Tags

, , , , , , , , , , , ,

“Strength comes from overcoming the things you once thought you couldn’t. ”

 

12792317_10154164942382240_2487411388686774115_o

 

Waktu pertama kali mendengar tentang film ini mau dibikin, aku menyangka berita tersebut cuma lucu-lucuan untuk April Mop. I like Finding Nemo. Uh, ralat. I love Finding Nemo! Setiap hari di rumah, kami muter dvd ikan badut yang ketangkep manusia itu. Tontonan wajib sambil makan siang sepulang sekolah. Padahal belakangan juga enggak ditonton, karena adegannya udah pada hapal jadi denger suaranya aja udah puas banget. That movie was some sort of addictive to my family. Cerita film tersebut udah konklusif sekali, aku merasa tidak akan bisa dibikin sambungan. Toh kalaupun bisa, buat apa ada sekuelnya. I thought that Nemo dan Marlin dan Dory was done for good.

 

But they did comeback with a sequel. An AMAZING AND HEARTWARMING one! Sebelumnya Pixar sudah pernah menggunakan karakter yang tadinya sidekick menjadi peran utama dalam film berikutnya, kayak Mater di Cars 2 (2011) dan Mike dalam film Monsters University (2013). Dalam hal inilah Pixar mengerti kalo sebuah sekuel bisa saja menggunakan formula cerita yang sama asal dilihat dari tokoh yang berbeda. Kali ini, giliran tokoh paling lovable seantero Disney Pixar-universe yang dijadikan sorotan; Dory si ikan tang biru.

Kebalikan dari Finding Nemo (2003) yang tentang ayah mencari anak, Finding Dory adalah tentang Dory yang ingin mencari keluarganya. Namun penghalangnya? Dramatic-premis film ini simpel sekali, gimana caranya Dory menemukan keluarganya kembali jika dia sendiri tidak mengingat mereka due to ‘penyakit’ short term memory loss yang ia derita? So sekali lagi, trio ikan ini menyebrangi luasnya lautan, bertemu dan berteman dengan segenap makhluk-makhluk air yang baru – yang sifatnya oddly resemble manusia jaman sekarang –, tak-sengaja pisah beberapa kali, dan kemudian demi bersatu kembali mereka harus menempuh berbagai macam halangan exploring the Marine Life Institute yang sebagian besar involving manusia yang ignorant dan environment di mana ikan tidak bisa lama-lama berdiam di sana. Dan ohiya, setelah kredit penutup ada adegan ekstra dari teman-teman akuarium Nemo di film pertama, jadi tetaplah duduk di tempat and then you can tell me ceritanya gimana karena aku sudah keburu keluar gara-gara kebelet -,-

Selalu senang setelah sekian lama (13 tahun loh jarak kedua film ini!) bisa kembali ke dunia dengan karakter-karakter yang kita cintai dan kita kenal dan mereka tetap seperti yang dulu seolah kita hanya meninggalkan mereka satu hari saja. Film ini did it right dengan tidak menampilkan loncatan-waktu yang tidak perlu. Sehingga kita bisa melihat karakter-karakter tersebut bertumbuh.
As soon as I sit down I know I’m in for a treat. Bener-bener tidak ada hal buruk yang bisa kita ucapkan terhadap apa yang sudah berhasil dicapai oleh film ini secara visual. Dunia bawah air itu terlihat jernih. Bahkan daratannya juga terlihat kinclong, dan film ini menghabiskan lebih banyak waktu di wilayah kering ketimbang film pertama. Animasi tokoh-tokohnya pun bening, kita bisa melihat sisik pada tubuh Marlin dengan jelas. Mereka kayak ikan beneran. Everything that can be seen in this movie looks so smooth.

lihatlah betapa mulusnya jidat Papa si Dory. Hahaha ikan kayak punya jidat

Lihatlah betapa mulusnya jidat Papa si Dory. Hahaha ikan kayak punya jidat.

 

Sedikit sedih, mungkin menyentuh rasa takut kehilangan yang kita sayang. Akan tetapi keseluruhan Finding Dory, kalo mau digolongkan, bisa termasuk ke dalam kelompok film Pixar yang sepenuhnya bisa dinikmati oleh anak-anak. Anak Indonesia khususnya bisa menyaksikan film ini dalam bahasa Indonesia karena seperti The Good Dinosaur tahun lalu, Finding Dory juga diberikan hak untuk rilis dalam versi yang sudah dialih suara. Judul resminya ditranslate sebagai Mencari Dory. And it might get interesting buat publik lokal since yang ngisi suara Dory adalah Syahrini.

 

Tema yang diusung Finding Dory sangat dekat. Pesan yang terkandung diincorporate dengan baik ke dalam cerita. Mudah dicerna. Lucunya, inti film ini mirip-mirip sama film The Conjuring 2. Tentang keluarga yang mengerti kita. Tentang kegembiraan, ketakutan, kekuatan yang kita rasakan bareng dalam sebuah keluarga. Apapun yang kita lakukan, kita enggak akan bisa melupakan begitu saja momen-momen yang mengikat kita menjadi sebuah keluarga. Ada lebih banyak momen emosional dalam film yang ini. Kondisi Dory yang selalu lupa jadi device yang dalem untuk konstruksi cerita. Adegan-adegan Dory berusaha mengingat ayah dan ibunya demi mendapatkan petunjuk keberadaan mereka sungguh adegan yang menyentuh dan menginspirasi. Kalo Nemo cacat fisiknya, maka Dory memiliki kekurangan secara kognitif, dan film ini menunjukkan kepada mata-mata berbinar yang terhubung kepada otak haus ilmu anak kecil bahwa kekurangan yang kita miliki adalah sekaligus senjata terkuat yang kita punya.

Lebih dari sekedar ikatan darah, really, keluarga adalah kumpulan orang-orang yang mengerti dan menerima kita for who we are. We try to understand each other. We affect each other. Dory menemukan bahwa sebenarnya apa yang ia cari, terhampar di depan mata, seluas lautan biru yang mereka tinggali.

 

Di samping adegan-adegan kocak semacam gurita ngendarai truk atau kerang galau, film ini cukup subtle dalam bercerita. Aku suka sekali adegan di awal saat Dory yang teringat masa kecilnya, mulai kepikiran rindu dan ingin pulang ke tempat orangtuanya sementara di background kita lihat Mr. Ray menjelaskan apa arti insting kepada Nemo. That was such a strong scene, kejadian migrasi ikan pari tersebut membangkitkan naluri seorang anak dari dalam diri Dory. Naluri yang tadinya sudah terlupakan.
Aku juga suka gimana film ini tie in dengan film sebelumnya. Menjawab beberapa hal yang tadinya hanya guyonan ringan dalam film pertama. Menonton Finding Dory kita akan mengenal Dory lebih dekat, kita akan tahu kenapa Dory bisa membaca tulisan manusia, kenapa ia bisa bahasa paus, darimana ia tahu lagu “Just keep swimming”. Dan betapa sebenarnya Dory itu ikan yang cerdas.

"beauty, brain, and b….bicarain apa kita barusan?"

“Beauty, brain, and b….bicarain apa kita barusan?”

 

Dibandingkan dengan Finding Nemo, materi film si Dory ini terasa sedikit kurang. Mungkin karena memang stake yang dihadirkan enggak segede resiko yang bisa menimpa Marlin. Ini juga karena sedari awal Dory memang sudah seekor karakter yang wonderful. Enggak kayak Marlin yang tipe-tipe orangtua pencemas gak mau dengar kata anaknya. Petualangan Dory sedikit lebih mudah karena dia mendapat bantuan dari pihak-pihak yang merasakan langsung kewonderfulan sikapnya. Journey Dory adalah tentang dia menyadari hal terkuat dari kekuarangan dirinya tersebut. Dari apa yang tidak bisa ia lakukan. Masalah Dory adalah dari dirinya sendiri, so that’s why film ini terpaksa memakai banyak flashback. Yang jatohnya sedikit annoying, tentu saja, penggunaan kilas-balik seharusnya dijaga tetap minimal. Tapi ya di sini memang harus dipakai karena naturally enggak ada cara lain. Marlin dan Nemo, di lain pihak, tidak mengalami perbedaan arc yang signifikan dari film pertama. Marlin masih perlu belajar berempati dan percaya sementara Nemo perannya adalah to make sure Marlin tidak mengulangi kesalahannya di film terdahulu.

 

 

Jadi untuk menjawab diriku di paragraf awal, apakah sekuel ini diperlukan? Beberapa aspek cerita memang repetitif, bagian mereka kerap terpisah dan bertemu kembali, terlihat melelahkan. Flashback yang banyak menegasi stake hingga kadang stake tersebut terasa diada-adakan, demi sekuel. Kita harus menyadari bahwa anak-anak butuh lebih banyak film seperti ini. Cerita hangat dengan humor yang harmless tentang bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap teman dan keluarga. Dan makin ke sini, Pixar sebagai medium cerita tersebut, semakin sukses menghadirkan visual yang luar biasa. Film ini sangat appealing buat semua umur. Berlawan dengan tag-linenya, kalo Dory menonton film ini, aku yakin dia enggak bakal lupa sama ceritanya.
The Palace of Wisdom gives 7.5 gold stars out of 10 for FINDING DORY

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember in life, there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements