Tags

, , , , , , , , , , , ,

“A father is someone you look up to no matter how tall you grow.”

 

SabtuBersamaBapak-Poster

 

Hari Sabtu bersama bapak seringkali adalah sesuatu yang aku hindari sewaktu kecil. Karena akhir pekan itu bakalan berarti tidak ada video game, tidak ada baca komik, tidak ada nonton smekdon. Tapi bagi Satya dan Saka, Sabtu adalah hari yang ditunggu-tunggu. Mereka akan duduk manis di depan televisi di ruang keluarga bersama Ibu, menonton video dari Bapak. Video-video tersebut direkam khusus untuk mereka lantaran Bapak tidak bisa berada di sekitar mereka terus-terusan. In fact, Bapak tahu tinggal tunggu waktu sebelum panggilan Tuhan datang kepada dirinya yang dihinggapi tumor. Premis film ini memang semenarik posternya. I was instaneously hooked saat pertama kali melihatnya di timeline twitter. Aku bahkan enggak tahu kalo film ini diadaptasi dari novel. Yang jelas bagiku, ada charm dan misteri vibe mempesona melihat mereka mengelilingi televisi yang layarnya displaying ayah mereka.

“Hallo, I want you to play a game”

“Hello, I want to play a game.”

 

Yea aku memang expecting semacam clue-videos movie, I was intrigued bagaimana mereka akan mengolah cerita. Tapi Sabtu Bersama Bapak bukanlah film penuh teka-teki. Bapak bukanlah Jigsaw yang dapat dengan tepat menebak apa yang bakal dilakukan oleh anak-anaknya dan membuat video yang menjawab semua malasah mereka. Dan justru inilah yang membuat aku suka sama Sabtu Bersama Bapak. Film ini TIDAK PERNAH MENGGUNAKAN GIMMICK REKAMAN VIDEO TERSEBUT SECARA BERLEBIHAN. It was used to show gimana besarnya pengaruh Bapak kepada masing-masing anggota keluarganya, sebagai seorang yang dijadikan panutan. Menonton rangkaian video berisi nasihat itu menumbuhkan strait yang berbeda kepada Satya, Saka, juga ibunya. Setelah kita menyaksikan initial set up, film akan melompat sampai kedua anak tersebut sudah dewasa dan punya kehidupan sendiri, dengan sang Ibu menjadi katalis di tengah. Motif ketiga karakter major ini ditulis kuat sebagai pondasi cerita. Ketiganya akan selalu balik mengingat video Bapak setiap terbentur masalah as their life goes on. It is really personal karena film ini adalah tentang mereka yang berusaha untuk memenuhi ‘janji’ kepada Bapak yang sangat mereka hormati.

 

Kita semua pasti punya tokoh idola. Orang yang dijadikan panutan. Orang yang ingin kita tiru. Sosok yang kalo kita ketemu masalah, maka lantas kita bertanya kepada diri sendiri “apa yang bakal dilakukan olehnya?” Dan untuk kita sebagai anak yang disebarkan dalam lingkungan keluarga, Ayah adalah figur berpengaruh tersebut. Anak-anak butuh ayah untuk dijadikan pedoman. Film ini menceritakan betapa kuat hubungan yang bisa terjalin antara ayah dengan keluarganya.

I might not always meet eyes-to-eyes with my father tapi ada satu kalimat beliau yang benar-benar telak menyadarkanku, “Kamu itu bukannya enggak tau. Kamu itu enggak mau tau.” Satya dan Saka juga selalu terngiang-ngiang pesan bapak mereka. Kita bisa melihat gimana mereka berusaha keras live up to their father’s words. Gimana besarnya kata-kata tersebut mempengaruhi mereka sebagai human being, sampai ke pada titik kita berharap mereka mau memikirkannya dahulu. Tidak serta merta blindly ngikutin wejangan tersebut. Sabtu Bersama Bapak adalah film yang layak ditonton bersama keluarga, mengajarkan banyak hal. Tidak terbatas bagaimana menjadi seorang anak yang baik. Menjadi ayah yang baik juga.

 

Bukan hanya drama yang HEARTFELT DAN HIGHLY RELATABLE, Sabtu Bersama Bapak JUGA TAMPIL MENGHIBUR DENGAN SAJIAN HUMOR KONYOL. Plot si Cakra alias Saka ditulis dengan sangat kocak mengimbangi kisah keluarga abangnya, Satya, yang struggle dengan dunia kerja di negara lain. Deva Mahenra did a great job meranin tokoh grogian yang berusaha tampil keren nan asik. Aku beberapa kali tergelak menyaksikan usahanya untuk ngobrol dengan cewek. Ataupun saat dia yang seor angdirektur di-bully oleh bawahan gara-gara tinggal satu-satunya makhluk di kantor yang masih jomblo. Jennifer Arnelita provides comical antics, banteringnya dengan Saka mengenai masalah mencari jodoh di kantor tersebut could make a better My Stupid Boss film.

Secara keseluruhan, para pemain menyuguhkan kemampuan terbaik mereka. Abimana Aryasatya tidak ada masalah sebagai Bapak, kita bisa rasain konflik internal yang bikin dia resah, yang mendorongnya untuk merekam pesan-pesan tersebut. In some sense, aku juga keingetan Sephiroth menyaksikan Bapak dalam film ini

“I will never be just a memory.”

“I will never be just a memory.”

Ira Wibowo menyebrang waktu dengan aktingnya yang konsisten bagus. Ibu ini bisa beradu peran dengan siapa saja. Arifin Putra dan Acha Septriasa also have that spark. The only let down is tidak banyak tantangan, tidak ada yang baru pada peran-peran mereka. Si Ayu-nya Sheila Dara Aisha was merely passed a cardboard FTV character.

Dan berhubung kita bicara tentang pemain, Sabtu Bersama Bapak paling menderita di divisi aktor anak-anak. Yang jadi Rian malah terdengar kayak robot. Kenyataan yang kemudian diperparah dengan film yang memperlakukan peran-peran cilik ini sebagai makhluk yang bodoh. Mereka ada cuma biar bisa jadi ada masalah. Biar ada yang diculik, biar ada yang disedihin kalo ortu pisah.  Ayo dong, anak-anak seumuran mereka tidak sebego itu, film ini harusnya lebih respek dengan paling enggak nunjukin kalo anak-anak juga bisa berpikir manusiawi.

 

Sesungguhnya aku gak yakin-yakin amat memperlakukan film ini. Karena sometimes kontras antara bagian lucu dan seriusnya enggak terlalu mulus. Dialog-dialog yang penuh makna, adegan yang intens, jadi dengan gampang sirna oleh lelucon yang konyol. Seolah film ini sendiri juga enggak yakin dia mau tampil gimana. Menjelang babak akhir kita juga disuguhin sebuah adegan trippy-surealis-kayak-mimpi yang terjadi di dalam hati Satya di mana dia berkonfrontasi dengan bapaknya. Scene yang menyentuh tapi tidak benar-benar bekerja dengan baik buatku.

Aku suka penulisan karakter-karakter mayor dalam film ini, but the construction; not so much. Apalagi saat resolusi cerita si Saka. Dimaksudkan sebagai usaha untuk tampil sweet dan lucu, tapi percalayah, kebetulan kayak gitu menjatuhkan nilai sebuah cerita. It was too convenient,  juga enggak memberikan pelajaran apa-apa untuk karakter-karakter yang terlibat. Buuttt aku suka gimana mereka memainkan alasan sebenarnya kenapa Saka suka sama Ayu. Strukturnya lumayan rapih, ketiga plot berjalan seiring, namun menggunakan jatuh-sakit sebagai plot poin – dua kali!—adalah keputusan yang aneh. Gaya editing gambar pun sama anehnya. Aku gak ngerti istilahnya, tapi film ini tampaknya bangga sekali menampilkan gambar dengan distorsi cahaya matahari buatan di berbagai sudut frame. Hampir semua shot penampakannya seperti demikian. Annoying sih enggak, cuma film ini jadi terasa sangat artificial. Membuatnya less-believable. Dibuat-dibuat.

Ada pertanyaan yang timbul di benakku menonton ini; gimana sih cara dapet perijinan lokasi syuting di negara lain? I feel like film ini syuting di jalan gitu aja karena saat adegan-adegan di jalanan Paris, kita kerap melihat bule-bule yang lewat itu ada yang memandang straight to camera. Ada juga yang memandang para pemain dengan tatapan ingin tahu. Mungkin ini cela yang amat sangat sedikit tapi noticeable dan  mengganggu, loh. Background yang sadar kamera begitu merusak storytelling in a same way kayak kita udah senyum manis taunya ada kulit cabe nempel di gigi. Kalo memang susah dan kekurangan biaya produksi, kenapa harus maksain ke luar toh latar tempat tersebut memiliki peran yang tidak terlalu signifikan untuk kelangsungan narasi.

 

 

Bagian terbaik adalah ketika film ini fokus kepada satu, menjadi komedi atau drama sentimentil saja. Komedinya sangat bagus sementara porsi drama bisa menjadi sangat emosional. Sayangnya film ini berusaha menjadi banyak hal, yang membuatnya menjadi tidak bekerja dengan benar-benar baik. Film ini punya momen-momen unggul, kata-katanya layak renung, konsep dasar ceritanya juga unik. Sentuhan dan perlakuan terhadap konstruksi adegan yang too much lah yang membuat film ini terasa tidak maksimal. Still, ini adalah pilihan yang bagus jika kalian mau ngabisin Sabtu bersama keluarga yang berharga.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for SABTU BERSAMA BAPAK.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements