Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“Age is foolish and forgetful when it underestimates youth.”

 

nice_guys_ver2_xlg

 

Di malam biasa di tahun 1977, sebuah mobil melaju ke luar jalur, menembus sebuah rumah, sebelum akhirnya menabrak pepohonan lebat. Mengirim pengendaranya, Misty Mountains, aktris film porno, terbang ke bebatuan. Those chain of unexpected events mengawali cerita film ini. Kematian Misty berhubungan dengan hilangnya seorang cewek lain bernama Amelia, yang baru saja kelar syuting ‘film eksperimental’, yang sepertinya ada sangkut paut dengan pemerintah. Dan kemudian semakin banyak orang-orang yang diduga terlibat film tersebut ditemukan dalam keadaan sudah menjadi mayat. Well, di kota pendosa seperti Los Angeles, siapa yang cukup peduli mengurusi kasus semacam ini? Siapa yang bisa kita panggil sebagai pahlawan? Kota itu butuh secuil kebaikan yang bisa ia dapatkan.

Tindak mulia sesepele anak kecil menyelimutkan piyama kepada tubuh cewek seksi yang terluka parah yang baru beberapa menit lalu ia pelototi gambarnya di majalah yang diambil diam-diam dari kamar orangtua. Ataupun yah, good act dari so-called nice guys yang actually not that good, (psst.. they did it all for the money.) Lucu? Ya begitulah The Nice Guys.

 

 

Misteri yang melingkupi cerita was really appealing. Kita dibuat penasaran sama apa yang sesungguhnya terjadi. Sama siapa dalang benerannya di balik semua itu. Namun senjata andalan film ini sebenarnya adalah komedi. Dialog-dialog buah percakapan Healy dan Holland BUKAN HANYA KOCAK SETENGAH MATI, NAMUN JUGA WITTY. They just hit home so hard. Serius deh, adegan demi adegan akan mengirim kalian guling-guling di lantai. Ada banyak kalimat yang bisa kita catet buat dipos sebagai bahan lucu-lucan di pathdaily.

Ini adalah kisah klasik dua orang yang berujung menjadi teman. Russel Crowe dalam film ini adalah Jackson Healy yang kerjaannya mukulin orang-orang. He wishes he’s a real private investigator, tapi enggak. Healy ini malah lebih kayak tukang pukul profesional. Di sisi lain, Ryan Gosling yang meranin Holland March adalah detektif swasta beneran. Namun saking enggak kompeten-kompeten amatnya, dia senang nerima kasus sepele semacam mencari suami seorang janda kaya pikun yang enggak ingat suaminya sudah meninggal. Biasanya genre buddy-cop comedy kayak gini memegang teguh satu pakem; duo yang berlawanan. Ambil The Rock yang gede, pasangkan dengan Kevin Hart yang kecil. Contoh lainnya adalah Rush Hour (1998); Jackie Chan-Chris Tucker. Polisi serius-polisi ceroboh. Yang satu pendiem, satunya lagi bertubi-tubi kayak knalpot. Belum lagi warna kulitnya. Dan formula kontras tersebut memang terbukti ampuh dalam membangun komedi; dua orang yang sangat berbeda suddenly harus bekerja sama.

Menariknya The Nice Guys adalah tidak banyak perbedaan antara kedua tokoh ‘hero’ kita. Healy memang lebih cakap dalam tugasnya, tapi on the inside Healy dan Holland enggak benar-benar pribadi yang berlawanan. Mereka sama-sama pecandu alcohol. Mereka sama-sama punya masalalu yang tragis. They are very similar in a lot of ways. Mereka mengerti seperti apa things going on di Los Angeles. Mereka mengerti aturan mainnya. They do it because they want to make some money out of it. Karena itulah mereka playing off of each other so good, SEBAGAI TIM KOMEDI, MEREKA BEKERJA DENGAN SANGAT BAIK. Segar dan tidak-biasa. And of course, their performances. Chemistry nya, makjaaangg, Ryan Gosling dan Russel Crowe work magic together. Mereka berdua sedang berada di puncak of their game. Mereka lucu, deliverynya cerdas, dan terasa klop satu sama lain.

Their easy way is the hard way.

Their easy way is the hard way.

 

Salah satu tema yang coba diangkat oleh The Nice Guys adalah – the main concern kita terhadap dunia hitam yang penuh skandal, sex, dan narkoba – adalah tentang anak-anak. Pernyataan yang diucapkan dengan khawatir oleh Healy di awal cerita, “Anak-anak tahu terlalu banyak.” The Nice Guys bukannya mencoba untuk jadi alim dengan menceramahi kita terhadap kenyataan tersebut. Yah, kenyataan. As it happens today in our world too. Anak SD sekarang sudah tahu pacaran. Adekku yang baru kelas satu pernah bisikin aku, “Dug-dug jantung aku liatnya, Bang,” sambil nunjuk cewek kece di mall. Anak jaman sekarang gedenya kecepetan.

Film ini reminder kepada kita untuk tidak sekalipun meremehkan generasi muda. Terutama remaja. Pengetahuan mereka sering membuatku tercengang. Jangan heran kalo nemu bocah yang udah tau arti mandul. Enggak usah kaget kalo ada anak kecil yang bilang lagu Bang Bang nya Jessie J itu lagu yang “eww, gross!”. Tapi alih-alih ngajarin kita how to stop them from knowing (yang mana bakal sama ampuhnya dengan mencoba menghentikan internet), The Nice Guys simply bilang “hey, kita memang ingin anak lebih pintar dari orangtuanya kan, tapi mereka tetaplah anak-anak yang perlu dijaga.” Kita bisa belajar dari mereka sebanyak mereka belajar dari kita.

 

Kita mungkin senang liat anak kecil bertingkah dan bicara kayak orang gede. Look how popular video tentang anak yang bisa ngerokok! Atau betapa gemesnya kita melihat Hit Girl menghajar preman-preman dalam Kick-Ass (2010). Lucu, it might strike us as cute. The Nice Guys juga punya satu tokoh anak kecil yang bersikap jauh lebih mature dibandingkan umurnya. Holly, putri kecil si Holland, adalah semacam sidekick yang kerap membantu Holland dan Healy dalam berbagai misi mereka. In fact, peran Holly lumayan besar, like, misi mereka seringkali terancam gatot jika bukan karena Holly. Peran ini dimainkan dengan sangat amazing oleh Angourie Rice. She really sells her character well. Like, soo gooooood. Tokoh ini terasa sangat real dan otentik. Yang, sekali lagi, mengingatkan kepada kita untuk tidak menyepelekan. Anak kecil bisa tahu sebanyak apa yang orang dewasa ketahui. Apa yang tadinya lucu bisa berubah menjadi much more concerning things jika tidak kita jaga.

You know, bad things n’stuff. –coret and stuffnya-

You know, bad things n’stuff.

 

Penulisan dan arahan film ini was so on-point. Punya karakter-karakter yang hebat. Segmen action-nya juga sama hebohnya. Tembak-tembakan, kejar-kejaran. Sekuen ‘final battle’ mereka sangat entertaining dan seru, terlihat dan terasa sangat berbeda dengan film-film sejenis. Yang paling aku ngakak saat adegan mimpi, yang ada lebah raksasanya itu loh, hahaha, siapa sangka adegan tersebut berdampak di ujung cerita. Film ini berusaha maksimal memanfaatkan isu-isu tahun segitu sebagai kait dalam cerita. Masa lalu sepertinya datang kembali dengan gemilang. The past is, like, giving present to us who live in the present. Belakangan kita sudah diajak balik ke 80an lewat Everybody Wants Some!, 3 Srikandi, dan serial horor Stranger Things. Dan mereka semua itu adalah film – film yang bagus banget. Kali ini kita bahkan diajak mundur sedikit lebih jauh oleh The Nice Guys lewat kecakapannya menangkap dan menghadirkan setting akhir 70an, dengan sempurna! The look, the style, the overall presence, sukar dipercaya film ini adalah film baru. Seolah ia sama-sama restorasi kayak Tiga Dara. Kayak film jadul beneran yang dibuat ulang pake teknologi kekinian. IT IS PERFECTLY REALIZED.

Masalah kecil adalah soal duo utama yang cenderung lebih banyak bereaksi ketimbang beraksi. Tak jarang mereka menemukan clue secara tak-sengaja. Namun, itu jualah yang elemen yang membuat mereka enggak menyimpang dari penokohan yang sudah tertulis. Ataupun tokoh jahatnya yang kurang diflesh-out. But then again, bisa saja penjahat sebenarnya adalah kota Los Angeles.

 

 

 

Film seger ini membuktikan kita tidak perlu ledakan untuk menikmati action. Dialognya kocak, aksinya seru, misterinya nyedot perhatian, ceritanya bagus, karakter-karakternya di-handle dengan baik. Penampilan para pemainnya juara semua. Film ini embrace bahwa terkadang nice guys hanyalah yang paling baik di antara yang bobrok-bobrok. Dan bahwa tanggung jawab kita kepada anak-anak, salah satunya adalah dengan tidak meremehkan mereka. Mereka senantiasa belajar hal baru, dan it is our job to keep it up with them. Untuk kebaikan mereka sendiri. Tapi yaa, sebaiknya pikir dua kali untuk mengajak adek-adek kecil kita nonton film ini. I’ve had a good-healthy amount of laughs. I really enjoy watching this. Aku bisa bilang ini adalah salah satu kontender film terbaik tahun ini.
The Palace of Wisdom give 8.5 out of 10 gold stars for THE NICE GUYS.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember in life, there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements