Tags

, , , , , , , , , , ,

“Home is a place your feet may leave but your heart is always be.”

 

Dont-Breathe-poster

 

Sesusah apa sih merampok ke dalam rumah yang dihuni oleh seorang yang enggak bisa melihat? Tinggal nyusup masuk diam-diam, cari barang berharga, dan keluar tanpa suara. Or so we thought. Tidak banyak yang mencobanya, tentu saja. Robbing blind people is considered sebagai salah satu tindak kriminal paling tak-terhormat, tidak manusiawi; the most desperate act yang bisa dilakukan oleh manusia terhadap spesiesnya sendiri. Dan lagi, berbagai film sudah menunjukkan bahwa kehilangan satu panca indera membuat senses mereka yang lain berkembang dengan sangat menakjubkan. Mereka ini sudah seperti punya kekuatan super. They absolutely will kick our ass when the field is leveled, seriously.

 

Ah, kalo saja Rocky dan gengnya belajar dari film Wait Until Dark (1967).

Don’t Breathe memang kayak kebalikan dari film thriller jadul yang dibintangi oleh Audrey Hepburn itu. Dalam film ini, ‘hero’ kita adalah Jane Levy yang meranin Rocky, seorang cewek remaja yang bareng dua temennya ngerampok rumah orang-orang kaya. Target mereka berikutnya adalah rumah bercat paling mentereng dibanding rumah-rumah di sekitarnya. Rumah milik seorang veteran perang yang buta. Rocky dan teman-temannya kira bakal mudah menggondol uang simpanan bapak tersebut. Little did they know, si Bapak tidak begitu saja menyerahkan hartanya. The guy fights back. The table is turned. Dan dengan segera kita dapat thriller penuh suspens yang bakal bikin kita sesak kebanyakan nahan napas di ujung tempat duduk.

jangan sampai keluar lewat belakaangg!!

jangan sampai keluar lewat belakaangg!!

 

Aku cinta banget sensasi menegangkan yang berhasil dibangun oleh film ini. Sepanjang film kita akan mendapati diri kita ikut-ikutan menahan napas. Suspens datang dari adegan-adegan si Bapak datang ke dalam ruangan, dan Rocky enggak boleh bergerak karena suara sekecil apapun akan bikin posisi mereka ketahuan. Beneran ikutan terpaku di kursi deh nonton ini. Film ini memainkan konsepnya dengan jenius, they get every ounce of suspense out of this concept and did excellent job with it, sehingga terasa kayak wahana menakutkan yang kita semua suka. Such a thrilling hide-and-seek.

Tentu saja kita enggak bisa menggelapkan mata terhadap penampilan pemerannya. Keberadaan Stephen Lang sebagai Bapak Buta terasa sangat mengancam. Melihat dia berjalan di lorong rumah dalam usahanya mencari geng rampok itu saja cukup untuk membuatku ingin teriak “Mamaaaa!” dan lari ke tempat yang rame dan terang benderang. Tapi faktanya aku hanya duduk ngelingker kayak bola. Takut untuk ngapa-ngapain. Dia tampak begitu berbahaya. Rasa kasihan kepada si Bapak dalam sekejap hilang. Serius, semua yang terjadi di dalam film ini akan membuat kita merasa tak berdaya.
Dylan Minnette juga bermain dengan cukup gemilang sebagai Alex, pencuri yang masih punya sedikit moral di dalam hatinya. Enggak kayak dalam film Goosebumps (2015) di mana ia jadi tokoh utama, dalam Don’t Breathe Dylan diberikan kesempatan untuk melakukan lebih banyak hal, dramatically.

 

Sisi drama yang dieksplor oleh Don’t Breathe bukan sekedar cara gampang untuk bikin penonton menaruh simpati kepada tokoh utama yang mencoba nyuri dari orang buta. Film ini actually punya sesuatu yang ingin dikatakan. Kota Detroit dibangunnya sebagai tempat yang ingin ditinggal pergi oleh tokoh utama. Ada ironi di sini, kala Rocky merampok rumah supaya dia bisa keluar selamanya, ingin pindah, dari rumah tempatnya dilahirkan. Dalam film ini, memang, rumah tidak pernah dipandang sebagai tempat yang aman. But still, adalah tempat di mana orang-orang menyembunyikan harta mereka yang paling berharga; hati.

 

Semua hal yang bikin aku kesel sama film-film horor tidak kita jumpai dalam film ini. Musiknya enggak asal genjer-genjer. Penggunaan JUMP SCARE DALAM FILM INI SUNGGUH EFEKTIF. Tidak ada satupun yang palsu, tidak ada tangan orang nyolek bahu orang dari belakang, tidak ada kaget-kagetan oleh stupid things semacam burung terbang entah-dari-mana. Jump scares dalam film ini bukan trik murahan untuk mendapatkan reaksi kita. Mereka dipakai untuk membangun suspens, menumpuk dan menghimpunnya sehingga kita merasakan ketegangan yang terus memuncak. Semakin kita belajar tentang pria yang coba mereka rampok, kita akan semakin takut, karena ternyata pria tersebut tidak setak-berdaya ataupun seinnocent yang Rocky dan kita semua sangka. ARAHAN YANG MANTAP, termasuk di dalamnya DESIGN SOUND YANG ENGGAK NORAK, membuat film ini menjadi tontonan yang sangat exciting.

 

Namun begitu, ada sesuatu yang terus mengganjal buatku selama 90an menit aku menonton film ini. Yea aku sadar kalo Don’t Breathe berkiblat kepada Wait Until Dark, juga aku teringat sama Hush (2016), tapi yang menggangguku ini lebih kepada visually. Pertama aku nyangka mungkin aku sedikit paranoid karena trauma setelah baru-baru ini nyaksiin The Secret Life of Pets yang beat-to-beat niru Toys Story. Pada saat kredit penutuplah – yang nampilin nama-nama berlatar belakang arsitektur – aku sadar FILM INI PUNYA BANYAK KEMIRIPAN DENGAN Panic Room (2002), you know, film Kristen Stewart waktu masih kecil yang juga tentang home-invasion. I actually double checked it. Begitu pulang, right before aku nulis ulasan ini, aku setel deh tuh Panic Room. Diskip-skip sih, tapi setelah memori ku akan film tersebut jogged kembali, aku bisa bilang Don’t Breathe follows the basic structure of Panic Room. Kredit penutupnya tadi kayak recreatement dari opening credit Panic Room. Film ini juga makek a long, unbroken take, nunjukin kita isi dalam rumah, sama seperti adegan masuknya maling di Panic Room. Banyak momen-momen cerita yang dibuat mirip. Bukan hanya penampilan pacar Rocky, Money, yang looked exactly like tokoh Jared Leto di Panic Room, pembawaan dan sifatnya juga. Perannya juga! Bahkan, ada tokoh yang sama-sama bernama Raul.
Kayak serial Stranger Things dan tributenya terhadap gaya Spielberg dan King, film Don’t Breathe memakai sedikit terlalu banyak homage terhadap Panic Room.

It is just an amazing coincidence, right?

It is just an amazing coincidence, right?

 

Di bagian akhir memang film ini terasa agak dipanjang-panjangin. Sehingga banyak adegan yang lemah secara detil. Nyaris terasa repetitif. Malahan justru mengundang apa yang bisa menjadi plot-hole. Dipanjang-panjangin itu paling parah terjadi saat bagian ending film. Menurutku sama sekali tidak perlu. Ada bagian saat adegan cuts to black, dan semua orang di studio menghembuskan napas lega. It was a perfect “Huufff, I love this movie” moment. Namun kemudian it fades back in dan ceritanya masih lanjut. Adegan penutup yang mengikutinya seriously terasa seperti bagian ekstra kalo kita nonton DVD atau Bluray. You know, extra scene yang enggak ngasih kontribusi apa-apa terhadap karakter ataupun cerita. Enggak ada faedahnya selain cuma ngasih informasi yang enggak benar-benar kita butuhkan. Adegan tiga menitan itu really serves no purpose to the movie. Seharusnya cerita diakhiri saja when it cuts to black.

 

 

A really fun thrill ride. Mengatakan film ini menegangkan sesungguhnya sedikit merendahkan. Bernapas aja kita segen dibuat olehnya! Sound design, editingnya, arahannya, aktingnya, musiknya, semua hal tersebut bergabung membentuk satu kesatuan experience menonton yang menyenangkan. Tambahan yang sangat berharga buat kita-kita yang suka sama scary movie yang bagus.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for DON’T BREATHE.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 
We? We be the judge.

Advertisements