Tags

, , , , , , , , , , , ,

“We can’t help everyone, but everyone can help someone.”

 

the-shallows-poster

 

Kita tidak lagi menemukan film tentang hiu yang bener-bener bagus, terhitung sejak Jaws (1975). Beneran deh. Bahkan sekuel-sekuel Jaws pun parah. Untuk alasan yang hanya Hollywood dan Tuhan yang tahu, mereka membuat hiu sebagai semacam genre yang konyol. Mereka melupakan poin penting bahwa yang menakutkan dari Jaws adalah ketidaktahuan kita atas apa yang ada di dalam lautan biru. Bukan semata karena ingin liat hiu segede monster makan orang. Kengerian dan ketegangan yang ditimbulkan Jaws terhimpun dengan baik dan saat kita benar-benar diperlihatkan akan sosok hiunya, mimpi buruk itu seolah jadi nyata. Today, they overexposed the sharks. Kita tidak pernah dapat film hiu yang bagus lagi. Liat saja, Sharknado. Atau Mega Shark vs. Giant Octopus. It’s hard to take this kind of movie seriously.

You give shark a bad name.

 

The Shallows mengembalikan kengerian kita terhadap predator teratas lautan ini. Ceritanya tentang cewek muda yang pergi surfing for… well, Nancy yang mau drop out dari kuliah kedokteran, pergi mengejar kenangan sang ibu yang meninggal tanpa ia bisa melakukan apa-apa terhadapnya. Celaka tak dapat ditolak, di pantai tersebut Nancy diserang seekor hiu sehingga ia terdampar di batu karang di perairan dangkal. Dia terluka. Hanya seratus-delapan-puluh meteran dari pinggir pantai, tapi satu-satunya cara untuk dia bisa sampai ke daratan sana adalah menyebrangi air di mana great white shark tadi sudah menunggu dirinya, as well as done such great job mengenyahkan orang yang berusaha menyelamatkan Nancy. Sekarang kalian semua bisa liat mengapa aku excited sangat. Film ini pada dasarnya adalah sebuah SURVIVAL THRILLER DI RUANG YANG SEMPIT. I always love confined-thriller movies. Nancy terkurung di lautan lepas! Dan waktu terus berdetak mengingatkan Nancy untuk tidak lantas kerasan di atas karang sebab pasang segera datang. Ini adalah pertarungan naluri survivalnya melawan naluri territorial si hiu betina.

Sekarang mari kita sempatkan waktu sejenak untuk mengagumi betapa indahnya The Shallow. Airnya; menyegarkan sekaligus bikin merinding. Sajian warna yang menakjubkan. Pemandangannya; sangat mengundang. Membuat kita semua yang berkurung di dalam bioskop jadi iri, “hey apa sih yang kita lakukan di dalam sini?” Aku cukup merasa tersindir saat adegan Carlos menyugestikan Nancy untuk berhenti menatap layar smartphone dan nikmatin alam sebagai gantinya. Dan Blake Lively nya; menyenangkan untuk dilihat, namun lebih daripada itu, she’s really good in this movie. Menurutku ini penampilannya di sini lebih baik dibandingkan saat dia jadi wanita yang enggak tua-tua di The Age of Adaline (2015). And even back then, I really like her performance. Dalam The Shallows, Blake Lively dituntut menghabiskan sebagian besar screentime dalam keadaan trauma yang sangat tinggi; kesakitan, kebingungan, takut, kesusahan, dan kakak ini pulled those emotions off dengan sukses berat.
Sang hiu putih juga terlihat meyakinkan. Sebagai makhluk CGI, ia menyusup dengan baik ke dalam environment dan enggak terlihat norak. Ataupun over. The Shallows adalah thriller yang sungguh mengasyikan. Ada banyak sekuens adegan yang genuinely bikin aku naikin kaki ke atas kursi. Perlu diingatkan juga bahwa film ini banyak darahnya, it gets pretty gory sometimes. Adegan pertama Nancy digigit hiu sampai berenang di darahnya sendiri adalah adegan favoritku dalam film ini.

I think I get it why that shark wants to swallow whole of Blake Lively alive

I think I get it why that shark wants to swallow a whole of Blake Lively alive…

 

Terkadang, film ini juga terasa sangat serius. Kita diberikan backstory dari Nancy. Dalam sebuah film, karakter utama tidak hanya punya ‘wants’ tapi dia juga punya ‘need’. Wants adalah outer journey, dalam kasus ini Nancy ingin selamat dari hiu. Sedangkan apa yang Nancy butuhkan sebenarnya, her inner journey, itulah yang dia sendiri (dan kita sebagai penonton) harus pelajari sebagai bagian dari sebuah plot. From time to time kita dikasih petunjuk atas semacam tragedi yang terjadi kepada keluarga Nancy. Kayak pada film 127 Hours (2010). Ada bagian saat Nancy mengingat masa lalu. Ada bagian saat dia merasa dirinya akan mati. Kita saksikan apa yang terjadi kepada Nancy di atas batu karang itu semuanya reflecting sama apa yang ia hadapi on her inside. Sisi dramatis film inilah yang tidak pernah mencapai ketinggian (atau kedalaman, as we speak in terms of ocean here) yang ditargetkan oleh film The Shallows. Seharusnya elemen dramatis, inti emosi, inilah yang bikin kita semakin penasaran dan semakin tersedot ke dalam cerita. Yang memberikan kita sesuatu untuk diharapkan. Hanya saja, kita merasa kita tidak mendapat apa-apa dari kedramatisan itu karena elemen ceritanya tidak begitu otentik.

 

Kita tidak bisa membantu semua orang. Tapikita selalu bisa membantu diri sendiri. Caranya? Dengan terus berjuang.

 

Sebab utamanya adalah film ini punya tone yang sangat conflicted. The Shallows dimulai dengan ceria. Sangat kekinian dengan alunan musik pop, electronic dance style. Kayak iklan-iklan rokok masa kini yang selalu berpesan nikmatilah hidup. Dengan smoking it away -__- Balik ke masalah, setelah itu suara film menjadi lebih serius dan menegangkan begitu hiu muncul. Intens seketika. Tapi aku enggak merasakan terlalu takut. Coba kita bandingkan dengan Jaws yang dari detik-detik awal adegan bawah air itu sudah menyedot kita ke dalam suasana yang mencekam. Enggak nyaman. Mengerikan. The Shallows tidak punya itu semua. Yang ada adalah ketegangan seperti yang biasa kita saksikan dalam film action. Aku sempat tegang loh saat Nancy memegang camar yang terluka itu, kirain mau dimamam haha.

Film ini TIDAK MAMPU MEMPERTAHANKAN RASA MENCEKAM karena acapkali terasa modern dengan pemilihan musik, sisipan teknologi sebagai device menuturkan cerita, serta arahan yang terlalu banyak mengandalkan adegan slow motion.
Makin ke akhir, perasaan realism juga semakin terangkat. Barengan sama suspensnya. Film ini kayak mengalami pergeseran tone sekali lagi. Dari yang tadinya visual banget, menjadi lebih banyak bertutur hal yang sebenarnya sudah dimengerti oleh penonton. Kita enggak perlu amat harus dijelasin efek ubur-ubur kepada hiu. Poin bisa terdelivered dengan lebih baik tanpa kita harus tahu perkiraan jarak dan waktu yang Nancy butuhkan untuk menyeberang. Dan bagaimana dengan nama pantainya? Kenapa tidak ada yang menjawab pertanyaan Nancy soal itu? Apakah memang dirahasiakan? Kenapa dirahasiakan? Atau memang namanya simply “Pantai Rahasia”? Bikin penasaran, nama pantai itu terus balik ditanyain namun film ini just drop it dan enggak pernah menyebut-nyebut soal itu lagi.

 
Banyak pilihan aneh yang diambil oleh Jaume Collet-Serra dalam filmnya yang satu ini. Elemen cerita yang enggak kuat, jenis musik, dan suspense tone yang enggak dimanfaatkan dengan baik. It just doesn’t reach us sedalem apa yang harusnya bisa film ini gapai. The dramatic side of the movie seharusnya bisa jadi lebih realistis. Meski begitu, film ini masih exciting untuk ditonton. A fun thrill ride. Film hiu terbaik sejak Jaws. Tapinya lagi, that’s not really mean much tho.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for THE SHALLOWS.

 

 

That’s all we have for now.

Remember in life, there are winners
and there are losers.

 

 

 

 
We? We be the judge.

Advertisements