh menit pertama aku tahu aku enggak bakal bisa sepenuhnya berada di belakang film ini, I just feel distant dengan dramatic premise yang ditawarkan, tapi yaah mungkin cuma aku. Dua jam cerita dalam AADC 2 is really just a stretch out dari short video menggemparkan yang muncul di sosial media jadi teaser tahun lalu. Tentang Cinta yang menunggu Rangga selama sembilan tahun. Namun saat cewek ini mutusin untuk move on – sudah akan menikah dengan orang lain – dia malah kebetulan bertemu
kembali dengan Rangga. Butuh closure, Cinta dan Rangga sama-sama merasa mereka enggak akan bisa ‘terus’ jika tidak tahu alasan masing-masing. Cinta butuh penjelasan sementara Rangga enggak ingin berpisah dalam keadaan bermasalah. Mereka akhirnya berkonfrontasi satu sama lain. Sepanjang film kita akan melihat rentetan kejadian Cinta konek kembali dengan Rangga. THE BAPER IS STRONG ON THIS ONE. Dan seperti film drama cinta yang baik, selalu ada pilihan di ujungnya. Film ini memanfaatkan Jogja dengan amat efektif untuk menyamarkan kekurangan materi cerita yang at times terasa berputar-putar di situ aja. Terlalu banyak back-and-forth pada narasi. Adegan jalan-jalan ke berbagai tempat di Jogja adalah beautiful-distraction yang membuat kita melupakan kekurangan dari sisi cerita tersebut.

Aku khususnya tertarik sama pertunjukan boneka kertas yang ditonton Rangga dan Cinta. I would love to know more about that, kali lain ke Jogja aku akan coba untuk nyempatkan diri menonton pertunjukan itu. Seperti film pertamanya, nuansa nyeni juga kuat terasa dalam film ini. Kita bisa lihat mereka mengunjungi pameran art, di mana Milly dengan polosnya nanyain arti salah satu patung. Aku suka implikasi penggabungan karya sastra dan seni modern yang diserempet sedikit oleh film ini.

Move on sih move on. Tapi apa yang akan kamu lakukan jika kamu tahu ini adalah saat-saat terakhirmu bersama nya?

 

Konstruksi setiap adegan ditangani dengan cantik dan skillful. Dialognya kuat dan disampaikan dengan teramat baik. Yang paling kerasa buatku adalah saat mereka mempertemukan Rangga dan Cinta untuk pertama kalinya. They played it off so good, seluruh penonton wanita di studio saat aku nonton – penuh sampai ke deret paling depan! – menahan napas di detik-detik Rangga nongol di belakang cinta. Adegan romantis di akhir babak dua bener-bener bikin pecah satu studio. Nobody saw that coming! Cinta dan Rangga udah ke mana-mana, udah tak terhitung tempat-tempat indah yang mereka kunjungi semaleman, dan mereka justru ‘beraksi’ di tempat yang paling biasa-biasa aja. Alih-alih di tempat tinggi, mereka malah ciuman di depan perpisahan. Yang awkward adalah adegan tamparan. Pada awalnya, momen ini malah enggak dapat reaksi apa-apa dari penonton, setidaknya dari studioku. Menurutku memang timing nya sedikit off; terlalu cepat. Penonton baru bereaksi saat aftermath dari adegan tersebut. Antara pada telmi kayak Milly atau memang mereka ikutan lega Rangga dan Cinta temenan kembali.

“Satu purnama kemudian? Wuiihh udah setahun.”-Ibu di sebelahku

“’Satu purnama kemudian’? …Wuiihh udah setahun.”-Ibu di sebelahku

 

Aku mau ngomongin adegan ikonik yang juga nongol di trailer dan udah sukses jadi meme. Ternyata itu adegan eksposisi yang ngejelasin duduk perkara dan backstory mereka. Secara alamiah, adegan ngobrol tipe begini pasti akan jatuh boring. Tapi hey, itu Rangga dan Cinta yang kita kenal. Eksekusi adegan tersebut dilakukan dengan sangat baik. Dialognya, feel nya, arahannya, bahkan camera work, semuanya mampu menuturkan cerita dengan kuat.

Nicholas Saputra dan Dian Sastro udah kenal karakter mereka luar-dalam, enggak ada hal jelek yang bisa disebutkan buat penampilan mereka. Begitupun kepada geng Cinta yang lain. Titi Kamal, Sissy Priscillia, Adinia Wirasti sudah seperti satu nyawa dan melakukan lebih dari hebat dalam menghidupkan karakter mereka. Interaksi mereka membuat film menjadi menyenangkan. LUCU. RAMAH. TERASA DEKAT dengan setiap individu yang menonton. Persahabatan mereka sudah teruji mengalahkan tantangan sang waktu. Film ini sekali lagi sukses depicted them sebagai satu unit. Ketidakhadiran satu tokoh dimainkan sempurna ke dalam narasi, memberikan emosional push yang berarti untuk persahabatan mereka.

Untuk urusan nostalgia, film ini tak jarang menggoda penggemarnya dengan berbagai adegan yang dimaksudkan sebagai homage kepada film yang pertama. Dan dalam waktu yang tepat diberikan twist sehingga penonton makin geregatan. Kayak adegan waktu di bandara. Tapi, aku jadi kepikiran film ini membuat things menjadi terlalu gampang buat para pemain. They practically just tracing back their old characters, tantangan perannya minimalis. Aku tertarik sekali dengan Karmen di awal cerita. Dia diberikan backstory yang fresh, perspektifnya juga interesting. Sehingga untuk beberapa kali aku berharap Karmen lah yang jadi tokoh utama film ini. Subplot masa lalu Rangga dibutuhkan so we could see his development tapi sepertinya bisa hal ini dilakukan dengan lebih tight lagi.
Convenient juga bisa kita katakan kepada Rangga dan teman-teman Cinta yang enggak pernah dilihatkan satu adegan bareng, padahal interaksi mereka adalah device yang cukup penting loh. Maybe it was cut, aku enggak tahu, namun sepertinya tidak buruk kalo penonton dikasih liat gimana cara teman-teman Cinta reach out ke Rangga.
Ada satu ‘ide’ Rangga tentang journey lebih penting dari destinasi yang membuatku berpikir: ini Rangga beneran ngasih kode bahwa menurutnya bukan masalah Cinta akhirnya sama siapa, that Cinta harus memilih dia because he was one hell of a sweet journey? Ckckck aku setuju deh sama Cinta; “siapa yang ngajarin Rangga jadi bokis kayak gini?” Hhihihi

Jadi, yang selalu dekat masih kalah sama masa lalu yang datang kembali.
Iya gak, sih?
Iya, kan?
Iya aja dong yaaa!!

 

 

 

Pleasant, very enjoyable, menonton film ini seolah menyambut sahabat yang sudah lama tak berjumpa. Terus ngobrol, bercanda bareng, curhat. Kisah cinta tentang betapa closure sangat penting dalam suatu relationship. Mungkin film ini juga belum bisa move on dari karakter-karakternya. I’d like to think film ini adalah penutup kisah legendaris Cinta dan Rangga yang dibiarkan terbuka pada akhir film pertamanya. Sebagai sebuah film, ini adalah sebuah good-bye yang manis, yang akan diingat terus oleh penggemarnya. The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for ADA APA DENGAN CINTA 2.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember in life, there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

 

We be the judge.

Advertisements