Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“Sometimes scary things go away when we understand them a little.”

 

b1686f3d790f32dce182fc5574fa9a06

 

Tadinya Lights Out cuma film pendek yang dibuat oleh David F. Sandberg. Dua menitan sahaja, namun horor singkat seorang ibu yang kala mematikan lampu melihat sesosok wanita misterius itu lantas menjadi viral. Konsep simpel yang mampu bikin kita semua merinding. Dan kini kisah tersebut didaptasi oleh pembuatnya menjadi sebuah film panjang yang utuh. Tetap mengeksplorasi sosok misterius yang hanya muncul saat lampu mati. Bukan berarti solusinya gampang tinggal ngidupin lampu loh! Film ini kalo settingnya di kampungku, di Duri Riau sana, pasti bakal makin serem. Sering banget mati lampu bruh! Hahaha.. Anyway, menonton Lights Out kita akan teringat kembali kenapa kita takut gelap.

For your pleasure, ini film pendeknya:

 

 

Selayang pandang memang film Lights Out adalah surganya penggemar jump scares. Ngaget-ngagetinnya EFFECTIVELY SCARY. Bukan sekedar musik keras. Setiap kehadiran hantunya dibangun dengan menyeramkan. Suspennya well-generated. Meski menurutku penampakan si hantu, Diana, enggak impresif-impresif amat. Standar creepy-old-deformed-lady yang gerakannya mengejang-ngejang. Seharusnya dengan budget yang gedean dibanding short filmnya, mereka bisa lebih kreatif. Tapi film ini berusaha keras. Gimmick seremnya senantiasa terus diolah, Lights Out tetep mencari jalan untuk membuat apa yang sudah lumrah dalam horor menjadi terasa seperti sesuatu yang baru. They did do a different fun things with the gimmick, aku terpesona dibuatnya. Jump scare-jump scare itu actually punya ujung yang indah di akhir cerita.

Banyak yang terjadi, film ini padat akan cerita. Ada drama yang menyentuh yang menerangi cerita Lights Out. Membuatnya surpassing it’s own genre. Dipasarkan sebagai sebuah horor, nyatanya ini adalah tentang sebuah keluarga yang disfungsional. Single mother yang clearly punya masa lalu dan kondisi jiwa yang sama enggak beresnya. Anak kecil yang dalam bimbang memilih ikut kakaknya yang secara sosial not-competent enough atau tetap tinggal bareng ibunya yang suka ngobrol sama bayang-bayang. Karakter-karakter yang punya masalah manusiawi, dimainkan dengan sangat meyakinkan pula. Inilah nilai tertinggi yang ditawarkan oleh Lights Out. FILM INI PUNYA KEDALAMAN KARAKTER. Dengan performances yang bagusnya merata. Sudah jarang kita nemuin horor yang mau nulis karakter seserius dan senyata mereka-mereka yang diganggu hantu dalam film ini.

Teresa Palmer jadi tokoh utama. She has no idea pada apa yang terjadi sama ibunya dan sekarang masalah keluarga mereka bertambah berkat makhluk aneh yang kerap mengejar saat gelap tiba. Most of the time, Becca yang ia perankan akan berbengong ria kayak penampilan kelas FTV. Namun it is not necessarily a problem, karena apa yang ia alami dan rasakan memang membingungkan. Maria Bello fantastis berperan sebagai ibu yang gila. Dan sebagai bocah cilik di mana kebanyakan drama berpusat padanya, Gabriel Bateman, memainkan Martin dengan performance yang kuat. Really impressed me. Sepertinya tahun ini banyak pemain anak-anak yang keren ya, film Indonesia harusnya lebih giat lagi mengolah peran anak-anak sekaligus mencari aktor cilik yang capable. Karakter-karakter dalam film ini bukan tubuh yang ngantri untuk dibunuh secara mengenaskan oleh setan. Mereka punya kehidupan. Mereka punya masalah-masalah sendiri. Karakter-karakter di sini udah kayak orang-orang di kehidupan nyata. Hanya saja mereka hidup di dunia film horor.

 “What now? ….. MOOOMMMMM!!!!”

“What now?” …..
“MOOOMMMMM!!!!”

 

Aku suka gimana film menyugestikan betapapun anak-anak tersebut kurang bisa percaya pada ibu mereka, when the shit becomes real, hal pertama yang serempak mereka pikirkan adalah memanggil ibunya. Itu nyata banget, anak-anak mau segimana nakal atau marah atau lagi pundungnya ujung-ujung tetep bakal mengadu ke mama.
Terutama – tokoh-tokoh film ini — MEREKA ENGGAK BEGO. Ketika kejadian-kejadian menyeramkan terjadi, saat sang hantu mulai membabi buta, apa yang mereka lakukan? To my pleasant surprise, mereka melakukan hal-hal yang memang bisa bikin umur mereka panjang. Tokoh pacarnya Becca, misalnya. Bret yang diperankan oleh Alexander DiPersia actually has a lot to do. Biasanya kan tokoh pacar kayak gini, cuma tokoh sampingan yang faedah utamanya adalah buat nambah-nambahin korban doang. Tapi Bret enggak. He was very resourceful. Tokoh-tokoh yang pintar inilah yang bikin kita semakin asyik masuk ke dalam cerita, membuat kita enggak segan untuk peduli dan ngecheer for their lives.

 

Waktu kecil aku selalu tidur dengan lampu menyala. Dan kalo sedang tidur, terus lampu kamar mati – entah oleh PLN atau karena dimatiin bokap – maka aku akan terbangun dan teriak sejadi-jadinya. Mungkin biar dibilang kreatif, aku ngayal yang bukan-bukan bakalan muncul dari dalam kegelapan. Monster di bawah tempat tidur. Kanalitnuk di atas lemari. Penyihir yang mengetuk jendela kamar, kata Rebecca di film ini. Kita tidak tahu apa yang ada di balik gelap, kita tidak mengerti dan hanya bisa menerka. Dan dari sanalah rasa takut itu muncul.

Bukan gelapnya yang kita takutkan. It is more kepada ketakutan kita terhadap hal-hal yang tidak kita mengerti. Rebecca selalu kabur when things get confusing, meninggalkan keluarganya. Lights Out mengajarkan kita, lewat Rebecca, bahwa it is not nice pergi begitu saja meninggalkan orang-orang yang kita sayangi. Especially, not to leaving them in the dark. Gelap dan terang adalah personifikasi dari understand dan not-understand.Yang Becca butuhkan adalah berhenti dan mencoba untuk mengerti.

 

Misteri terjalin erat di sepanjang naskah. Sangat menyenangkan melihat ceritanya terkuak perlahan-lahan. Dan it is actually a compelling one. Namun misteri yang meyakinkan ini juga menimbulkan masalah buat Lights Out. Kita akan diajak belajar mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Alur misterinya direncanakan dengan matang oleh penulis. Film ini jadi kerasa kayak film-film horor Jepang. Yang alasan atas kejadian menakutkan di balik semuanya itu, tidak benar-benar memberikan jawaban yang kita butuhkan untuk membuat make sense of something. Kita tidak pernah benar-benar mengerti kenapa bisa ada hantu. Kita mengerti tentang friendship yang menjadi kunci ceritanya, tapi kita tidak yakin betul kenapa mereka bisa berakhir seperti demikian. IT IS WEIRD BUT WE KIND OF JUST ACCEPT IT, karena ditulis dengan kuat dan diceritakan dengan sangat meyakinkan.
Untuk beberapa kali, film ini melanggar aturan yang sudah ia tetapkan sendiri. Segala ‘hantunya hanya bisa bergerak di dalam gelap’ nyaris runtuh akibat ada beberapa adegan yang bikin kita bertanya heran, “Loh kok bisa, kan lampunya hidup!?”

 

 

Sedikit inkonsistensi, sedikit ekposisi, toh film ini mengingat statusnya yang memasarkan diri sebagai summer-horror movie, luar biasa delivered. Highly effective scares. Berhasil meraih semua yang ia inginkan. Bikin kita takut. Bikin kita menjerit. Bikin kita terenyuh juga berkat karakter yang ditulis surprisingly dalem. Contrary sama kejadian dalam film, aku justru tak ingin lampu bioskop segera menyala. Beneran, menurutku film ini terlalu pendek. Delapan-puluh-menit untuk cerita dengan misteri dan tokoh yang compelling, benar-benar sekejap mata!
The Palace of Wisdom gives 7.5 gold stars out of 10 for LIGHTS OUT.

 

 

 
That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements