Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“The meaning of life is to give life a meaning.”

 

everybodysmall

 

Pada excited gak sih waktu awal-awal mau masuk kuliah? Lumrahnya sih iya, karena masa-masa selepas SMA adalah transisi kita masuk ke dunia dewasa. Yang tadinya kita apa-apa orangtua, sekarang kita bisa ngelakuin hal yang enggak perlu disupervisi oleh papa mama yang cenderung cerewet. Kebebasan, semangat utamanya. Dan tentu saja ada sedikit rasa takut. Kayak mau berenang terus nyentuh permukaan kolam dengan ujung jari dulu, “clup!”, dingin gak ya? Kita enggak tahu apa yang harus diharepin di dunia luar sana. Pencarian jati diri? Hah, udah lewat! Kuliah adalah waktunya kita mantepin arah langkah. Don’t stray from your heart, guys!

 

Senang dan bingung juga dirasain Jake begitu pertama kali dia melangkah masuk ke dalam rumah asramanya yang dihuni oleh enam-belas mahasiswa garismiring atlit baseball. Jake sendiri adalah seorang pitcher, dia masuk kuliah jurusan cabang olahraga ini. Di dalam asrama yang berantakan, dengan anak-anak beranjak gede berpola pikir ngasal (kalo gak mau dibilang jongkok) Jake belajar dunia kuliah, which is pretty much dunia di luar sana. Kompetisi. Entah itu soal cewek, soal main ping-pong, main jentik kepalan tinju, pergi ke party, ataupun di lapangan baseball sana, mereka semua selalu bersaing satu sama lain. Meski begitu toh sebagai saudara satu tim dan seasrama, senior dan junior ini tetep pada kompak. Film ini mengolah hal tersebut dengan logically funny. Aku tergelak-gelak menontonnya. Adegan saat para senior berusaha nunjukin words-of–wisdom mereka sama banyak dan kocaknya dengan momen saat anak baru unjuk gigi.

Tentu saja ada adegan mereka saling menjahili, kayak Jackass’s antics, tapi film ini tidak diniatkan untuk menjadi film hura-hura seperti tontonan anak muda kebanyakan. Para jocks tersebut – meski memang ditulis dengan karakter yang terlalu berwarna sehingga kadang agak over – masih mengena ke kita as if they are real human being. Latar waktunya boleh mengambil tahun 80an, they did great at setting it, kita bisa liat pop culture yang saat itu lagi booming, tapi kita gabakal kesulitan untuk mencari sesuatu yang bisa dimirip-miripin dengan kondisi kita sekarang. In other words, film ini tetap sangat relatable. Bahkan jika bukan pemain baseball ataupun sama sekali gak tertarik sama olahraga tersebut.

Film ini kayak kita, sometimes it’s dumb. Kita selalu cenderung untuk menganggap segala hal sebagai sebuah lomba. Appeal tergede bisa jadi adalah buat penonton pria karena tentang persahabatan cowok, but take notes, girls! Everybody Wants Some!! bener-bener menangkap gimana cowok menyelesaikan masalah mereka; Enggak pake diem-dieman kayak cewek kalo lagi berantem. Dalam dunia cowok kalo ada slek, langsung turning it into a fight. Dan voila! masalahnya beres dan move on mencari sesuatu yang bisa dijadikan bahan pertandingan lagi.

 

Hanya ada sedikit adegan yang nunjukin mereka bermain baseball karena ini memang bukan film olahraga. Majority adegan adalah mereka ke klub, minum-minum, ngasep, ngeceng, party, yah having fun khas anak muda sonolah. Dalam tiga hari saja mereka udah ngunjungin empat pesta loh haha! Yang bikin berbeda adalah pendekatan NEARLY-PHILOSOPICAL yang film ini lakukan. Dengerin deh, di balik bego-bego yang mereka lakukan, dialog yang terucap punya makna yang mengena. Kebanyakan disampaikan lewat si Finnegan yang diperankan hilarious oleh Glen Powell. Para pemain film ini adalah aktor dengan nama yang jarang terdengar. Tapi tahun lalu kita udah ngakak bareng ngeliat penampilan Glen Powell sebagai Chad dalam serial komedi horor Scream Queen, dan di Everybody Wants Some!! dia nunjukin lagi peran banyak-omong sudah jadi keahliannya. Secara keseluruhan, campuran keenambelas pemain sudah berhasil menghidupkan tim baseball unggulan tersebut, mereka bukan hanya gumpalan otot as each of them diberikan momen untuk bersinar.

akui saja, kalian tidak akan bisa sekeren ini

akui saja, kalian tidak akan bisa sekeren ini

 

Layaknya manusia sehat, berotot berakal dan semacamnya, film ini juga enggak lupa merhatiin hati. Pertemuan Jake dengan Beverly ditulis manis. Semanis senyuman Zoey Deutch. Bagian cinta-cintaan ini akan menghiasi pertengahan kedua cerita. Tapi jangan takut oh jangan kuatir, film ini menanganinya dengan tidak berlebihan. Adegan mereka ngobrol di danau provides both romance and something-smart-to-talk-about.

Bagi yang memilih untuk kerja yang lebih terjamin seperti kantoran, profesi seperti atlit atau performer mungkin terlihat sebagai tindak yang sia-sia, yang enggak terjamin. Begitu juga sebaliknya, kerja kantor dinilai membuang hidup, that are too normal and boring. Tampil bodoh demi menghibur orang banyak, atau risking tubuh setiap kali turun bertanding, sama susahnya dengan kerja jam pagi-pulang sore-gajian akhir bulan. Membandingkan mereka sama sekali pointless karena kita tidak akan pernah bisa melihat apa kegunaan sesuatu bagi orang lain. YANG INGIN DISAMPAIKAN FILM INI ADALAH MANUSIA MEMILIH MENGERJAKAN SUATU HAL KARENA HAL TERSEBUT BISA MEMBUAT MEREKA JADI MEMILIKI ARTI. Film ini, lewat dialog Jake dan Beverly, mengaitkannya dengan MITOLOGI SISYPHUS, yang dihukum dewa Zeus mendorong batu ke atas bukit hanya saja batu itu terus saja menggelinding ke bawah dan Sisyphus mengulang lagi kerjanya dari bawah. Dalam film ini, ada satu tokoh yang merupakan metafora blatant dari Sisyphus, dia ketahuan memalsukan umurnya dan menyamar menjadi mahasiswa. Turns out dia sudah melakukan hal serupa berkali-kali di berbagai universitas. Dia enggak jahat, paling baik di tim malah-everybody else likes him. Cuma kelakukannya itu aja yang aneh, seems like dia begitu ingin menikmati hidup sebagai mahasiswa.

Kadang, kita menemukan kenyamanan melakukan sesuatu yang berulang-ulang. Bukan berarti karena tidak mau berkompetisi. Mungkin rindu. Mungkin juga sudah terbiasa. Atau simply mungkin karena kita ingin menjadi lebih baik dalam melakukan hal tersebut. Dan itulah yang memberikan makna kepada keberadaan kita sebagai manusia.

 

Yang paling aku suka adalah kenyataan film ini dimulai dengan kedatangan Jake ke asrama, tiga hari sebelum masa perkuliahan dimulai. Sepanjang film adalah apa-apa yang terjadi selama tiga hari tersebut. Jake dan teman-temannya begitu sibuk, ada saja yang mereka kerjakan. Selalu ada saja kegiatan, latihan lah, main-main lah. Mereka semua begitu sibuk. Begitu hidup. Cerita film ini berakhir saat akhirnya Jake duduk di dalam kelas pertamanya, dia merasa capek. Dia mengantuk. Dan lantas tertidur dengan sukses di kelas!!! That was so…. apa tuh namanya, kocak? Miris? Bener-bener ngingetin aku sama kata-kata jaman dulu “sekolah adalah tempat beristirahat di antara liburan” or something like that. Kita sebenarnya bisa belajar lebih banyak di luar sana, anak-anak muda jadi lebih hidup di balik tembok sekolah. Atau mungkin juga film ini mengisyaratkan kalo sekolah adalah tempat yang begitu nyaman, sangat memberi arti bagi keberadaan pemuda, a safe haven so peaceful and calming sehingga kita tertidur.

5 menit = 5 watt

5 menit = 5 watt

 

Melihat dari segi struktur, di sinilah kita akan menemukan kelemahan. Everybody Wants Some!! sangat minim dalam urusan plot. Tidak banyak perkembangan yang ditempuh oleh tokoh utama kita. Blake Jenner was fairly-well meranin Jake, tapi peran yang ia mainkan memang tidak banyak tantangan. Pembuka film tidak berhasil menceritakan apa dramatical-need yang ingin dicapai oleh Jake. Film ini kayak enggak niat ngasih tau kita apa-apa mengenai tentang apa sih ini ceritanya. Hampir enggak ada loh, stimulus yang bikin kita niat buat lanjutin sampe akhir. Namun as it goes on, menikmati film ini akan terasa semakin asyik. Kita juga dipastikan tidak beranjak bahkan saat kredit penutup bergulir lantaran disuguhkan klip musik yang berisikan setiap tokoh ngerap nyeritain karakter mereka masing-masing.

 

 

Arahannya membuat semua terasa natural. Selalu ada sesuatu yang terjadi di background setiap shotnya. Sangat lucu dengan komedi yang enggak lebay, romantizing yang tepat sasaran. Aku suka pendekatan filosofis yang dipakai dalam penceritaan. Percakapan-percakapan yang sekilas tampak bego itu pada akhirnya pantas untuk kita simak. Ke sana lah perhatian kita akan tertambat. Ini adalah tentang hidup yang akan berarti jika kita yang memberikan arti. Kompetisi yang ada sebenarnya adalah antara kita dengan diri sendiri. Film ini juga mencoba menjadi jawaban dari tuduhan stereotype yang kerap muncul. Such a good period piece, kita akan dibawa melintas berbagai culture yang ngetren di 80an, kayak disco, country, ataupun punk rock. Perlu diingat film anak muda yang satu ini mungkin tidak seheboh dan sehura-hura yang kalian mau.
The Palace of Wisdom gives 8.5 gold stars out of 10 for EVERYBODY WANTS SOME!!

 

 
That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 
We? We be the judge.

Advertisements