Tags

, , , , , , , , , , ,

“If you spend too much time thinking about a thing, you’ll never get it done.”

 

Poster-film-Pantja-Sila-Cita-cita-Realita

 

Setiap tanggal 17 Agustus kita akan menjumpai dua macam orang Indonesia; Yang dengan semangat ’45 mengucapkan Selamat Hari Kemerdekaan pada semua social media yang ia punya, dan Yang dengan tidak kenal lelah ngingetin apakah kita sudah benar-benar merdeka dengan pertanyaan ironi sejenis, “yakin udah gak dijajah?”. Menonton film ini bisa membantu kita untuk memilih mau masuk ke kategori yang mana.

Sesungguhnya yang lebih penting bukan ‘Apa’, melainkan ‘Bagaimana’. Tepatnya, bagaimana kita mengisi hari-hari merdeka yang sudah dihadiahi kepada kita oleh para pahlawan.

 

Pantja Sila: Cita-Cita dan Realita yang tayang bertepatan dengan usia 71 merdekanya Indonesia, sungguh tidak seperti film-film yang lain. Dimulai dengan montage penggalan pidato dari tokoh-tokoh bangsa Indonesia lain. Wajah aktor yang meranin mereka diblur untuk menonjolkan kata-kata buah pikiran siapa yang menjadi fokus film. Dan kemudian berdirilah Ir. Soekarno di podium tersebut, menjawab pertanyaan yang disinggung oleh bapak-bapak tadi serta ketua sidang BPU-PK (Badan Persiapan Usaha Kemerdekaan). Menjawab uneg-uneg bangsa perihal meraih kemederkaan. Sekaligus membeberkan buah pikirannya terhadap negara.

Film ini tidak ada tembak-tembakan. Satu-satunya yang berapi di sini adalah penampilan Bung Karno yang sedang berpidato. Kita bisa lihat betapa besar dan peduli Beliau terhadap bangsa Indonesia, bahkan sebelum menjadi presiden. Film ini menyebut diri sebagai sebuah MONOLOG SEJARAH. Semi-dokumenter ini bukanlah film perang, namun bukan berarti tidak ada kecamuk yang dikuarkan dalam 80 menitan pidato tersebut. Perjuangan yang kita saksikan di sini adalah PERJUANGAN PIKIRAN. Soekarno berusaha melenyapkan keragu-raguan banyak orang, kecemasan menjadi sebuah bangsa merdeka namun masih belum siap. Masih banyak ‘ini’ dan ‘itu’ yang kudu diurus. Perjuangan merumuskan konsep dasar sebuah negara yang memiliki kemandirian politis. Kita akan tahu bahwa yang lima sempat mendapat pilihan untuk menjadi tiga, bahkan satu. Ada banyak pelajaran faktual mengenai negara Indonesia dalam film ini. Dan masih terasa relevansinya dengan kondisi sekarang. Sebuah motivasi pembuka mata yang bukan hanya generasi muda perlu tahu, tapi juga sebuah pengingat kepada orangtua apa sih yang membuat bangsa kita ini bersatu. Cita-cita apa yang ingin dicapai oleh proklamator.

 

Bayangkan sebuah buku audio, yang kita dibacain sebuah cerita sama narator. Nah, film ini terasa seperti buku sejarah audio-visual, tentang kelahiran dasar negara kita Pancasila, yang di’narasi’kan dengan nyentuh sempurna oleh Tyo Pakusadewo. Tidak gampang untuk menampilkan performance yang konsisten, apalagi dalam sebuah monolog yang amat panjang. Meranin tokoh besar yang berkharisma pula, tekanan yang pasti besar. Namun Tyo Pakusadewo terlihat tidak gentar. Tidak sekalipun penampilannya sebagai Soekarno terasa kendor. Dan perlu disebutkan juga bahwa tidak hanya bahasa Indonesia yang diucapkan oleh Bung Karno. Kata-kata bahasa asing tidak berhasil menjegal dan kena sama tepat dan lancarnya dengan kalimat berbahasa Indonesia.

Aku penggemar WWE jadi aku terbiasa mendengar satu orang berbicara cukup lama, berusaha delivering lines sambil menjaga tetap di dalam karakter. Istilahnya ‘Promo’. Aku sudah pernah melihat promo-promo bagus dari superstar dan manager. Aku juga sudah tau betapa flatnya sebuah promo bisa terdengar jika dideliver oleh superstar yang enggak cakap. Faktor penentunya adalah mic skill. Aku enggak tahu ada berapa banyak reshot adegan yang film ini lakukan, ataupun proses editnya seperti apa. Dalam film Pantja Sila, mic skill yang diperlihatkan oleh Tyo Pakusadewo bisa disejajarkan dengan yang terbaik. TEGAS, LANTANG. Dengan intonasi yang tidak monoton. Penuh bertenaga. Mungkin karena pengaruh fisik juga, Soekarno di sini terlihat sedikit lebih gede dan lebih dewasa daripada yang kita lihat di buku pelajaran.

susah nahan diri untuk tidak ikut bertepuk tangan di setiap kata “Merdeka!”

Susah nahan diri untuk tidak ikut bertepuk tangan di akhir setiap kata “Merdeka!”

 

Sudah kodratnya kalo apa-apa yang berjudul sejarah itu membosankan. Pantja Sila adalah FILM YANG SERIUS, naturally. Begitu pertama kali mendengar tentang film ini, aku sendiri juga merasa penasaran. Seperti gimana mereka akan memperlakukan filmnya nanti. Bagaimana mereka akan mengolah naskah yang berat ke dalam media tontonan publik. Film ini menyadari penuh hal tersebut. Makanya ruangan sidang putih dan mikrofon dan Soekarno kadang tampil diselingi dengan gambar-gambar bergerak arsip dari Republik Indonesia. Video yang nunjukin rupa kehidupan Indonesia dalam kurun waktu tertentu. Pidato Soekarno yang panjang itu pun seolah terbagi menjadi beberapa bagian berkat tulisan ala mesin ketik yang senantiasa muncul menyimpulkan pokok pikiran yang sedang atau akan dibahas. Alhasil memang sajiannya jadi sedikit lebih ringan. Tetap saja, sungguh sukar untuk menyukai film ini. Respek, mungkin. Tapi toh tidak begitu punya appeal untuk sebagian besar orang. Dalam studio tempat aku menonton, dua baris penonton dewasa melenggang keluar di tengah pemutaran dan tidak kembali lagi.

Cara terbaik menikmati film ini mungkin adalah dengan memejamkan mata sambil membuka telinga lebar-lebar, fokus kepada isi pidato. Bekerja sih buatku. Filmnya bicara begitu lama sehingga membuat kita ngantuk, akan tetapi semangat dan suara menggelora Tyo sebagai Bung Karno berpidato tidak akan sampai membuat kita jatuh tertidur.

 

Terkadang kita memang terlalu banyak berpikir sebelum melakukan sesuatu. Mau jualan, takut rugi. Mau nonton, takut uangnya terbuang sia-sia. Mau pacaran, takut dikhianati. Bahkan Bung Karno bilang dalam pidatonya, merdeka sama seperti menikah. Kita gasiap sama resiko dan permasalahan yang menyertai tindakan yang hendak kita ambil. Tapi sadari bahwa bangsa Indonesia mungkin belum merdeka-merdeka jika tidak pernah mendengar pidato ini. Bangsa Indonesia jua mungkin akan lupa akan cita-cita kemerdekaan (atau lebih parahnya; tidak akan pernah tahu) jika Tyo Pakusadewo dan Tino Saroenggallo berpikir dua kali menggarap film ini. Beruntung sekali, seperti Bung Karno, film ini sangat berani.

 

Di montage akhir, diperlihatkan lanjutan perubahan Pancasila. Urutan poin-poin kelimanya juga mendapat revisi. Dan buatku akan sangat menarik untuk mengetahui latar belakang pergantiannya dari sudut pandang Bung Karno. Sayang film sudah menutup layar sampai di situ.
Tadinya aku ingin menulis ulasan ini seluruhnya dalam bahasa Indonesia, karena sebenarnya aku sering mendapat keluhan ulasan-ulasan filmku terlalu banyak nyampur bahasa inggris. So I wanted to make this one special Indonesia. Namun aku teringat film ini menggunakan teks inggris. And then I just realized; bukan hanya bangsa kita yang perlu menyaksikan dan mengetahui tentang pidato bersejarah ini.  And yea film ini membuatku semakin confident, jika bahasa bisa digunakan untuk enlighten lebih banyak orang, then why not?

 

 

 

Aku pikir cukup tidak adil untuk memberi rating kepada film ini kayak film-film biasa. Ini malah seharusnya tidak kita kategorikan sebagai film. Kehadiran plot tidak berarti apa-apa buat film ini. Visualnya juga tidak dimanfaatkan maksimal karena ini adalah lebih sebuah presentasi yang berbicara. Seharusnya ada kelompok khusus buat sajian-sajian seperti begini. Film ini punya kepentingan mendesak untuk segera kita tonton. Memberikan motivasi sekaligus pengingat kepada generasi muda bangsa, yang merupakan target utamanya. Pertanyaan tentang status kemerdekaan bangsa di atas mungkin bisa ada sedikit titik cerah dengan menonton ini. Meski begitu, jika kalian tetep teguh pada nodong untuk kami ngasih nilai, maka
The Palace of Wisdom will give 6 out of 10 gold stars for PANTJA SILA: CITA-CITA DAN REALITA.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements