Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“The family is one of nature’s masterpieces.”

 

Bangkit-Poster

 

Mendengar kata Jakarta, yang terlintas di pikiran enggak jauh-jauh dari dua hal; macet dan banjir. Sudah banyak program yang dilakukan pemerintah untuk menanggulangi keduanya, dari yang rada unik kayak pembatasan jalan berdasarkan plat genap-ganjil buat ngurangin jumlah kendaraan, sampai langkah legit pembersihan dan pembuatan tanggul-tanggul. Struggle terhadap kedua hal tersebut juga sama enggak-mau-surutnya.

Ketangguhan Jakarta sebagai ibukota berusaha direkam oleh film Bangkit! Menonton ini, kita akan melihat perjuangan orang-orang yang bukan hanya mencoba selamat dari air bah yang mengancam merendam Jakarta, tapi juga perjuangan orang-orang yang ingin mendapatkan kembali cinta dan keluarga mereka.

 

Cerita berpusat di sekitar Addri, anggota Tim SAR, yang tangkas dan tangguh. Dedikasinya terhadap pekerjaan tinggi sekali, nyaingin monas. Di mana ada bencana, di situ Addri akan berada untuk menolong korban-korban. Keluarga Addri, however, merasakan kurang mendapat perhatian. Antara resital musik putrinya dengan kubik air yang merendam basement sebuah mall, pilihannya jelas bagi Addri. Dia tidak bisa begitu saja membiarkan nyawa melayang. Sikap heroik Addri berpengaruh besar bagi Arifin, pegawai BMKG yang brilian namun ceroboh yang ia selamatkan dalam peristiwa naas tersebut. Arifin actually adalah yang pertama menyadari bahwa banjir kali ini bukan banjir biasa. Dan sekarang tergantung kepada dirinya untuk memberitahu pemerintah, sehingga marabahaya itu bisa dengan tepat waktu dicegah. Ultimately, Addri dan Arifin bersama keluarga dan orang tercinta mereka berlarian ke pejuru Jakarta, melewati air bah dan bangunan-bangunan runtuh karena getaran jebolnya tanggul, mempertaruhkan nyawa mereka semua, demi mencari cara menenangkan raung ibukota.

 

Sebagai FILM BENCANA ALAM PERTAMA YANG PERNAH DIBUAT OLEH SINEAS TANAH AIR, kita harus memberikan kredit buat kerja keras Bangkit! Kita bisa lihat a lot of effort yang sudah dilakukan untuk membuat film ini menjadi sesuatu yang epik. Skala besar. Pada beberapa adegan di dalam air, kita bisa ikut merasakan aura klaustrofobik yang kuat. Ada berapa kali juga aku sempat tergelitik, “how did they achieve that shot?” Bangkit! cukup lumayan dalam menjual kejadian bencana yang terjadi. Kita dibuat percaya bahwa Jakarta memang bakal terendam, lagi-lagi karena ke-ignorant manusia. Tahun lalu film San Andreas si The Rock mengguncang box office dengan presentasi disaster yang memukau, hanya saja film itu lemah dalam logika bencananya. Gini-gini aku dulu kuliah di jurusan geologi. Sedikit banyaknya aku tahu patahan San Andreas tidak akan mengakibatkan tsunami atau bahkan membuat jurang menganga seperti yang film itu tampilkan. Bangkit! on the other hand, memainkan letak geografis Indonesia sebagai plot-device, membuat teori badai yang dipengaruhi oleh badai musim dingin Asia dan badai musim panas Australia cukup masuk akal untuk disumpelin ke otak kita.

 

“Nanti kalo udah pisah baru kangen, loh” foreshadowing much heheh

“Nanti kalo udah pisah baru kangen, loh” foreshadowing much heheh

 

Tidak mudah membuat cerita yang compelling. Apalagi membuat cerita sekaligus universe yang benar-benar meyakinkan. Ada dua pondasi yang harus dibangun oleh film ini. Drama dan visual. Bukan Bangkit! namanya kalo mudah menyerah. Film ini mencoba untuk memasukkan elemen cerita, plot-plot drama yang humanis dan menyentuh. Aku suka bagian keluarga Addri jadi balik membenci dan menyalahkan korban-korban yang pernah ditolong oleh kepala keluarga mereka. Aku suka gimana di mata mereka Addri bukanlah pahlawan. Ada juga suplot hubungan Arifin dengan Denada. Dan tentang profesor tua yang jadi kunci resolusi bencana banjir tersebut. Tapi yah, tidak mudah memang. Bangkit! TIDAK BERHASIL membuat any of those elements bekerja dengan baik.

Alih-alih sebuah tontonan yang heartwarming, yang menyentuh jiwa kemanusiaan, yang harusnya dinikmati sambil merasakan gejolak di dada, aku seringkali tertawa menonton film Bangkit! Oh aku terhibur, sungguh, FILM INI LUCU SEKALI DAN ITU SAMA SEKALI BUKAN HAL BAGUS karena film ini adalah cerita serius yang tidak diniatkan untuk komedi. Meski ada beberapa dialog yang diniatkan sebagai pencair suasana, tapi aku malah tertawa dalam adegan-adegan yang tidak dimaksudkan untuk lucu. Seperti saat Addri lompat-lompatan ala Spiderman dari atap-atap mobil itu contohnya. Like, why would he do that? Padahal konteksnya saat itu dia lagi buru-buru nyelametin orang. Atau saat Addri dan Arifin nyetop bapak-ibu yang lagi evakuasi di tengah jalan macet, mengambil motor pasangan tersebut sambil practically bilang “barter dengan mobil gue”. Di mana letak hero-nya membiarkan pasangan tua terperangkap di dalam mobil yang enggak bisa ke mana-mana dengan jalan yang siap runtuh kapan saja.

The way mereka mempresentasikan cerita enggak bekerja buatku. Ada banyak adegan yang kayak gini: sepi, terus tokohnya balik badan, dan byurr kelelep!!
Pun kebanyakan adegan terasa di-cut terlalu cepat. Mereka memotong pas di bagian action yang penting. Kita tidak pernah tahu kenapa dan bagaimana Addri bisa sampai memanjat tali, kapan nyampenya. Kita tidak dikasih liat gimana cara Denada nyelametin Profesor dari rumah sakit terendam (dan possibly airnya nyetrum) itu sendirian. Resolusi cerita juga dijelaskan dengan cepat-cepat, very convenient-like, di mana suddenly semua tokoh jadi begitu yakin terhadap apa yang mereka lakukan. Addri mendapat telepon dari istrinya bahwa, Dwi, anak mereka hilang, kemudian mendadak Addri membungkuk, memungut secarik bungkus coklat, dan was like; yea itu punya Dwi—dia pasti ada di sini! Gitu tuh, penulisannya lucu sekali, kan.

Spiderman, Spidermaan does whatever a spider can.

Spiderman, Spidermaan does whatever a spider can.

 

Aku kagum sama keberanian film ini memasukkan variasi adegan aksi. Pertama aja kita dikasih lihat gimana Addri nyelametin orang dari bis yang tergelincir ke jurang. Terus ada adegan mobil ngebut di jalan. Lalu ada adegan keseret air di dalam terowongan. Punya potensi untuk menjadi adegan-adegan yang keren. Tapi, sekali lagi, semuanya terasa terlalu cepat, tidak banyak emosi yang dibangun, yang dimasukkan ke dalam adegan-adegan tersebut. Ini juga berdampak kepada karakter-karakternya. Mereka enggak benar-benar punya pengembangan. Dan mereka semua, kecuali Addri dan Denada (Acha Septriasa being true to her standard), adalah TOKOH-TOKOH YANG ANNOYING. Serius, aku belum pernah nonton film yang aku gak peduli sama hampir semua tokohnya padahal mereka lagi dalam keadaan hidup-mati hanya karena mereka totally menyebalkan. Bahkan film Green Room (2016) yang tokoh-tokohnya sengaja dibuat bego, aku masih ada rasa kasihan sedikit dan berdoa mereka banyak yang selamat.

Tokoh Dwi, anak cowok Addri, ditulis cengeng dan sama sekali tidak ditampakkan tertarik kepada status ayahnya yang pahlawan, or even anak ini tidak ditampakkan sebagai anak manusia. Dia sebatas ada karena naskah menyuruh ada untuk begini dan begitu. Arifin, look I don’t get it dari mana dia dapat teknologi kayak punya Iron Man, dia bertindak seolah dia pahlawan but the only things he did sebenarnya adalah get hurt, a lot. Aku juga enggak klop sama delivery Deva Mahenra memainkan tokoh Arifin ini. Tidak ada intensitas dalam pengucapan dialog-dialog Arifin, dia kayak ngeluh padahal sebenarnya sedang mengucapkan kata-kata yang tegas. Yeah kalo dipikir-pikir lagi, memang departemen akting Bangkit! juga enggak work-work amat. Vino G. Bastian aja sebagian besar waktu terlihat dan terdengar kayak anak kecil yang jadi power ranger waktu main perang-perangan. Tegas dan tangguhnya kayak ditangguh-tangguhin.

Dan the worst of all, SOSOK PALING NYEBELIN dalam film ini adalah…… *drum roll please*…… Indri, sang istri Addri, yang diperankan oleh Putri Ayudya. Beneran deh, apa sih yang dilakukan oleh tokoh ibu ini? Hmm.. mari kita pikirkan. Dia menyalahkan Addri atas kejadian yang menimpa putri mereka, while actually dia sendirilah yang melepaskan pegangan. Anak mereka hilang di bawah pengawasan dirinya. Dan itu terjadi berkali-kali. Indri nyalahin Addri yang enggak pernah ada, padahal Indri sendiri, yang selalu ada bersama mereka, namun justru dialah yang gagal menjaga mereka. Indri ngelamun, Dwi keluar dari tenda. Indri meleng, Dwi keluar dari mobil. What? Dia ngarepin Addri selalu ada untuk membereskan apa-apa yang failed ia lakukan? I was yelling “it was your fault!” at her berkali-kali sampe cowok-cewek yang duduk di barisan belakangku ketawa ngikik. That fact dan dalam sebagian besar film Indri ini kerjaannya cuma nangis dan nyalahin orang — helo, bahkan bukan Indri yang nemuin anaknya di akhir cerita, ckck ibu macam apa — membuat dirinya menjadi tokoh film paling annoying sejauh tahun 2016 ini.

 

 

Yang dituntut bukanlah efek CGI yang bening, bukan ledakan dan runtuhan yang gede. Sebuah disaster movie haruslah bisa membangun teori dan kejadian bencana yang melanda menjadi sebuah peristiwa yang believable. It’s more about build-up dan antisipasi, ketimbang dramatisasi.

It also doesn’t look too good, though. Buatku enggak masalah, ini bukan nuntut harus punya teknologi terbaik. Tapi lakukan yang terbaik dari apa yang dipunya. Yang kupermasalahkan adalah feel-nya. Lagi-lagi soal intensitas. Oke kita percaya kalo Jakarta bakal terendam, but what about them people? Tokoh-tokoh tersebut, tidak sekalipun kita percaya mereka berada di dalam bahaya. Ketika beneran ada yang mati, kita juga enggak punya feel apa-apa. Adegan yang cepat-cepat, segala action itu, there’s no weight to them. Around the end, ada adegan yang mungkin tribute untuk Titanic (1997), you know, dengan peluit dan kedinginan. Namun tidak seperti dalam Titanic, kita enggak ngerasain ngerinya si tokoh, kita enggak khawatir dia akan berakhir tragis. Hanya ada satu momen gede yang kerasa amat nyata dari segi feel, yaitu pas mereka naik heli ke pelabuhan. Itu juga karena adegannya disyut beneran enggak pake efek komputer. Aku seneng aja dan lega rasanya akhirnya melihat tiupan angin.

 

 

 

Dipuji karena usahanya, namun dalam presentasi failed all the way through. Elemen drama yang bagus namun tidak bekerja dengan baik. It felt rushed, didn’t look too good either. Enggak ada yang heroik yang bisa dilihat di dalam film ini, hanya aksi penyelamatan yang rusuh tanpa pikir panjang. Pondasi gambar dan cerita, dua-duanya runtuh. Kena banjir, sepertinya. Namun begitu film bencana ini bukanlah bencana. Ini tetaplah sebuah tayangan yang penting. Ada banyak ruang buat pengembangan yang bisa diambil oleh pembuat-pembuat film yang ingin menapaki langkah berani film ini. It opens a whole new door dalam industri perfilman Indonesia. Ambil pelajaran dari film ini, asal jangan menyerah seperti seorang wanita di dalam studioku yang bangkit berdiri di tengah babak kedua dan tidak pernah kembali lagi.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 stars for BANGKIT!

 
That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements