Tags

, , , , , , , , , , , ,

“Down with the machine.”

 

XMenApocalypse-Poster

 

Tadinya sih pengen bikin gradual-review lagi, itu loh ulasan yang aman buat yang belum nonton, kayak yang kulakukan pada review Captain America: Civil War. Tapi kurasa aku juga anggota X-Men. Aku gak bisa menahan ke-mutant-anku. My superpower is telling stories with a massive spoiler! Ahahaha

 

Bukan saja karena tahun-tahun belakangan kita sudah dapat dua film X-Men yang konsisten bagusnya (tiga, kalo Deadpool masuk itungan), Apocalypse juga adalah episode X-Men yang pertama kali yang aku baca di komik. So I am really excited about this movie. Kita yang comic book fans, surely tahu Apocalypse adalah mutant gede yang hobi ngerekrut mutant-mutant kuat untuk dijadikan anak buah. Dia memberi mereka nama The Horsemen, selalu empat orang dan selalu terdiri dari Death, Famine, Pestilence, dan War. Dalam komik yang aku baca, Rogue lah yang jadi tokoh utama. Cewek ini ingin kekuatan mutant-nya disembuhkan, dia nyaris jadi salah satu dari Horsemen karena teknologi penyembuhan yang heboh itu ternyata hanya tipuan dari Apocalypse. Nah, versi film garapan (sekali lagi oleh) Bryan Singer ini terjadi jauh sebelum ada Rogue.

Biar gapada bingung, cerita kali ini adalah timeline lanjutan dari masa lalu di X-Men: Days of Future Past (2014). Sekolah khusus anak-anak berbakat Professor Charles Xavier baru saja berdiri. Dunia mulai menerima kehadiran mutant, tapi mereka masih takut terhadap mutant jahat seperti Magneto. Singer dengan luwes memutar cerita dengan memasukkan twist religion sehingga ini menjadi sebuah CERITA ACCEPTANCE YANG JAUH LEBIH DALEM. It’s about a higher power. Apocalypse dalam film ini adalah mutant pertama di dunia. Dia dan pasukannya terdahululah yang menginspirasi hal-hal yang tertulis dalam Kitab-Kitab Suci manusia. Kalo Superman dan Avengers menolak dianggap dewa, Apocalypse dengan lantang bersuara bahwa dia adalah Tuhan. In modern day (dalam kasus film ini tahun 80an) Apocalypse terbangun dengan mendapati dunia tidak lagi sesuai dengan visinya. So sekali lagi dia ngumpulin pasukan Horsemen yang baru, brothers dan sisters yang dibisikinya untuk tujuan yang sama. Menjadikan bumi tempat tinggal yang kembali ideal. Sebuah planet kehancuran di mana dialah yang memutuskan siapa yang berhak tinggal bersamanya.

Nerds, we're here!

Nerds, we’re here!

 

Oke, si Apocalypse. Hmm. What can I say about this character as a villain…. HE’S GREAT!!!

Beneran deh, enggak bohong. Dari empat film superhero yang udah tayang tahun 2016 ini, Apocalypse adalah tokoh jahat utama yang paling compelling. Very menacing. Paling menakutkan. Dia jahat, enggak ada penyangkalan buat hal itu, motifnya khas penjahat komik, but oh boy he made us care. Dia membuat kita geram saat satupersatu panglimanya berhasil direkrut. Meski kita enggak ngerti kenapa dia ingin berbuat apa yang ia buat, namun kita mengerti apa yang akan terjadi jika dia berhasil mencapai tujuannya. Kiamat. I’d prefer menonton film ini dengan menganggap Apocalypse sebagai tokoh utamanya. All things revolve around, and because of, him. Dia sendiri yang membuat semuanya menjadi personal antara tim X-Men, antara dirinya dengan Charles. Dia benci dunia di mana orang-orang menyembah tuhan palsu, menyembah ‘berhala’. Tunduk pada sistem, baik mesin ataupun social system. Para penggemar WWE pasti bisa langsung mengasosiasikan Apocalypse dengan Bray Wyatt. Karena yea, Apocalypse juga practically bilang hal menyeramkan yang sama dengan yang diucapkan oleh Bray dalam promo-promonya. “Down with the machine!”. Oscar Isaac meraninnya juga dengan sangat menyakinkan dengan geraman suaranya, dengan gesturnya yang menyiratkan ini adalah sosok yang luar biasa kuat.

Ngerinya, ada kebenaran di balik kata-kata Apocalypse. Tentang manusia yang worship sesuatu yang kita ciptakan sendiri. People buy and sell fear. Kita bikin senjata atas nama perdamaian. Kita bikin peraturan berdasarkan hukuman. People crave war. The world is deteriorating dan Apocalypse berdiri di sana, memimpin bukan hanya dengan aksi, juga dengan kata-katanya.

 

Sebagaimana Apocalypse, FILM INI SENDIRI JUGA TERASA AMBISIUS. Ada begitu banyak aspek yang berusaha dicapai oleh X-Men: Apocalypse. Tone nya sangat serius namun diselingi oleh humor dan lelucon yang tak-terduga. Sebagian besar relief datang dari Quicksilver yang lively sekali ditangani Evan Peters. Sekuen adegan dia nyelametin siswa-siswa saat sekolah meledak, yang diiringi lagu Sweet Dreams itu, sungguh awesome. Aku enggak percaya mereka bisa mikirin aksi yang bisa mengungguli apa yang Quicksilver lakukan pada film sebelumnya, but they did it!. Para mutant utama mendapat sorotan yang cukup berpengaruh – tidak sekedar plot device, kita tertarik melihat awalnya mereka gimana. Jean Grey really shines dalam film ini. Perannya sedikit lebih gede dan Sophie Turner gak nyia-nyiain itu, she reflects on her character well, humanely and mutantly. There’s also sekuens adegan trippy yang terjadi di dalam kepala Prof. X. Aku juga suka adegan tesebut, pertarungan metafora yang benar-benar disampaikan fisikal. Tentu ada banyak CGI, green-screen yang dipakai namun aku bisa overlooked them karena film ini berhasil nge-blend-in cerita, pengembangan tokoh, dan aksinya dengan memukau. Cara mereka mengingkat cerita dengan film-film X-Men sebelumnya, yang bakal jadi masa depan dalam alur film ini, juga sangat menarik dan masuk akal.

Tiga puluh menit pertama alias babak satu memang rada bikin nguap. Film ini berpindah sorotan, berusaha mengset-up konflik para tokoh dengan detil. Dan it did make us confused dengan banyaknya backstory. Mereka menyeimbangkan introduksi tokoh mutant remaja baru kayak Cyclops, Nightcrawler, Storm, dll, dengan pengenalan kembali drama antara Magneto dan Xavier, and also kebangkitan Apocalypse. Penceritaannya sangat lambat aku malah sempat mikir, ini beneran bakal gini terus sampai habis? Pertanyaanku terjawab saat cerita sampai di adegan Magneto dan keluarganya di dalam hutan. Dieksekusi dengan hebat. It was the first high-point, momen yang bikin kita “dang, aku harus nonton ini sampai habis!”

X-Men: Apocalypse cukup percaya diri untuk mengembalikan film ini kepada kemauan penonton untuk terus mengikuti. Build up mereka lakukan dengan pelan tapi pasti. Setiap plot poin nya seolah pijakan yang menuntun kita ke akhir, yang berada tinggi di atas. Karena memang , di akhirlah, film ini baru pecah. Actionnya seru, ada banyak awesome dan cool moments. Para mutant saling bertempur, dan mereka terlihat seperti keluar dari dalam komik. Dan dari video game, as I merasakan kesebelan yang teramat sangat kepada Psylocke, aku teringat selalu game over di tangan cewek sok-jutek ini di game X-Men Mutant Academy. Kalo mau dinilai per battle, aku paling demen sama duel terakhir antara Nightcrawler dengan Angel. Mereka memaksimalkan kemampuan khusus kedua tokoh yang terlibat, sehingga memuaskan bukan hanya theatric tapi juga secara story. Momen kekalahan Apocalypse, saat semua X-Men ngeluarin jurus pamungkas dan Jean finally unleashed the Phoenix, bikin anak kecil yang bersemayam di dalam diri kita masing-masing berteriak kegirangan.

“Yang ketiga selalu paling jelek”, hmm setuju gak yaa sama kamuuhh?!

“Yang ketiga selalu paling jelek”, hmm setuju gak yaa sama kamuuhh?!

 

Sebagai penggemar kartun dan komiknya, aku terpuaskan dan girang banget sama film ini. James McAvoy dan Michael Fassbender membuat interaksi dan dilema tokoh mereka enggak pernah usang untuk disimak. Jennifer Lawrence juga dapet banget aura Mystique nya, tapi ada dua hal yang aku enggak mengerti dari arc nya dalam film ini. Pertama dia menolak jadi suri teladan anak-anak; kenapa di sini tindakannya agak berlawanan dengan prinsip ‘mutant and proud’ yang dipercayanya sejak film yang lalu? Kedua, aku merasa janggal kenapa film ini, dengan segala backstory nya, malah tidak mengungkit soal Nightcrawler yang adalah putra dari Mystique?

 

Sebagai seorang penonton film yang ngotot mau liat secara kritis, memang film ini tidak sempurna. Ada cacat pada penuturan. Aku pikir film ini akan semakin asyik untuk dieksplor jika kita sudah pernah menontonnya satu kali. Terlalu banyak setup tokoh yang harus kita perhatikan. Sehingga dengan gampang bikin perhatian kita buyar dan is really up to us buat terus ngikutin atau enggak. Tapi percayalah, ini adalah film yang nge-build dan menjadi semakin baik adegan demi adegan. So try to be patient and give it a chance. Karena di akhir semua akan terbayar, big time!. Porsi aksinya lebih banyak dibanding film X-Men yang lain dengan fun factor yang datang dengan tak terduga. Soal tak terduga, film ini juga masukin adegan yang berlangsung di dalam pikiran. It was really trippy but also really brought out the strength dari Xavier dan Apocalypse. Film yang aneh, dalam artian ambisius dan berani.
The Palace of Wisdom gives 8 out of 10 gold stars for X-MEN: APOCALYPSE

 

 
That’s all we have for now.

Remember in life, there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements