Tags

, , , , , , , , , , ,

“The only thing in life that’s guaranteed is change.”

 

CiPLw1eUoAAdzwH.jpg large

 

 

Ini adalah kisah homecoming paling disturbing yang pernah aku tonton.

 

Setiap manusia bisa berubah. Kalimat yang diketuskan oleh Dewi tersebut berdering nyata buatku as I experiencing garapan Nurman Hakim ini. Yang paling aku suka dari presentasi The Window adalah musiknya. Aku jaraang sekali perhatian sama musik, bukan hanya dalam film, tapi musik secara overall. Bukannya enggak suka, I just don’t really bother dengan nada-nada. Saking cueknya, aku pernah tahan main game Guitar Hero dengan audio di-mute semalaman. Tapi dalam film The Window, aku enggak bisa mangkir dari gubahan Djaduk Ferianto. Alunannya was really moving, incorporated very well ke dalam penceritaan. Bahkan di saat diam; nafas film ini seolah memang terletak dari audionya.

The story itself adalah tentang Dewi (there’s no way Titi Rajo Bintang bisa disalahsangka sebagai warga cina) yang pulang ke kampung halamannya di Yoyakarta setelah 10 tahun hidup di Jakarta. Dewi kembali karena dia mendapat kabar bahwa kakaknya yang cacat mental, Dee (Eka Nusa Pertiwi’s performance jelas tidak bikin film ini cacat), secara mengejutkan sedang berbadan dua. Jadi jangan sangka film ini bakal semenyenangkan dan seinnocent Only Yesterday (1991) nya Studio Ghibli. Sebagian film kita akan melihat Dewi confront para lelaki di desa, berusaha ‘menangkap’ siapa yang bertanggungjawab atas kandungan Dee yang tidak punya suami. Dan sebagiannya lagi Dewi akan membuat kita ikut geregetan saat ia memaksa ibunya (Karlina Irnawati did a good job sebagai wanita yang terikat tradisi) untuk berhenti manut dan berkilah semua yang terjadi adalah mukjizat.

Bukan bermaksud bilang keduanya mirip, tapi The Window strongly mengingatkan ku kepada serial Twin Peaks buatan David Lynch. The Window mengambil lokasi di desa kecil yang dihuni oleh karakter-karakter yang berkelakuan cukup aneh bin ajaib. Hebatnya, mereka semua juga ditulis berlapis, tidak seorangpun dibiarkan jadi tokoh yang datar-datar saja. Dewi punya hobi nyebutin nama-nama negara sesuai abjad jika ia sedang sendirian. Ada pengamen buta yang kalo jalan ngetuk-ngetuk tongkatnya dengan cepetcepet, dia selalu bernyanyi full song meski udah dapet duit. Teman lama Dewi yang nyentrik selalu bergaya ala koboy. Bahkan ayah Dewi sendiri adalah seorang yang creepily selalu happy. Landung Simatupang adalah penampilan terbaik dalam film ini, nyaingin John Goodman dalam 10 Cloverfield Lane (2016), sama-sama bikin kita bilang “masa sih mereka jahat? Eh tunggu, itu dia jahat!”

 

Nonton The Window membuatku puas karena aku merasakan kejutan-kejutan. Yang kudapat setelah dua jam menatap layar adalah sebuah pengalaman yang unik, yang sama sekali berbeda. Kalian tidak akan percaya jika tidak menyaksikan sendiri.

NYARIS SUREALIS, begitu yang kubilang kalo aku ditodong untuk nyeritain film ini sesingkat mungkin. Dewi nempelin telinga ke perut Dee dan mendengar suara bisik-bisik adalah salah satu adegan yang kusuka. Adegan tersebut really reflect on apa yang dirasakan oleh Dewi. Ketakutan terbesar karakter ini adalah kurungan, rahim adalah ruang tak berjendela yang membangkitkan naluri pendobrak seorang Dewi. Poster menara Eiffel dan Pisa yang terlihat dari jendela rumahnya, bekerja dua arah; Menyadarkan Dewi, menguatkan prinsipnya even more. Sekaligus menekankan lagi bahwa Dewi selalu menatap damba kepada patriarki; Eiffel dan Pisa yang tegak itu dapat kita artikan sebagai simbol ‘cowok’, dan hitung saja ada berapa kali Dewi menatap pria dari balik jendel. Satu surealis lagi adalah adegan saat patung pemalu yang meduduk meringkuk nutup wajah dengan telapak tangan mendadak mengangkat kepala, menunjukkan seperti apa parasnya.

oh iya, ada juga adegan kopi ‘berseni’ tinggi. Tapi adegan itu mengingatkanku sama Chris Jericho dan William Regal.

oh iya, ada juga adegan kopi ‘berseni’ tinggi. Tapi adegan itu mengingatkanku sama Chris Jericho dan William Regal.

 

Ada alasannya kenapa dalam film ini para lelaki senantiasa ‘diserang’. Begitu juga kenapa film ini dikasih judul The Window – meski aku merasa enggak ada kurangnya kalo dikasih titel berbahasa indonesia sesimpel ‘Jendela’ saja. At heart, ini adalah cerita tentang penolakan wanita terhadap dominasi pria.

Mengambil latar waktu di tahun 1998, era reformasi, film ini menyuarakan perubahan. Much more deeper daripada pergantian dari jaman Soeharto. It’s rebellion against a tradition. Perubahan pasti dan harus terjadi. Patriakal adalah antagonis dalam film ini. Seruan bahwa para wanita bisa melihat keluar, lebih luas dari sebatas pemandangan yang mereka lihat dari balik jendela rumah. Reformasi pola pikir ibu rumah tangga.

 

Sebagai protagonis, Dewi dituliskan sebagai pribadi yang kuat. Hidup sendiri di Jakarta, dia jadi tegas. Dia tidak sabar melihat ibunya harus bolak balik ke dapur buat nambahin gula ke dalam kopi doang. Dia menolak disentuh oleh Priyanto (gak bisa bilang banyak soal Haydar Salish, he was just there) tapi kemudian mencium pria pelukis poster ini tanpa tedeng aling-aling. This tells us betapa Dewi ingin berkuasa penuh atas keinginannya sendiri, dia tidak ingin dikendalikan oleh lelaki. Bahwa dia yang memulai lah — wanita bisa bertindak lah – yang paling utama. While tetap kerasa suspens saat kita lihat toh Dewi masih tidak berani menatap wajah sang ayah. Dia terlihat begitu restrained dan sukses bikin kita semakin merasa tegang dan penasaran. Dewi begitu percaya kepada perubahan, bahwa segala hal mestinya bisa berubah menjadi lebih baik jika kita mau dan berani untuk mengangkat kepala. Pekerjaannya yang sebagai surveyor untuk produk dagangan baru adalah cara film mencerminkan betapa Dewi selalu berusaha untuk menawarkan suatu hal yang baru kepada orang-orang, namun tak jarang ia mendapat penolakan karena tidak semua orang bisa dengan mudah meninggalkan ‘tradisi’ lama.

 

Pesan yang terkandung boleh saja kuat, namun bukan berarti film ini luput dari kekurangan. For once, tonenya terlalu depressing untuk bisa diikuti oleh penonton mainstream. Narasinya maju dengan sangat bergantung kepedulian penonton untuk terus mengikuti. Ini adalah film tipikal ‘lengah-dikit-gak-ngerti’. Atau paling enggak meleng sedikit, kita jadi enggak bisa peduli terhadap tokoh-tokohnya. Kepentingan simbol-simbol membuat film mesti menyerah mau-tak-mau harus memasukkan elemen-elemen kebetulan di dalam ceritanya. Arahan juga membuat ada beberapa adegan yang enggak make much sense jika dipikirin. Kenapa mendadak jadi tengah malam saat mereka membawa Dee ke rumah sakit. Atau kenapa Dewi berpikir bisa menemukan sesuatu yang penting di dalam lemari padahal ia melihat ayahnya baru pulang tanpa membawa apa-apa ke dalam kamar. Untuk warga desa kecil, mereka juga tampak ‘kelewat’ modern. Lagian aneh aja, enggak ada yang ngomongnya medhok di antara mereka.

Dan buatku, adegan ending, I mean adegan yang literally menutup film ini, sungguh sebuah adegan yang tidak perlu. Malahan jadi membuat film ini berakhir dengan konyol. Coba deh, tonton dan tanyakan kepada diri kita sendiri, apa kita memang perlu dikasih jawaban siapa sebenarnya penjahat bertopeng tersebut? Sedari awal, film ini bekerja dengan baik untuk tetap terasa mendua, kita enggak yakin apa yang sebenarnya terjadi. Siapa sebenarnya ‘pelaku’ yang dicari oleh Dewi. The mystery unfolds dengan rapih dan I think at that end point kita semua sudah bisa menyimpulkan sendiri. Sudah punya teori sendiri dan justru Dewi lah yang lebih butuh penjelasan dibanding kita yang nonton. Penutupnya membuat film yang tadinya kuat berubah menjadi terasa lemah. Membuat Dewi tampak sedikit unreliable sebagai sudut pandang utama. Karena Dewi tetap tidak mengetahui yang sebenarnya. Revealing di akhir hanya ditujukan kepada penonton.

maybe it was the DUCK all along!

maybe it was the DUCK all along!

 

Dengan ending demikian, Dewi tidak lagi tampak begitu kuat. Aku rasa sepertinya ini adalah cara film untuk menunjukkan bahwa sistem yang begitu kuat mengakar dapat membuat Dewi – dalam kapasitasnya pesannya; orang-orang – mempunyai pandangan yang begitu sempit. Seolah melihat dari bingkai jendela. Dewi percaya pada perubahan, namun saat ada teman lama yang mengatakan Bapak Dewi belum berubah, ia lantas percaya saja. Kita bisa merasakan Dewi kesulitan untuk percaya Bapaknya bisa berubah. Ini sebenarnya membuat konflik yang teramat sangat kuat. Tetapi di momen terakhir kita melihat Dewi, ia masih sama seperti saat cerita dimulai. Memang, kali ini dia melihat melalui jendela kereta api; pemandangan yang bergerak dan lebih luas. Namun jendela tetap saja jendela.

 

Film ini benar-benar strike me sebagai sebuah sajian yang mengejutkan. Karena penceritaannya berbeda dari kebanyakan. Drama tentang keluarga yang dirundung misteri, mentally. Film ini bikin kita penasaran terhadap apa yang terjadi juga untuk sebagian besar waktu berhasil tidka menyuapi terlalu banyak. Suspenseful Temanya not so innocent dan dewasa, film ini cukup dalem dengan pesan serius yang ingin disampaikan. Mungkin memang bukan untuk semua orang, terlebih atmosfer suram dan depressing nya sangat kuat. Mood kita secara konstan akan dibanting terus. Kecuali di bagian akhir, saat film ini gagal mencengkeram kita dengan revealing yang enggak perlu.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for THE WINDOW.

 

That’s all we have for now.

Remember in life, there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements