Tags

, , , , , , , , , , , ,

“Never waste a good opportunity to learn from a bad boss.”

 

MyStupidBoss-Poster

 

Atasan adalah musuh bebuyutan setiap pegawai kantor. Di balik setiap senyum cengengesan pekerja selalu ada ambisi menendang bokong bosnya. Sudah alamiah kita memandang sinis authority figure. Makanya karakter kayak Stone Cold Steve Austin begitu digandrungi. Karena ia mewakili mimpi kita berontak melawan atasan. Diana awalnya mungkin tidak setuju dengan yang dilakukan oleh Austin kepada Vince McMahon. Istri muda ini happy-happy saja bekerja di kantor teman suaminya. Dia merasa semua akan tenang dan gampang, toh atasannya itu juga orang Indonesia. Mereka sama-sama perantauan di Malaysia. Tapi oh tidak, on seconds meeting him for the first time, Bossman udah jengkelin Diana setengah mati. Sosok bos ini sangat absurd, dia gak mau dengar pendapat, semua keputusannya bikin ngernyitkan dahi, pelupa, pelit, dan yang paling ngeselin adalah curigaan sama semua orang, terlebih pada pegawainya sendiri. Diana harus get her head together dalam lingkungan kerja yang tak seronok tersebut.

just give him a good ol’ Stunner already!

just give him a good ol’ Stunner already!

 

Premis yang kocak dan highly relatable buat banyak orang diolah dengan sangat ceria. Playful dalam urusan warna. Jenaka dengan perlakuan terhadap tokoh-tokohnya. Musiknya pun bikin kita terbawa suasana. My Stupid Boss tampil BEGITU KOMIKAL KITA TIDAK BISA TIDAK TERTAWA melihat pertunjukannya. Lelucon-lelucon yang ada mengalir segar berkat delivery dari para pemain. Aku suka pendekatan yang Reza Rahadian gunakan dalam menghidupkan tokoh Bossman yang nyebelin. Well-timed sekali. Begonya itu bener-bener bego yang bego, kita tidak bisa melihat alasannya apa. Tapi kita penasaran kelakuan nyeleneh apa lagi yang akan dilakukan oleh pria berkumis lele tersebut. Cara berpikirnya lumayan menggugah. Selalu ada yang bisa kita pelajari, walaupun itu dari pemimpin yang enggak baik. Positif di balik negatif. Ada satu adegan yang membuatku bertepuk tangan salut kepada Bossman, yaitu saat dia bilang kalo gimana kita bisa kaya kalo mimpi aja gak berani?

My Stupid Boss menggunakan formula cerita komedi yang mempertemukan dua tokoh berlawanan dan menempatkan mereka dalam satu kondisi. Kita akan melihat Diana melihat Bossman menangani pekerjaan dalam berbagai kesempatan. Kita lihat betapa Diana enggak tahan akan sikap dan tingkah laku bos nya tersebut. Tokoh utama cerita, Diana, sayangnya tidak terasa begitu stand out dalam segala usaha yang ia lakukan, whether trying to put up all of her boss’ nonsense atau saat wanita ini mulai berontak ataupun saat ia berinteraksi dengan karakter yang lain. Bunga Citra Lestari tidak terlihat have fun sebanyak yang seharusnya bisa dia capai.

PERPADUAN BUDAYA MALAYSIA DAN INDONESIA, terutama bahasa, jadi corak yang memancing sebagian besar gelak tawa. Teman-teman kantor Diana yang orang Malaysia cukup kocak meski mereka butuh untuk diflesh out lebih dalam lagi. Ada adegan nari Cindai yang membawa aku flashback kembali ke kelas enam SD. Lagu Cindai dari Siti Nurhaliza dulu itu jadi lagu wajib setiap kali ada acara tari menari di sekolah. Tak ketinggalan sekolahku, apalagi daerah kami memang banyak orang melayu nya. Dan Gerimis Mengundang? Haha jangan ditanya, lagu tersebut jadi salah satu dari tiga pilihan lagu bebas yang akan diambilnya nilainya untuk nilai rapor, and I’ve picked that song. Jadi, ya aku cukup terhibur menonton film dengan banyak unsur dari negara tetangga kita tersebut.

Sempet histeris kirain itu Sacha Baron Cohen

Sempet histeris kirain itu Sacha Baron Cohen

 

Aku belum pernah membaca kumpulan cerita chaos@work yang jadi sumber adaptasi My Stupid Boss. Aku enggak tahu apakah jokes nya diambil dari sana apa gimana, karena memang film ini terasa kayak kumpulan sketch-sketch komedi. Like, cerita-cerita konyol tentang pengalaman kerja dengan bos eksentrik yang dirangkai menjadi satu. It was really episodic, dengan punchline yang kerap datang dari keabsurdan si Bossman. Dari awal hingga akhir, cara penuturan kerap diulang. Jadi kayak mendengar langsung Diana nyeritain pengalamannya, apalagi memang film ini diceritakan dari sudut pandang Diana yang jadi narator.

Secara komedi mungkin memang lucu, terlihat dari banyaknya penonton yang terrgelak-gelak. Meski aku hanya terkekeh beberapa kali.

Its not as funny as I think it thinks it is.

 

My Idiot Boss dirangkai dengan a little-to-nonexistent plot. Susah untuk peduli kepada karakter-karakter yang cartoonish tanpa diikuti oleh cerita yang compelling. Tokoh-tokoh tersebut, kendati bisa kita refleksikan kepada diri sendiri ataupun seseorang yang kita kenal, tetap hanya terasa sebagai seorang tokoh film. Motif mereka tidak pernah diurus. Setengah bagian awal is the brightest point, namun dengan cepat jadi menjemukan karena cerita berputar-putar di situ melulu. Kita enggak tahu arahnya ke mana. Film ini terlalu bergantung kepada tokoh Bossman, tapi bahkan lelucon-lelucon yang ia hadirkan punya masa kadaluarsa. Jokesnya started to dragged after awhile. Repetitif mungkin adalah bagian tak-terlepaskan dari cerita komedi. Namun gaya komedi yang sama, some gags, just didn’t work diulang terus-menerus. Kita jadi sadar kalo yang dikatakan si Bossman hanyalah calling names dan ngelupain siapa itu siapa. Kayak Mr Burns yang selalu lupa sama Homer. Tokoh-tokoh yang tadinya menghibur juga jadinya annoying saat mereka terus-terusan hadir tanpa ada perkembangan apa-apa.

Tidak seperti lagu Cindai ataupun Gerimis Mengundang – lagu lama yang tetap enak didengar sampai sekarang – film My Stupid Boss dengan cepat menjadi membosankan karena tidak jelas arahnya kemana. Film adalah perjalanan. Menarik karena kita melihat perkembangan seseorang. On the contratry, tidak ada sense of accomplishment yang dihadirkan oleh film yang terlalu fokus untuk tampil lucu ini.

 

Arc yang kita semua pengen lihat adalah kenapa bisa orang yang ignorant dan se’bodoh’ Bossman bisa jadi bos in the first place. Akan tetapi hal tersebut tidak kunjung tiba. Karakter ini justru direveal punya sisi humanis yang tak-terduga. Dengan tak-terduga maksudku adalah, literally, kita tidak menduganya. Karena penyelesaian tersebut datang tanpa tedeng aling-aling. Tidak ada build-up ke arah sana dan tau-tau, “waaahhh orang baik ya ternyata” pikir Diana sambil memandang bosnya dengan kagum.
Disebutkan Diana terpaksa terus bekerja di kantor itu karena dia terikat kontrak, and also karena Bossman adalah teman suaminya. Motif tersebut tidak cukup personal untuk menguatkan posisi Diana sebagai ‘hero’ dari cerita. Kita hanya melihat dia bereaksi terhadap keadaan. Kita perlu tahu alasan pribadi Diana, entah apakah dia ingin membuktikan diri? Apakah dia sebenarnya jadi penasaran to the point ingin mengubah cara pemikiran bos? Heck, aku bahkan akan puas sekali jika film ini berlanjut dengan Diana goes on full psycho dan benar-benar merakit bom Molotov. Dalam film sebuah alasan tidak harus selalu jelas, tapi yang jelas harus selalu ada. Aku gabilang film tidak bisa hanya dengan berbentuk kumpulan sketsa, karena ada contoh film sketsa komedi yang bagus. My Neighbours the Yamadas (1999). Kartun sederhana tentang sehari-hari satu keluarga di Jepang, namun ada progress berupa respect yang semakin tumbuh di antara para anggota keluarga yang tadinya cuek as the story goes on. Progres seperti inilah yang absen dalam presentasi My Stupid Boss. In fact, film ini malah tidak terasa seperti film, at all.

 

 

Mungkin gaya dokumenter lebih cocok untuk cerita ini. Mockumentay kayak film What We Do in the Shadows (2015). Dengan begitu setiap tokoh bisa dapat kesempatan untuk berkembang, plot mereka regarding hubungan masing-masing dengan Bossman bisa tergarap sempurna dengan tetap meletakkan Pak Bos di tengah-tengah mereka. Komedi yang mestinya lucu ini, alih-alih, terasa mengapung begitu saja. Tanpa ada purpose. Padahal bisa dibilang ini adalah satir tentang dunia kerja. Kendati memang tidak sepenuhnya bekerja dengan baik. Jika disuruh ngasih kesimpulan, maka aku akan bilang film ini adalah lawan dari kalimat terkenal dalam film The Shining, “All play and no work makes My Stupid Boss a dull film.”
The Palace of Wisdom gives 5 gold stars out of 10 for MY STUPID BOSS.

 

 
That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements