Tags

, , , , , , , , , , , ,

“Science is simply common sense at it best.”

 

Ghostbusters

 

Jangan heran kenapa semakin banyak film reboot atau remake yang bermunculan. Kegemaran manusia untuk bernostalgia ria membuat hal ini tidak terhindari. Bakal selalu ada film yang dibuat ulang, entah sampai berapa kali. Bosan? Iya di mulut, tidak gitugitu amat di hati. Benci-benci-benci tapi rindu jua gitu deh. Perlu? Well, inilah pertanyaan trickynya. Dari segi pembuat, reboot is a cash grab. Enggak pake alasan, akui aja, semua udah maklum kok. But I think semua penikmat film kudu berhenti sebentar dan menyelami pertanyaan ini lebih dalam. Mengapa kita merasa perlu untuk menonton produk reboot-an, yang notabene akan menegasi kehadiran originalnya? Jawaban terhadap itu seharusnya adalah karena kita mengharapkan sebuah film yang lebih baik. Yang mana membawa kita ke pertanyaan penting (lebih tepatnya dipenting-pentingin) berikutnya; APAKAH GHOSTBUSTERS BARU INI PERLU BANGET HADIR DI MUKA BUMI?

Pertama, buatku, berjalan ke dalam studio nonton Ghostbusters versi baru rasanya aman-aman saja. Karena film pertamanya bukan termasuk bagian dari nostalgia masa kecilku. Aku menontonnya waktu udah kuliah. Film yang kocak, dengan tepat menggabungkan komedi dengan horor. Sebagai sebuah reboot, Ghosbusters garapan Paul Feig tentu saja berada di dunia yang baru. Tidak ada informasi mengenai kejadian film pertama di dalamnya. Kota New York yang sama sekali belum pernah melihat hantu, dan seujug menjadi gempar saat beberapa ‘Class-4 entity’ menampakkan wujud mereka. Terlihat cartoony, memang, tapi cukup menyeramkan. Actionnya enggak jelek, it was fairly fun. Kalo ada yang peningkatan yang berhasil dicapai film ini, maka di sinilah letaknya. Visual dan sound designnya asyik punya. Adegan final action bener-bener bersuara kalo ini adalah film blockbuster musim panas.

Tokoh-tokoh kita pun adalah orang-orang yang baru. Kali ini mereka semua adalah wanita. See, this is actually got a lot of hate di kalangan internet. Tapi bagiku penggunaan tokoh yang berkebalikan dari originalnya sama sekali tidak mengganggu. Tokoh utama kali ini adalah Erin, ilmuwan yang kembali penasaran menangkap hantu setelah her long-time-no-talk friend berhasil mengaplikasikan ilmu fisika ke dalam various gadgets, dan bersama dua cewek lain mereka actually berhasil menangkap sesosok hantu. Keempatnya adalah aktris komedi yang kocak, Kristen Wiig dan Melissa McCarthy sudah menjalin chemistry golden mereka sejak Bridesmaids (2011). Hanya saja script tidak berhasil mengeluarkan kelucuan mereka berempat. Naskah terlalu sibuk mikirin cara untuk mengulang film pertama. Dengan masing-masing terlihat berusaha keras untuk membacakan lelucon yang ditulis. Yang enggak lucu-lucu amat. Film ini terlihat lebih serius dan niat dalam memasukkan cameo enggak perlu — Bill Murray dapat peran sebagai profesor skeptis – yang sebenarnya disrespectful buat original.

who you gonna call now!?

who you gonna call now!?

 

Konsep Ghostbusters sebenarnya sangat keren. Mereka punya ongoing theme tentang pertempuran antara supernatural melawan ilmu pengetahuan. Like, Erin merasa malu kalo sampe kolega-koleganya di kampus mengetahui dia pernah menulis buku tentang hantu. Akhirnya ilmuwan yang semestinya menjadi golongan yang paling enggak percaya keberadaan hantu malah jadi penyelamat yang menghajar bokong makhluk-makhluk gaib tersebut. Ada juga sedikit konflik saat kelegitan mereka sebagai pembasmi hantu tidak boleh bocor ke publik karena bisa bikin keributan. Dunia butuh logika sekaligus keahlian mereka, jadi pengorbanan rasa terimakasih harus mereka tempuh.

Ada banyak cerita mengenai perburuan hantu di dunia. Beberapa dengan bangga menyebutkan mereka asli, tapi kebanyakan memang tinggal tunggu waktu saja sampai ada yang bisa membuktikan kepalsuannya. Dengan ilmu pengetahuan berkembang pesat seperti sekarang, akankah kita melihat the real ghost beserta alat penangkapnya?

 
Namun itu semua hanya dibahas segelintir karena Ghostbusters 2016 ini punya agenda lain. Ada satu battle lagi yang menurut mereka jauh lebih layak untuk digadangkan. ‘Pertempuran’ antara gender. Laki-laki lawan perempuan. Oke, bicarain film ini actually sangat riskan akibat masalah yang mereka coba sulut in the first place. Aku bukan orang yang suka ngekotak-kotakin cewek gak bisa ginilah, itu kerjaannya cowoklah. I believe we all believe cewek dan cowok sama, respek sama gede buat keduanya. But this film, maaaan, it tugged our cape so much, serasa yang noticed apa yang mereka lakukan di sini adalah radical sexist or something.

Kita melihat hampir tidak ada tokoh wanita lain selain mereka berempat. Dan tokoh pria dalam film ini, semuanya, kalo enggak bego, brengsek, atau penakut. Atau enggak, ya ketigatiganya. Contoh gampang lihat aja Kevin, yang diperankan oleh Chris Hemsworth. I give it momen-momen komedi sebagian besar datang darinya. Perannya sebagai resepsionis tim Ghostbusters lebih gede ketimbang resepsionis cewek dalam film original. Tapi karakter si Kevin ini, duh. Lugunya kelewatan. Completely stupid dan clueless. Dia bahkan dapat kerjaan itu hanya karena penampilannya yang bikin Erin ngiler.
Tebak, gimana cara keempat cewek ini mengalahkan bos besar di akhir cerita? Dengan menembak selangkangan hantu pria tersebut. Serius deh, film ini benar-benar portraying male dalam cahaya yang jelek dalam upaya mereka membangun hero cewek yang sepertinya memang lagi ngetren akhir-akhir ini.

Dibandingkan dengan film Ghostbusters 1984, film ini kalah jauh. Both dalam cerita maupun penokohan. Patty yang diperankan oleh Leslie Jones cuma sebatas stereotype kulit hitam yang cuma teriak-teriak, pake bling-bling. Sedangkan karakter aneh-tapi-paling-cool yang dimainkan Kate McKinnon rada naik turun menurutku. Ada banyak elemen cerita yang diolah dengan kendor, kayak kenapa mereka bisa bikin senjata canggih tapi nyewa tempat aja susah. Juga ada faktor kebetulan dalam usaha mereka nyiptain vortex di akhir. Dan banyak, banyak adegan yang direcycle dari film sebelumnya. Yang sekali lagi menyatakan tidak banyak improvement yang dilakukan oleh film ini sebagai sebuah reboot.

 

 

Jadi, kalo satu-satunya peningkatan yang berhasil dicapai film ini adalah masalah visual, yang mana film ini adallah reboot dari 30 tahun yang lalu, di mana saat itu teknologinya terang saja lebih enggak canggih dari sekarang, yang berarti kini visualnya ningkat ya berarti wajar dong, maka sesungguhnya film ini tidak punya prestasi apa-apa.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 stars for GHOSTBUSTERS

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements