Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“Love your country as you love your parents.”

 

3Srikandi-Poster

 

Dua puluh lima orang atlet sudah dikirimkan Indonesia untuk maju membela negara pada Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro, Brazil. Pembukaan pesta olahraga dunia terbesar dan paling bergengsi tersebut akan berlangsung tanggal 5 Agustus besok! Mari kita sama-sama mendoakan yang terbaik untuk prestasi Indonesia di sana. Targetnya ya kalo bisa semuanya bawa pulang medali, dong. Koleksi Indonesia masih sedikit. Jika perjalanan perolehan medali olimpiade negara ini ditelusuri, maka kita akan menemukan tiga nama bercokol di urutan teratas. Nurfitriyana Saiman, Lilies Handayani, dan Kusuma Wardhani. Medali perak yang mereka persembahkan kepada Indonesia pada Olimpiade Seoul 1988 adalah MEDALI PERTAMA YANG PERNAH NEGARA KITA RAIH. Perjuangan dan cerita kemenangan mereka sesungguhnya cukup luar biasa.
Tiga atlet panahan. Tiga orang cewek Indonesia. Ya, film ini adalah tentang mereka. 3 Srikandi.

 

Dalam memanah, tarikan penuh harus dilakukan agar tali busurnya menegang, kita tidak bisa menembak jika tali itu renggang. Begitulah cara film ini memperlakukan ceritanya. DIBUAT SENANTIASA KETAT, tidak ada ruang untuk dilly-dally ke mana-mana. Biografi biasanya sangat rawan terhadap eksposisi, aku sempat sangsi di menit awal. Namun ternyata mereka menghandle eksposisi dengan pretty creative. Kita dikasih tahu detil-detil sejarah dengan mulus lewat montage koran-koran.
Cerita 3 Srikandi was so rounded-up. Ini adalah drama dan kita akan melihat kehidupan ketiga atlet secara personal. Bagaimana hubungan mereka dengan keluarga, bagaimana mereka akhirnya terpilih jadi wakil Indonesia, bagaimana mereka selama masa latihan yang intens di bawah bimbingan pelatih Donald Pandiangan, dan tentu saja bagaimana mereka pada akhirnya berhasil mengharumkan nama Indonesia. Kita akan menyaksikan konflik hidup mereka yang diolah dengan koheren, bahkan subplot tentang masalalu si pelatih sebagai ‘Robinhood Indonesia’ juga persaingannya dengan pelatih tim cowok melebur sempurna ke dalam narasi.

Menang banyak.

Menang banyak.

 

Melihat atlet di layar kaca, kesan yang ada adalah mereka itu sosok yang serius, dengan determinasi untuk menang. Setiap saat. Bikin kita segen. Aku punya teman yang baru jadi juara catur kelurahan aja, mentalnya udah kompetitif sekali. Apa-apa dicaturin. Resolusi favoritnya kalo ada yang ngajak taruhan adalah “kita tentuin dengan tanding catur!”. Makanya aku nonton nih film dengan ekspektasi bahwa 3 Srikandi adalah drama biografi yang serius.

Ternyata aku menilai atlet sama salahnya dengan aku mengira film ini bakal seperti apa. Ya mereka work hard, sekaligus play hard. Jauh di luar perkiraanku, 3 Srikandi adalah CERITA YANG RINGAN, YANG FUN, ASIK UNTUK DIIKUTI, DENGAN TIDAK PERNAH MELUPAKAN ESENSI EMOSIONAL. Apa yang terjadi kepada mereka easily relatable untuk semua orang. Karena pada inti sasarannya – bayangkan sasaran panah — ini adalah konflik antara anak dengan orangtuanya.
Yana tidak suka ayahnya menyugestikan untuk menomorduakan memanah dan memburu-buru untuk menyelesaikan skripsi. Lilies yang dari keluarga atlet, adu argumen dengan ibunya soal pacar. Suma tidak bicara lagi dengan ayahnya semenjak ia memilih ikut Pelatnas alihalih kerja PNS. Dan Donald, ia gondok-gondokan dengan negara perihal kegagalannya ikut serta pada Olimpiade delapan tahun yang lalu.

Ada alasannya kenapa negara kita sebut dengan Ibu Pertiwi. Kita tidak bisa memilih di mana kita dilahirkan. Sama halnya dengan kita tidak bisa memilih siapa yang melahirkan kita. Apapun mimpi kita, apapun alasan kita berjuang, tujuannya di situ jua. Tidak ingin mengecewakan. Membahagiakan orang yang sudah membesarkan kita.

 

Penulisan yang sangat adil dan beradab membuat keempat tokoh major kita – katakanlah tokoh ‘pahlawan’ dalam film ini – samasama powerful. Dalam hal karakter, sejatinya. Begitu pun keempat pemain, saling berlomba menunjukkan kemampuan akting yang juara. Tidak ada yang terbata sekalipun mereka mewakili berbagai daerah di Indonesia. Mereka kelihatan sangat bersenang-senang tampil dalam film ini. Bunga Citra Lestari memainkan karakter Yana yang penuh pancaran khas seorang kakak, as she was the oldest of the three. Di tangannya Yana seolah ditempeli bull’s eye bertuliskan kata ‘pemimpin’. Karakter pendiam namun sekali liat kita tahu ada banyak kecamuk yang berseliweran di dalam kepala, sukses diportray oleh Tara Basro sebagai Suma. Dua penampilan favoritku dalam film ini adalah Reza dan Chelsea. Tokoh keduanya sama-sama punya range emosi yang paling luas. Dan both Reza Rahadian dan Chelsea Islan nailed everything yang peran mereka ingin tampilkan tanpa enggak lanjut menjadi suatu penampilan yang over. Marah dan kecewanya Donald meledak-ledak dengan timing serta intensitas yang tepat. Keceriaan Lilies tidak pernah ditranlasikan sebagai sesuatu yang sappy maupun cheesy oleh Chelsea.

Latar waktu 80an akhir tidak dicuekin begitu saja oleh 3 Srikandi. Ke-colorfull-an masa itu di-corporated well ke dalam cerita. Banyak referensi budaya-budaya pop kayak Catatan Si Boy, Ongki Alexander, ungkapan “sekuat Samson”, juga busana dan gaya rambut tokohnya, bakal bikin kita lupa bahwa kita sedang nonton bioskop di tahun 2016. Ada satu dialog yang bilang “Beneran galak tu doi,” I was like hahaha duile doi, filmnya done a GREAT JOB MENANGKAP SUASANA 80AN. Adegan favoritku tentu saja pas bagian mereka lip sync-in lagu Ratu Sejagat. That was so fun, so cheerful, feel in-the-momentnya kerasa banget. Ada satu lagi adegan yang menarik perhatianku, yaitu saat para atlet Olimpiade upacara di depan Presiden.

Jaman dulu kayaknya dihype banget ya Olimpiade ini. Digadangkan dan memang sebenarnya ini adalah suatu hal yang gede. Tapi nyatanya yang sekarang aja kalo bukan karena film 3 Srikandi aku enggak bakalan tahu besok ada Olimpiade dan Indonesia ngirimin berapa atlet.

 

Excellent dalam membangun suasana dan hubungan yang mendalam. Persahabatan mereka terasa akrab. Dan kocak, hubungan guru galak dengan murid bandel yang diolah dengan fresh dan menyenangkan. Aku juga suka gimana film ini ngebuild antisipasi kemenangan mereka. Di mana kita diliatin kolektif shot warga Indonesia yang duduk di depan televisi, terus di lapangan ketiga heroine kita, dipimpin oleh Donald, nge-cheer nama “Indonesia!”. Such a powerful scene, I did feel a little electrity mengalir di dalam tubuh. Jadi pengen ikutan neriakin juga sambil tepuk tangan, “In-do-ne-sia!” *Clap! Clap! clap-clap-clap!*

udah lama aku bilang begini, mirip Jenniifer Lawrence ga sih?

udah lama aku bilang begini; mirip Jennifer Lawrence ga sih?

 

Yang sedikit mengganggu adalah kita sama sekali tidak tahu how the competition work. Maksudku, sistem olahraga panahan itu seperti apa. Peraturannya gimana. Penilaiannya macam apa. Makanya kita enggak deg-degan setiap kali mereka memanah. And also keep in mind, kita semua sudah tahu hasilnya bakal gimana. Kita enggak peduli panahan mereka kena atau meleset. Atau juga soal memanah itu sendiri. Gimana sih teorinya? Kita dibuat tetap tidak mengerti kenapa tim Indonesia punya kebiasaan menaruh tali busur tepat di tengah bibir saat hendak merelease anak panah, sedangkan tidak semua atlet dari negara lain melakukan hal yang demikian. Adegan-adegan saat mereka actually latihan juga kurang banyak dibandingkan adegan mereka ‘ngeles’. Sehingga terasa effort para srikandi ini enggak maksimal, makanya kalah. Soal effort, aku juga kurang mendukung keputusan film ini memakai sedikit komputer grafis, kurang mulus pula. Masa sih gak nemu cara practical ngesyut adegan anak panah yang melesat lepas dari busurnya?
Menjelang akhir, saat mereka tanding beregu, kita dikasih liat semacam adegan ‘bully’ yang dilakukan tim Amerika kepada Yana. Akibat dari gesekan ini adalah bahu Yana menjadi sakit sehingga kemampuannya memanah terganggu. It was kind of tactless, dan terlalu out-of-nowhere. Aku yakin ada banyak cara lain yang lebih sensible yang bisa dipikirkan untuk menuliskan bahu Yana sakit demi menambah intensnya finale.

 

 

Aku enggak tahu seberapa ‘berdasarkan kisah nyata’nya film ini, tapi bagian Indonesia mengalahkan Amerika dalam tie-game itu was really awesome. Meski agak dirusak sama komentator usil yang bilang menang karena “ada anak panah Amerika yang meleset”. Keseluruhan film ini keren. Dia punya semangat, dia punya hati, dia punya nilai kepentingan yang membuat kita menjadi orang yang sedikit lebih baik setelah menontonnya. Bukan tontonan yang pas sih jika yang kamu inginkan adalah cerita kompetisi since ini bersuara soal hidup untuk berjuang, bukan untuk menang atau kalah. Film ini adalah kisah perjuangan yang menyentuh, yang diceritakan dengan ringan. Serius tapi santai. Serius kayak Donald dalam mengolah cerita, tapi santai kayak Lilies dalam menuturkannya.
The Palace of Wisdom gives 7.5 gold medals out of 10 for 3 SRIKANDI.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember in life, there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

 

 

Advertisements