Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“Friends are parents that the heart chooses.”

 

the_bfg

 

Steven Spielberg masih bikin film untuk keluarga! I dunno about you, guys, but that fact alone buatku sudah merupakan sesuatu yang teramat penting. Aku gede di kota yang enggak punya gedung bioskop. Aku enggak experiencing Jurassic Park di layar besar dalam studio gelap bersama papa-mama. Aku menonton Jurassic Park di televisi ruang keluarga, lengkap pakek iklan. Aku nonton E.T. sendirian di kamar kosan. Sekarang aku sudah cukup umur untuk bikin keluarga sendiri, aku sekarang punya akses ke bioskop, dan aku selalu gembira ngeliat family yang lagi nonton bareng. Hanya saja kali ini yang missing adalah the movie itself. Ya tau sendirilah sekarang jamannya antihero, komedi-keras, dar-der-dor. Makanya, kesempatan yang sungguh langka bagi kita untuk bisa duduk di dalam bioskop menyaksikan film keluarga terbaru dari Steven Spielberg. To actually dapat menyaksikan sebuah film yang dibuat oleh legenda hidup sejati dunia perfilman.

 

Cerita The BFG diangkat dari novel kanak-kanak jadul buah tangan Roald Dahl. Seorang gadis cilik bernama Sophie yang dibawa ke suatu tempat di mana para raksasa hidup dan berkeliaran. Dunia super besar bernama Negeri Raksasa. Di sana Sophie kemudian menjadi berteman dengan raksasa yang membawa dirinya ke sana in the first place. Mereka berdua sama-sama makhluk yang kesepian; Sophie adalah yatim piatu sedangkan si BFG – singkatan dari Big Friendly Giant, as she begins to affectionally called him – ternyata adalah seorang raksasa yang enggak gede-gede amat. Malahan, BFG ini selalu jadi korban bullyan kaum raksasa yang lain. Dia dipanggil kerdil, masa! The other giants pun tak seramah (ataupun seberadab) BFG, mereka kasar, doyan bikin rusuh, mereka suka menculik dan memakan anak manusia. Jadilah, Sophie dan BFG set out on a gigantic mission, pergi ke Ratu Inggris mencoba menyatukan seluruh negara, menjadi tempat yang menyenangkan, bukan hanya buat umat raksasa tapi juga untuk ‘tomat’ manusia.

“Hi, I’m THE giant. And welcome to Jackass!”

“Hi, I’m THE giant.
Welcome to Jackass!”

 

Steven Spielberg adalah master dalam membangun adegan-adegan yang bikin siapapun yang melihat terpesona. Excellent sekali cara Spielberg mengonstruksi sekuens sedemikian rupa sehingga kita merasa sedang menyaksikan sesuatu yang ajaib dan luar biasa. Hal ini dapat kita rasakan di babak pertama. Saat si gadis cilik sampai pertama kali di Negeri Raksasa dan melihat semua pemandangan dan environment menakjubkan itu. Kita diajak MELIHAT DAN MENGALAMI SEMUA KEBESARAN TERSEBUT LITERALLY DARI MATA ANAK KECIL. This is what Spielberg does best. Kamera yang merekam fluidly, memposisikan kita berada di sana sebagai anak-anak, memberikan kita kesempatan untuk mengapresiasi seberapa besar karakter-karakter tersebut. Seberapa besar universe itu. Seberapa magicalnya dunia mimpi yang banyak bola berwarna-warni. Versi 3Dnya surely akan lebih seru. Sangat menyenangkan bisa mengalami semua ini. Menyenangkan untuk melihat peristiwa dalam film ini unfold melalui mata yang terhubung dengan seseorang yang penuh imajinasi.

Seperti memandang malam dari perspektif anak kecil. Kengeriannya. Bayangan orang dewasa aja bisa kayak sosok raksasa jika dilihat dari kerendahan sudut pandang mata mereka. Sensasi petualangan di balik gelapnya malam. Apa sih yang ada di luar sana, kenapa orang dewasa suka bergadang? Suara-suara pejalan kaki di luar, or even suara orangtua yang lagi ngobrol yang terdengar dari balik dinding kamar, cukup untuk diterjemahkan sebagai raungan raksasa bagi anak-anak.

 

Kita perlu untuk melihat mata lawan bicara supaya lebih kena dalam menyampaikan ekspresi. Just so we can understand each other more. Tapi gimanakah cara film ini deliver such an expression, the emotion, antara anak sepuluh tahun dengan raksasa setinggi dua-puluh-kaki sehingga kita bisa peduli dan ikut merasakan apa yang mereka rasakan? The way film ini mengeset, ‘menyejajarkan pandang’ antara Sophie dan BFG adalah actually yang membuat cerita persahabatan mereka menjadi semagis visualnya.

Sungguh sebuah PERSAHABATAN YANG MANIS. Dialog antarmereka berdua menyuguhkan begitu banyak cinta di sana. Mereka saling mengerti karena berada di posisi yang sama. They have somekind of this control struggle. Mereka berusaha untuk mendorong masing-masing melakukan sesuatu so their friend could achieve something good. KAYAK ORANGTUA DENGAN ANAKNYA. BFG trying to be protective, dia membawa Sophie dan menjaga agar gadis cilik itu tidak keluar dan terlihat oleh raksasa lain yang ingin memakannya; Seperti orang dewasa yang sedang menjaga anak-anak dari bahaya. Sebaliknya Sophie juga kayak orangtua bagi BFG yang susah berbicara. Mengingatkannya, urging him untuk stand up for himself. Untuk membela diri meski tidak ada peluang menang. Untuk berani menghadapi seseorang yang ‘lebih besar’ dari dirinya.

Mereka tidak pernah punya teman sebelumnya, lebih daripada itu, Sophie dan BFG sama-sama tidak punya orangtua, dan ini membuat mereka look for the figure inside of themselves. It is just mereka berdua punya banyak cinta tanpa ada pihak yang bisa diberikan.

 

 

Ruby Barnhill yang memerankan tokoh Sophie dengan definitely fantastis. Performancenya lentur sekali, uniformedly di atas rata-rata. Dia amazing dengan komedi, dia mantap ketika saatnya berdrama ria. Film ini punya bagian-bagian yang sangat lucu, beberapa mengejutkanku sampai aku tak bisa langsung berhenti tertawa. Tokoh Sophie tak-jarang berada di balik adegan-adegan hilarious tersebut. Tabiatnya yang keras kepala, kuat, mandiri, namun tahu kapan harus meminta bantuan, makes her a really likeable character, dan dimainkan Ruby dengan so excellent sehingga tokoh ini jadi bagian paling menarik dari keseluruhan film yang penuh dengan efek CGI yang mempesona. Steven Spielberg memang jarang gagal dan punya ‘pandangan’ sendiri soal memilih pemain cilik. Rudy Barnhill adalah temuan terbaiknya, the best work he’s had from a child actor sejak A.I, barangkali. Atau malah sejak Christian Bale di Empire of the Sun.

Tokoh BFG yang punya kerjaan menangkap dan menyimpan mimpi di dalam toples dihidupkan lewat really strong motion-capture work. Mark Rylance memberikan performance yang sama kuatnya. Ada sesuatu yang menyentuh dari tokoh raksasa yang tak pernah lupa memperhatikan hal-hal kecil ini. Dia bergerak dengan anggun, dia cerdas, memanfaatkan jubah hitamnya untuk ngeblend sempurna dengan lingkungan malam sehingga enggak ketahuan sama manusia. Dan saat bicara, BFG tak jarang menginspirasi kita di balik kata-katanya yang kerap salah ucap. Aku angkat topi deh buat penerjemah yang berhasil membuat subtitle menjadi begitu fun lewat permainan kata-kata yang diucapkan oleh si BFG. And I think it’s really sweet saat BFG bilang dia enggak mau niupin mimpi buruk kepada Sophie karena dia enggak mau mimpi buruk itu meneriakkan hal-hal menyakitkan kepada Sophie.

 

Tidak ada yang terluka. Bahkan kacamata Sophie juga tidak kenapa-kenapa.

Tidak ada yang terluka. Bahkan kacamata Sophie juga tidak kenapa-kenapa.

 

The BFG adalah film yang termasuk jenis terlalu jinak bagi sebagian besar orang. Alih-alih action, film ini lebih suka menceritakan karakter dengan adegan ngobrol sambil meracik mimpi. While set up pada babak pertamanya sangat seru, The BFG memang terasa bogged down ketika sampai di tengah babak kedua. Secara teknikal, film ini adalah produksi Spielberg yang paling excellent, apalagi ditambah dengan scoring dari John Williams yang selalu cantik untuk didengar. Adegan-adegan di Negara Mimpi itu toh punya potensi besar untuk mengirim penonton ke negara mimpi beneran. Beberapa sekuens yang mengikutinya juga terasa tidak perlu. Hanya bikin film jadi terasa kayak punya banyak bagian. Mid-point waktu mereka balik ke panti asuhan itu, contohnya. Malah ngasih pesan tersirat soal harm yourself to get an attention. Semoga enggak ada anak kecil yang nangkepnya seperti demikian…

Dan despite of strong performances dari major characters, tokoh-tokoh raksasa yang lain were just plain bullies. Mereka one-dimensional, inginnya cuma cari masalah sama orang. Dalam hal ini, film terasa kayak punya sekat-sekat jelas. Jahat dan baik. Kawan dan lawan.

 

 

Seperti Disney fairytale yang lain, dongeng yang satu ini juga embracing the darkness. Bukan film yang terbaik dari Steven Spielberg, tapi secara teknikal, film ini sungguh sebuah produksi yang excellent. Gambarnya, musiknya, film ini mampu sustaining the awe dengan luar biasa. Fantasi keluarga yang lucu dan punya hati, aku yakin anak-anak kecil yang menonton hari ini akan growing up cinta banget sama film ini. Dan di kemudian hari, saat gede nanti, mereka akan punya kenangan tersendiri, mereka akan nonton lagi berkali-kali. Film ini berhasil mengubah mimpi buruk menjadi mimpi indah yang mampu dibayangkan oleh anak-anak.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for THE BFG.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

You can scroll down our homepage for some Halloween Hot Offer. We have Steven Spielberg’s Jaws shirt there. Also, you can click Merchandise for more items on sale!

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements