Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“There is nothing more beautiful than a woman being unapologetically herself; comfortable in her perfect imperfection.”

 

IniKisahTigaDara-Poster

 

Saat belum juga menimang cicit, Oma langsung turun tangan nyemplung ke masalah asmara cucu-cucunya. Oma khawatir tiga cucunya yang cantik-cantik itu jomblo seumur hidup(nya) karena terlalu fokus sama pekerjaan mereka ngurusin Boutique Hotel keluarga. Jadi, mulailah segala rongrongan dan permainan jodoh-jodohan. Yang membuat Gendis, tertua di antara tiga, yang paling dingin soal urusan cinta, lumayan bête. Gendis tidak mengerti kenapa harus ia yang duluan menikah, sementara adik-adiknya; Ella yang sangat kompetitif misalnya, tentu akan senang hati, malahan tidak sabar untuk melangkahi dirinya. Ataupun Bebe. Ya, peduli apa Bebe yang riang dan paling rebellious soal urutan, or even soal tradisi nikah-menikah.

 

Naturally adalah film yang ceria dan menyenangkan. Ada banyak cameo di adegan-adegan awal. Sinematografinya menawan pandang. Alam Maumere punya peran cukup besar. Film ini juga mengajak kita untuk melihat budaya di sana, mengenal lebih dekat kebiasaan warga, dan memberikan porsi yang lumayan soal kuliner khas. Kegiatan dapur actually adalah bagian penting dari cerita.

Belum lama ini, bioskop juga menayangkan versi restorasi dari film original Tiga Dara (1956). Hanya saja dalam jumlah layar yang sangat terbatas. Aku enggak sempat nonton, jadi aku enggak bisa membuat perbandingan film jadul tersebut sama film yang sekarang ini. Lucky for me, Ini Kisah Tiga Dara is not exactly a remake. Film ini adalah adaptasi bebas dari Tiga Dara. Hal yang pasti sama adalah kedua-duanya merupakan FILM MUSIKAL. Ada banyak penampilan musik, nyanyian dan tarian, yang dipakai sebagai fasilitas untuk bercerita. Semuanya itu tampil sangat vokal as we learn so much about characters dan apa yang mereka rasakan lewat lirik lagunya.

 Yang bikin surprise adalah bagaimana ini bukan lagi kisah tiga dara di akhir cerita

Yang bikin surprise adalah bagaimana di akhir cerita ini bukan lagi kisah tiga dara.

 

Film musikal itu secara penampilan, at least, bisa kita bagi dua; Yang lebih menampilkan kesan theatrical dan bertone klasik kayak Singin’ in the Rain (1952) ataupun Les Miserables (2012), ataupun Musikal kontemporer yang lebih fleksibel semacam Pitch Perfect (2012) dan film-film Alvin & the Chipmunks. Film garapan Nia Dinata ini terletak di antara keduanya. Ini Kisah Tiga Dara adalah film yang settingnya dunia modern yang kita tinggali sekarang, sementara jiwa dan hatinya tetap berakar pada masa lalu. There are a lot of vintage feels dalam setiap musical numbernya. Hal ini melebur fairly-well ke dalam tema yang berusaha film ini ceritakan.

Tiga cucu tersebut masing-masing mewakili kemandirian, keberanian, dan keterbukaan. Tiga kualitas yang dicari dan supposedly dimiliki oleh wanita modern. Ini adalah pandangan soal perlawanan wanita dan as opposed to them, not necessarily selalu adalah pihak pria. Karena ada tokoh si Oma, sosok matriarki yang masih nyaman berada dalam kotak. Ketidaksempurnaan yang menyempurnakan, mungkin inilah tradisi yang dibicarakan, yang harus dihadapi wanita menurut film ini.

 

Para pemain tampak having so much fun bermain di dalam film ini. Titiek Puspa is a livewire. Celetukannya mengundang tawa dan penampilan musikalnya membuat kita terpesona. Menjaga tone film tetap sebagai a light-hearted movie. Shanty Paredes need to put more works ke dalam karakternya yang punya range emosi cukup luas, but secara keseluruhan dia tampil menyenangkan dan terlihat nyaman, seolah berada di habitat asalnya. Tara Basro tampil sama ‘baru’nya dengan Tatyana Akman dalam hal peran bernyanyi, namun kedua cewek ini pull it off nicely. Mereka berdua melakukan lebih dari cukup dalam menghidupkan karakter mereka, and most of the time they nailed it.

 

Aku mencoba untuk menikmati film ini. Pada dasarnya aku selalu suka adegan-adegan musik dalam penceritaan film. Namun it seemed I just can’t connect with Ini Kisah Tiga Dara. Liriknya memang incorporated well ke dalam penceritaan. Mendorong majunya cerita tapi koreografinya not playful, thus not working enough. Aku enggak merasakan kesenangannya, aku gagal merasakan apa-apa. Aku enggak merasa ada ‘beban’ terhadap film ini. Tidak ada urgensi. Buatku, adegan-adegannya terasa artificial. TERLALU DIBUAT-BUAT. Pretentious, film ini enggak seasyik yang mereka kira berhasil mereka capai. Lelucon-leluconnya kerap fell flat, meski berhasil membuat cewek-cewek di studio tertawa terbahak. But I’m just not feeling it. Aku merasa susah mencari sesuatu untuk direlate di sini.

Kecuali saat Gendis ngomong soal ngedeketin cowok Cancer pakek makanan, well haha, this film got me there.

Kecuali saat Gendis ngomong soal ngedeketin cowok Cancer pakek makanan, well haha, this film got me there.

 

Banyak kontradiksi yang dilakukan oleh tokoh-tokoh film ini. Misalnya percakapan Gendis dengan Yudha “Kalau kamu mau pacaran yang meledak-ledak penuh drama, pacaran aja sama Ella.” Mendengar ini reaksiku, “COME ON, you’ve just chased him down to the harbor!!” Banyak tindakan Oma berlawanan dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya. Dan film ini kerap mengacknowledge hal tersebut sebagai langkah untuk membuatnya masuk akal.

Sebuah film butuh komplikasi. Salah satunya diberikan film ini lewat plotnya si Ella. Sebagai anak kedua, Ella merasa ‘kejepit’ sehingga ia tidak bisa menjadi dirinya sendiri. This lead to an emotional outburst yang berujung pada rivalry antarsaudara. Hanya saja sangat susah untuk merasakan simpati kepada emosional plot dari karakter Ella, karena simply dia sedang mamam karma akibat tidak mencintai seseorang yang menyintainya. Beneran, film ini terasa ANNOYING KARENA TIDAK ADA ACTUAL PROBLEM DI DALAM CERITA.

Kalo kita telaah lagi, brief sister-rivalry yang harusnya bisa digali dengan lebih grounded ini, bersama konflik-konflik lain seperti kesalahpahaman cinta, ataupun soal keinginan si Oma, sesungguhnya bisa diavoid easily. Atau bahkan sama sekali tidak perlu terjadi. Mereka juga ingin terlihat ballsy dengan memakai adegan romantis plus-plus yang serves no purpose dan enggak penting-penting amat untuk diperlihatkan. Makanya aku merasa cerita film ini dibuat-buat.
Dan juga, TERLALU BANYAK MEMAKAI KLISE. Kebetulan ketemu dengan cara tabrakan, mengejar kekasih hati yang mau pergi jauh. Ironis bahwa film yang bicara soal break tradisi malah enggak mau repot-repot mikirin cerita yang lepas dari ikatan klise. Twist dari ayah mereka bertiga juga enggak bekerja karena kita sudah bisa menerka sejak saat kata ‘snapchat’ disebutkan pertama kali di babak pertama.

 

 

 

Drama musikal yang started off nicely. It has a very beautiful look. Penampilan pemain yang luwes. Bekerja dengan baik saat dia tetap ceria. Lagu original yang digubah ulang mampu memberikan warna yang khas, namun sayangnya tidak semua musical numbers yang berjalan dengan baik. Koreografinya kurang distinctive. Begitu pula dengan kait dramanya. Sebagian besar terasa terlalu diada-adain. Untuk film yang bersuara tentang independent, film ini terlalu banyak klise. In the end, kita bisa menyimpulkan old school is still cool. Kesalahan film ini adalah sempitnya jangkauan penonton yang bisa menikmatinya. Akibat dari rating dewasa dan cerita yang enggak bisa direlasikan sama semua orang. Mungkinkah ada film yang terlalu personal for it’s own good? Well, mungkin inilah contoh langkanya.
The Palace of Wisdom gives 6 gold stars out of 10 for INI KISAH TIGA DARA.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there winners
and there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements