Tags

, , , , , , , , , , , ,

“It’s not the differences that divide us. It is our inability to recognize, accept, and celebrate those differences.”

 

AisyahBiarkanKamiBersaudara-Poster

 

To be honest, tadi aku sempat bingung saat datang ke bioskop. Kenapa? Well, tau gak apa enaknya jadi orang Indonesia yang hobi nonton film? Kita enggak pernah pulang dengan ngedumel karena gajadi nonton. Kita selalu punya pilihan, setiap minggu kita dapat film Hollywood sekaligus film Indonesia terbaru. Masing-masing lebih dari satu! Kayak hari ini. Ada dua film Indonesia yang aku ngerasain urgensi sama gede untuk menontonnya. Yang pertama, karena temanya yang tentang perbedaan dan agama; I’d like to experience the more realistic view setelah nonton X-Men: Apocalypse yang juga tentang agama dan manusia yang berbeda. Tapi aku juga ingin nonton komedi, karena sehubungan dengan ikutan writing camp Lupus, aku butuh banyak latihan menulis cerita yang bisa bikin orang ketawa. Akhirnya, seat spot favoritku sudah diisi orang lah yang membantuku membuat keputusan nonton film yang mana. Dan sama seperti Aisyah dalam film ini yang malah bersyukur tiket pesawat mahal, aku juga, yah, merasa puas sudah memilih untuk nonton film ini.
 

Ceritanya tentang sarjana pendiidkan bernama Aisyah yang ingin cari pekerjaan. Dia tidak ingin mengecewakan almarhum ayahnya. Plus dia tidak mau jadi satu-satunya pihak yang ditinggalkan, dalam relationshipnya. On top of that, she wants to live it up to the saying “sarjana hebat itu bekerja demi orang lain, bukan untuk dirinya sendiri.” Jadi, Aisyah menerima tawaran ngajar SD di luar pulau Jawa. Hanya saja ada sedikit mixed-up dan cewek berkerudung ini tertempatkan di desa Derok, Nusa Tenggara Timur, yang semua penduduknya beragama Katolik.

quote tentang sarjana itu menjawab banyak misteri dalam hidup.

quote tentang sarjana itu menjawab banyak misteri dalam hidup.

 

Untuk yang sedang belajar skenario, Aisyah bisa ngajarin kita banyak karena struktur film ini crystal-clear sekali. Set-up cerita sudah ter-establish rapih dan kemudian disusul oleh sekuen-sekuen yang nge-pinned down Aisyah. Ibunya menentang. Desa yang jauh. Sesampai di desa, ia dikira Suster Maria. Enggak ada listrik, enggak ada sinyal. Kemarau tiba di desa yang udah gersang dari sononya tersebut. Terus ada drama seputar murid yang menolak untuk ia ajar. Formula yang bagus, as semuanya bentrok dengan dirinya. Keadaan kerap menjegal Aisyah. Membuat kita perlahan peduli kepadanya. Sebagai protagonis wanita, memang gampang simpati penonton jatuh kepada Aisyah. But the writing did it right, semua ke-vulnerable-an Aisyah tidak diolah dengan cheesy. Dia tidak over-baik hati seperti malaikat. Dia tidak pasrah. Dia tidak mengeluh, dia tidak minta kita kasihan padanya. Ingin buktikan dirinya bisa. Aku justru suka dengan pendekatan yang diambil Aisyah untuk menyingkapi masalah demi masalahnya. Tokoh ini kerasa grounded dan real, like, memang begitulah hal yang akan dilakukan oleh orang jika film ini terjadi di dunia nyata. Kita menyaksikan pertumbuhan sikap tokohnya. Setelah empat bulan di tengah-tengah mereka, Aisyah pun bisa berbicara dengan logat dan bahasa lokal.

This movie has a great look. Kontras budaya disuguhkan dengan mantap, baik secara lingual maupun visual. Tentu saja dengan diisi oleh penampilan yang membuat kita berdacak kagum. I think it was really cool bahwa kabarnya Laudya Cynthia Bella adalah satu-satunya kandidat untuk memerankan Aisyah, bahwa film ini tidak akan jalan sekiranya aktris tersebut menolak. Dan memang terasa sekali perannya mendarah daging, Bella tidak terlihat berakting menjadi seorang guru. Aisyah begitu natural, kayak bunga di padang pasir tapi begitu blend-in dengan sekitar. Dia tidak terasa berada di atas everyone else. Speaking of them, warga desa dan anak-anak setempat juga bermain baik. Tidak ada anak yang annoying. Some of them actually delivered their line well. Fresh in some way, melihat anak-anak yang berakting murni, tidak kelihatan berusaha menjadi siapa-siapa selain tokoh yang mereka perankan. Pedro yang diperankan oleh comic Arie Kriting enggak serta merta jadi comedic relief tunggal, perannya lebih sebagai katalis yang menghubungkan bukan hanya Aisyah, tapi juga kita semua, dengan warga dan keadaan desa.

”emangnya muka Ibu galak banget, ya?”

”emangnya muka Ibu galak banget, ya?”

 

Meski memang ada KONFLIK SERIUS SOAL PERANG ANTARAGAMA yang kerap terjadi di wilayah Timur Indonesia. Lordis Defam, anak yang tidak pernah lagi datang bersekolah, sesungguhnya takut Aisyah datang untuk membakar gereja-gereja mereka, seperti yang ia dengar tentang orang Islam dari cerita paman. Aisyah harus berhadapan dengan Lordis dan pamannya. Namun cerita film ini tidak diarahkan untuk menjadi traumatic dan depressing. Malahan, Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara terasa sangat menyenangkan. Ngademin. Serius tapi santai. Kita tidak melulu melihat Aisyah bersimbah air mata dihujat oleh warga desa. In fact, sama sekali tidak ada adegan seperti demikian. Warga Derok menerima Aisyah, mereka mencari cara gimana Ibu Guru tersebut bisa betah. Mereka peduli terhadap makanan mana saja yang halal bagi Aisyah. Si Ibu Dusun jauh-jauh mengambil air untuk keperluan sehari-hari, dan dipakai seenggaknya sehari lima kali oleh Aisyah. Adegan saat Aisyah menyadari ini, kemudian dia merasa enggaenak tapi si Ibu lantas menenangkan, jangan mengkhawatirkan soal itu, adalah salah satu adegan yang menggelitik sisi emosional kita sebagai manusia. Suatu contoh tepa selira yang benar menohok.

Sebuah gambaran persaudaraan yang erat. Saat masing-masing pihak mencoba untuk toleransi, membuat sang alien merasa berada di rumahnya sendiri. Film ini akan mengajarkan kita menyingkapi perbedaan. Bukan hanya mengenali, tapi juga mengakui perbedaan tersebut.

 

Benar, ini bukan film yang sempurna. Sebagai seorang penonton yang selalu ingin film menjadi berkembang, tidak ada istilah menilai sebuah film bagus total. Ada kala ketika aku tidak bisa tertarik kepada subplot yang mereka ceritakan. And when you are not interested with the story, you are bound to notice every product-placement, especially if they are throwing it to your face. Itulah yang terjadi di babak pertama. Sub tentang kisah cinta jinak-jinak merpati Aisyah dan Jaya cuma sebatas device yang bland dan justru memberikan resolusi yang tumpul. Kemunculan tokoh Ge Pamungkas di akhir tersebut membuat Aisyah kehilangan semua yang sudah ia ‘pelajari’ through the entire saga. Tidak ada achievement apa-apa terhadap depth tokoh Aisyah dengan dirinya pulang kembali ke Cimahi melalui tiket yang diantarkan oleh Jaya. It was such a weak way mengikat cerita hubungan mereka, like they just crammed it together and hope to find the appeal dengan akhiran yang diselamatkan secara ajaib begini. Aku lebih setuju dengan ending Aisyah pulang dengan tiket yang dibeli dari uang pemberian warga desa. Karena dengan begitu, aku dan kalian beserta anak-anak NTT tersebut tidak akan merasa Aisyah dirampok dari kita.

Bagian yang nunjukin kontras perbedaan, di situlah letak keunggulan film ini. Mau di NTT ataupun di rumahnya sendiri, Aisyah selalu berbenturan dengan perbedaan. And this movie really excels at telling that. Debat Aisyah dengan ibunya sebelum berangkat soal beda daerah sangat humane, grounded, I feel that bit, aku mengerti betapa susahnya ngomong sehingga orangtua bisa mengerti.

Anak butuh diyakinkan dia mampu, bukannya diingatkan apa yang akan terjadi kalo ia gagal.

 

Perbedaan dalam konteks yang lebih ringan turut dibahas. Sewaktu masih kuliah geologi, aku pernah ditempatkan di desa kecil. Aku nanya arah sama penduduk. Mereka bilang sungai yang aku cari sudah dekat. Aku jalan lagi, tapi kok gak sampe-sampe? Setelah dicek jarak yang dibilang sudah dekat tadi, ternyata berjarak lima kilo pada peta. Hihihi, pasti pada pernah punya pengalaman ngerasain beda dimensi seperti begitu dong ya. Jarak relatif jauh-dekat juga dimasukin jadi lelucon pada film ini. Tak ketinggalan relativitas waktu. Aku terkikik saat Siku, murid terdekat Aisyah, menyinggung soal Aisyah yang tak mengapa berpuasa karena apalah artinya sebulan dibanding setahun, namun menganggap dua minggu lagi adalah waktu yang lama. Bantering tentang beda-beda ini really provoked me in some way.

 

 

 

Drama tentang ibu guru ini akan mengajarkan kita soal persatuan dalam perbedaan. Agama, ras, golongan. Sarat nilai pendidikan, ini adalah film yang sangat dibutuhkan di era di mana prejudice merayap mengerikan di belakang benak setiap orang seperti saat sekarang ini. Dilakukan dalam sebuah cerita yang hangat dan menyenangkan. Menggurui, at times. But we don’t mind kalo gurunya secantik film ini kan?
The Palace of Wisdom gives 7.5 gold stars out of 10 for AISYAH: BIARKAN KAMI BERSAUDARA.

 

 

 
That’s all we have for now.

Remember in life, there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements