Tags

, , , , , , , , , , , ,

“A supportive family is what makes a home.”

 

TheConjuring2-Poster

 

Ed dan Lorraine Warren dalam The Conjuring, buat kamu-kamu yang enggak peka sama obvious kode yang diberikan dalam setiap kesempatan oleh filmmakernya, adalah sepasang investigator paranormal yang beneran ada. Istilah kerennya mereka adalah Demonologist. Suami-istri ini ketemu setan lebih sering daripada aku ketemu cewek manis yang sudi untuk senyum balik setelah cukup lama aku pelototin. Tentu saja ada banyak pengalaman menarik dari mereka, dan dari sekian jumlah tersebut, aku menggelinjang begitu tahu kalo The Conjuring 2 kali ini berdasarkan kepada kasus sebuah rumah berhantu di kawasan Enfield, Inggris yang nyaingin The Amityville Horror. Kasus rumah tersebut terkenal dengan judul The Enfield Poltergeist, di internet – apalagi di forum-forum misteri – kasusnya memang rame dibicarakan karena memang sensasional dan, yea, mengerikan. Foto anak cewek penghuni rumah yang sedang melayang di udara seolah ditarik oleh suatu kekuatan tak-terlihat diperdebatkan banyak pihak apakah asli atau tipuan.
Dan film The Conjuring 2 really captures misteri seputar fenomena-fenemona rumah tersebut dan menjalinnya ke dalam sebuah cerita yang kuat. Juga ada sedikit sleuthing skill saat Ed dan Lorraine mencoba memecahkan teka-teki identitas dan motivasi para hantu pengganggu.

 

Keberhasilan film horor gampang untuk diukur; Filmnya seram atau enggak? Kalo misalnya sehabis nonton dan kalian masih merinding disko sampe-sampe ciut untuk keluar rumah cari makan sahur jam dua pagi, terus alhasil kalian cuma meringkuk di kasur sambil ngemil mie mentah bilang “bulan-puasa-hantu-dikurung-kok (33 kali),” maka yup, film tersebut itungannya seram. That is literally happen to me the night after I watched this movie lol

Tak ‘u-uk lah yaw papasan sama suster model begini di tengah jalan

Tak ‘u-uk lah yaw papasan sama suster model begini di tengah jalan.

 

James Wan probably adalah sutradara horor mainstream terbaik periode dewasa ini. Di tangannya, MATERI YANG SEBENARNYA SUDAH OVERUSED tetap bisa terasa genuine serem sekaligus bikin kita penasaran. Dalam The Conjuring 2 kita akan menemukan klise-klise horor semacam anak yang kesurupan, keluarga berantakan, pintu yang digedor, suara tak-berwujud, barang-barang yang piknik ke mana-mana dengan misterius, rekaman suara dan peralatan video untuk nangkap setan, all kind of craziness yang sudah kita expect untuk kejadian. Terlebih dalam film horor yang targetnya pasar global, bukan festival. Kendati semua conventional horror things tersebut numplek di dalamnya, film ini tidak serta merta jadi dull dan boring. I’ve had tons of fun. Bergidik dan nyaris jantungan sih, but still.. FUN! Keahlian direksi dan visi James Wan lah yang bikin The Conjuring 2 ada di beberapa tingkat di atas film hantu kebanyakan. Itu dan ditambah oleh performance dan penulisannya.

Kita bisa merasakan real tension yang terus dibangun. It gets intense as you’ve might expect. Tensinya ditumpuk terus sampai akhirnya tak terbendung lagi. Hal ini dapat tercapai berkat kerja EXCELLENT CINEMATOGRAPHY DAN DESAIN SUARAnya. Favoritku tentu saja adalah adegan entrance dramatis kemunculan dari dinding si hantu yang ngikutin terus ke mana pun Lorraine pergi. Sepertinya aku sudah dapat satu nominasi untuk Best Movie Scene buat My Dirt Sheet Awards tahun depan.

Ada tiga jenis style pengambilan adegan dalam film ini. Sejumlah adegan yang bikin kita nahan napas, antara ketakutan dan sok tahu menatap hanya ke satu titik di layar, menunggu hantunya muncul, dan kemudian mencelos ngeri karena hantunya justru muncul di tempat tak-terduga atau malah absen sama sekali. Build-up adegan kayak gini well-crafted banget dan terbukti ampuh ‘mengecoh’ kita semua. Terus ada juga adegan-adegan yang diambil dengan cara tidak biasa, misalnya adegan Ed yang membelakangi Janet dalam rangka nanyain si hantu Bill yang gak mau bersuara kalo diliatin langsung. This was really intriguing karena di latar – fokus kamera ada di Ed – kita bisa lihat, tapi gak jelas alias ngeblur, transformasi Janet menjadi penampakan pria tua. Dan tentu saja, pengambilan gambar yang udah jadi ciri khas James Wan; long-moving continuous take, yang ngajak kita ngeliat aktivitas penghuni rumah dari berbagai sudut. Dinamis sekali!

Iya, film ini ngagetin. Yes, there are jump scares. Akan tetapi seenggaknya dalam film ini jump scarenya enggak palsu. Tidak sekedar suara yang diilangin untuk beberapa waktu terus kita tahu bakal ada suara ngejreng yang segera ngikutin. James Wan mampu membuktikan kalo dia cakap dalam menggunakan jumps scare dengan efektif. Semua yang membuat kita terbelalak ngeri dalam film ini memang dimaksudkan untuk bikin kita takut. Hal-hal yang menyeramkan terjadi untuk membuat kita terlonjak dari tempat duduk. Maunya film ini mungkin kita mengalami nasib yang sama dengan hantu Bill Wilkins; mati dalam keadaan nonton xD

Dalam film, kursi sofa ini goyang sendiri. Sementara dalam kenyataan, kursi di barisan aku duduk tidak berhenti shaking sepanjang film berlangsung hhihi

Dalam film, ada kursi sofa goyang sendiri. Sementara dalam kenyataan, kursi di barisan aku duduk tidak berhenti shaking sepanjang film berlangsung hhihi

 

Apalah artinya film hantu jika tidak berhasil nyentuh penonton sebagai sesuatu yang nyata. The Conjuring 2 tidak membatasi diri sebagai ajang serem-sereman saja. Film ini juga adalah tentang pernikahan. Tentang keluarga. It is actually about being with somebody that understands you. Bukan enggak mungkin loh ada orang yang sempat baper nonton film ini. The Conjuring 2 mengambil pijakan kepada cerita keluarga yang realistis. Baik keluarga Warren maupun keluarga Hodgson, mereka berjuang demi tempat mereka dalam komunitas. Warren sempat mendapat kecaman publik sebagai tukang ngarang, sedangkan keluarga Hodgson – sesuai dengan fakta kasus di dunia nyata kita – tidak lagi mendapat simpati khalayak karena ada dugaan mereka merekayasa semua fenomena ganjil yang terjadi di kediaman mereka.

Menjaga keutuhan keluarga, mencoba untuk saling melindungi satu sama lain. Mencoba untuk menjadi sebuah keluarga yang fungsional. Bukan hanya soal teknik film, ataupun soal betapa mengerikannya, The Conjuring 2 stands out karena ia adalah sebuah film emosional yang membebani kita dengan problematika nyata yang dengan mudahnya bisa terjadi terhadap keluarga kita sendiri.

 

Arahan yang expert didukung oleh penampilan yang luar biasa terpercaya membuat The Conjuring 2 menyenangkan untuk diikuti. Vera Farmiga dan Patrick Wilson memainkan arc mereka sebagai pasangan yang sungguh menyentuh hati. Sweet banget pas ngeliat Lorraine begitu takut dan gak-rela Ed harus melawan setan sendirian sementara dirinya – yang sudah mendapat penglihatan akan nasib buruk yang bakal terjadi – terkurung di luar rumah. Yang jadi Janet Hodgson, aktris muda Madison Wolfe, juga menyuguhkan really good performance sebagai anak yang paling menderita akibat ulah si hantu jahat itu. Adek ini lah yang pertama dan paling banyak merasakan hal-hal goib. Dia sampai mengikat tubuhnya sendiri di tempat tidur supaya enggak dipindahin sama hantu lagi. Ketakutan yang ia alami terasa real. Saat malam hari di mana semua kegilaan dan kengerian terjadi, kita turut merasakan takut terhadap apa yang akan terjadi kepada Janet dan keluarga. Kita berharap kejadian tersebut berhenti mengganggu mereka. We feel bad for them all. Film ini sukses membuat kita actually care about these characters. Karena setiap mereka ditulis dengan well-rounded. Kita memang akan selalu excited sama adegan yang ada hantunya, dengan yang seram-seram, tapi dalam film ini kita juga tertarik terhadap momen-momen development para tokoh, even the smaller ones.

Regarding struktur, The Conjuring 2 sometimes terasa molor. Kadang seolah dipanjang-panjangin, tetapi minor kok. Pacenya dijaga stabil cepet sehingga walau ceritanya rada ngulur-ngulur tetep kita tidak diberi ruang untuk merasa bosan. Ibaratnya kalo ada yang ngantuk pun, pasti segera melek karena hantunya nongol.

 

 

Nakutin banget, fast-paced, really entertaining. Aku kayaknya lebih enjoy nonton ini daripada The Conjuring yang pertama. Dan perlu dicatat The Conjuring masuk Top-8 film favoritku di tahun 2013. Memang enggak ada satupun aspek horor yang baru yang ditawarkan oleh sekuel ini, kita sudah pernah lihat semua. It does feel like sebuah rumah yang lagi ngadain pesta reunian trik-trik horor mainstream. Namun craft dan penulisan dan performance pemainnya lah yang bikin horor ini berbeda. Film ini mempersembahkan orang-orang nyata yang berada dalam situasi di luar akal sehat, dan itulah yang membuat kita bisa peduli. Yang membuat kita tertarik dan merasa weighted oleh realism. Dan agak tak-peduli bahwa film ini toh terasa kurang tight.
The Palace of Wisdom gives a square 8 gold stars out of 10 for THE CONJURING 2

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember in life, there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 
We? We be the judge.

Advertisements