Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“Beauty is not about just what you look like, it’s also what other people want from the inside.”

 

13415461_1116144808408682_136432642408806104_o

 

Kecantikan teramat berharga untuk alasan yang sama dengan kehidupan. Karena keduanya punya masa kadaluarsa. That’s why it is a dangerous thing. Sutradara sekaligus penulis skenario Nicolas Winding Refn, memang bukanlah orang pertama yang mengangkat hubungan dan konsekuensi antara keduanya, untuk kemudian diceritakan dengan perumpaman mengerikan. Pesona The Neon Demon terletak pada beberapa aspek penceritaannya yang VISUALLY STUNNING dan brillian. Dandanan, katakanlah make-up, bukan sekadar polesan untuk menutupi kekurangan cerita. Justru itulah ceritanya. Film ini akan memikat kita dengan kecantikan, yang mana begitu kita menyadari artinya, kita akan dibuat jijik olehnya.

Jesse, aspiring model berumur 16 tahun, akhirnya jebol masuk sebuah agency modeling bergengsi di Los Angeles. Mimpi buruk buat model-model yang udah ada di sana sejak lama, karena Jesse ini cantiknya natural. Masih muda pula. Jesse ngelangkahin mereka semua langsung ke tengah spotlight. Elle Fanning cocok banget mainin tokoh Jess. Malumalunya, innocentnya, senyum-tiga-jarinya dapet. Tapi film ini bukan film yg innocent. Bukan pula drama bully cengeng. Melangkah dari standar ‘gadis desa masuk kota’, film ini berkembang dengan arahan luar biasa ballsy.
Jesse sadar banyak orang mulai jealous and very upset ama segala perhatian yang ia dapatkan, which is causing a lot of problems and animosity. Elle Fanning did excellent job mainin transisi dari tokoh polos ke embracing the fact of what her beauty can do. She’s luminous. Maybe ada yang bilang ekspresinya mendua. Maybe bagi beberapa dia tampak menyeramkan.

neon-demon-makeup-scene

Maybe it’s Maybelline.

 

Well, to be honest, film ini sebenarnya bukan untuk konsumsi semua orang. It is weird, it is insanely crazy! Terutama pada babak ketiga. The Neon Demon berpotensi gede mengganggu dan menyinggung banyak orang. Tapi kalau kita perhatikan dengan benar, ada strong, relevant statement soal hubungan antara kecantikan dengan kematian yang dibuat oleh film ini. Gimana orang bisa terobsesi sama kecantikan. The way people can become so horrible because they so obsessed with their own vanity. Dan sejauh mana orang willing to go to get to the top. Semua itu dibahas dalam The Neon Demon dengan cara yang very visually disturbing.

Akan tetapi, seriously, aku sangat menyarankan model-model remaja—atau malahan just remaja deh – untuk nonton film ini. Karena tema The Neon Demon adalah soal bagaimana manusia memandang dirinya sendiri. Narsisisme. Dan itu adalah hal yang sangat kompleks. Generasi dulu menganggapnya tabu, but now it is a virtue. Aku yakin tema ini akan lebih fascinating dan bakal kerasa lebih advanced buat para remaja masakini.

 

 

Terang saja film art begini sinematografinya pastilah sangat cakep, easily yang terbaik dari yang aku lihat sepanjang tahun ini. Stunning movie dengan BANYAK METAFORA VISUAL yang nempel sama kita. Memang sih, dibanding film-film sejenis, The Neon Demon ceritanya relatif lurus dengan jumlah dialog yang lumayan banyak. Tapi warna-warnalah yang sebenarnya lebih banyak bercerita.

Film ini menggunakan visual storytelling untuk membuat kita berpikir about something. Membuat kita mengerti. Apalagi ditambah dengan treatment kamera yang acapkali statis, SETIAP SHOT TERASA BAGAI LUKISAN. Di mana emosi, the depth of character, bisa kita selami lewat simbolisme pewarnaan. Biru, misalnya, melambangkan momen-momen bangkitnya kenarsisan di dalam diri Jesse, seperti pada saat di kolam. Ataupun sesaat sebelum adegan surreal Jesse mencium pantulannya di cermin yang lantas didominasi oleh warna merah. The later color indicates ‘bahaya’ as manusia dalam film ini menunjukkan sisi terburuk dari mereka. This movie is beautiful that way. Soundtracknya juga bener-bener pas bikin euforia kita nonton ini semakin naik menggelinjang.

Tokoh-tokoh di sekitar Jesse tampak seolah merepresentasikan direction yang berbeda dari pribadi Jesse. Para pemain pria datang-dan-pergi seiring dengan perkembangan Jesse secara mental, dan sebagian besar memang ke arah yang mengkhawatirkan. Tokoh fotografer amatir yang motret Jesse pertama kali, misalnya. Dean adalah karakter paling simpatik, namun dia hanya muncul sampai Jesse ‘terwarna’ oleh her bright, scary life as a model. Ada pula pemilik motel tempat Jesse menginap, diperankan oleh Keanu Reeves. It was an entertaining and interesting performance, karena dia punya motivasi anehnya sendiri. Tokoh ini pun semacam didrop begitu saja as soon as Jesse menyadari dia yang mengakui tidak punya talenta apa-apa, tidak harus menunggu untuk menjadi korban. She could be the predator.

Aku jelas-jelas meragukan ini berarti Hakuna Matata

Aku jelas-jelas meragukan ini artinya Hakuna Matata.

 

Ada banyak cara yang berbeda untuk menginterpretasi film ini. Kita bisa simply menganggap tiga tokoh cewek di sekitar Jesse (Ruby, Gigi, Sarah) sebagai penyihir atau pengikut kelompok satanis. Atau menganggap mereka sebagai simbol dari tiga jenis kecantikan; beauty from the inside, artificial beauty, dan cantik-di-luar-namun-di-dalam-busuk-banget. Either way, ketiga tokoh yang takut kehilangan kecantikan tersebut menggambarkan betapa kecantikan alami – youth, purity, virginity, perfection – adalah hal yang sangat diinginkan oleh orang. Mereka gagal to realized bahwa cantik bukan hanya soal apa yang orang lain lihat. Dan kalo ada kesalahan besar yang dilakukan, maka itu adalah merekayasa kecantikan. That’s the one thing you cannot do. Inilah yang menyebabkan kenapa adegan runway, dengan segitiga yang seolah mengurung Jesse, menjadi adegan terkuat.

 

Kadang film ini indeed terlalu berani. Endingnya didesain untuk bikin kita shock. Tapi ada beberapa sekuens yang didorong terlalu jauh. Salut buat Jena Malone yang jadi Ruby, si makeup artist misterius. She steals the show. She gets the most daring performance. Serius, yg dilakukannya total f’up, tapi dia berani. She did it, so I guess: “Congrats!” Ada juga satu sekuens lagi, involving Ruby dan Jesse, yang bikin aku heran apa sih faedahnya dilakuin, selain buat muasin fetish filmmakernya doang? It doesn’t have any purpose for the story, really. Oleh karena itu, terasa sedikit mengecewakan soal betapa ‘literal’nya film ini turn out to be. Gila, memang, metaforanya brilian, sisi artistiknya menghipnotis. Antara realita dan fantasi juga terasa tipis sekali. Tapi tidak memberikan sensasi bingung “what was that all about!!?” kayak yang bisa kita rasakan sehabis menonton karya David Lynch. Or so we thought sampai kita menyaksikan kredit penutup berlatar gurun itu.

 

 

 

Di jaman di mana narsis dipandang sebagai kualitas, film ini really take chances with the story. Do take artistic risks. Aku tertarik banget sama film ini, aku suka ditantang berpikir oleh sebuah film. Aku berencana untuk nonton lagi tepat setelah aku ngepos ini. Kalo kalian juga suka film art yang aneh, dan rela dibikin bingung sekaligus berlapang pikiran mencerna substansi yang kemungkinan besar menyinggung ataupun bikin gak nyaman, yes, The Neon Demon akan sangat menghibur.
The Palace of Wisdom gives 8 gold stars out of 10 for THE NEON DEMON.

 

 

 

That’s all we have for now.
You might want to browse our new ‘Merchandise’ category where you could order movie-inspired shirts. Go check it out, the fandom within you will be pleased.

Remember, in life there are winners
and there’s

That’s the only thing you cannot do: merekayasa kecantikan

We don’t manufacture our own beauty at The Palace of Wisdom.

We? We be the judge.

Advertisements