Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“Ask not what your country can do for you. Ask what you can do for your country.”

 

RudyHabibie-Poster

 

Sehabis nonton Habibie & Ainun tiga tahun yang lalu, I was pleasantly surprise. Film itu melebihi perkiraanku regarding masalah penceritaannya. They handled the romance well. Drama yang berhasil menjaga kualitas film itu sendiri dan juga nama besar Pak Habibie. Aku sampe ngasih rating tinggi loh, ini nih reviewnya. Kalo ada orang yang lebih gede dari negara, maka Habibie pastilah termasuk ke dalam golongan orang tersebut. Dengan kejeniusan dan prestasi dan kharisma yang beliau miliki, wajar dong kalo kita penasaran seperti apa sih masa muda mantan presiden ini.

Film Rudy Habibie, walau dikasih embel-embel Habibie & Ainun 2, sebenarnya hadir sebagai prekuel dari apa yang sepertinya direncanakan sebagai trilogi kehidupan Habibie. Film kali ini mengambil kisah seputar masa kuliah di Jerman. Kita akan lihat darimana beliau berasal, latar belakang desire-nya, apa yang mendasari pribadinya yang berbeda dengan banyak orang. Film ini mengupas tentang kehidupan Habibie muda -masih dipanggil dengan nama depan, Rudy- yang ingin mendirikan industri dirgantara di nusantara serta masalah-masalah pergaulan, percintaan, dan politis yang ia hadapi dalam mewujudkan keinginannya tersebut.

Production value Rudy Habibie was a top-notch. Bahkan penampakan adegan pembuka yang meledak-ledak cukup bisa dipercaya. Senjata utama film ini – yang aku yakin jadi alasan lahirnya sekuel-sekuel—adalah akting dari Reza Rahadian. Dalam film ini dia membuktikan penampilan yang konsisten. REZA UDAH KAYAK JOHNNY DEPP VERSI INDONESIA. Dia mampu memerankan banyak variasi karakter, dengan range emosi dan dalam genre yang beragam pula. Sosok Habibie yang di-portray olehnya menguarkan semangat yang bagai pinang dibelah dua dengan yang asli. Sebagai tokoh utama, Habibie yang diperankan Reza adalah ‘hero’ yang hebat. Compelling sekali. Dia harus membuat banyak pilihan, dia punya attitude sendiri. Tak ketinggalan juga pesona, Habibie tidak serta merta manusia yang mulia kayak dewa. Dia punya ‘bengkok-bengkok’ yang membuatnya menjadi tokoh yang menarik karena tak jarang mengundang tawa.

“kantuik balapuik!”

“kantuik balapuik!”

 

Film ini terasa lebih berwarna ketimbang Habibie & Ainun. Punya karakter-karakter pendukung yang lebih semarak, interaksi antara mereka sebenarnya cukup menyenangkan. Sayangnya sebagian besar masih terasa sebagai plot-device saja. Buktinya, ada karakter yang bolak-balik pindah kubu tapi tetap tidak terasa ngaruhnya apa. Chelsea Islan, yang kebagian peran jadi bule Polandia pecinta Indonesia, nunjukin kalo dia juga sanggup tackle peran yang gimana aja. Enggak salah memang The Palace of Wisdom menobatkan Chelsea jadi Unyu op the Year 2015 lalu hihihi (click here to see the complete awards). Ada satu lagi penampilan yang mencuri perhatianku, yaitu Verdi Solaiman yang jadi Romo Mangun. Singkat tapi adegan percakapannya dengan Rudy di gereja adalah salah satu momen terkuat di dalam film ini. Kita juga liat ada tokoh Presiden Soekarno dan Ainun muda, yang sama-sama for some reason enggak diliatin wajahnya. Aku jadi teringat Winter’s War kemaren yang cuma nunjukin sekilas punggung Putri Salju lantaran Kristen Stewart cukup waras untuk menolak tampil dalam film berantakan itu.

Aku suka gimana film ini menuliskan bagaimana mulanya Rudy bisa tertarik kepada pesawat. Ada konflik internal yang coba digali di sana, mengingat desa semasa kecilnya dihujani bom serangan udara. Film ini kayak gabungan elemen dari dua anime Studio Ghibli, Grave of the Fireflies (1988) dan The Wind Rises (2013). You know, sekuens pengeboman terus kehidupan pemuda dengan cita-cita bertema pesawat. Dan sesungguhnya itu enggak jelek. Rudy Habibie punya materi yang cukup untuk menjelma menjadi sebuah tontonan keluarga yang seedukatif, sama menyenangkan dan menarik. Namun Rudy Habibie ternyata FILM YANG AMBISIUS, dia merangkum banyak aspek cerita yang memang punya appeal buat penikmat film tanah air. Ada romansa, ada gencet-gencetan senior, dan tak ketinggalan masalah agama.

Menggunakan dan mengeksplorasi agama sebagai sebuah drama, Hanung Bramantyo -lah jagonya.

 

Dengan durasi panjang dan aspek cerita yang banyak – to my horror – film ini diarahkan untuk menjadi DRAMATIS TO THE MAX. Adegan sedih, bahkan sampai guyonan dan bagian-bagian yang motivational pun acapkali jatoh over-the-top. Sebenarnya ada beberapa yang kuat, kayak adegan gantiin bapaknya sebagai imam sholat. Adegan tersebut ikonik, kita belum pernah melihat yang semacam gitu sebelumnya, tapi presentasinya dibuat terlalu soppy. Pakek slow-motion, terus musik sedih genjer-genjer, seolah mengomandoi penonton harus merasakan perasaan yang bagaimana. Lebay. Film ini berusaha amat keras untuk membuat setiap sesuatu yang enggak sedih jadi berkali lipat emosional. Seolah mereka mengira kalo enggak pake musik atau perlakuan yang over, adegannya jadi kurang kuat.

Dan sudah jadi kebiasaan rumah produksi ini untuk memakai lagu soundtrack yang terus diulang-ulang sepanjang film. Adegan flashback-nya juga, adegan yang itu-ituu melulu. Menjengkelkan. Aku jadi penasaran pengen liat gimana sih perlakukan naskah dan wujud naskah sebuah film yang banyak adegan yang repetitif kayak gitu. Apa memang diketik lagi? Atau di-copy paste dari halaman sebelumnya aja? Bacanya bosen dong. Persis kayak musik jaman sekarang yang bisanya bikin lagu cumak dengan nge-loop suara.

Aku sampe enggak yakin lagi ini cerita tentang mata air atau tentang air mata.

Aku sampe enggak yakin lagi ini cerita tentang mata air atau tentang air mata.

 

Ada banyak rintangan yang menghalangi Rudy. Dia susah uang. Dia diremehin. Tidak ada yang berani membantunya karena dianggap tidak patuh negara. Agendanya kurang populer, semua obstacle datang silih berganti. Tapi the way this movie handles them, it is RATHER EPISODIC. Konflik-konflik terasa instan, baik kedatangan maupun penuntasan. Contoh gedenya adalah momen kenalan Rudy dengan Ilona, very abrupt. Makanya meski momen pisahnya dirancang tearjerker banget, kita tetap kurang sedih, plus fakta bahwa kita tahu Rudy akan berakhir dengan siapa.

Meminjam istilah filmnya, diliat-liat Rudy Habibie punya konstruksi ‘fakta1-masalah1-solusi1’ terus disambung dengan ‘fakta2-masalah2-solusi2’ dan yang ketiga, keempat, seterusnya. Enggak terasa begitu koheren dengan bigger picture yang berusaha diceritakan. KERJA TERBAIK FILM INI ADALAH SAAT MENGEKSPLOR PERSETERUAN POLITIS yang dihadapi Rudy sebagai ketua Perhimpunan Pelajar. Butuh waktu lama bagi kita untuk mengerti fokus cerita ini adalah tentang Rudy Habibie dan kecintaannya kepada tanah air. Kita bisa lihat terkadang Rudy tidak selalu sejalan dengan keputusan Pemerintah. Semua pilihan yang ia hadapi; entah itu soal ikut Ilona atau enggak, ataupun datang ke Praha atau enggak, tetep bikin seminar atau enggak, atau juga simply soal bikin ruang ibadah bareng teman dari negara lain, adalah main plot yang ngajarin di mana dia harus memposisikan diri, menjadi better man as ultimately Rudy dihadapkan dengan tawaran menjadi warga negara Jerman.

Patriostisme adalah membela negara setiap saat, dan mendukung pemerintah saat mereka berhak menerimanya. Kita harus membuka mata dan telinga. Warga negara yang baik bukanlah warga yang patuh kepada pemerintah. Warga negara yang baik adalah warga yang berpikir. Berpikir apa yang bisa dilakukan untuk negara.

 

 

Kisah hidup yang pantas untuk disaksikan siapapun yang punya KTP, bisa menginspirasi banyak orang untuk menjadi citizen yang baik. Untuk jadi pribadi yang bisa terbang tinggi kayak pesawat. Sandungan masalah film adalah konflik-konflik yang diolah dengan kurang koheren menyamarkan poin kuat dari penceritaan filmnya, not necessarily in a good way. Narasi yang terasa kayak berepisode membuat build-ups tidak bekerja dengan terlalu baik. Apa yang sebenarnya adalah suguhan penampilan akting luar biasa menjadi ada cela oleh arahan yang terlalu mendramatisasi segala kejadian. Sometimes it works, most of the times it doesn’t. Film ini mencoba menjadi sesuatu yang melawan kodratnya sebagai drama yang harusnya lebih menyenangkan. Kayaknya yang bikin ragu filmnya bakal galaku kalo enggak dibuat superdramatis. Lebih mudah dinikmati ketimbang film pertamanya, namun juga aku jadi enggak yakin aku bakal tertarik untuk ke bioskop saat film yang ketiga keluar.
The Palace of Wisdom gives 7 gold stars out of 10 for RUDY HABIBIE

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements