Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“Been spending most their lives, living in the Gangsta’s Paradise”

 

49c3b3838dd22ab31e1a7a12cda18732

 

Sekelompok penjahat yang sudah lama dinanti-nantikan pembaca komik dan penonton film di seluruh dunia akhirnya tiba di bioskop. Kalo kamu sampe heran, bilang, “orang jahat kok ditungguin?” maka pastilah kamu ketinggalan zaman banget. Kuno.

Jaman sekarang justru nge-cheer untuk bad guy lah yang dipertimbangkan sebagai sesuatu yang keren. Orang-orang lebih simpati sama maling yang insaf ketimbang alim seumur hidup. Lagipula, storywise, akan selalu menarik melihat bagaimana cara orang-orang bobrok itu memandang dunia. Akan selalu menjadi sebuah daya tarik melihat cara berpikir orang-orang yang sering dikatain, “dasar edan!”

 

 

Yang ditawarkan Suicide Squad berbeda dari Deadpool yang keluar awal tahun ini. Meski kedua film tersebut sama-sama memanggil protagonis kepada antagonis. Suicide Squad mengambil rute yang lebih sinistral. Lebih kelam.

Khawatir akan munculnya Superman-Superman lain, Amanda Waller seorang agen rahasia pemerintah melakukan langkah nekat. Dia membentuk pasukan khusus yang akan langsung diturunkan ke lapangan untuk melaksanakan misi-misi berbahaya. Pasukan yang ia himpun dari napi-napi kelas kakap dengan pengurangan hukuman sebagai imbalan. Padahal sih mereka bakal dijadikan kambing hitam. As soon as tim itu dibentuk, kekacauan juga terbentuk. Ulah Waller, tentu saja. Sebagai jaminan untuk dirinya sendiri, Waller berniat mengontrol a-god-like entity, yang disebut Enchantress. Inilah yang terjadi ketika arogansi manusia ingin mengatur apa yang di luar kuasanya. The all-powerful Enchantress mengambil langkah sendiri, membebaskan saudaranya, dan bersama-sama mereka membuat tiang cahaya dengan pusaran di tengah kota. And here it is, misi ‘bunuh diri’ pertama Suicide Squad, karena mereka enggak punya pilihan lain. Merekalah yang harus mengalahkan Enchantress dan abangnya, yang apparently mereka berdua menonton film Ghostbusters baru-baru ini -,-

 

Dengan source material keren dan tokoh-tokoh menarik sebanyak ini, kita bisa mengharapkan banyak adegan-adegan yang asik. Dan WE DID GET SOME FUN OUT OF THIS MOVIE. Punya humor dan para badass-badass itu actually tampak having a great time. Mereka berhasil di-flesh out dengan baik. Beberapa di antaranya malah mendapat sentuhan humanity yang kuat. Kita tidak bisa untuk tidak ‘merasa’ kepada Deadshot yang diperankan oleh Will Smith. Smart remarks yang ia ucapkan kocak. Di balik sel penjara, Deadshot punya anak cewek yang tau ayahnya membunuh orang namun dia tetap cinta kepada sang ayah. Kita belajar tentang masa lalu Deadshot yang emosional, yang masih ada sangkut pautnya sama si kelelawar kota Gotham, Batman.

Harley Quinn is a total cutie, everybody loves crazy chick! Aku suka the very first scene nya diiringi sama lagu You Don’t Own Me dari Lesley Gore yang juga jadi theme Sister Mary Eunice di serial AHS: Asylum (2012). Margot Robbie paaassss sekali main sebagai Harley. She did a great job dalam menangkap kegilaan, edginess, keceplas-ceplosan, sekaligus menghantarkan sisi manusiawi karakter ini. She exactly seperti Harley Quinn yang selama ini kita tonton di kartun.

Pengenalan tokoh-tokoh tersebut dilakukan pa…..
la-et-suicide-squad-trailer-video
hey, kenapa kalian pada memandangku seperti itu? Memangnya ada yang aku lupakan?

..

Oooohhh, aku ngerti. Kalian pengen tahu tentang si Joker, kan?
Nah, seperti halnya Ben Affleck yang disangsikan cocok memerankan Batman, Jared Leto juga banyak mendapat komentar sepele soal perannya sebagai Joker dalam film ini. Beberapa temenku bahkan enggak tahu kalo Jared Leto yang vokalis 30 Seconds to Mars adalah aktor yang mumpuni. Aku sendiri suka penampilannya dalam -salah satu film favoritku sepanjang masa- Requiem for a Dream (2000) di mana dia sukses berat meranin cowok yang kecanduan obat.
However, sebagai The Joker …… *tarik napas dalam-dalam*….. Jared Leto is legit sebagai Joker!
Seriously. Aku girang. His portrayal punya keunikan tersendiri. Kayak gabungan dari Joker versi Heath Ledger dengan versi Jack Nicholson, dan Jared Leto mengambil bagian positif dari mereka. Sekali lihat kita tahu kita sebaiknya enggak bermain-main dengan makhluk yang satu ini. Tricky dan terasa sangat berbahaya. Satu-satunya kekecewaan adalah porsi tampil Joker yang sedikit. Dibilang cameo segan, dibilang tokoh major juga enggak mau. Ada sih ikonik shotnya, tapi Joker dalam film ini tidak diberikan kesempatan untuk punya momen sepowerful adegan interogasi di penjara sama Batman dalam The Dark Knight (2008). Padahal Joker, along with Harley, adalah dua dari sedikit sekali tokoh film ini yang benar-benar embrace sisi jahat mereka.

We’ll get back to that topic soon sebab aku mau lanjutin dulu paragraf yang terpotong di atas. Pengenalan tokoh-tokoh Suicide Squad dilakukan pada tiga puluh menit pertama. Yang membuatku bingung; struktur film ini gimana sih? Terlalu banyak pemakaian flashback yang film ini lakukan demi ngepush backstory masing-masing tokoh. People are telling us siapa dan apa saja kejahatan karakter-karakter tersebut alih alih membiarkan kita melihatnya sendiri. Babak pertama dihabiskan dengan kita mendengar cerita masa lalu – yang enggak saling koheren – silih berganti. Sementara babak kedua dan terakhir terdiri dari sekuens-sekuens aksi di kota yang terasa disulam-tambal. Tidak ada feeling of in-the-moment, tidak ada perasaan terkurung di kota besar penuh manusia monster, membuat film ini jadi suguhan aksi-aksi generic.

Film ini sendiri dari jauh hari sudah bikin pengumuman resmi bahwa mereka melakukan reshot. Banyak adegan yang disyut ulang. Mungkin kalian menyadarinya juga, EDITING FILM INI ENGGAK RAPI. Kerasa banyak yang dicut dan dimasukkan dengan adegan yang lain. Harley berantem di lift itu contohnya. Sekuen mereka regroup ngobrol di bar juga terlihat ada banyak tambahan. Penulisannya juga sama berantakannya. Setelah pertempuran terakhir ada satu tokoh yang tadinya udah helpless banget, tubuhnya ditembus-tembus tentakel yang menyerap pengetahuannya, eh beberapa menit kemudian dia malah nongol segar bugar.

bad times don’t last, guys. But bad guys do.

Bad times don’t last, guys. But bad guys do.

 

 

Pada satu percakapan dibilang bahwa setiap kali Harley Quinn membuka mulut, maka pasti akan ada perkelahian. It’s not a problem since Harley adalah karakter favorit dalam film ini. Ungkapan yang lebih parah yang terpikirkan olehku menyangkut penceritaan film ini adalah setiap kali si Flag membuka mulut, maka yang keluar dari mulutnya adalah eksposisi. “Selama kita bertarung, dunia semakin hancur!” dan kamera memperlihatkan puing-puing kota yang meledak. Enchantress berjalan limbung dengan semburat hijau pada dadanya, Flag teriak “Kita harus hancurkan hatinya!” Selalu dia buka mulut untuk menjelaskan, seolah penulis enggak yakin kita penonton bisa mengerti hanya dengan melihat saja.

Eksposisi tak pernah coba untuk dihindari karena film ini tidak benar-benar punya plot untuk diceritakan. Harley’s entire act adalah tentang dia yang ingin kembali bersama Joker, disertai flashback-flashback rather disturbing yang mengundang kesan bahwa dirinya adalah korban abusive relationship Joker. Film ini terlihat tidak punya cara untuk menghandle Harley dan Joker dengan benar, karena karakter cewek yang seharusnya kuat ini (she did swing baseball bat!) malah terlihat lemah, menyerahkan kewarasannya demi cinta.

 

 

Suicide Squad adalah kumpulan penjahat. Namun film ini terlihat begitu keras untuk meyakinkan kita bahwa tokoh-tokoh mereka adalah orang-orang yang berkecimpung di dunia hitam. Setengah bagian pertama kita akan banyak mendengar tentang betapa jahat dan berbahayanya tokoh-tokoh tersebut. Sekali lagi, eksposisi; kita terus diberitahu bahwa mereka jahat. Terus, pada separuh bagian terakhir film, kita lantas dipaksa menangis saat mereka meng-reveal hati masing-masing tokoh. Well, dark bukan berarti deep. Attempts film ini enggak bekerja dengan baik karena kita tidak percaya atau katakanlah, kita tidak pernah ‘melihat’ bahwa orang-orang itu jahat. Sedari awal kita tahu mereka punya hati. Deathshot mengkhawatirkan anaknya. Killer Croc disebutkan dia berlaku seperti monster karena diperlakukan sebagai monster. El Diablo terlihat kayak mutant muda yang butuh dibimbing oleh Professor X. Seperti yang aku bilang tadi, hanya Joker dan Harley, dan Captain Boomerang, yang terlihat ‘bangga’ atas kejahatan mereka. Dan untuk kasus Joker, sangat disayangkan dia tampil sedikit karena dia pure gila dan jahat, we love to hate him.

 

Menonton film ini tidak seratus persen terasa seperti kita mendukung orang-orang jahat.
Perbandingan mudahnya adalah dengan film Despicable Me (2010).

Gru dalam film itu dimulai dengan sangat jahat. Kita percaya dia jahat, enggak ada baik-baiknya. Dia mecahin balon anak-anak, dia ngusir anak-anak, dia berniat mencuri bulan. Namun lama-kelamaan, setelah bertemu Margo dkk, Gru develops this feeling; rasa sayang. Dan di akhir film Gru menjadi penjahat yang punya sisi baik, sayang kepada anak-anak. Tokoh-tokoh dalam Suicide Squad, dari awal sudah dikatakan mereka punya sisi humanis, dan di akhir sisi humanis itu akhirnya disadari oleh yang berwenang. Not so much of the plot, huh. Lucunya demi memperlihatkan perkembangan yang diada-adain, film ini dengan vokalnya yang berlebih, memperdengarkan ke kita para badguys itu sekarang menyebut rekan tim mereka sebagai “friend”. Sounded so ridiculus untuk karakter mereka

se-ridiculus Enchantress yang kayak nari hula-hula

se-ridiculus Enchantress yang kayak nari hula-hula

 

 

 

Tidak menjelma sebagai sebuah perjalanan penuh arti sebuah tim berisikan para penjahat, film ini kewalahan sendiri dalam merangkai struktur dan penulisan. It doesn’t know what to do. It doesn’t really embrace how is it to be on the dark side. Performa keren beberapa tokoh tidak pernah dibarengi oleh momen-momen aksi yang really special. Ada beberapa lelucon. Ada beberapa fun scenes. Namun kurangnya sense of importance, kurangnya plot pada karakter, membuat film ini terasa lumrah.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for SUICIDE SQUAD

 
That’s all we have for now.

Remember in life, there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements